MANTRA PENAKLUK


Ini merupakan kabar gembira bagi Irus yang telah dibuat demam dan menggigil dalam tidur-tidur malamnya. Sebab seorang gadis yang telah mengacaukan akal sehatnya telah menolak pinangan Den Mas Sarwo, seorang tuan tanah kaya yang hartanya tidak akan habis sampai tujuh turunan. Pertama kali Irus melihat gadis itu dalam sebuah pidato dari seorang pemimpin organisasi petani di kampungnya. Irus melihatnya datang bersama sekelompok gadis yang sepertinya bukan berniat mendengar dan mengikuti ceramah marxis pada hari itu, namun mereka lebih tertarik untuk memperhatikan ketua organisasi yang terkenal tampan dan kharismatik. Diatas mimbar ia memang tampak memesona dengan ikat kepala di dahinya, seolah itu telah cukup menyatakan keberpihakannya terhadap kaum buruh dan petani.

Tapi, terhadap Kang Darta– begitu ketua organisasi itu akrab disapa, Irus sedikit sinis. Mungkin sebagai anak seorang dukun ia kalah tenar. Meski banyak jimat pengasih dan cincin batu yang konon bisa memberikannya daya tarik dan kewibawaan selalu ia pakai, namun tidak sekalipun ia berani meniduri gadis yang telah terpikat peletnya. Suatu ketika Irus diminta ayahnya mencari bahan sesaji untuk ritual penolak bala. Namun ditengah jalan, Irus berpapasan dengan Nyai Nimah, salah satu gundik Kyai Jafron. Ketika mata mereka saling beradu, saat itulah pelet Irus mulai bekerja. Wajah Nyai Nimah seketika memerah seperti tengah menahan gemuruh ditubuhnya. Serta oleh sihir yang begitu ajaib wanita itu tidak bisa membendung niatnya–berbagai pikiran erotis melintas di kepalanya tanpa ia kehendaki. Kemudian tanpa pikir panjang Nyai Nimah menarik Irus menuju semak-semak. Wanita itu merogoh kaos dan celana Irus dengan begitu beringas seraya membuka kerudung, kebaya dan kain lilit yang membungkus pinggangnya. Itulah kali pertama Irus melihat tubuh polos seorang perempuan. Jakunnya naik turun. Pemuda itu berusaha menelan ludah meski begitu susahnya. Ketika Nyai Nimah hendak menyerangnya lagi, Irus menutupi kemaluannya yang sulit tegak kemudian mendorong wanita itu dan melarikan diri. Setelah itu ia menjadi sadar betul khasiat jimat yang diwariskan oleh ayahnya dan memutuskan untuk tidak sembarangan lagi  memakainya. Sebab Irus telah bersumpah untuk memberikan keperjakaannya hanya kepada perempuan yang ia cintai dan yang akan menjadi istrinya kelak.

Kemudian mengenai sosok Kang Darta, ia merupakan pemuda yang reaksioner. Sifat itu ia dapatkan setelah selesai menempuh pendidikan di kota. Ketika Kang Darta kembali ke kampung, ia diserang rasa kelangenan karena harus kembali menjalani kehidupan desa yang mandeg. Maka ia mengumpulkan para pemuda desa untuk membentuk sebuah organisasi petani di sana. Ia ingin melakukan perubahan untuk desanya. Kemudian mengenai kehidupan cinta, Kang Darta ternyata tidak seambisius niatnya untuk membangun desa. Tidak ada seorang gadispun yang menarik minatnya melebihi buku-buku kiri koleksinya. Tapi dengar-dengar, karena ketampanan dan roman wajahnya yang arkaik banyak gadis yang rela tidur dengan Kang Darta.

Dan Anisa, ia adalah gadis yang telah mengganggu pikiran Irus. Ia merupakan anak seorang janda di kampung itu dan hanya tinggal bersama ibunya. Namun, penyelidikannya terhadap Anisa tidak berakhir sampai di titik itu. Malam penuh kegelisahan yang selalu Irus lewati beserta keringat dingin yang membasahi kasurnya membuatnya kecanduan untuk terus mengintip dan mengamati apa yang terjadi di rumah itu. Dalam sebuah kesempatan mereka berpapasan, jangankan bisa menatap matanya, untuk mengangkat kepalanya saja tidak mampu. Irus membuang banyak kesempatan untuk menggunakan peletnya terhadap Anisa. Lama-lama Irus semakin terobsesi dengan gadis itu. Sekali saja ia melewatkan kegiatan mengintip kekasih hatinya, Irus akan menjalani malam yang begitu panjang dengan 1001 mimpi setiap hari. Akhirnya pada suatu sore yang lengang, Irus nekad melompati pagar tanaman rumah Anisa dan mencuri celana dalamnya. Kini setidaknya ada aroma gadis itu yang menemani tidur malamnya.

***

Dalam usianya yang ranum Anisa telah menamatkan pendidikannya di sekolah rakyat. Menguasai baca tulis setidaknya telah memberikan gadis itu keyakinan untuk tidak bekerja sebagai babu atau gundik-gundik tuan tanah sebagaimana nasib gadis seusianya. Ketika Anisa berusia 15 tahun, ayahnya mati ditembak musuh ketika perang gerilya. Mayat ayahnya tidak dikuburkan secara layak sebagaimana para tentara lain yang mati karena berperang. Konon karena sering mengerjai musuh dan telah mengebom gudang makanan mereka, jenderal musuh sangat dendam kepada sang gerilyawan. Maka ketika akhirnya ia berhasil dibunuh, mayatnya dimutilasi lalu menjadi makanan anjing-anjing hutan yang kelaparan. Hanya kepalanya saja yang tersisa dan dimanfaatkan oleh sang jenderal untuk menggertak kelompok gerilyawan. Kepala sang ayah dikirim ke markas para gerilyawan, melalui seorang kurir, dan itu cukup membunuh semangat mereka untuk melanjutkan perjuangan. Akhirnya mereka kembali menyamar sebagai pedagang dan penduduk pribumi untuk menghindari kejaran musuh.

Tangis ibunya pecah ketika kepala suaminya dibungkus ala kadarnya dengan bendera kebangsaan dan diantar sendiri oleh sang ketua gerilya dengan menggunakan sebuah nampan. Kemudian atas permintaan ibu Anisa sendiri, kepala suaminya tersebut dikuburkan dibelakang rumah mereka.

Namun teror tidak juga berakhir pada pemakaman itu, karena pada suatu malam yang paling angker kepala sang gerilyawan keluar dari kuburnya. Matanya berdarah dan menyala merah. Kemudian kepala itu terbang ke markas musuh dan menerobos masuk ke kandang anjing pelacak mereka. Lolongan anjing-anjing dalam kandang tersebut rupanya tidak dipahami sebagai pertanda oleh tentara-tentara musuh. Mereka tetap sibuk bermain kartu dan bercumbu dengan para pelacur. Potongan kepala itu kemudian merobek leher salah satu anjing hingga putus lalu ia menempatkan dirinya pada tubuh anjing tersebut. Ia kembali menjelma sosok gerilyawan, tapi kini bertubuh anjing. Malam itu menjadi hari pembalasan sang gerilyawan. Seluruh pasukan musuh telah ia lumpuhkan dalam semalam. Dendam yang ia bawa sampai ketanah telah membuat setiap pasukan yang melihat darah dan nyala merah di mata sang gerilyawan seketika membeku dan berubah menjadi batu.

***

Mulai merasakan kesulitan hidup tanpa sang ayah, Anisa mulai dijodohkan oleh ibunya dengan laki-laki pilihannya. Tentu yang diincar ibunya adalah Den Mas Sarwo, tuan tanah dengan jaminan harta dan warisan yang tidak akan habis hingga tujuh turunan. Meski laki-laki itu telah puluhan kali kawin karena menginginkan anak laki-laki sebagai penerus keluarganya. Tentu saja Anisa menolaknya. Sebab, dengan usaha yang cukup keras Anisa telah berhasil mendapatkan cinta Kang Darta.

Setelah Kang Darta berpidato mengenai perjuangan kaum buruh, Anisa menunggunya sampai keadaan di mimbar sunyi. Hanya Kang Darta dan Anisa yang mengintip dibelakang panggung. Kemudian dengan langkah ragu-ragu namun membawa gemuruh di dadanya, Anisa menghampiri Kang Darta.

“Bagaimana caranya perempuan ikut berperan dalam revolusi?” Anisa memecah kesunyian pada senja setelah Kang Darta membakar semangat kaum petani. Kang Darta seketika tersihir dengan sosok gadis itu, khususnya pada pertanyaan revolusionernya. Hal itu sama sekali belum pernah terpikirkan oleh pemuda itu dalam pidato-pidato yang ia susun. Anisa yang tampak kikuk semakin membuat Kang Darta membara.

“Mari saya tunjukkan.” Jawab Kang Darta singkat. Pemuda itu meraih tangan Anisa dan menuntunnya menuju belakang panggung. Dalam keheningan yang diupayakan, pemuda itu mulai menelusuri punggung tangan Anisa, lengan, hingga lehernya. Tidak beberapa lama kemudian suara desah dan lenguhan pecah di udara. Namun kelepak kalong-kalong yang seharian penuh bergelantungan di puncak pepohonan telah menyamarkannya.

***

Iringan pengantin mulai memenuhi rumah Anisa. Budak budak yang membawa sesembahan memenuhi seluruh jalan membawa nampan penuh dengan kain tenun, brokat, kotak emas dan makanan yang melimpah. Iringan kali ini terlihat sangat berbeda, sangat mewah dan berlebihan seolah Den Mas Sarwo yang sebelumnya murka dengan penolakan Anisa mengumumkan ke seuruh penduduk kampung bahwa gadis itu telah berhasil ia pikat dengan kekayaannya. Kali ini pun den Mas Sarwo datang sendiri ditandu oleh empat budaknya yang kurus karena kerja berat dan kasar di tanah perkebunannya. Untuk gundik-gundik sebelumnya, pantang bagi tuan tanah itu untuk mengotori kakinya dan datang ke rumah calon mempelai. Namun kali ini Den Mas Sarwo sungguh-sungguh berniat mengambil dan menaikkan derajat Anisa sah sebagai istri.

Irus yang menyaksikan sikap kurang ajar Den Mas Sarwo pun teramat luka batinnya. Dibalik pagar semak pemuda itu tetap mengintai ke dalam rumah Anisa. Dilihatnya pula kekasih hatinya itu diseret oleh ibunya untuk menemui calon suaminya. Matanya tampak banjir, masih terlihat sisa-sisa cilak dan bedak yang pada awalnya membuat wajah gadis itu begitu cantik dan ayu.

