Pada Ambang Garis Matamu


: Umbu Landu Paranggi

Di tanganmu sabda para nabi telah menyusut

Menjadi ayat pertama

Ayat yang hingga kini diburu musafir bahkan para malaikat

Sebagai syarat kesempurnaan doa-doa keselamatan

Dalam menciptakan kehidupan

 

Di kedalaman gurat-gurat yang menjadi pertanda nasib,

Telah kau siarkan; “kesunyian akan datang

melahap dengan beringas

Melumat dan mengepung tanpa ampun

Melebihi badai atau segala luka perjalanan  “

Namun, tidak satupun kegaiban dapat menyesatkanmu

Dengan pertanyaan-pertanyaan falsafah

Filsafatlah yang tersesat dalam labirin ingatanmu

 

Adakah yang kau dambakan selain menjadi kesunyian itu sendiri?

Sementara kau tidur, dunia menjadi dua macam warna

Langit kehilangan birunya

Laut kehilangan kedalamannya

Dan daratan dihuni oleh jasad-jasad tanpa gemuruh dalam darah mereka

 

 

Demikianlah

Pada detik seterusnya

Burung-burung bermigrasi menuju ambang garis matamu

Kicauannya bukan mengabarkan tentang batas-batas takdir

Melainkan mengultuskanmu menjadi takdir itu sendiri

 

Denpasar, 2014

Advertisements

PARANOIA


Terberkatilah ia mempelai kegelapan

Yang menjadikan nasib baik tidak dimiliki siapapun

Si pencipta skenario yang mengatur;

tanda hilangnya cahaya dari lingkar kepala

Doa-doa keselamatan

pun tidak akan menjadi juru selamat

ketika diambang ketiadaan

 

Mungkin ia terlahir

bersama ironi dan ketidakwarasan dalam ari-arinya

Meski tumbuh dalam upacara penolak bala

namun gagak-gagak hitam tetap bersarang di dahinya

menjadi musim suram yang abadi

Maka ia robek sendiri perutnya

merogoh rahimnya untuk dikembalikan ke rahim bumi

Karena nasib baik tidak dimilikinya

Nasib baik tidak diwariskan

kepada anak yang tumbuh dalam tubuhnya

 

Ia percaya pada yang tak pernah ada

untuk dimiliki sendiri

dan disimpan dalam usus dan lambung

dalam pencernaan yang menjadi labirin pengetahuan

yang  dilewati dengan cara yang membuatnya binasa

hanya untuk sekedar merasakan kesakitan

sekedar mengenal kemanusiaan

 

Citrasasmita, Denpasar, 2016

MANTRA PENAKLUK


Ini merupakan kabar gembira bagi Irus yang telah dibuat demam dan menggigil dalam tidur-tidur malamnya. Sebab seorang gadis yang telah mengacaukan akal sehatnya telah menolak pinangan Den Mas Sarwo, seorang tuan tanah kaya yang hartanya tidak akan habis sampai tujuh turunan. Pertama kali Irus melihat gadis itu dalam sebuah pidato dari seorang pemimpin organisasi petani di kampungnya. Irus melihatnya datang bersama sekelompok gadis yang sepertinya bukan berniat mendengar dan mengikuti ceramah marxis pada hari itu, namun mereka lebih tertarik untuk memperhatikan ketua organisasi yang terkenal tampan dan kharismatik. Diatas mimbar ia memang tampak memesona dengan ikat kepala di dahinya, seolah itu telah cukup menyatakan keberpihakannya terhadap kaum buruh dan petani.

Tapi, terhadap Kang Darta– begitu ketua organisasi itu akrab disapa, Irus sedikit sinis. Mungkin sebagai anak seorang dukun ia kalah tenar. Meski banyak jimat pengasih dan cincin batu yang konon bisa memberikannya daya tarik dan kewibawaan selalu ia pakai, namun tidak sekalipun ia berani meniduri gadis yang telah terpikat peletnya. Suatu ketika Irus diminta ayahnya mencari bahan sesaji untuk ritual penolak bala. Namun ditengah jalan, Irus berpapasan dengan Nyai Nimah, salah satu gundik Kyai Jafron. Ketika mata mereka saling beradu, saat itulah pelet Irus mulai bekerja. Wajah Nyai Nimah seketika memerah seperti tengah menahan gemuruh ditubuhnya. Serta oleh sihir yang begitu ajaib wanita itu tidak bisa membendung niatnya–berbagai pikiran erotis melintas di kepalanya tanpa ia kehendaki. Kemudian tanpa pikir panjang Nyai Nimah menarik Irus menuju semak-semak. Wanita itu merogoh kaos dan celana Irus dengan begitu beringas seraya membuka kerudung, kebaya dan kain lilit yang membungkus pinggangnya. Itulah kali pertama Irus melihat tubuh polos seorang perempuan. Jakunnya naik turun. Pemuda itu berusaha menelan ludah meski begitu susahnya. Ketika Nyai Nimah hendak menyerangnya lagi, Irus menutupi kemaluannya yang sulit tegak kemudian mendorong wanita itu dan melarikan diri. Setelah itu ia menjadi sadar betul khasiat jimat yang diwariskan oleh ayahnya dan memutuskan untuk tidak sembarangan lagi  memakainya. Sebab Irus telah bersumpah untuk memberikan keperjakaannya hanya kepada perempuan yang ia cintai dan yang akan menjadi istrinya kelak.

Kemudian mengenai sosok Kang Darta, ia merupakan pemuda yang reaksioner. Sifat itu ia dapatkan setelah selesai menempuh pendidikan di kota. Ketika Kang Darta kembali ke kampung, ia diserang rasa kelangenan karena harus kembali menjalani kehidupan desa yang mandeg. Maka ia mengumpulkan para pemuda desa untuk membentuk sebuah organisasi petani di sana. Ia ingin melakukan perubahan untuk desanya. Kemudian mengenai kehidupan cinta, Kang Darta ternyata tidak seambisius niatnya untuk membangun desa. Tidak ada seorang gadispun yang menarik minatnya melebihi buku-buku kiri koleksinya. Tapi dengar-dengar, karena ketampanan dan roman wajahnya yang arkaik banyak gadis yang rela tidur dengan Kang Darta.

