Muasal Keruntuhan


 

Ada yang menyusup mengirimkan pertanda

Pada subuh sebelum segalanya dapat ditangkap jelas oleh retina

Hanya sekedar siluet

Ketika itu beringin kering tumbuh dalam batok kepala

Serabutnya menyusup semakin dalam

Menyeruak ke bagian paling rumit

Dimana manusia memendam hasrat tergelapnya

 

Kemudian pada ambang kesadaran dan mimpi

Aku terbius dalam imaji;

Sendiri di tanah asing

Pada perjalanan di gurun dengan hamparan duri

Setiap jejakku akan memerah

Ditembus serbuk-serbuk besi

 

Darah dan rasa sakit membikin setiap jalan kelahiran dipenuhi ular

Yang senantiasa menyuntikkan bisanya pada mahluk pertama

Bisa itu adalah candu yang membuat adam dan hawa tidak lapar akan buah kuldi

Melainkan rasa lapar yang membuat mereka melahap satu sama lain

Dalam kenikmatan purba, yang tak mampu dikultuskan dalam dogma

Dogmalah yang membuatku buta

Untuk paham bahwa penciptaan adalah khayali, tidak pernah terjadi.

 

Kemudian lenguhan yang berasal dari kedalaman neraka

Mendenging di dasar telinga, menjadikanku tuli

Dan oleh takdir disebutkan bahwa ketulian adalah penyakit

Yang membuat doa para santo tak akan pernah menyentuh kebaikan

Kebaikan tidak akan menyentuh siapapun

Sebab kebaikan adalah khayali, tidak pernah terjadi

 

Denpasar, 2016

Filsafat Kuldi


 

Kita adalah sepasang pendosa yang dikutuk Tuhan turun ke dunia

Setelah rasa lapar merenggukmu dan ular meliuk-liuk didalam tubuhku

Surga telah dikuduskan menjauh dari iman kita

Tidak ada lagi kolam susu atau aroma hangat rempah

Apalagi padang rumput keemasan

Nyanyian para malaikat berwujud malam

Dan rintik hujan yang menyegarkan

Pun menjadi ingatan yang diterpa angin

 

Kita mengarungi musim-musim asing

Yang menawarkan rasa dingin yang terlampau dingin

Atau terik yang menjadikan tubuh kita semakin fana

Semakin larut dengan usia dunia

Sementara jauh dalam ingatan atau barangkali telah menjadi khayali

Bahwa dulu sekali kita adalah mahluk-mahluk abadi

 

Kini kita berpijak pada keniscayaan

Pada hari-hari yang tunduk akan waktu

Pada sebuah adegan yang terampil dimainkan para penghuninya;

Antara memberi dan mencuri kehidupan

Tak ada banyak pilihan

 

Namun sekali lagi kita ingin merengguk dosa-dosa itu

Dengan penuh ketaatan

Tak ada lagi waktu panjang yang sia-sia

 

Kali ini dua biji kuldi kau lahap dalam suka cita

Dan ular itu kembali meliuk-liuk ke dalam tubuhku

Semakin dalam, semakin tenggelam

Seolah ia ingin tinggal lebih lama untuk sekedar berbenih

Menjadi pepohonan, menjadi kawanan mahluk yang menunggu untuk dinamai

 

Denpasar, 2016

Epilog Pembakaran Sita


Jika saja kau menyimpan abuku

Segera setelah pembakaran

Segera setelah doa-doa berhenti

Dan menaburkannya dalam liang

Yang akan menjadi penghabisanmu

Dengan rindu mengganas

Maka menjelmalah kita dengan sempurna

 

Ingatlah sejenak

Ketika api pertama menyulut tubuhku

Kenanglah sebagaimana ayat keseratus

Kau tulis dalam keningmu;

Bahwa pada mataku yang  memutih

Masih dapat kau lihat musim-musim

Dimana kita menari diatasnya

 

Juga dalam dingin yang diciptakan para dewa

Pada kulit

dan seluruh sel yang menjadikanku  ada,

Pertemuan kita melahirkan roh paling kudus

Yang menjadi darah, debu, dan hangat yang purba

 