“Anisa semestinya menjadi pengantin yang berbahagia untukku!” begitu batin Irus yang oleh karena patah hati dan kemarahan yang tak bisa dibendung ikut pula sesenggukan dan berurai air mata. Kemudian dari balik kaos hitamnya, Irus mengeluarkan sebilah keris yang ia ambil diam-diam dari kamar ayahnya dan selembar daun sirih serta dari saku celananya. Tidak lupa ia juga mengambil secarik kertas yang bertuliskan mantra yang disalin dari lontar milik ayahnya. Dalam persembunyiannya Irus komat-kamit dan berkonsentrasi terhadap Den Mas Sarwo yang telah membikinnya kesumat. Setelah pemuda itu menyembur keris ayahnya sebanyak tiga kali, ia menusuk lembaran daun sirih tersebut maju dan kemudian mundur. Mirip seperti adegan bersenggama. Sesaat ia ragu, apakah mantra dan ritual yang ia lakukan sudah benar. Irus tetap memompa keris tersebut hingga daun sirih tersebut terkoyak dicelah jarinya. Sementara tidak ada hal apapun yang terjadi pada Den Mas Sarwo yang kini menyeret Anisa menuju tandunya.

Namun siapa yang berani sangsi terhadap kesaktian sang dukun? Konon ia menguasai penguasa jin diseluruh penjuru mata angin. Mampu memanggil dan menghentikan hujan badai dalam sekali jentik jarinya. Keajaiban macam apapun bisa sang dukun ciptakan di atas telapak tangannya. Maka mantra yang Irus curi dari ayahnya mulai bereaksi. Den Mas Sarwo tampak menegang. Irus makin gelisah jika ia salah sebut mantra karena senjata dibalik sarung Den Mas Sarwo tampak menyembul tegak dan perkasa. Para perempuan yang membawa seserahan tampak menahan nafas menyaksikannya. Senjata itu makin tegak, semakin memanjang. Irus mengutuk dirinya karena mantra tersebut justru membuat Den Mas Sarwo menjadi begitu gagahnya. Tapi efek mantra itu ternyata belum berhenti dan semakin membuat mata orang-orang melotot. Senjata Den Mas Sarwo bertambah besar dan memanjang tak ada hentinya hingga menyeruak dari balik sarungnya. Roman muka Den Mas Sarwo berubah pucat menjadi ketakutan ketika senjatanya itu kini menjadi sangat panjang seperti gagang cangkul. Kemudian senjatanya tersebut berubah warna menjadi hijau pekat lalu tumbuh duri-duri hitam kecil memenuhi senjata Den Mas Sarwo. Mirip kaktus, namun dengan duri-duri yang berbisa. Laki-laki itu tampak kesakitan, kemudian ditandu pulang oleh budak-budaknya.

Masih menyisakan keterkejutan, Irus justru melompat gembira. Teluhnya telah berhasil membuat Den Mas Sarwo mengurungkan niatnya. Belakangan Irus teringat bahwa mantra yang ia ucapkan adalah mantra pembesar senjata bagi laki-laki yang sering kesulitan untuk menghunuskannya. Prosesi yang salah telah membuat senjata Den Mas Sarwo menjadi begitu mengerikan.

Sebelum Den Mas Sarwo beranjak dari rumah Anisa, laki-laki itu menuduh dengan keji ibunya sebagai pembawa kesialan ini. Ia begitu yakin kejadian aneh hari ini merupakan kutukan sang gerilyawan yang mayatnya dikubur serampangan. Seketika orang-orang kampung berhamburan memasuki rumah serta mengunci pintu dan jendela mereka rapat-rapat.

Dengan senyum yang sumringah Irus beranjak dari tempat persembunyiannya, kembali ke kediamannya dan mengembalikan keris pusaka yang telah menuntaskan dendamnya tersebut. Ia telah menjadi pahlawan bagi kekasih hatinya, Anisa atau mungkin bagi gadis-gadis yang dipaksa kawin dengan Den Mas Sarwo. Dengan senjatanya yang kini berduri itu, perempuan mana lagi yang akan mau dikawininya.

Beberapa hari kemudian dengan rasa percaya diri yang secara ajaib diperolehnya, Irus bertamu kerumah Anisa. Datang menunaikan niat suci dan tulus untuk melamar kekasih hatinya. Malam sebelumnya ia telah melakukan tirakat mandi dengan minyak cendana, berharap Anisa akan tersihir dan jatuh cinta kepadanya tanpa harus bertatap mata. Tidak lupa Irus membawa cincin dan kalung akik sebagai mas kawin. Segera setelah Irus mengucapkan salam, ibunya muncul dengan wajah sepucat mayat. Ditangannya ada sepucuk surat. Irus yang tidak sabar merampas surat itu dari tangan si perempuan. Apa yang terjadi sungguh lebih parah dari teluhnya sendiri kepada Den Mas Sarwo. Patah hati yang ia rasakan menjalar begitu cepatnya sampai ke saraf-saraf otaknya. Kemudian Irus lemas dan kejang-kejang.

Disurat itu dengan jelas tertulis bahwa Anisa telah kawin lari dengan Kang Darta menuju tempat yang begitu jauh, melewati samudra yang begitu luasnya. Tempat yang hanya bisa ditemukan jika mereka telah membaca buku, yang selalu pemuda itu lontarkan dalam pidato-pidato revolusionernya. Sekarang yang bisa dilakukan Irus hanya menahan rasa sekarat karena telah kehilangan cintanya. Kini, angin tidak akan mampu membawa sihir cintanya dan laut akan senantiasa menenggelamkan mantra gelapnya.

 

-Selesai-

*Dimuat BaliPost Minggu 31 April 2017

Advertisements

MENGENALKAN OTORITAS TUBUH SEJAK DINI


Oleh: Citra Sasmita

“Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim: “Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur,

Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar;

Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang;

Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang;

Keajaibannya  tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?”

Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.

Sebagai pengantar tulisan ini, saya mengutip puisi Rumi yang menggambarkan kehidupan janin dalam rahim ibu yang nyaman dan tidak kurang nutrisi dimana terjadi penyatuan yang transcendental antara ibu dan anak melalui bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka—berupa sentuhan, getaran vokal, bahasa yang menjadikan ruang kandungannya egaliter dimana tubuh perempuan telah menjadi ibu (memberikan impuls kasih sayang, dan nutrisi) sekaligus menjadi ayah imajiner (memberikan perlindungan). Bahasa prasimbolik, demikian menurut Julia Kristeva, seorang filsuf berdarah Bulgaria ketika menjabarkan pengalaman maternal seorang perempuan yang mengandung merupakan fase awal seorang anak manusia tidak mengenal diskriminasi pada tubuh ibunya. Berbeda halnya dengan ruang diluar kandungan sang anak, seksualitas masih dipahami sebagai tabu dan ditutup-tutupi. Seksualitas pada tubuh perempuan menurut Kristeva telah melalui berbagai macam pengalaman bahasa, dari yang reflektif terhadap pengalaman naluriah seorang anak menuju ke fase simbolik atau reflektif terhadap sistem pengetahuan dan budaya.

“…. mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?” Kalimat dalam puisi Rumi tersebut merupakan alegori mengenai tubuh perempuan dalam konstruksi sosial. Fungsi maternal tubuh perempuan yang diglorifikasikan dalam mitos-mitos penciptaan dan kesuburan berbanding terbalik dengan realita yang terjadi di masyarakat. Tubuh perempuan kerap dianggap kotor, sumber bencana dan terstigma sedemikian rupa sehingga tubuh perempuan dikekang dalam nilai-nilai sosial. Meski sang anak dalam rahim hanya memahami bahwa tubuh ibunya adalah tempat terbaik untuk tumbuh dan berkembang, segera setelah ia disisipi nilai-nilai sosial tersebut, ia akan memperoleh perspektif baru mengenai identitasnya—ruang sosial bisa menjadi penjara yang jauh lebih buruk yang bisa dibayangkan.

Kemudian ketika sang anak lahir, ia akan mengalami berbagai macam pengalaman kehidupan yang lebih kompleks, mulai dari mengetahui berbagai macam rasa pada indra-indra tubuhnya hingga pada pengetahuan yang lebih abstrak seperti moralitas. Kondisi tersebut diawali oleh proses penyapihan sang anak dengan tubuh sang ibu. Oleh Freud, proses penyapihan tersebut diiringi dengan pengalaman traumatik yang menjadi potensi diskriminasi pada tubuh ibunya. Kemampuan otak manusia untuk mengingat trauma jauh lebih kuat daripada usahanya untuk mencari kesenangan (pleasure) sebab ingatan traumatik, sadar maupun tidak akan memproteksi dirinya dari berbagai ancaman, termasuk ancaman yang menyapihkan sang anak dari rasa kenyamanan. Dalam perkembangannya tersebut anak mulai disisipi tanda-tanda akan identitas seksnya (anak diperkenalkan dengan role model keperempuanan atau kelaki-lakian). Tentu ada nilai yang bersifat tumpang tindih dalam pengenalan identitasnya tersebut dimana laki-laki dan perempuan selalu dipahami sebagai mahluk oposisi.

Bahasa simbolik atau logos sebagai medium komunikasi dalam ruang sosial lebih bersifat paternal dibandingkan spiritualitas janin terhadap rahim ibunya, sehingga otoritas tubuh perempuan menjadi permasalahan yang sulit dicari ujung pangkalnya. Meski tubuh perempuan juga menjadi ritus pemujaan karena erotika dan sumber kenikmatan, namun disatu sisi juga diasosiasikan dengan sumber bahaya, tabu, aib, dll.

Tubuh perempuan dalam paradigma masyarakat harus sesuai dengan norma dan parameter sosial yang telah berlaku. Khususnya dalam kultur patriarkis dimana peran laki-laki dan perempuan telah ditentukan dengan mengatasnamakan tradisi dan budaya. Masyarakat dalam kultur patriarkis telah mengukuhkan sistem tersebut sehingga perempuan diasosiasikan dengan persoalan domestik (masak, macak, manak) dan laki-laki secara natural menguasai wilayah publik. Persoalan domestik yang dimaksud bukan semata-mata beban kerja dan ruang terbatas perempuan hanya dalam rumah tangga, namun terlebih pada akses pengetahuan dan pengembangan mentalitas perempuan sebagai mahluk yang otonom. Kerangka domestifikasi yang telah dikonstruksi pada perempuan secara tidak langsung membentuk identitasnya—dimana konsep identitas disini melingkupi bahasa, habitus, seksualitas, dan relasi kuasa.