Dan Anisa, ia adalah gadis yang telah mengganggu pikiran Irus. Ia merupakan anak seorang janda di kampung itu dan hanya tinggal bersama ibunya. Namun, penyelidikannya terhadap Anisa tidak berakhir sampai di titik itu. Malam penuh kegelisahan yang selalu Irus lewati beserta keringat dingin yang membasahi kasurnya membuatnya kecanduan untuk terus mengintip dan mengamati apa yang terjadi di rumah itu. Dalam sebuah kesempatan mereka berpapasan, jangankan bisa menatap matanya, untuk mengangkat kepalanya saja tidak mampu. Irus membuang banyak kesempatan untuk menggunakan peletnya terhadap Anisa. Lama-lama Irus semakin terobsesi dengan gadis itu. Sekali saja ia melewatkan kegiatan mengintip kekasih hatinya, Irus akan menjalani malam yang begitu panjang dengan 1001 mimpi setiap hari. Akhirnya pada suatu sore yang lengang, Irus nekad melompati pagar tanaman rumah Anisa dan mencuri celana dalamnya. Kini setidaknya ada aroma gadis itu yang menemani tidur malamnya.

***

Dalam usianya yang ranum Anisa telah menamatkan pendidikannya di sekolah rakyat. Menguasai baca tulis setidaknya telah memberikan gadis itu keyakinan untuk tidak bekerja sebagai babu atau gundik-gundik tuan tanah sebagaimana nasib gadis seusianya. Ketika Anisa berusia 15 tahun, ayahnya mati ditembak musuh ketika perang gerilya. Mayat ayahnya tidak dikuburkan secara layak sebagaimana para tentara lain yang mati karena berperang. Konon karena sering mengerjai musuh dan telah mengebom gudang makanan mereka, jenderal musuh sangat dendam kepada sang gerilyawan. Maka ketika akhirnya ia berhasil dibunuh, mayatnya dimutilasi lalu menjadi makanan anjing-anjing hutan yang kelaparan. Hanya kepalanya saja yang tersisa dan dimanfaatkan oleh sang jenderal untuk menggertak kelompok gerilyawan. Kepala sang ayah dikirim ke markas para gerilyawan, melalui seorang kurir, dan itu cukup membunuh semangat mereka untuk melanjutkan perjuangan. Akhirnya mereka kembali menyamar sebagai pedagang dan penduduk pribumi untuk menghindari kejaran musuh.

Tangis ibunya pecah ketika kepala suaminya dibungkus ala kadarnya dengan bendera kebangsaan dan diantar sendiri oleh sang ketua gerilya dengan menggunakan sebuah nampan. Kemudian atas permintaan ibu Anisa sendiri, kepala suaminya tersebut dikuburkan dibelakang rumah mereka.

Namun teror tidak juga berakhir pada pemakaman itu, karena pada suatu malam yang paling angker kepala sang gerilyawan keluar dari kuburnya. Matanya berdarah dan menyala merah. Kemudian kepala itu terbang ke markas musuh dan menerobos masuk ke kandang anjing pelacak mereka. Lolongan anjing-anjing dalam kandang tersebut rupanya tidak dipahami sebagai pertanda oleh tentara-tentara musuh. Mereka tetap sibuk bermain kartu dan bercumbu dengan para pelacur. Potongan kepala itu kemudian merobek leher salah satu anjing hingga putus lalu ia menempatkan dirinya pada tubuh anjing tersebut. Ia kembali menjelma sosok gerilyawan, tapi kini bertubuh anjing. Malam itu menjadi hari pembalasan sang gerilyawan. Seluruh pasukan musuh telah ia lumpuhkan dalam semalam. Dendam yang ia bawa sampai ketanah telah membuat setiap pasukan yang melihat darah dan nyala merah di mata sang gerilyawan seketika membeku dan berubah menjadi batu.

***

Mulai merasakan kesulitan hidup tanpa sang ayah, Anisa mulai dijodohkan oleh ibunya dengan laki-laki pilihannya. Tentu yang diincar ibunya adalah Den Mas Sarwo, tuan tanah dengan jaminan harta dan warisan yang tidak akan habis hingga tujuh turunan. Meski laki-laki itu telah puluhan kali kawin karena menginginkan anak laki-laki sebagai penerus keluarganya. Tentu saja Anisa menolaknya. Sebab, dengan usaha yang cukup keras Anisa telah berhasil mendapatkan cinta Kang Darta.

Setelah Kang Darta berpidato mengenai perjuangan kaum buruh, Anisa menunggunya sampai keadaan di mimbar sunyi. Hanya Kang Darta dan Anisa yang mengintip dibelakang panggung. Kemudian dengan langkah ragu-ragu namun membawa gemuruh di dadanya, Anisa menghampiri Kang Darta.

“Bagaimana caranya perempuan ikut berperan dalam revolusi?” Anisa memecah kesunyian pada senja setelah Kang Darta membakar semangat kaum petani. Kang Darta seketika tersihir dengan sosok gadis itu, khususnya pada pertanyaan revolusionernya. Hal itu sama sekali belum pernah terpikirkan oleh pemuda itu dalam pidato-pidato yang ia susun. Anisa yang tampak kikuk semakin membuat Kang Darta membara.

“Mari saya tunjukkan.” Jawab Kang Darta singkat. Pemuda itu meraih tangan Anisa dan menuntunnya menuju belakang panggung. Dalam keheningan yang diupayakan, pemuda itu mulai menelusuri punggung tangan Anisa, lengan, hingga lehernya. Tidak beberapa lama kemudian suara desah dan lenguhan pecah di udara. Namun kelepak kalong-kalong yang seharian penuh bergelantungan di puncak pepohonan telah menyamarkannya.