Secara anatomi sex konsep tubuh perempuan telah direduksi hanya sebagai fungsi reproduksi, sebagai objek hasrat laki-laki dan bukan sebagai subjek aktif yang memiliki kebebasan ekspresi dalam pencarian identitasnya, maka ketika dimulainya metamorfosa tubuh dari usia belia (tumbuhnya payudara dan mengalami menstruasi) pengalaman biologis tersebut disisipi bahasa/stigma tubuh perempuan yang diidentikkan dengan tubuh yang kotor. Seorang perempuan harus tahu bagaimana cara berpakaian dan menutup rapat tubuhnya ataupun berperilaku supaya terhindar dari objektifikasi lingkungan (pelecehan, kejahatan psikologis atau bentuk penindasan lain).

Kemudian dalam mitos kesuburan, misalnya dalam masyarakat Bali yang konservatif, seorang perempuan dianggap sempurna jika ia mampu mengandung seorang anak dan melahirkan anak laki-laki sebagai penerus keluarga. Sebagaimana yang diungkapkan Gadis Arivia dalam Kajian Budaya Feminis, kemampuan hamil tidak semata-mata persoalan biologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah, melainkan memiliki makna kultural dan sosial. Perempuan berkompetisi untuk memenuhi kriteria-kriteria tersebut untuk mendapatkan daya tawar dan bertahan hidup dalam lingkungan sosial. Maka tidak jarang didapati peristiwa bahwa perempuan sendiri bisa menjadi maskulin dan mensubordinasi perempuan lain, berdasarkan perbedaan usia, kasta, kelas sosial dan tingkat pendidikan.

Patriarki sebagai predator utama perempuan dalam kebudayaan, mengekang dengan pelan dan halus menjadikan perempuan sendiri menjadi pemangsa bagi perempuan lain. Perempuan berkompetisi dalam sistem tersebut untuk memperoleh hasrat aktualisasi diri atau identitas lian yang bahkan bersifat semu. Sosialisasi partriarki telah dilakukan melalui keluarga kepada anak adalah untuk melegitimasi ideologi patriarki itu sendiri dalam menanamkan peran, status, fungsi reproduksi, batasan-batasan relasi dan sosialisasi. Hal tersebut telah menjadi ekses-ekses dari ketidakpahaman perempuan mengenai seksualitas akan tubuhnya sendiri tentang bagian mana yang merupakan hal kodrati dan hal mana yang telah dipolitisasi.

Pentingnya mengembalikan otoritas tubuh perempuan, sama halnya dengan merombak kembali sikap mental masyarakat. Memperbaiki sedikit demi sedikit kesenjangan sosial yang ada demi mencapai kesetaraan. Hal tersebut bisa dimulai dengan memberikan pendidikan seks sejak usia dini dan keluarga sebagai intitusi kecil merupakan pemegang peranan vital untuk mensosialisasikan hal ini.

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

Repost: The Bali Art Scene 2016 – An Overview by Richard Horstman


Citra Sh"Torment"

“Torment”  2015 – Citra Sasmita one of the strongest works from the ‘Bali Art Intervention #1’ “Violent Bali”

This overview looks back over the past six months (and more) at exhibitions and happenings of note in the Bali art scene which in the past year has witnessed some critical infrastructure developments.

Closing out 2015 ‘Bali Art Intervention #1’ “Violent Bali” open 10 November at the Tony Raka Art Gallery in Ubud, featured the work of 60 artists, and was the strongest collective showing of contemporary art in Bali since July 2013’s “Irony in Paradise” by Sanggar Dewata Indonesia at ARMA. Slated to run for a month the exhibition continued into the new year and works by Citra Samsita, Wayan Wirawan, Agus Cahaya, IB Putra Adnyana, Pandi Acmadi, Tatang BSP, amongst many others were worthy of mention.

Made Budhiana. "In the Darkness of Night" Image M. O'Riordan“In the Darkness of Night” 2015 – Made Budhiana from the “Cruise Control” Exhibition

“Cruise Control Indonesia – Top End Artist’s Camp Exhibition” 23 January – 13 February 2016 at the Northern Centre of Contemporary Art (NCCA) in Darwin, Australia showcased the some of the fruits of the 2015 Artist’s Camp, an engagement by 6 Indonesian artists in the Northern Territory (NT). For five weeks Made Budhiana, Wayan Wirawan, Made Sudibia, Made ‘Dalbo’ Surimbawa and Ni Nyoman Sani from Bali, and East Javanese artist Suryani were guests of the government of Northern Territory and were exposed to foreign lands and societies, and delved creatively into new visual and conceptual territories.

The biannual Artists Camp, which was first held in 2012 in the NT, and then with two subsequent Camps in Bali (2012 & 2014) is the initiative of Australian art lover Colin MacDonald and Made Budhiana, working with the NCCA, expanding upon the original modal of the Artists Camp that first began back in 1978. The exhibition displayed some outstanding works of cross-cultural engagement and its success in underlined by the support the Chief Minister of the NT government and the Commonwealth Bank of Australia. Despite international political relations between Indonesia and Australia recently weathering stormy seas, art and cultural remain the most important and enduring engagements between the two countries.

TiTian Art Space. Image by Richard Horstman                 TiTian Art Space – Image Featuring works by Teja Astawa & I.B. Purwa

Merging perceptions and practices from the past with the present, along with an innovative vision for the future, Yayasan TiTian Bali (YTB), a new art foundation launched 29 January 2016 at Bentara Budaya Bali cultural center, is setting out to revolutionize Balinese art. Inaugurated on the 80th anniversary of the founding of the PitaMaha artists collective in Ubud, the Balinese artist co-operative TiTian Art Space, located on Jalan Bisma Ubud, will help transform artists into art entrepreneurs within the creative economies.

The brain child of the former volunteer curator and international liaison officer for Puri Lukisan Museum, Soemantri Widagdo, exhibitions hosted this year have showcased some of the finest Balinese traditional and contemporary artists such as Teja Astawa, IB Purwa, Made Griyawan, Aris Sumanta and Gede Widyanatara, to name a few. The June “Traces Under the Surface – Batuan Painting Exhibition” set 3 generations of Batuan painters from one family side-by-side in a unique expose into the development of Batuan painting. The regular series of exhibitions and workshops along with the revolutionary vision of YTB are an exciting and important addition to the Bali art infrastructure.

With plans to build a Museum of Contemporary Art (Bali MOCA), an international class museum located in Ubud, within the next ten years, exhibiting both old and new work of the highest quality, YTB expects to inspire new directions and achievements in Balinese art, while being the premier hub for Balinese visual arts by 2021.  Balinese traditional art is undergoing an exciting revival underpinned by fresh young talent and strategic collective activity, for example in Batuan led by the formation of the Baturlangan Artist Collective of Batuan.

With the mission to place Balinese art on global platforms the welcome addition of  YTB to the Bali art scene will aid in future consolidation of the current flourishing of Balinese traditional painting. The 21st century ushers in a new paradigm of global thinking and the art world is responding and evolving especially due to the impact of the internet and social media which is empowering individuals to develop global brands and presence. Yayasan TiTian Bali is building a new eco system for Balinese art for the 21st Century.

A.A Gede Anom Sukawati-"Tari Joged Bumbung". Image courtesy of Larasati“Joged Bumbung” 2008 – A.A Gede Anom Sukawati featured in the 1oth Anniversary Larasati Balinese Modern Traditional & Contemporary Art Auction at ARMA Ubud.

Results of the special 10th anniversary Larasati Balinese Modern Traditional & Contemporary Art auction at ARMA 28 February confirm that the market for Balinese traditional art is growing steadily while providing excellent value through the low to medium and high price ranges. Emphasizing quality over quantity the 81 items birthday sale featured a parade of beautiful works including sketches, watercolors, wood carvings and paintings by “Old & Young” Balinese masters.

During the past decade, with two auctions per year in Ubud Larasati have opened up an international forum for the trade of high quality traditional Balinese works, especially paintings. By introducing professionalism of an international standard that Bali had yet to experience in its art dealings Larasati has helped create a real, healthy market for traditional Balinese art. The auction included works by popular artists I.B Made Poleng, Gusti Lempad, Made Sukada, A.A Gede Anom Sukawati, and I.B Nyana to name a few.

A feature of the sale was Larasati Auctioneers providing for the first ever real-time data over the internet allowing easy, direct access to buying opportunities for a global audience. The auction audience revealed more foreigners in attendance than Indonesians being a testament to the developing international market of the Balinese art which is considered by experts to be undervalued. Larasati CEO Daniel Komala confirmed that the outcome of first ten years of auctions have exceeded all expectations.

I GAK MURNIASIH - SEDANG ACTION - AOC - 100 x 100cm - 2003                                                  “Sedang Action” –  I GAK Murniasih

“Merayakan Murni / Celebrating Murni”, a project gathering local and regional artists to create works in response to the legacy of the iconic female Balinese artist I GAK Murniasih (1966-2006) “Murni” started 8 December 2015 at the innovative new art space Ketemu Project Space in Sukawati. Punctuating the beginning of the 6 month plus program of events, culminating with the group exhibition at Sudakara Art Space Sanur 16 July 2016, the 8 December event was an intimate evening of discussions.  Featuring friends and colleagues of Murni’s, while introducing some of the breadth of her work, and the schedule of up coming events was reveled that included artist in residency programs and curator discussions. This highly anticipated exhibition will be the most important of the 2016 art calendar.

AJI02649_1-1_LR“Forgotten Optical Satsuma Filters” – Ashley Bickerton at Rumah Topeng dan Wayang Setiadharma

Kayu, a series of exhibitions that began in 2014 presented by Italian art worker Lucie Fontaine at Rumah Topeng dan Wayang Setiadharma in Mas, has been a highly valuable contribution to the appreciation of contemporary art in Bali. Organized and curated by Italian artist and Ubud resident Marco Cassani, Kayu showcased both local and international artist in cross cultural collaborations, group and solo exhibitions. Kayu aims to support the growth and awareness of contemporary art in Indonesia through experimental and conceptual projects and operations as an incubation facility to give the opportunity for information and knowledge exchange between Bali and Indonesia with the outside art world. Projects have included artists Corrado Levi, Radu Cosma, Entang Wiharso and Luigi Ontani.

The exhibition space at Rumah Topeng, a traditional Javanese teak warehouse is a unique setting for the presentation of contemporary art allowing the ambience of cultural design elements and raw timber to enhance the presence of the art works. Despite not being well attended by the local art community, importantly Kayu allowed an opportunity for people to enjoy art in an alternative exhibition setting, in contrast to the often “sterile” gallery spaces, while positively contributing to the viewer experience. The program culminated in April with Ashley Bickerton’s first ever solo exhibition in Indonesia “Forgotten Optical Satsuma Filters” that featured his experimental “non commercial” color creations.