***

Iringan pengantin mulai memenuhi rumah Anisa. Budak budak yang membawa sesembahan memenuhi seluruh jalan membawa nampan penuh dengan kain tenun, brokat, kotak emas dan makanan yang melimpah. Iringan kali ini terlihat sangat berbeda, sangat mewah dan berlebihan seolah Den Mas Sarwo yang sebelumnya murka dengan penolakan Anisa mengumumkan ke seuruh penduduk kampung bahwa gadis itu telah berhasil ia pikat dengan kekayaannya. Kali ini pun den Mas Sarwo datang sendiri ditandu oleh empat budaknya yang kurus karena kerja berat dan kasar di tanah perkebunannya. Untuk gundik-gundik sebelumnya, pantang bagi tuan tanah itu untuk mengotori kakinya dan datang ke rumah calon mempelai. Namun kali ini Den Mas Sarwo sungguh-sungguh berniat mengambil dan menaikkan derajat Anisa sah sebagai istri.

Irus yang menyaksikan sikap kurang ajar Den Mas Sarwo pun teramat luka batinnya. Dibalik pagar semak pemuda itu tetap mengintai ke dalam rumah Anisa. Dilihatnya pula kekasih hatinya itu diseret oleh ibunya untuk menemui calon suaminya. Matanya tampak banjir, masih terlihat sisa-sisa cilak dan bedak yang pada awalnya membuat wajah gadis itu begitu cantik dan ayu.

“Anisa semestinya menjadi pengantin yang berbahagia untukku!” begitu batin Irus yang oleh karena patah hati dan kemarahan yang tak bisa dibendung ikut pula sesenggukan dan berurai air mata. Kemudian dari balik kaos hitamnya, Irus mengeluarkan sebilah keris yang ia ambil diam-diam dari kamar ayahnya dan selembar daun sirih serta dari saku celananya. Tidak lupa ia juga mengambil secarik kertas yang bertuliskan mantra yang disalin dari lontar milik ayahnya. Dalam persembunyiannya Irus komat-kamit dan berkonsentrasi terhadap Den Mas Sarwo yang telah membikinnya kesumat. Setelah pemuda itu menyembur keris ayahnya sebanyak tiga kali, ia menusuk lembaran daun sirih tersebut maju dan kemudian mundur. Mirip seperti adegan bersenggama. Sesaat ia ragu, apakah mantra dan ritual yang ia lakukan sudah benar. Irus tetap memompa keris tersebut hingga daun sirih tersebut terkoyak dicelah jarinya. Sementara tidak ada hal apapun yang terjadi pada Den Mas Sarwo yang kini menyeret Anisa menuju tandunya.

Namun siapa yang berani sangsi terhadap kesaktian sang dukun? Konon ia menguasai penguasa jin diseluruh penjuru mata angin. Mampu memanggil dan menghentikan hujan badai dalam sekali jentik jarinya. Keajaiban macam apapun bisa sang dukun ciptakan di atas telapak tangannya. Maka mantra yang Irus curi dari ayahnya mulai bereaksi. Den Mas Sarwo tampak menegang. Irus makin gelisah jika ia salah sebut mantra karena senjata dibalik sarung Den Mas Sarwo tampak menyembul tegak dan perkasa. Para perempuan yang membawa seserahan tampak menahan nafas menyaksikannya. Senjata itu makin tegak, semakin memanjang. Irus mengutuk dirinya karena mantra tersebut justru membuat Den Mas Sarwo menjadi begitu gagahnya. Tapi efek mantra itu ternyata belum berhenti dan semakin membuat mata orang-orang melotot. Senjata Den Mas Sarwo bertambah besar dan memanjang tak ada hentinya hingga menyeruak dari balik sarungnya. Roman muka Den Mas Sarwo berubah pucat menjadi ketakutan ketika senjatanya itu kini menjadi sangat panjang seperti gagang cangkul. Kemudian senjatanya tersebut berubah warna menjadi hijau pekat lalu tumbuh duri-duri hitam kecil memenuhi senjata Den Mas Sarwo. Mirip kaktus, namun dengan duri-duri yang berbisa. Laki-laki itu tampak kesakitan, kemudian ditandu pulang oleh budak-budaknya.

Masih menyisakan keterkejutan, Irus justru melompat gembira. Teluhnya telah berhasil membuat Den Mas Sarwo mengurungkan niatnya. Belakangan Irus teringat bahwa mantra yang ia ucapkan adalah mantra pembesar senjata bagi laki-laki yang sering kesulitan untuk menghunuskannya. Prosesi yang salah telah membuat senjata Den Mas Sarwo menjadi begitu mengerikan.

Sebelum Den Mas Sarwo beranjak dari rumah Anisa, laki-laki itu menuduh dengan keji ibunya sebagai pembawa kesialan ini. Ia begitu yakin kejadian aneh hari ini merupakan kutukan sang gerilyawan yang mayatnya dikubur serampangan. Seketika orang-orang kampung berhamburan memasuki rumah serta mengunci pintu dan jendela mereka rapat-rapat.

Dengan senyum yang sumringah Irus beranjak dari tempat persembunyiannya, kembali ke kediamannya dan mengembalikan keris pusaka yang telah menuntaskan dendamnya tersebut. Ia telah menjadi pahlawan bagi kekasih hatinya, Anisa atau mungkin bagi gadis-gadis yang dipaksa kawin dengan Den Mas Sarwo. Dengan senjatanya yang kini berduri itu, perempuan mana lagi yang akan mau dikawininya.

Beberapa hari kemudian dengan rasa percaya diri yang secara ajaib diperolehnya, Irus bertamu kerumah Anisa. Datang menunaikan niat suci dan tulus untuk melamar kekasih hatinya. Malam sebelumnya ia telah melakukan tirakat mandi dengan minyak cendana, berharap Anisa akan tersihir dan jatuh cinta kepadanya tanpa harus bertatap mata. Tidak lupa Irus membawa cincin dan kalung akik sebagai mas kawin. Segera setelah Irus mengucapkan salam, ibunya muncul dengan wajah sepucat mayat. Ditangannya ada sepucuk surat. Irus yang tidak sabar merampas surat itu dari tangan si perempuan. Apa yang terjadi sungguh lebih parah dari teluhnya sendiri kepada Den Mas Sarwo. Patah hati yang ia rasakan menjalar begitu cepatnya sampai ke saraf-saraf otaknya. Kemudian Irus lemas dan kejang-kejang.