DSCF4872             “King Udayana : A Visual Epic” 2016 – Ketut Budiana at Bentara Budaya Bali

The historical collaboration between the Udayana University of Bali and the Bentara Budaya Cultural Center, Denpasar on Friday 15 April highlighted a landmark event in Balinese painting, presenting the works of Balinese master artist Ketut Budiana. Officiated by the Governor of Bali, Made Mangku Pastika, the exhibition “King Udayana : A Visual Epic” featured an enormous narrative canvas, 8339 x 140 cm spanning the walls of the pavilion paying homage to the lifetime journey of the 10th century Balinese King Udayana.

Budiana invited the audience to wonder clockwise around the pavilion to engage with this poetic work laid out in such as way as to occupy the four directions of the compass, with their respective gods, and colors, symbolically linking the human existence with the cosmos. Often described as a “fantastic’ painter” Budiana communicates stories that appear to come from the subconscious in dream like imagery that often evolves from swirling clouds of energy. Post exhibition the work was installed within the Rectorate’s hall of the Udayana University in Jimbaran.

13173813_10153830185898778_8308656514481768488_n     “Kartini” – Cherographed by Jasmine Okubo, May 2016, image by Dewandra Djelantik

Long time collaborator with Indonesian artists, Japanese choreographer, dancer and performer Jasmine Okubo continues to push the art performance genre into new and exciting realms. Her performance during the opening of Rie m’s April exhibition “Conexion & Contradiccion” at the Villa Pandan Harum, Ubud was captivating, as were other during the year. While Rie’s exhibition of cross cultural infusions was outstanding, and importantly introducing the art of collage in a fresh and highly sensitive manner to the local art community, Jasmine’s performance, melding the futuristic aesthetics with Balinese and Japanese flavours typifies her extraordinary talent.

Okubo’s 5 June performance at Rumah Sanur in a silent enclosed space brought into dynamic, otherworldly life with excellent visual aesthetics via video mapping during the Art Ritual, themed about the transition from WATER to AGNI for the 2017 Sprites Bali Art & Creative Biennale broke new ground for the performer and the audience alike.

DSCF5736                               “Questioning Balinese Painting” 2016 – Kemal Ezedine

 

Neo Pitamaha art collective headed by Gede Mahendra Yasa and Kemal Ezedine brings a fresh, strategic, intellectual approach to the art explorations in the historical development of Balinese traditional painting. Beginning in 2013, inspired to investigate a new paradigm of Balinese painting, since 2014 they have been exhibiting in high-profile events in Bandung, Semarang and ArtJog in Yogyakarta. During 2016 they have been increasingly focussing their attention outside of Bali especially engaging with curators, collectors, along with larger audiences. Mahendra Yasa and Ezedine both held solo exhibitions at Langgeng Art Foundation, during the Jogja Art Weeks June/July art extravaganza for the local and international audiences gathered in Yogyakarta for the opening of ArtJog9.

The Neo Pitamaha’s critical and strategic approach is building positive momentum, importantly raising the bar of what Bali based collectives may achieve, while setting a potent example for others to learn from. Ezedine’s enormous 2016 mural project, highlighting his graphic illustration and dynamic colour design skills, upon ceiling panels of the café dining area the new Artotel in Sanur is a visual feast for the eyes while helping to define the uniqueness of Bali’s first art themed hotel.

DSCF4884Detail from Mangu Putra’s 2016 painting of the 1906 Pupatan in Denpasar at Gwangju Art Museum, South Korea

Social issues and important Balinese historical events are themes close to Mangu Putra’s heart. In the May 2016 “In Commenmoration of the 36th Anniversary of the May 18th Democratization Movement 2016 Asian Democracy, Human Rights, Peace Exhibition – The Truth To Turn it Over” at the Gwangju Art Museum, South Korea he exhibted his painting of the 1906 Pupatan in Denpasar  Bali. Following from his research early in 2016 he reconstructed a scene post puputan killings that depicts leaders of the Dutch military battlion posing with the body of the Raja of Denpasar.

IMG-20160609-WA003       The WOI (Wall of Indonesia) Exhibition at Bloo Art Space, Padang Bai, East Bali

The prevalence of artist run initiatives such as Cata Odata in Ubud, Ketemu Project Space, Luden House in Ubud, and the recently renamed Bloo Art Space located at the Bloo Lagoon Eco Resort and Villas in Padang Bai (also managed by Cata Odata) have become major forces within the development of art in Bali. While these community focussed organizations embrace and grow through the dynamic connectivity of social media and the internet what is essential is that there are venues that outside of the gallery commercial modal that continue to grow and survive as essential pillars of the art infrastructure in Bali.

Source: https://lifeasartasia.wordpress.com/2016/07/26/the-bali-art-scene-2016-an-overview/

8 Maret, Gerakan Perempuan Menuju Kesetaraan


“Perempuan adalah kekuatan utama dalam sebuah perubahan” begitulah yang diungkapkan oleh Sri Mulyani Indrawati, Chief Operating Officer and Managing Director, Bank Dunia. Karena baginya, negara yang menjamin dan menginvestasikan pendidikan bagi anak-anak perempuan dan menghilangkan hambatan hukum bagi perempuan untuk memaksimalkan potensinya sekarang telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Dalam bidang ekonomi di Amerika Latin misalnya antara tahun 2000-2010 membawa perubahan dalam reduksi kemiskinan sebagai dampak dari pemberdayaan lebih dari 70 juta perempuan yang bergabung dalam industri kerja dan tentunya telah mendapatkan pendidikan yang layak sehingga berimbas positif pula pada kedewasaan perempuan untuk menikah pada usia matang dan memiliki sedikit anak.  Hal ini pun dapat menjadi indikasi bahwa negara yang mampu mengentaskan kemiskinan adalah negara yang mengkondisikan perempuan dan laki-laki dalam kesetaraan.

Tentunya inilah yang menjadi visi besar dari gerakan perempuan di seluruh dunia yang selalu diperingati dalam Woman’s International Day setiap 8 Maret. WID merupakan suatu momentum bagi perempuan untuk memperjuangkan hak-haknya dalam bidang ekonomi, politik dan sosial. Disamping untuk memperingati peristiwa terbakarnya pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada tahun 1911 yang mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya, ada pun peristiwa lainnya yang terjadi pada 8 Maret 1857 di New York adalah ketika kaum perempuan dari pabrik pakaian tekstil mengadakan aksi protes memperjuangkan kondisi kerja yang sangat buruk dan gaji rendah.

Hal tersebut dikarenakan oleh stereotipe pembagian peran laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi oleh masyarakat dunia serta imbas industrialisasi yang memapankan peran perempuan dalam pekerjaan domestik/ non produktif serta kerja tanpa bayaran. Sementara laki-laki bisa menjadi pemilik usaha, manajer atau buruh (tenaga kerja produktif). Perlakuan diskriminasi tersebut yang menggerakkan para perempuan untuk merombak kembali konstruksi masyarakat akan peran perempuan yang terbatas dalam ruang rumah tangga dimana juga mempersulit mempersulit perkembangan intelektualitas dan kemandirian mereka. Hanya karena stereotip tersebut kinerja perempuan untuk mendukung pertumbuhan industri dianggap lebih buruk dari laki-laki sehingga dari segi upah ternyata juga lebih rendah dari buruh laki-laki.

Para pengunjuk rasa yang turun ke jalanan yang terdiri dari buruh perempuan tersebut kemudian diserang dan dibubarkan oleh polisi. Menyadari perjuangan mereka belum selesai, kaum perempuan ini kemudian membentuk serikat buruh pada bulan yang sama dua tahun setelah peristiwa tersebut. Di tengah gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi yang menyebabkan timbulnya protes-protes mengenai kondisi kerja inilah gagasan perayaan Women’s International Day ini tercetuskan.

Selanjutnya, situasi perang duniapun turut memberikan peran baru untuk perempuan sehingga “tidak lagi domestik”. Perempuan mulai dibutuhkan bekerja diluar rumah khususnya dalam hal produksi perlengkapan perang seperti seragam untuk tentara, senjata dan ikut serta berperan sebagai tenaga medis di medan perang. Meski telah ikut ambil andil dalam peran laki-laki, namun peran domestik mereka tidak berkurang sehingga memunculkan peran dan beban ganda bagi perempuan. Maka para perempuan, khususnya kalangan buruh perempuan makin gencar menyuarakan tuntutan lingkungan kerja yang lebih baik dan jam kerja yang lebih kondusif.

Tidak hanya di negara-negara yang telah sukses memperjuangkan hak-hak perempuan, titik kesetaraan ini pun diharapkan menjangkau seluruh perempuan di negara berkembang khususnya di Indonesia. Tanggal 8 Maret ini menjadi penting karena menjadi cikal bakal kesadaran perempuan mengubah nasib mereka. Sesungguhnya WID telah berperan pula bagi organisasi perempuan di Indonesia dan diperingati setiap tahunnya diantaranya yaitu PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia) yang sempat menjadi WIDF (Women International Democratic Federation) dan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia). Gerakan-gerakan perempuan pada masa pemerintahan presiden Soekarno tersebut tumbuh begitu subur dan berperan signifikan dalam pembangunan negara. Pada momentum ini kita juga diingatkan kembali akan kongres perempuan di Yogyakarta pada tahun 1928 yang menekankan pada aspek-aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Perempuan bisa menjadi apapun, dari mengikuti kodratnya sebagai seorang ibu, mendidik anak dan mengurus rumah tangga sebaik-baiknya namun hal terpenting yang tidak bisa dilepaskan dalam perkembangan identitas seorang perempuan adalah intelektualitas, vitalitas dan kinerja perempuan.

Namun pada masa Orde Baru, peringatan WID dilarang karena dianggap membawa paham komunis yang ditandai pula dengan kehancuran organisasi perempuan seperti GERWANI dengan sebuah propaganda seksual yang terkenal dengan tarian harum bunga dimana para anggota GERWANI konon melakukan tarian vulgar dan memotong kemaluan dan mencungkil mata para jenderal. Sehingga disamping menciptakan catatan kelam mengenai pembantaian para anggota GERWANI pada 1 Oktober 1965, juga merupakan sebuah upaya pemerintah untuk menggertak dan menghentikan progresifitas organisasi-organisasi perempuan yang lainnya di Indonesia.