Disurat itu dengan jelas tertulis bahwa Anisa telah kawin lari dengan Kang Darta menuju tempat yang begitu jauh, melewati samudra yang begitu luasnya. Tempat yang hanya bisa ditemukan jika mereka telah membaca buku, yang selalu pemuda itu lontarkan dalam pidato-pidato revolusionernya. Sekarang yang bisa dilakukan Irus hanya menahan rasa sekarat karena telah kehilangan cintanya. Kini, angin tidak akan mampu membawa sihir cintanya dan laut akan senantiasa menenggelamkan mantra gelapnya.

 

-Selesai-

*Dimuat BaliPost Minggu 31 April 2017

MENGENALKAN OTORITAS TUBUH SEJAK DINI


Oleh: Citra Sasmita

“Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim: “Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur,

Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar;

Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang;

Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang;

Keajaibannya  tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?”

Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.

Sebagai pengantar tulisan ini, saya mengutip puisi Rumi yang menggambarkan kehidupan janin dalam rahim ibu yang nyaman dan tidak kurang nutrisi dimana terjadi penyatuan yang transcendental antara ibu dan anak melalui bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka—berupa sentuhan, getaran vokal, bahasa yang menjadikan ruang kandungannya egaliter dimana tubuh perempuan telah menjadi ibu (memberikan impuls kasih sayang, dan nutrisi) sekaligus menjadi ayah imajiner (memberikan perlindungan). Bahasa prasimbolik, demikian menurut Julia Kristeva, seorang filsuf berdarah Bulgaria ketika menjabarkan pengalaman maternal seorang perempuan yang mengandung merupakan fase awal seorang anak manusia tidak mengenal diskriminasi pada tubuh ibunya. Berbeda halnya dengan ruang diluar kandungan sang anak, seksualitas masih dipahami sebagai tabu dan ditutup-tutupi. Seksualitas pada tubuh perempuan menurut Kristeva telah melalui berbagai macam pengalaman bahasa, dari yang reflektif terhadap pengalaman naluriah seorang anak menuju ke fase simbolik atau reflektif terhadap sistem pengetahuan dan budaya.

“…. mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?” Kalimat dalam puisi Rumi tersebut merupakan alegori mengenai tubuh perempuan dalam konstruksi sosial. Fungsi maternal tubuh perempuan yang diglorifikasikan dalam mitos-mitos penciptaan dan kesuburan berbanding terbalik dengan realita yang terjadi di masyarakat. Tubuh perempuan kerap dianggap kotor, sumber bencana dan terstigma sedemikian rupa sehingga tubuh perempuan dikekang dalam nilai-nilai sosial. Meski sang anak dalam rahim hanya memahami bahwa tubuh ibunya adalah tempat terbaik untuk tumbuh dan berkembang, segera setelah ia disisipi nilai-nilai sosial tersebut, ia akan memperoleh perspektif baru mengenai identitasnya—ruang sosial bisa menjadi penjara yang jauh lebih buruk yang bisa dibayangkan.

Kemudian ketika sang anak lahir, ia akan mengalami berbagai macam pengalaman kehidupan yang lebih kompleks, mulai dari mengetahui berbagai macam rasa pada indra-indra tubuhnya hingga pada pengetahuan yang lebih abstrak seperti moralitas. Kondisi tersebut diawali oleh proses penyapihan sang anak dengan tubuh sang ibu. Oleh Freud, proses penyapihan tersebut diiringi dengan pengalaman traumatik yang menjadi potensi diskriminasi pada tubuh ibunya. Kemampuan otak manusia untuk mengingat trauma jauh lebih kuat daripada usahanya untuk mencari kesenangan (pleasure) sebab ingatan traumatik, sadar maupun tidak akan memproteksi dirinya dari berbagai ancaman, termasuk ancaman yang menyapihkan sang anak dari rasa kenyamanan. Dalam perkembangannya tersebut anak mulai disisipi tanda-tanda akan identitas seksnya (anak diperkenalkan dengan role model keperempuanan atau kelaki-lakian). Tentu ada nilai yang bersifat tumpang tindih dalam pengenalan identitasnya tersebut dimana laki-laki dan perempuan selalu dipahami sebagai mahluk oposisi.

Bahasa simbolik atau logos sebagai medium komunikasi dalam ruang sosial lebih bersifat paternal dibandingkan spiritualitas janin terhadap rahim ibunya, sehingga otoritas tubuh perempuan menjadi permasalahan yang sulit dicari ujung pangkalnya. Meski tubuh perempuan juga menjadi ritus pemujaan karena erotika dan sumber kenikmatan, namun disatu sisi juga diasosiasikan dengan sumber bahaya, tabu, aib, dll.

Tubuh perempuan dalam paradigma masyarakat harus sesuai dengan norma dan parameter sosial yang telah berlaku. Khususnya dalam kultur patriarkis dimana peran laki-laki dan perempuan telah ditentukan dengan mengatasnamakan tradisi dan budaya. Masyarakat dalam kultur patriarkis telah mengukuhkan sistem tersebut sehingga perempuan diasosiasikan dengan persoalan domestik (masak, macak, manak) dan laki-laki secara natural menguasai wilayah publik. Persoalan domestik yang dimaksud bukan semata-mata beban kerja dan ruang terbatas perempuan hanya dalam rumah tangga, namun terlebih pada akses pengetahuan dan pengembangan mentalitas perempuan sebagai mahluk yang otonom. Kerangka domestifikasi yang telah dikonstruksi pada perempuan secara tidak langsung membentuk identitasnya—dimana konsep identitas disini melingkupi bahasa, habitus, seksualitas, dan relasi kuasa.

Secara anatomi sex konsep tubuh perempuan telah direduksi hanya sebagai fungsi reproduksi, sebagai objek hasrat laki-laki dan bukan sebagai subjek aktif yang memiliki kebebasan ekspresi dalam pencarian identitasnya, maka ketika dimulainya metamorfosa tubuh dari usia belia (tumbuhnya payudara dan mengalami menstruasi) pengalaman biologis tersebut disisipi bahasa/stigma tubuh perempuan yang diidentikkan dengan tubuh yang kotor. Seorang perempuan harus tahu bagaimana cara berpakaian dan menutup rapat tubuhnya ataupun berperilaku supaya terhindar dari objektifikasi lingkungan (pelecehan, kejahatan psikologis atau bentuk penindasan lain).

Kemudian dalam mitos kesuburan, misalnya dalam masyarakat Bali yang konservatif, seorang perempuan dianggap sempurna jika ia mampu mengandung seorang anak dan melahirkan anak laki-laki sebagai penerus keluarga. Sebagaimana yang diungkapkan Gadis Arivia dalam Kajian Budaya Feminis, kemampuan hamil tidak semata-mata persoalan biologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah, melainkan memiliki makna kultural dan sosial. Perempuan berkompetisi untuk memenuhi kriteria-kriteria tersebut untuk mendapatkan daya tawar dan bertahan hidup dalam lingkungan sosial. Maka tidak jarang didapati peristiwa bahwa perempuan sendiri bisa menjadi maskulin dan mensubordinasi perempuan lain, berdasarkan perbedaan usia, kasta, kelas sosial dan tingkat pendidikan.

Patriarki sebagai predator utama perempuan dalam kebudayaan, mengekang dengan pelan dan halus menjadikan perempuan sendiri menjadi pemangsa bagi perempuan lain. Perempuan berkompetisi dalam sistem tersebut untuk memperoleh hasrat aktualisasi diri atau identitas lian yang bahkan bersifat semu. Sosialisasi partriarki telah dilakukan melalui keluarga kepada anak adalah untuk melegitimasi ideologi patriarki itu sendiri dalam menanamkan peran, status, fungsi reproduksi, batasan-batasan relasi dan sosialisasi. Hal tersebut telah menjadi ekses-ekses dari ketidakpahaman perempuan mengenai seksualitas akan tubuhnya sendiri tentang bagian mana yang merupakan hal kodrati dan hal mana yang telah dipolitisasi.

Pentingnya mengembalikan otoritas tubuh perempuan, sama halnya dengan merombak kembali sikap mental masyarakat. Memperbaiki sedikit demi sedikit kesenjangan sosial yang ada demi mencapai kesetaraan. Hal tersebut bisa dimulai dengan memberikan pendidikan seks sejak usia dini dan keluarga sebagai intitusi kecil merupakan pemegang peranan vital untuk mensosialisasikan hal ini.

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

Muasal Keruntuhan


 

Ada yang menyusup mengirimkan pertanda

Pada subuh sebelum segalanya dapat ditangkap jelas oleh retina

Hanya sekedar siluet

Ketika itu beringin kering tumbuh dalam batok kepala

Serabutnya menyusup semakin dalam

Menyeruak ke bagian paling rumit

Dimana manusia memendam hasrat tergelapnya

 

Kemudian pada ambang kesadaran dan mimpi

Aku terbius dalam imaji;

Sendiri di tanah asing

Pada perjalanan di gurun dengan hamparan duri

Setiap jejakku akan memerah

Ditembus serbuk-serbuk besi

 

Darah dan rasa sakit membikin setiap jalan kelahiran dipenuhi ular

Yang senantiasa menyuntikkan bisanya pada mahluk pertama

Bisa itu adalah candu yang membuat adam dan hawa tidak lapar akan buah kuldi

Melainkan rasa lapar yang membuat mereka melahap satu sama lain

Dalam kenikmatan purba, yang tak mampu dikultuskan dalam dogma

Dogmalah yang membuatku buta

Untuk paham bahwa penciptaan adalah khayali, tidak pernah terjadi.

 

Kemudian lenguhan yang berasal dari kedalaman neraka

Mendenging di dasar telinga, menjadikanku tuli

Dan oleh takdir disebutkan bahwa ketulian adalah penyakit

Yang membuat doa para santo tak akan pernah menyentuh kebaikan

Kebaikan tidak akan menyentuh siapapun

Sebab kebaikan adalah khayali, tidak pernah terjadi

 

Denpasar, 2016

Filsafat Kuldi


 

Kita adalah sepasang pendosa yang dikutuk Tuhan turun ke dunia

Setelah rasa lapar merenggukmu dan ular meliuk-liuk didalam tubuhku

Surga telah dikuduskan menjauh dari iman kita

Tidak ada lagi kolam susu atau aroma hangat rempah

Apalagi padang rumput keemasan

Nyanyian para malaikat berwujud malam

Dan rintik hujan yang menyegarkan

Pun menjadi ingatan yang diterpa angin

 

Kita mengarungi musim-musim asing

Yang menawarkan rasa dingin yang terlampau dingin

Atau terik yang menjadikan tubuh kita semakin fana

Semakin larut dengan usia dunia

Sementara jauh dalam ingatan atau barangkali telah menjadi khayali

Bahwa dulu sekali kita adalah mahluk-mahluk abadi

 

Kini kita berpijak pada keniscayaan

Pada hari-hari yang tunduk akan waktu

Pada sebuah adegan yang terampil dimainkan para penghuninya;

Antara memberi dan mencuri kehidupan

Tak ada banyak pilihan

 

Namun sekali lagi kita ingin merengguk dosa-dosa itu

Dengan penuh ketaatan

Tak ada lagi waktu panjang yang sia-sia

 

Kali ini dua biji kuldi kau lahap dalam suka cita

Dan ular itu kembali meliuk-liuk ke dalam tubuhku

Semakin dalam, semakin tenggelam

Seolah ia ingin tinggal lebih lama untuk sekedar berbenih

Menjadi pepohonan, menjadi kawanan mahluk yang menunggu untuk dinamai

 

Denpasar, 2016

Epilog Pembakaran Sita


Jika saja kau menyimpan abuku

Segera setelah pembakaran

Segera setelah doa-doa berhenti

Dan menaburkannya dalam liang

Yang akan menjadi penghabisanmu

Dengan rindu mengganas

Maka menjelmalah kita dengan sempurna

 