Para perempuan telah kehilangan ideologi yang dulu dengan semangat berapi-api disampaikan oleh Presiden Soekarno dan menetapkan kongres tersebut sebagai hari suci bagi perempuan, sebagaimana WID yang semestinya dapat memberikan semangat perjuangan untuk perempuan. Bahkan begitu pentingnya gerakan perempuan bagi Soekarno, ia telah menyusun buku berjudul “Sarinah” yang mengupas pergerakan perempuan di dunia serta perlawanan kaum perempuan terhadap bahaya laten hukum patriarkis dan ekses-eksesnya. Seperti yang kita sadari, hingga saat ini kita justru terjebak dalam domestifikasi. Domestifikasi bukan berarti hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga melainkan dibatasinya akses-akses perempuan baik dari segi intelektualitas, politik, dan partisipasinya dalam menentukan keberlangsungan kehidupan sosial dengan adanya justifikasi dan pakem-pakem mengenai keperempuanan yang telah dikondisikan oleh masyarakat yang kurang mendukung kemajuan seorang perempuan.

Meski WID belum menjadi hari penting yang dicatat dalam kalender resmi Indonesia, namun pergerakan perempuan mengaktualisasikan dirinya tetap berlangsung hingga sekarang untuk tetap memperjuangkan hak-haknya, menghilangkan diskriminasi, keterbatasan akses-akses politik, peran dan beban ganda terhadap perempuan menuju situasi yang setara dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

 

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*Tulisan ini pernah dimuat di Balipost minggu, 6 Maret 2016

Rempah, Ibu Peradaban Indonesia


Ketika menyelami suatu arus yang terjadi dalam masyarakat dan turut serta dalam dinamika sosial, pada suatu tataran tertentu kita akan sampai pada titik kesadaran terhadap suatu transformasi di dalamnya. Namun transformasi yang bagaimanakah relevan terjadi saat ini? Sebagai studi kasus, rempah dan khasanah kuliner Nusantara adalah salah satu hal yang cukup menarik untuk dianalisis sebagai penanda fenomena yang terjadi dalam masyarakat.

Modernitas yang kini telah menjadi nafas setiap individu telah cukup signifikan menggiring mereka kedalam kehidupan praktis. Terlebih lagi sebagian besar masyarakat yang bersimbiosis dengan industrialisasi dimana produktivitas menuntut mereka untuk bekerja sesuai dengan sistem dan tenggat waktu tertentu. Hal tersebut tentu berimbas pada perubahan habitus masyarakat. Kebiasaan hidup praktis tentunya akan membuat seseorang memangkas kegiatan yang mengganggu waktu produktif mereka, misalkan saja dalam hal ini adalah kegiatan memasak.

Terhitung tahun 1968 ketika diperkenalkannya produk makanan instan mulai dari produk olahan mie yang hingga kini terus berinovasi dengan produk racikan bumbu instant.  Sebelum angka tahun tersebut, bisa dibayangkan kegiatan memasak dan menciptakan bumbu dalam rumah tangga masih menggunakan racikan bahan alami dengan spesifikasi jenis tanaman dan rempah yang cukup banyak dan beragam jumlahnya. Tentu untuk membuat racikan sebuah bumbu dibutuhkan penguasaan akan jenis bahan dan komposisi yang pas dimana rasa masakan yang berkarakter adalah penentu dari keberhasilan racikan tersebut.

Sebagian besar kuliner Nusantara yang kita ketahui pun pada dasar pengolahannya menggunakan bumbu yang cukup beragam dan variasi teknik yang memungkinkannya menyita banyak waktu sekedar untuk menghidangkan satu jenis masakan. Maka bumbu instan hadir sebagai solusi dari segala keruwetan racikan komposisi bumbu masakan. Bumbu instant hadir dengan menawarkan kepraktisan dan juga waktu penyajian hidangan yang relatif cepat.

Namun perlu diketahui bahwa kebiasaan menggunakan bumbu instan, bukan hanya berpengaruh bagi hormon dan kesehatan namun juga berdampak pada terkikisnya kultur meracik bumbu alami. Perlu menunggu berapa tahun lagi untuk melihat fenomena bahwa generasi selanjutnya akan mengalami kegagapan ketika meracik komposisi sebuah bumbu di dapur, atau bahkan untuk sekedar mengiris bawang?

“Spice is passion of food more than it, called phylosophy,” rempah adalah gairah dari suatu masakan, lebih dari itu kita bisa menyebutnya sebuah filsafat atau bahkan artefak biologis yang menandakan zaman keemasan Nusantara dimana penjelajah di dunia berusaha menemukan lokasi surga rempah yang berusaha ditutupi oleh  para pedagang Arab dan India sejak abad ke 8. Terutama banga Eropa, mereka begitu terobsesi menemukan asal usul rempah tersebut yang diasosiasikan dengan negara antah berantah yang berhubungan dengan surga.

Sebagaimana penulis abad pertengahan yang menggambarkan surga sebagai taman bagi para santo dengan aroma kayumanis, pala, jahe dan cengkeh. Pamor rempah sebagai penanda status sosial dimana harganya bahkan lebih tinggi dari emas tetap berlanjut hingga Portugis pada abad ke 16 melakukan ekspedisi ke Nusantara dan mengakhiri dominasi Arab dalam perdagangan rempah. Dimulai sejak itu pula Nusantara mengalami masa kegelapan terlebih lagi ketika VOC melakukan monopoli perdagangan rempah pada tahun 1602-1800. Bayangkan saja dimulai oleh rempah Indonesia mengalami 350 tahun masa penjajahan hingga dapat diakhiri dengan sebuah revolusi.

Maka, berdasarkan kajian historis tersebut kita dapat menilai bagaimana rempah merupakan harta karun nasional yang wajib kita jaga keberadaannya melalui kesadaran untuk merubah kebiasaan menggunakan bumbu instan dan kembali berkreasi dan meracik rempah dari bahan-bahan alami dalam proses memasak. Setidaknya, hal itu bisa menjadi upaya mempertahankan kekayaan khasanah sekaligus tradisi kuliner Nusantara.

Rempah adalah sebuah pusaka yang mampu menciptakan masterpiece kuliner Nusantara, terbukti dengan melimpahnya khazanah masakan nusantara. Rempah dan kuliner juga menjadi karakter tersendiri bagi suatu daerah, sebagaimana rendang dari Padang yang kini dikenal luas hingga ke mancanegara. Semestinya kita memiliki kesadaran untuk menjaga tradisi kuliner dengan terus memanfaatkan rempah alami Nusantara, karena hal itu sekaligus menjaga identitas kultural yang makin terkikis oleh budaya instan.

 

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*Tulisan ini pernah dimuat di Balipost minggu

Childhood Memory at Personal Codes Presentation


Childhood Memory, 100x120cm, acrylic on canvas, 2016

Kali ini saya terjebak dalam sebuah pertanyaan, sejak kapan seseorang memahami seksualitas? Apakah dimulai ketika pertama kali seorang anak mempunyai rasa keingintahuan akan apapun yang ada dalam anggota tubuhnya? Atau ketika ia mulai disisipkan “bahasa” oleh orang tua sebagai institusi pertama dalam pembentukan identitasnya?–dimana “bahasa” tersebutlah yang merupakan cikal bakal terbentuknya oposisi biner seorang anak terhadap anak lain yang berbeda dengan jenis kelaminnya. Untuk mencapai pemahaman tersebut, saya ingin mengutip alegori rahim dalam uraian Rumi:

“Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim: “Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur,

Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar;

Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang;

Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang;

Keajaibannya  tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?”

Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.

Maka, di dunia ini, ketika seorang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,

Tak seorang pun di antara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa.

Begitupun hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina

Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darat semata.”

Dalam alegori rahim tersebut dapat terlihat sebuah perspektif oposisi, antara sebuah janin yang tumbuh dan berkembang menggunakan intektualitas (akal jiwa) dibandingkan dengan sesuatu diluar dirinya yang mencoba menyisipkan bahasa simbolik ( gambaran mengenai gunung, lautan, buah-buahan mewangi) yang telah menggunakan rasio (akal psikis) dalam cara untuk memperoleh pengetahuan. Disamping itu juga terdapat kontradiksi antara realitas dalam masing-masing perspektif. Ketika janin hanya cukup untuk menghargai rahim (sesuatu yang dalam bahasa simbolik diungkapkan dengan “penjara kotor lagi penuh penderitaan”) dengan merespon simpul-simpul semiotik yang berupa rangsangan, getaran dan nutrisi yang diberikan oleh sang ibu, namun sesuatu diluar fase cora-nya (fase dalam kandungan) akan menjadi fase selanjutnya bagi seorang anak. Dimana dalam fase tersebutlah terjadinya perubahan persepsi dari yang semiotik menuju simbolik atau dengan kata lain adanya hierarki realitas yang pada prinsipnya menuntut seorang anak untuk memperoleh pengetahuan diluar pengalaman dirinya secara alamiah.

Penyisipan bahasa simbolik tersebutlah yang membentuk identitas diri sang anak (ego) maka dalam hal ini dapat menjadi permulaan adanya pandangan oposisi antara maskulin dan feminim. Bahwa maskulin dengan sifat logos diterjemahkan dengan superioritas dibandingkan dengan feminim yang dikonstruksi unsur-unsur inferioritas. Padahal ketika janin masih dalam kandungan, maskulinitas dan feminitas berada dalam posisi egaliter. Hal ini diindikasikan oleh fungsi ibu (memberikan rangsangan kasih sayang dan nutrisi) dan fungsi ayah imajiner (memberikan perlindungan) dapat dilakukan sekaligus dalam tumbuh kembang seorang anak.

Karena pemahaman akan perbedaan jenis kelamin tersebut tidak disampaikan dengan intelektualitas namun dengan menggunakan rasio inilah yang menimbulkan potensi diskriminasi terhadap perempuan. Dimana dalam konstruksi pengetahuan seorang anak hanya dilandaskan dalam hierarki realitas dalam bentuk doktrin yang bisa saja diterima sebagai suatu gagasan, namun realitas ini cenderung tidak dialami secara langsung atau tidak tereksplorasi.

Childhood Memory, dimaksudkan untuk kembali mempertanyakan pengalaman-pengalaman yang dialami seseorang dalam pembentukan identitasnya. Kemudian ketika menganalisis pemikiran Freud dalam Beyond the Pleasure Principles, dalam perkembangan identitas, tubuh telah mempunyai insting untuk cenderung berada dalam situasi yang menyenangkan namun agaknya kontradiktif dengan pikiran yang bertendensi mengulang kembali pengalaman buruk, trauma, stigma sosial– repetisi senantiasa terjadi baik melalui story telling, mimpi dan halusinasi. Alih-alih menghadapi pengalaman traumatik dan stigma sosial yang menjadi afirmasi dalam pembentukan identitas diri, seseorang cenderung menikmati kepahitan dan kesakitan sebagai ekstase untuk mengaktualisasikan dirinya.

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*Lukisan Citra Sasmita dengan tajuk Childhood Memory (100x120cm, acrylic on canvas, 2016) saat ini sedang dipresentasikan di Sudakara Art Space, Sanur-Bali periode Februari-April 2016

MERAYAKAN MURNI, MERAYAKAN PEREMPUAN DALAM KESENIAN


52-Bikin pleasure_100x60_98Jejak perempuan dalam dunia senirupa di Bali bisa diibaratkan sebagai oase di tengah gurun pasir. Jika bukan karena minimnya arsip yang mencatat perjalanan kesenimanannya, kurangnya partisipasi perempuan dalam event senirupa pun semakin menjauhkannya dalam jangkauan radar/ perhatian publik seni. Entah karena perempuan perupa Bali luput dari perhatian atau dalam segi karya dan intelektualitas masih dinilai tidak representatif tampil dalam ruang pameran.

Salah satu ruang yang pernah berkembang untuk mewadahi perempuan pelukis di Bali adalah Seniwati (1991-2012), berlokasi di daerah Ubud. Kelompok Seniwati terbentuk karena diawali dari keinginannya mencari perempuan pelukis di Bali yang pada masa itu jarang ditemukannya karya-karya perempuan di ruang museum dan galeri. Seniwati telah berhasil memberikan akses bagi perempuan pelukis dengan mengadakan pameran lukisan dalam intensitas yang bahkan mampu membawa nama kelompok ini hingga ke kancah internasional. Selain itu Seniwati memiliki ruang galeri sendiri, sehingga karya-karya mereka tetap bisa dilihat dan dinikmati.

Namun dalam perkembangannya, Seniwati tetap membawa resiko akan kecenderungan karya  dengan visual yang sama. Jumlah pelukis tradisi yang mendominasi kelompok ini belum siap secara mental mengikuti arus perkembangan seni. Meskipun seorang pelukis tradisi telah meraih pencapaian teknisnya namun tema-tema dalam lukisan yang sifatnya repetitif, (melulu) mengenai alam, ritual, dan kehidupan sosial. Karya-karya semacam ini ternyata mengalami kesulitan untuk menyesuaikan dengan paradigma seni yang selalu membutuhkan suatu pembaharuan baik dari segi estetika dan isu-isu kekinian. Tema-tema dalam lukisan tradisi kerap dianggap delusif dan berbeda semangat zamannya.

Hingga kemunculan IGAK Murniasih yang menjadi anomali diantara perempuan pelukis lainnya di dalam kelompok Seniwati. Perjalanan Murniasih sebagai pelukis sesungguhnya diluar dugaan dalam konstelasi seni rupa Indonesia mengingat latar belakang akademisnya yang non-seni. Lahir pada 4 Juli 1966 dan meninggal pada 11 Januari 2006, keberaniannya mengangkat tema-tema di seputar tubuh perempuan yang kerap dianggap tabu ternyata justru menarik minat intelektual untuk melakukan kajian terhadap karyanya. Setelah kematiannya, nasib karya-karyanya nyaris tidak terdengar bahkan kondisi studionya di daerah Nyuh Kuning, Ubud telah dirobohkan karena habis masa kontrak.

Untuk memperingati 10 tahun kematiannya, sebuah komunitas yang berbasis di daerah Batubulan yaitu Ketemu Project and Space menginisiasi sebuah program bertajuk “Merayakan Murni”  dengan fokus utamanya yaitu mendukung perkembangan Yayasan Murni melalui pengarsipan karya-karya dan data tulisan mengenai Murni. Kemudian mengajak segenap seniman baik di Bali maupun di luar Bali untuk merespon tema-tema yang diangkat Murni ke dalam karya mereka yang rencananya akan direalisasikan tahun depan melalui sejumlah pameran. Pada peluncuran program ini (8/12), Budi Agung Kuswara selaku salah satu pendiri Ketemu Project and Space memaparkan awal mula program ini bisa mulai diwujudkan. Gagasan untuk menghidupkan kembali Murni, selain dari segi karya-karyanya yang masih relevan dengan persoalan konsep tubuh dan seksualitas pun didukung oleh suaminya, Mondo -laki-laki berdarah Itali yang sangat memuja pemikiran dan karya-karya Murni.

Murni merupakan seorang anak dari sebuah keluarga petani miskin di Bali, yang kemudian bertransmigrasi ke Sulawesi.  Ia menjadi pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga etnis tionghoa di Ujung Pandang. Keluarga inilah yang menyekolahkan Murni sampai kelas dua SMP sebelum kemudian mereka pindah ke Jakarta. Tahun 1987 Murni kembali ke Bali dan bekerja sebagai pembuat perhiasan perak di Celuk-Gianyar. Ia kemudian menikah, tapi karena tidak dikaruniai anak dan suaminya ingin menikah lagi, Murni  menuntut cerai dari suaminya. Sejak tahun 1995 Murni belajar melukis pada Dewa Putu Mokoh dan debutnya sebagai perempuan pelukis di Bali semakin berkembang ketika bergabung dengan grup Seniwati.

Begitu lah catatan biografis singkat Murni yang secara garis besar dihubungkan dengan karya lukisnya dan terindikasi dalam aspek struktur naratif dimana banyak menampilkan imaji pertentangan antara laki-laki dan perempuan (oposisi biner).

Mengenai sudut pandang oposisi biner ini kerap nampak pada karya perempuan perupa di Indonesia yaitu Arahmaiani dalam karya performance His-Story. Dalam performance ini tampak seorang laki-laki menuliskan kalimat berbahasa Inggris dan Jepang yang kurang lebih mengenai sejarah yang ditulis dengan darah, disisi lain Arahmaiani hadir sebagai seorang perempuan yang memperhatikannya. Secara intrinsik performance tersebut telah menyatakan bahwa sejarah bersifat maskulin atau dengan kata lain realitas dikonstruksi oleh yang superior. Dalam hal pertentangannya dengan laki-laki dan ideologi patriarki seperti dalam karyanya tersebut, Arahmaiani menggunakan tubuhnya sebagai aktor sedangkan jika dibandingkan dengan Murni, ia memindahkan tubuhnya ke dalam kanvas dengan lebih tematis. Tubuh perempuan yang tematis dalam karya Murni hadir bukan sebagai tubuh realis atau yang mirip dengan realitasnya. Hal ini ditegaskan oleh Acep Iwan Saidi (2008: 213) mengenai konsep tubuh Murni yang hadir sebagai tubuh yang mengalami proses semiosis sehingga ia cenderung lebih bersifat simbolik. Maka yang menjadi fokus dalam lukisan Murni bukan kehadiran tubuh secara visual, melainkan bagaimana tubuh tersebut bisa menjadi tanda untuk mengomunikasikan gagasan yang disampaikan.

Hadir dengan teknik Pengosekan dengan warna-warna cerah nan dramatis serta garis outline pada figur lukisannya, membaca dan mengamati karya-karya lukis Murni maka akan muncul dua kata kunci yang menjadi gagasannya dalam berkarya. Yang pertama adalah seksualitas jika ditinjau dari kencenderungan konten visualnya yang hampir sebagian besar menampilkan imaji phallus, vagina, narasi dan interaksi seksual yang kerap dianggap tabu. Kecenderungan Murni menampilkan konten semacam itu terkesan sangat berani, apalagi posisinya sebagai perempuan yang lazimnya merasa malu untuk mengumbar bagian tubuhnya.

Selain itu, interaksi seksual yang banyak ditampilkan oleh Murni adalah hubungan-hubungan yang ganjil, liar, dan imajinatif.   Misalnya saja dalam karya “Bikin Pleasure” yang menampilkan tubuh perempuan yang disenggamai oleh senjata tajam (arit) dalam dominasi warna merah dalam latar belakangnya yang cukup mengintervensi objek visual didalamnya. Arit yang merupakan alat pemotong rumput telah beralih fungsi menjadi pemberi sensasi terhadap tubuh. Karya tersebut tentu hadir sebagai paradoks dalam interaksi seksual. Rasa sakit telah dimaknai sebagai sumber kenikmatan tentu hal ini juga mengindikasikan adanya kecendrungan sadomasokhisme dalam beberapa karya Murni yang lain.

Kemudian yang kedua adalah feminisme jika dicermati dari konteks Murni dalam berkarya dengan menampilkan visual tubuh dan dirinya sebagai representasi dari permasalahan yang dihadapi oleh banyak perempuan dalam lingkungan sosial dan kultural. Dalam konteks sosial hidupnya, Murni adalah seorang perempuan berdarah Bali yang juga hidup dalam norma-norma dan adat  yang berkembang di sana. Dalam struktur masyarakat adat Bali, perempuan memiliki posisi yang lebih rendah dibanding dengan kaum laki-laki. Sehingga dalam berbagai hal perempuan memiliki berbagai keterbatasan untuk mengungkapkan gagasannya secara politik maupun kebebasan dalam mengekspresikan dirinya. Perempuan dalam struktur adat Bali dibelenggu oleh norma dan konstruksi sosial lainnya. Bahkan mungkin tidak hanya di Bali, hal ini bisa terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Dalam konteks inilah kehadiran karya Murni dapat dimaknai sebagai pendobrak nilai dan norma yang selama ini direkatkan pada diri perempuan. Melalui program “Merayakan Murni” kita akan melihat bagaimana relevansi dari jejak dan pemikiran murni dalam konteks sosial hari ini.

 

-Citra Sasmita, perupa dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*dimuat di Balipost Minggu, 20 Desember 2015

*dimuat di Jurnal Perempuan: http://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/merayakan-murni-merayakan-perempuan-dalam-kesenian

MEMBEBASKAN TUBUH PEREMPUAN DARI JERUJI SOSIAL


Solo Exhibition Project “Maternal Skin” by Citra Sasmita, Ghostbird + Swoon Gallery

14/10/15 – 30/11/15

 Lets Talk and Let Her Die & Taste of Social Death- Citra SasmitaHingga kini perempuan menghadapi stigmatisasi terhadap konsep tubuhnya yang sesungguhnya merupakan hasil dari proses simbolik elemen diluar dirinya. Tubuh perempuan dalam paradigma masyarakat harus sesuai dengan pandangan (norma) yang berkembang dalam lingkungan interaksinya, tanpa parameter yang pasti, salah satunya kulit patriarkis dimana masih terdapat perbedaan antara laki-laki yang memegang peran superioritas dan perempuan dengan inferioritasnya. Sehingga persoalan domestik dan identitas masih menjadi permasalahan perempuan ketika konstruksi sosialnya secara sadar ataupun tidak sadar memposisikan perempuan dalam kategori subordinat.