Ingatlah sejenak

Ketika api pertama menyulut tubuhku

Kenanglah sebagaimana ayat keseratus

Kau tulis dalam keningmu;

Bahwa pada mataku yang  memutih

Masih dapat kau lihat musim-musim

Dimana kita menari diatasnya

 

Juga dalam dingin yang diciptakan para dewa

Pada kulit

dan seluruh sel yang menjadikanku  ada,

Pertemuan kita melahirkan roh paling kudus

Yang menjadi darah, debu, dan hangat yang purba

 

Lihatlah aku sekali lagi

Saat darahku mengering dicumbu maut

Aroma dan merahnya akan mewakili

Segala yang ingin kusampaikan padamu

Perihal keabadian

Melampaui zaman dan usia yang mudah diterka

 

Denpasar, 2014

Menuju Pembakaran


 

: Ida I Dewa Agung Istri Putra

 

Inilah pernikahan abadi kita,

dimana aku sempurna menjelma perawan untukmu

 

Setelah hidup yang begitu singkat

Dan kematian adalah puncak kerinduan

dari waktu ke waktu

Tanpa terhitung angka tahun

 

Telah lama kunanti dunia menghapusku

Meski rapal mantra

dan jimat-jimat penebus

Membuatku selamanya menjadi tanda hari;

menjadi pemujaan yang bertubi-tubi

 

Mungkin setelah kulalui sebelas menara

yang Tuan hadiahkan

Membuat senja lebih menyala

Serupa birahi

Untuk kembali menyatu dengan rusukmu

 

Namun pada langit keberapa

Dapat kugapai dirimu?

 

Diantara kobaran api yang akan menjadikanku ilusi

Malaikat dan musafir bersorak,

Lalu seketika diam

Barangkali mereka,

barangkali ingin memerangkapku

Dalam ritus perjalanan

Hingga di pucuk menara,

langit memucat dan bintang pertama muncul

Pandanganku tersihir akan rimba

Dimana sekali lagi kau dimahkotakan

untuk menguasai ketiadaan

 

Puluhan ribu tubuh mengantarku melewati tiga dunia

Menopang kerajaan untuk tubuh suriku

Kepada api yang tak singkat mengepul

Dalam upacara penyatuan denganmu

 

Klungkung, 2014

Repost: The Bali Art Scene 2016 – An Overview by Richard Horstman


Citra Sh"Torment"

“Torment”  2015 – Citra Sasmita one of the strongest works from the ‘Bali Art Intervention #1’ “Violent Bali”

This overview looks back over the past six months (and more) at exhibitions and happenings of note in the Bali art scene which in the past year has witnessed some critical infrastructure developments.

Closing out 2015 ‘Bali Art Intervention #1’ “Violent Bali” open 10 November at the Tony Raka Art Gallery in Ubud, featured the work of 60 artists, and was the strongest collective showing of contemporary art in Bali since July 2013’s “Irony in Paradise” by Sanggar Dewata Indonesia at ARMA. Slated to run for a month the exhibition continued into the new year and works by Citra Samsita, Wayan Wirawan, Agus Cahaya, IB Putra Adnyana, Pandi Acmadi, Tatang BSP, amongst many others were worthy of mention.

Made Budhiana. "In the Darkness of Night" Image M. O'Riordan“In the Darkness of Night” 2015 – Made Budhiana from the “Cruise Control” Exhibition

“Cruise Control Indonesia – Top End Artist’s Camp Exhibition” 23 January – 13 February 2016 at the Northern Centre of Contemporary Art (NCCA) in Darwin, Australia showcased the some of the fruits of the 2015 Artist’s Camp, an engagement by 6 Indonesian artists in the Northern Territory (NT). For five weeks Made Budhiana, Wayan Wirawan, Made Sudibia, Made ‘Dalbo’ Surimbawa and Ni Nyoman Sani from Bali, and East Javanese artist Suryani were guests of the government of Northern Territory and were exposed to foreign lands and societies, and delved creatively into new visual and conceptual territories.

The biannual Artists Camp, which was first held in 2012 in the NT, and then with two subsequent Camps in Bali (2012 & 2014) is the initiative of Australian art lover Colin MacDonald and Made Budhiana, working with the NCCA, expanding upon the original modal of the Artists Camp that first began back in 1978. The exhibition displayed some outstanding works of cross-cultural engagement and its success in underlined by the support the Chief Minister of the NT government and the Commonwealth Bank of Australia. Despite international political relations between Indonesia and Australia recently weathering stormy seas, art and cultural remain the most important and enduring engagements between the two countries.

TiTian Art Space. Image by Richard Horstman                 TiTian Art Space – Image Featuring works by Teja Astawa & I.B. Purwa

Merging perceptions and practices from the past with the present, along with an innovative vision for the future, Yayasan TiTian Bali (YTB), a new art foundation launched 29 January 2016 at Bentara Budaya Bali cultural center, is setting out to revolutionize Balinese art. Inaugurated on the 80th anniversary of the founding of the PitaMaha artists collective in Ubud, the Balinese artist co-operative TiTian Art Space, located on Jalan Bisma Ubud, will help transform artists into art entrepreneurs within the creative economies.

The brain child of the former volunteer curator and international liaison officer for Puri Lukisan Museum, Soemantri Widagdo, exhibitions hosted this year have showcased some of the finest Balinese traditional and contemporary artists such as Teja Astawa, IB Purwa, Made Griyawan, Aris Sumanta and Gede Widyanatara, to name a few. The June “Traces Under the Surface – Batuan Painting Exhibition” set 3 generations of Batuan painters from one family side-by-side in a unique expose into the development of Batuan painting. The regular series of exhibitions and workshops along with the revolutionary vision of YTB are an exciting and important addition to the Bali art infrastructure.

With plans to build a Museum of Contemporary Art (Bali MOCA), an international class museum located in Ubud, within the next ten years, exhibiting both old and new work of the highest quality, YTB expects to inspire new directions and achievements in Balinese art, while being the premier hub for Balinese visual arts by 2021.  Balinese traditional art is undergoing an exciting revival underpinned by fresh young talent and strategic collective activity, for example in Batuan led by the formation of the Baturlangan Artist Collective of Batuan.