Ada berbagai macam kriteria perempuan yang dibentuk oleh politik pikir masyarakat, sebagai contoh konsep kodrat perempuan yang sesungguhnya merujuk pada fungsi maternal (keibuan/ sifat sebagai subjek yang otonom). Disana sesungguhnya perempuan dapat bebas berekspresi dalam pencarian identitas dirinya, namun menjadi bias ketika dikaitkan ke wilayah gender yang menempatkan posisi perempuan dengan segala tuntutan karakter ideal tubuhnya dan perilaku sehingga kepemilikan atas tubuh perempuan atau sifat tubuh perempuan tidak sepenuhnya mereka miliki. Tubuh perempuan telah menjadi milik sosial yang harus terkonstruksi sesuai dengan nilai-nilai di dalamnya, misalkan saja konsep “ibu” dalam istilah sosial yang dikonstruksi oleh bahasa yang variatif bahkan disokong oleh doktrin agama supaya konsep itu menjadi perilaku. Sehingga konsekuensi yang langsung diterima perempuan adalah adanya keterputusan identitas personalnya dengan proses dan pengalaman tubuhnya (keterputusan antara perilaku “ibu” dan sifat “ibu”)

Sebelumnya menurut Freud, secara anatomi sex konsep tubuh perempuan telah direduksi hanya sebagai fungsi reproduksi, sebagai objek hasrat laki-laki dan bukan sebagai subjek aktif yang memiliki kebebasan ekspresi dalam pencarian identitasnya, maka ketika dimulainya metamorfosa tubuh dari usia belia (tumbuhnya payudara dan mengalami menstruasi) pengalaman biologis tersebut disisipi bahasa/stigma tubuh perempuan yang diidentikkan dengan tubuh yang kotor. Seorang perempuan harus tahu bagaimana cara berpakaian, menutup rapat tubuhnya ataupun berperilaku supaya terhindar dari objektifikasi lingkungan (pelecehan, kejahatan psikologis atau bentuk penindasan lain). Maka pemikiran Julia Kristeva “mengembalikan” tubuh maternal kepada perempuan  dapat diartikan sebagai bentuk pengakuan terhadap kepentingan yang bersifat subjektif atas perkembangan diri perempuan (fungsi ibu) dalam ruang dan waktu di masyarakat. Menurut Kristeva, ada dua fase dalam pembentukan identitas yang mampu menjawab pertanyaan bagi yang menaruh perhatian pada bentuk penindasan perempuan yaitu fase chora dan fase abjeksi.

Dalam fase chora yang dimulai pada usia 0 sampai dengan 6 bulan merupakan usia ketika manusia mempunyai keterikatan dengan tubuh maternal dimana selain secara biologis mendapatkan nutrisi juga mendapatkan impuls semiotik (pengalaman pembentukan diri) yang meliputi pengalaman prasimbolik kehidupan lisan, dimana seorang bayi mengalami (fungsi) ibu dengan optimalisasi cinta dan adanya transfer pengetahuan melalui sentuhan, getaran vokal dan iramanya. Fase chora dalam tubuh maternal dapat diartikan sebagai fungsi asuh yang sifatnya bisa feminim ataupun maskulin dengan cara anak dalam kandungan mendapatkan peran ibu secara tubuh fisikal dan peran ayah imajiner (fase dinaungi cinta dan perlindungan), tubuh maternal tidak hanya diartikan sebagai tubuh fisik yang spesifik (tak hanya/ harus perempuan) sehingga dalam fase inilah yang menjadi penentu seseorang akan menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan.

Kemudian pada usia 4 sampai 8 bulan, anak akan mengalami fase abjeksi yang merupakan fase psikologis berupa penolakan yang cukup signifikan terhadap figur ibu dimana proses penolakan/pemisahan dari tubuh ibu tersebut berpotensi terjadinya penindasan dan diskriminasi terhadap tubuh maternal. Dalam fase abjeksi dengan tubuh maternal ini seringkali dialami secara paksa dan sebagian besar mengalami penyisipan tanda (sign) dan stigmatisasi bahwa tubuh maternal adalah tubuh yang kotor, jijik dan hina. Sebagai konsekuensinya pengalaman abjeksi ini menjadi endapan bawah sadar yang akan dibawa hingga dewasa yang secara sadar ataupun tidak akan menentukan pola pikir dan perilaku yang cenderung mendiskriminasi/menindas perempuan.

Kedua fase ini yang menandakan bahwa yang dialami terlebih dahulu dari pembentukan identitas seseorang adalah hukum maternal (pembentukan diri oleh fase semiotik ke simbolik), bukan paternal (pembentukan diri dari simbolik ke semiotik). Karena pada awal pertumbuhannya, seseorang mengalami fungsi ibu dengan kekayaan pengalaman semiotiknya (pengalaman pembentukan diri) kemudian barulah dilekatkan dengan simbol (bahasa pembentukan diri) yang telah dikonstruksi oleh masyarakat.

Berdasarkan pemikiran di atas, konsep maternal skin yang saya kembangkan dalam pameran ini menjadi relevan ketika dikaitkan dengan realitas yang berjalan dalam masyarakat kita yang masih dalam proses “menjadi”. Benturan antara norma sosial dan agama dalam masyarakat menuntun langkah pemikiran saya pada realitas posisi marjinal perempuan di ranah sosial, yang menjadikannya terkungkung dan mengalami keterbatasan akses terhadap segala hal. Batasan-batasan tersebut justru tercipta dengan dalih untuk menyelamatkan perempuan, alih-alih malah memangkas haknya sebagai manusia. Rasanya kita perlu melihat kembali sosok perempuan secara utuh sebagai manusia, tanpa mengkotakannya dalam kerangka konstruksi yang dibentuk oleh masyarakat patriarkis.

Sejumlah karya yang saya hadirkan dalam pameran ini merupakan hasil refleksi saya atas berbagai hal dalam pengalaman dan pengamatan sehari-hari, yang saya dapatkan melalui riset sederhana terhadap teks-teks Julia Kristeva maupun pandangan tokoh-tokoh lain seputar gagasan yang sama, sekaligus saya juga melakukan pengamatan terhadap realitas sosial yang terjadi di sini. seperti yang saya hadirkan dalam karya Let’s Talk and Let Her Die dan Taste of Social Death. Kedua karya tersebut merupakan kritik atas budaya gosip yang terdegradasi oleh nilai patriarkis. Idealnya saya tidak ingin menyatakan bahwa gosip itu buruk, karena dalam kegiatan tersebut terjadi arus informasi yang bisa menjadi modal sosial seseorang untuk dapat berkumpul dalam kelompok masyarakat tersebut. Namun dalam konteks hari ini yang menjadi topik menarik dalam gosip justru ada upaya objektifikasi terhadap seorang individu sebagai nilai takar kualitas diri. Dan yang lebih menarik lagi dalam budaya gosip oleh perempuan yang mengobjektifikasi perempuan lain yaitu adanya keterkaitan dengan sudut pandang patriarkis dimana kelompok perempuan yang menjadi subjek berperan superior (baca: maskulin dalam artian memiliki kekuasaan politik). Sehingga bisa saya simpulkan bahwa proses perempuan untuk menjadi “tubuh” yang mandiri banyak mengalami kendala dari sistem patriarki ini. Kemudian dari segi media dalam karya tersebut termasuk dua seri yang lainnya menggunakan kertas doyleys cukup representatif mewacanakan domestifikasi yang dialami oleh perempuan dimana hal tersebut cenderung membatasi akses perempuan dalam memberdayakan dirinya.

Secara dominan karya-karya saya mempermasalahkan tentang konstruksi atas tubuh perempuan yang tidak lagi dipandang sebagai tubuh maternal yang hakiki sebagai manusia pada umumnya, melainkan tubuh yang dicemari oleh norma atau nilai sosial yang dibentuk oleh masyarakat.

Esai oleh: Citra Sasmita

dimuat dalam Jurnal Perempuan : http://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/membebaskan-tubuh-perempuan-dari-jeruji-sosial

Update Picture:

Retrospeksi Kekerasan Pada Anak


Belum hilang dalam benak kita kasus pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak JIS (Jakarta International School), kemudian berita yang sama dimana cukup menghebohkan terjadi juga di Sukabumi oleh Emon seorang pedofilia dengan korban anak-anak hingga mencapai 140 orang, dan kini korban kekerasan dan pembunuhan Angeline yang menorehkan luka yang cukup dalam bagi masyarakat Bali karena adanya ketamakan dan tidak ada sikap tanggung jawab dari oknum-oknum terkait dan orang disekitarnya. Akankah kita tetap diam ketika menyadari dan menyaksikan mental barbar terjadi dilingkungan sekitar kita?

Barangkali ada banyak sekali kasus kekerasan, pelecehan, dan pembunuhan pada anak yang tidak terekspose media. Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak , kekerasan yang terjadi pada anak-anak meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Dalam setahun angka kenaikannya bisa mencapai lebih dari 100 kasus dengan mayoritas diantaranya adalah kejahatan dalam bentuk pelecehan seksual seperti sodomi, pemerkosaan, pencabulan serta inses. Tentu data-data tersebut tidak hanya menandakan terkikisnya rasa kemanusiaan namun perlu disadari bahwa ancaman pada anak tidak hanya datang dari luar. Kasus-kasus kekerasan seksual dan penelantaran justru tercatat lebih sering terjadi dilingkungan terdekat anak seperti sekolah, dalam lingkungan rumahnya sendiri serta lingkungan sosial anak. Ironisnya pelaku kejahatan tersebut adalah orang-orang terdekat anak, orang yang seharusnya mengawal tumbuh kembangnya hingga menuju kemandirian hidup.

Merenungkan fenomena meresahkan yang belum menemukan titik akhir ini terdapat banyak akar permasalahan yang harus segera dirombak. Yang pertama dan paling esensial adalah orang tua tidak memiliki kemampuan dasar parenting (ilmu tentang mengasuh, mendidik dan membimbing anak dengan benar dan tepat). Permasalahan dalam ruang lingkup inipun bisa disebabkan oleh faktor cukup kompleks misalkan saja orang tua mempunyai masalah kedewasaan/immaturitas yang menyangkut kesiapan mental menjadi orang tua, bisa karena faktor usia yang relatif muda ataupun secara usia telah matang namun secara sikap belum. Faktor lain bisa karena pengalaman negatif yang dialami si orang tua pada masa lalu seperti isolasi kehidupan sosial, masalah rumah tangga, hingga masalah ketergantungan dengan obat-obatan terlarang serta alkohol yang kemudian secara bawah sadar diterapkan juga kepada anaknya.

Adapun dampak yang diakibatkan dari kesalahan parenting adalah kekerasan fisik yang tentu akan berdampak bukan hanya menimbulkan bekas secara fisik, namun dalam jangka panjang akan berpengaruh juga pada psikologi anak sehingga menyebabkan anak cenderung inferior, menarik diri dari pergaulan, bersifat defensif, mengalami gangguan kejiwaan (ringan ataupun berat) serta melakukan tindakan destruktif. Jika tindakan ini terus berlangsung dalam memori tumbuh kembang anak, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk proses rehabilitasi.

Kekerasan emosional pada anak juga berdampak pada deprivasi atau rasa kurang kasih sayang yang akan mempengaruhi perkembangan mental anak, meski kebutuhan mereka secara lahiriah telah terpenuhi. Dalam kasus kekerasan emosional yang paling fatal adalah terganggunya konsep diri anak, low self esteem, kecemasan dan rasa tidak aman hingga berdampak pada tumbuh kembang anak yang sangat lambat. Kita sering melihat fenomena orang tua yang mempunyai permasalahan emosional biasanya tidak bisa mendukung kebutuhan anak-anaknya seperti kebutuhan kasih sayang, perhatian atau bahkan acuh terhadap anaknya. Selain itu, orang tua juga cenderung mempertontonkan pertengkaran rumah tanggan antar orang tua kepada anak. Secara tidak langsung, ini juga menjadi bagian dari kekerasan emosional yang dialami anak. Situasi keluarga yang tidak kondusif semacam itu akan membuat anak selalu merasa terancam dan jauh dari rasa aman. Meski orang tua selalu ada disamping mereka, akan tetapi tidak ada suplai cinta untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka.

Fenomena lain yang termasuk kekerasan emosional yang sering terjadi adalah orang tua melakukan judgement dan kritik negatif, mengancam anak agar patuh atau melakukan pengurungan/kontrol berlebihan dari lingkungan luar. Secara naluriah, anak memiliki hasrat untuk berkembang secara bebas. Hal ini akan menunjang kemampuan mereka dalam bersosialisasi dengan teman atau saudara, dan melalui proses interaksi itulah mereka akan memperoleh input-input pengetahuan yang baru. Seandainya orang tua memberlakukan kontrol yang sangat ketat, maka kemampuan alami anak dalam bersosialisasi akan terhambat. Yang lebih buruk adalah anak merasa depresi karena kejenuhan yang melampaui batas, dampak yang mungkin paling fatal ialah mengalami disorientasi.

Kemudian hal kritis lain yang terdeteksi adalah pelecehan seksual pada anak dimana mereka terlibat dalam kondisi seksual diluar kendali dan kesadaran, dalam keadaan tidak mampu mengkomunikasikannya atau ironisnya tidak tahu arti tindakan yang diterimanya. Kekerasan seksual pada anak, dalam beberapa kasus menjadi sulit dideteksi karena anak cenderung menjadi tertutup dan bersifat defensif. Hal tersebut bisa dikarenakan adanya tekanan dari pelaku, ataupun karena adanya ketakutan yang berlebihan pada si anak. Seringkali kita menyadarinya ketika anak telah mengalami fluktuasi emosi serta keluhan fisik seperti sakit pada alat genital, kesulitan duduk atau berjalan atau menunjukkan gejala kelainan seksual. Penanganan kasus kekerasan seksual secara hukum juga seringkali tidak berjalan mulus karena prosedur yang diberlakukan oleh pihak penegak hukum seringkali justru menyulitkan posisi korban. Sebagai contoh ialah kesaksian korban yang karena usianya masih belia (misal pada kasus terhadap balita) seringkali dianggap tidak absah.

Yang paling fatal dari kasus kekerasan terhadap anak adalah yang disebabkan oleh adanya gangguan kejiwaan yang dialami oleh orang tua. Tidak jarang orang tua justru bersikap apatis atau bahkan psikopatis terhadap anaknya sendiri. Penyebabnya bisa bermacam-macam, bisa karena mengalami persoalan hidup yang terlalu berat seperti kondisi ekonomi yang sulit sehingga tingkat stressnya lebih tinggi dan anaklah yang kemudian menjadi sasaran. Seandainya kekerasan semacam ini tidak terdeteksi oleh lingkungan terdekat semisal saudara atau tetangga, maka bukan tidak mungkin tingkat kekerasan yang dialami anak akan semakin meningkat karena ketidakmampuannya melawan situasi. Di sinilah peran aktif masyarakat menjadi penting dalam mencegah berbagai kasus kekerasan yang menimpa anak.

Bagaimanapun, anak adalah pemegang tongkat estafet kehidupan. Kepadanya semua harapan semestinya ditumpukan, bukan sebaliknya. Tumbuh kembang anak tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua kandungnya, melainkan lingkungan dan masyarakat juga berperan aktif dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Memberi mereka kasih sayang, membekalinya dengan ilmu, dan menata mental dan moralnya sebaik mungkin. Seandainya anak-anak kita dididik oleh lingkungan demikian, alangkah cerahnya masa depan kehidupan kita.

*)Citra Sasmita, perupa; dimuat di BaliPost Minggu, 28 Juni 2015

CITRA SASMITA: PENDIDIK YANG DEWASA


Pendidikan sejatinya merupakan fondasi yang cukup signifikan dalam upaya membentuk manusia yang berkarakter. Dalam hal ini, karakter yang dimaksud yaitu bagaimana para peserta didik secara menyeluruh dapat menumbuhkan mentalitas dan pola pikir yang mampu mendukung pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia) bangsa Indonesia.

Untuk meraih visi besar tersebut tentu tidak hanya bertumpu pada posisi peserta didik sebagai objek pendidikan, melainkan peran pendidiklah yang menjadi center point, subjek pendidikan yang menjalankan sistem di lapangan. Dimana sistem yang berjalan adalah suatu sistem yang diberlakukan oleh negara melalui kementerian pendidikan dalam bentuk kurikulum.

Melalui penerapan kurikulum, seorang peserta didik dituntut menguasai berbagai macam komponen mata pelajaran. Dari yang pokok hingga muatan lokal sebagaimana tertera dalam kurikulum pendidikan yang bersifat dinamis dengan implementasi dalam metode pembelajaran. Dari berbagai pengamatan, pelaksanaan kurikulum dalam ruang pembelajaran belum menunjukkan tolok ukur kualitas yang jelas. Tentu, baik pendidik maupun peserta didik sama-sama menghadapi tantangan dalam proses transfer dan adaptasi pengetahuan dalam sistem tersebut. Namun keberhasilan pendidikan dapat terwujud jika dua komponen ini dapat saling mendukung dan melengkapi.

Pendidik sebagai narasumber, disamping harus memiliki kompetensi materi juga diharapkan mempunyai kompetensi lain yang menandakan dirinya telah siap menjalani profesi sebagai pendidik. Yang sekaligus menjadi indikator sebagai seorang pendidik yang dewasa. Karena selain menjadi fasilitator, pendidik secara tidak langsung akan menjadi role model bagi peserta didik, dimana pada saat itu terjadi konektifitas yang saling mempengaruhi dalam pembentukan psikologi peserta didik. Kompetensi lain yang dimaksud dalam hal ini adalah kesiapan pengetahuan, pengalaman, komitmen,  serta kesiapan diri yang meliputi aspek fisik dan psikologis. Kesehatan dan kebugaran fisik seorang pendidik menjadi penting untuk menopang kesiapan kejiwaan, kestabilan emosi, pemusatan perhatian juga kesiapan akal pikiran dalam menghadapi peserta didik.

Integrasi Nilai dan Karakter

Karakter sebagai output yang diharapkan dari peserta didik tentu lebih tepat untuk menggambarkan tujuan suatu sistem pendidikan yang mendewasakan. Dimana inti dari pendidikan bukan sekedar penguasaan lini-lini ilmu pengetahuan yang menjadi komponen mata pelajaran dan semata-mata diukur dengan angka-angka.

Angka-angka atau nilai dari sebuah ujian tanpa disadari juga ikut berperan penting mempengaruhi psikologi peserta didik dimana peserta didik akan berusaha menapaki tangga pencapaian dari inferioritas (nilai pelajaran rendah) menuju superioritas (nilai pelajaran tinggi) tanpa mempedulikan kenikmatan proses pendidikan itu sendiri. Padahal kedewasaan peserta didik dalam proses pendidikan tidak tepat jika dinilai secara kuantitatif.

Kepribadian peserta didik yang meliputi kedewasaan intelektual, moral, emosional, sosial dan motorik akan dapat diukur indikasinya melalui kegiatan konseling yang dijalankan dengan intens demi mengetahui pencapaian peserta didik dalam proses pembelajaran sekaligus juga untuk mengontrol konsentrasi dan fokus peserta didik dalam proses pendidikan. Komunikasi menjadi hal yang vital dalam fase ini dimana para pendidik dapat mengerti kepribadian peserta didik sekaligus berempati terhadap kesulitan yang dialami peserta didik dalam proses pendidikan. Sehingga dapat memberikan solusi yang tepat secara dewasa terhadap kesulitan yang dihadapi setiap peserta didik, bukan hanya menerapkan sistem atau metode pembelajaran yang ada secara menyeluruh.

Dalam pelaksanaannya, sistem pendidikan bertumpu pada generalisasi situasi yang dialami para peserta didik maupun pendidik. Sehingga untuk kesulitan yang berbeda, seringkali diberlakukan solusi yang seragam. Tindakan ini menjadi tidak tepat karena suatu  metode  ada berdasarkan  suatu uji coba dalam sampel tertentu dan belum tentu sesuai dengan kondisi peserta didik dalam situasi dan kondisi yang lain. Maka para pendidik diharapkan mampu berinovasi mengembangkan atau menerapkan metode yang terbaik untuk peserta didik dengan melihat satu-persatu kondisi peserta didiknya.

Kurikulum dalam sistem pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan dalam kurun hampir 10 tahun sekali, secara signifikan hal ini akan mempengaruhi mentalitas pendidik maupun peserta didik. Padahal elemen-elemen pendidikan membutuhkan rentang waktu tertentu untuk beradaptasi dengan suatu kurikulum dan tuntutan akademisnya. Perubahan tersebut seringkali dianggap mengacu pada penyempurnaan sistem dan metode, namun kenyataanya belum pasti memberikan standar mutu yang baik bagi peserta didik dalam kondisi yang sangat beragam di seluruh wilayah Indonesia.

Ada konsep dasar pendidikan yang seyogyanya diserap demi kokohnya fondasi bangunan pendidikan, yaitu kecerdasan sebagai efek transfer ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan karakter maka akan menjerumuskan kehidupan peserta didik itu sendiri pada lembah perilaku negatif. Maka akan menjadi tantangan yang cukup berat bagi para pendidik untuk mengintegrasikan ruh pendidikan yang terdapat dalam ilmu pengetahuan dan pendidikan karakter.

 

*) Tulisan ini merupakan respon terhadap artikel “Pendidikan Yang Mendewasakan” yang dimuat Bali Post, Minggu 19 April 2015. Dimuat pada 3 Mei 2015