With the mission to place Balinese art on global platforms the welcome addition of  YTB to the Bali art scene will aid in future consolidation of the current flourishing of Balinese traditional painting. The 21st century ushers in a new paradigm of global thinking and the art world is responding and evolving especially due to the impact of the internet and social media which is empowering individuals to develop global brands and presence. Yayasan TiTian Bali is building a new eco system for Balinese art for the 21st Century.

A.A Gede Anom Sukawati-"Tari Joged Bumbung". Image courtesy of Larasati“Joged Bumbung” 2008 – A.A Gede Anom Sukawati featured in the 1oth Anniversary Larasati Balinese Modern Traditional & Contemporary Art Auction at ARMA Ubud.

Results of the special 10th anniversary Larasati Balinese Modern Traditional & Contemporary Art auction at ARMA 28 February confirm that the market for Balinese traditional art is growing steadily while providing excellent value through the low to medium and high price ranges. Emphasizing quality over quantity the 81 items birthday sale featured a parade of beautiful works including sketches, watercolors, wood carvings and paintings by “Old & Young” Balinese masters.

During the past decade, with two auctions per year in Ubud Larasati have opened up an international forum for the trade of high quality traditional Balinese works, especially paintings. By introducing professionalism of an international standard that Bali had yet to experience in its art dealings Larasati has helped create a real, healthy market for traditional Balinese art. The auction included works by popular artists I.B Made Poleng, Gusti Lempad, Made Sukada, A.A Gede Anom Sukawati, and I.B Nyana to name a few.

A feature of the sale was Larasati Auctioneers providing for the first ever real-time data over the internet allowing easy, direct access to buying opportunities for a global audience. The auction audience revealed more foreigners in attendance than Indonesians being a testament to the developing international market of the Balinese art which is considered by experts to be undervalued. Larasati CEO Daniel Komala confirmed that the outcome of first ten years of auctions have exceeded all expectations.

I GAK MURNIASIH - SEDANG ACTION - AOC - 100 x 100cm - 2003                                                  “Sedang Action” –  I GAK Murniasih

“Merayakan Murni / Celebrating Murni”, a project gathering local and regional artists to create works in response to the legacy of the iconic female Balinese artist I GAK Murniasih (1966-2006) “Murni” started 8 December 2015 at the innovative new art space Ketemu Project Space in Sukawati. Punctuating the beginning of the 6 month plus program of events, culminating with the group exhibition at Sudakara Art Space Sanur 16 July 2016, the 8 December event was an intimate evening of discussions.  Featuring friends and colleagues of Murni’s, while introducing some of the breadth of her work, and the schedule of up coming events was reveled that included artist in residency programs and curator discussions. This highly anticipated exhibition will be the most important of the 2016 art calendar.

AJI02649_1-1_LR“Forgotten Optical Satsuma Filters” – Ashley Bickerton at Rumah Topeng dan Wayang Setiadharma

Kayu, a series of exhibitions that began in 2014 presented by Italian art worker Lucie Fontaine at Rumah Topeng dan Wayang Setiadharma in Mas, has been a highly valuable contribution to the appreciation of contemporary art in Bali. Organized and curated by Italian artist and Ubud resident Marco Cassani, Kayu showcased both local and international artist in cross cultural collaborations, group and solo exhibitions. Kayu aims to support the growth and awareness of contemporary art in Indonesia through experimental and conceptual projects and operations as an incubation facility to give the opportunity for information and knowledge exchange between Bali and Indonesia with the outside art world. Projects have included artists Corrado Levi, Radu Cosma, Entang Wiharso and Luigi Ontani.

The exhibition space at Rumah Topeng, a traditional Javanese teak warehouse is a unique setting for the presentation of contemporary art allowing the ambience of cultural design elements and raw timber to enhance the presence of the art works. Despite not being well attended by the local art community, importantly Kayu allowed an opportunity for people to enjoy art in an alternative exhibition setting, in contrast to the often “sterile” gallery spaces, while positively contributing to the viewer experience. The program culminated in April with Ashley Bickerton’s first ever solo exhibition in Indonesia “Forgotten Optical Satsuma Filters” that featured his experimental “non commercial” color creations.

DSCF4872             “King Udayana : A Visual Epic” 2016 – Ketut Budiana at Bentara Budaya Bali

The historical collaboration between the Udayana University of Bali and the Bentara Budaya Cultural Center, Denpasar on Friday 15 April highlighted a landmark event in Balinese painting, presenting the works of Balinese master artist Ketut Budiana. Officiated by the Governor of Bali, Made Mangku Pastika, the exhibition “King Udayana : A Visual Epic” featured an enormous narrative canvas, 8339 x 140 cm spanning the walls of the pavilion paying homage to the lifetime journey of the 10th century Balinese King Udayana.

Budiana invited the audience to wonder clockwise around the pavilion to engage with this poetic work laid out in such as way as to occupy the four directions of the compass, with their respective gods, and colors, symbolically linking the human existence with the cosmos. Often described as a “fantastic’ painter” Budiana communicates stories that appear to come from the subconscious in dream like imagery that often evolves from swirling clouds of energy. Post exhibition the work was installed within the Rectorate’s hall of the Udayana University in Jimbaran.

13173813_10153830185898778_8308656514481768488_n     “Kartini” – Cherographed by Jasmine Okubo, May 2016, image by Dewandra Djelantik

Long time collaborator with Indonesian artists, Japanese choreographer, dancer and performer Jasmine Okubo continues to push the art performance genre into new and exciting realms. Her performance during the opening of Rie m’s April exhibition “Conexion & Contradiccion” at the Villa Pandan Harum, Ubud was captivating, as were other during the year. While Rie’s exhibition of cross cultural infusions was outstanding, and importantly introducing the art of collage in a fresh and highly sensitive manner to the local art community, Jasmine’s performance, melding the futuristic aesthetics with Balinese and Japanese flavours typifies her extraordinary talent.

Okubo’s 5 June performance at Rumah Sanur in a silent enclosed space brought into dynamic, otherworldly life with excellent visual aesthetics via video mapping during the Art Ritual, themed about the transition from WATER to AGNI for the 2017 Sprites Bali Art & Creative Biennale broke new ground for the performer and the audience alike.

DSCF5736                               “Questioning Balinese Painting” 2016 – Kemal Ezedine

 

Neo Pitamaha art collective headed by Gede Mahendra Yasa and Kemal Ezedine brings a fresh, strategic, intellectual approach to the art explorations in the historical development of Balinese traditional painting. Beginning in 2013, inspired to investigate a new paradigm of Balinese painting, since 2014 they have been exhibiting in high-profile events in Bandung, Semarang and ArtJog in Yogyakarta. During 2016 they have been increasingly focussing their attention outside of Bali especially engaging with curators, collectors, along with larger audiences. Mahendra Yasa and Ezedine both held solo exhibitions at Langgeng Art Foundation, during the Jogja Art Weeks June/July art extravaganza for the local and international audiences gathered in Yogyakarta for the opening of ArtJog9.

The Neo Pitamaha’s critical and strategic approach is building positive momentum, importantly raising the bar of what Bali based collectives may achieve, while setting a potent example for others to learn from. Ezedine’s enormous 2016 mural project, highlighting his graphic illustration and dynamic colour design skills, upon ceiling panels of the café dining area the new Artotel in Sanur is a visual feast for the eyes while helping to define the uniqueness of Bali’s first art themed hotel.

DSCF4884Detail from Mangu Putra’s 2016 painting of the 1906 Pupatan in Denpasar at Gwangju Art Museum, South Korea

Social issues and important Balinese historical events are themes close to Mangu Putra’s heart. In the May 2016 “In Commenmoration of the 36th Anniversary of the May 18th Democratization Movement 2016 Asian Democracy, Human Rights, Peace Exhibition – The Truth To Turn it Over” at the Gwangju Art Museum, South Korea he exhibted his painting of the 1906 Pupatan in Denpasar  Bali. Following from his research early in 2016 he reconstructed a scene post puputan killings that depicts leaders of the Dutch military battlion posing with the body of the Raja of Denpasar.

IMG-20160609-WA003       The WOI (Wall of Indonesia) Exhibition at Bloo Art Space, Padang Bai, East Bali

The prevalence of artist run initiatives such as Cata Odata in Ubud, Ketemu Project Space, Luden House in Ubud, and the recently renamed Bloo Art Space located at the Bloo Lagoon Eco Resort and Villas in Padang Bai (also managed by Cata Odata) have become major forces within the development of art in Bali. While these community focussed organizations embrace and grow through the dynamic connectivity of social media and the internet what is essential is that there are venues that outside of the gallery commercial modal that continue to grow and survive as essential pillars of the art infrastructure in Bali.

Source: https://lifeasartasia.wordpress.com/2016/07/26/the-bali-art-scene-2016-an-overview/

Mea Vulva, Maxima Vulva at Merayakan Murni Exhibition, Sudakara Art Space Sanur


In the social interaction of modern urban society, individuals are required to attend by wearing the identity formed by elements outside them. The individual identity is constructed by the public perception on the accumulation of capital (social, cultural, economic, and symbolic as in Pierre Bordiou’s thought). Based on that perception, the position of the individual in the process of social interaction within the community is determined by the segmentation and social classes.

It encourages individuals to achieve capital symbolic as high as possible in the purpose of improving their social class in society. But not all have the awareness to accumulate its entire capital, including social capital, economic, cultural, and symbolic thoroughly. Most people only motivated to pursue capital symbolic without including the three other aspects. As the impact can be seen in the desire increasing of individuals to the symbols of the class in the form of commodities that had been reduced in the community as a marker of a certain social class.

This is then can be understood as fetishism or the insanity pursuing certain objects in order to fight for social class as we have seen today how the fashion trends shaping social class framework. In the works of this time, I tried to question about the re-establishment of individual identity in the public sphere, including the pursuit of capital symbolic does. It is about the public perception in massive movement to establish a person’s identity through self-imaging. It is certainly create the layer of identity in accordance with the public segmentation that will be face by the individual.

I want to present how identity can become fashion which merely appear follow the trend with its temporary with the parameters that created by the upper class hegemony with the hierarchy as reflected in the object (vagina). Objects in the tray is ceramic vagina, combustion process that makes the object into a ceramic is a metaphor for an identity that has been through the process of forging, competition, experience, and effort to reach the parameters of social class. Whereas vagina on the floor, represent the identity in the lowest hierarchy. As the impact people keep continue to update their identity through the collection of capital symbolic. Today, we also see that identity politics is not just limited to the pursuit of social class motives, but also motivated by primordially elements that include ethnicity, religion, and ideology.

Rancangan Instalasi

The Design of Mea Vulva, Maxima Vulva

Citra Sasmita_01

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 1

Citra Sasmita_02

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 2

Citra Sasmita_03

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 3

IMG_4439

The Display in Sudakara Art Space in front of Mella Jaarsma installation “Pure Passion”. The detail of artwork is variable dimention

IMG_4735

I’m explaining the concept of the art work

IMG_5052

Curiosity 1

IMG_5056

Curiosity 2

Publication:

https://lifeasartasia.wordpress.com/2016/09/06/merayakan-murni-celebrating-indonesias-most-important-woman-artist/

“Celebrating Murni”: life, legacy and memory of Indonesia’s IGAK Murniasih – artist profile

Whose Canvas: Citra Sasmita

http://www.jakartajive.com/2016/06/shoes-scissors-and-sexuality-celebrating-the-art-of-pioneering-feminist-balinese-artist-murni.html

http://radarbali.jawapos.com/read/2016/07/18/4155/jadi-simbol-perlawanan-karya-murni-dianggap-tabu-dan-kotor/1

Celebrating The Art of Murni

Balipost minggu, 24/7/2016

“Merayakan Murni” Perayaan Melawan Patriarki

Puting Digigit Buaya dan Gaya Lain – Berbagai Rupa Perayaan Murni