Lihatlah aku sekali lagi

Saat darahku mengering dicumbu maut

Aroma dan merahnya akan mewakili

Segala yang ingin kusampaikan padamu

Perihal keabadian

Melampaui zaman dan usia yang mudah diterka

 

Denpasar, 2014

Menuju Pembakaran


 

: Ida I Dewa Agung Istri Putra

 

Inilah pernikahan abadi kita,

dimana aku sempurna menjelma perawan untukmu

 

Setelah hidup yang begitu singkat

Dan kematian adalah puncak kerinduan

dari waktu ke waktu

Tanpa terhitung angka tahun

 

Telah lama kunanti dunia menghapusku

Meski rapal mantra

dan jimat-jimat penebus

Membuatku selamanya menjadi tanda hari;

menjadi pemujaan yang bertubi-tubi

 

Mungkin setelah kulalui sebelas menara

yang Tuan hadiahkan

Membuat senja lebih menyala

Serupa birahi

Untuk kembali menyatu dengan rusukmu

 

Namun pada langit keberapa

Dapat kugapai dirimu?

 

Diantara kobaran api yang akan menjadikanku ilusi

Malaikat dan musafir bersorak,

Lalu seketika diam

Barangkali mereka,

barangkali ingin memerangkapku

Dalam ritus perjalanan

Hingga di pucuk menara,

langit memucat dan bintang pertama muncul

Pandanganku tersihir akan rimba

Dimana sekali lagi kau dimahkotakan

untuk menguasai ketiadaan

 

Puluhan ribu tubuh mengantarku melewati tiga dunia

Menopang kerajaan untuk tubuh suriku

Kepada api yang tak singkat mengepul

Dalam upacara penyatuan denganmu

 

Klungkung, 2014

Repost: The Bali Art Scene 2016 – An Overview by Richard Horstman


Citra Sh"Torment"

“Torment”  2015 – Citra Sasmita one of the strongest works from the ‘Bali Art Intervention #1’ “Violent Bali”

This overview looks back over the past six months (and more) at exhibitions and happenings of note in the Bali art scene which in the past year has witnessed some critical infrastructure developments.

Closing out 2015 ‘Bali Art Intervention #1’ “Violent Bali” open 10 November at the Tony Raka Art Gallery in Ubud, featured the work of 60 artists, and was the strongest collective showing of contemporary art in Bali since July 2013’s “Irony in Paradise” by Sanggar Dewata Indonesia at ARMA. Slated to run for a month the exhibition continued into the new year and works by Citra Samsita, Wayan Wirawan, Agus Cahaya, IB Putra Adnyana, Pandi Acmadi, Tatang BSP, amongst many others were worthy of mention.

Made Budhiana. "In the Darkness of Night" Image M. O'Riordan“In the Darkness of Night” 2015 – Made Budhiana from the “Cruise Control” Exhibition

“Cruise Control Indonesia – Top End Artist’s Camp Exhibition” 23 January – 13 February 2016 at the Northern Centre of Contemporary Art (NCCA) in Darwin, Australia showcased the some of the fruits of the 2015 Artist’s Camp, an engagement by 6 Indonesian artists in the Northern Territory (NT). For five weeks Made Budhiana, Wayan Wirawan, Made Sudibia, Made ‘Dalbo’ Surimbawa and Ni Nyoman Sani from Bali, and East Javanese artist Suryani were guests of the government of Northern Territory and were exposed to foreign lands and societies, and delved creatively into new visual and conceptual territories.

The biannual Artists Camp, which was first held in 2012 in the NT, and then with two subsequent Camps in Bali (2012 & 2014) is the initiative of Australian art lover Colin MacDonald and Made Budhiana, working with the NCCA, expanding upon the original modal of the Artists Camp that first began back in 1978. The exhibition displayed some outstanding works of cross-cultural engagement and its success in underlined by the support the Chief Minister of the NT government and the Commonwealth Bank of Australia. Despite international political relations between Indonesia and Australia recently weathering stormy seas, art and cultural remain the most important and enduring engagements between the two countries.

TiTian Art Space. Image by Richard Horstman                 TiTian Art Space – Image Featuring works by Teja Astawa & I.B. Purwa

Merging perceptions and practices from the past with the present, along with an innovative vision for the future, Yayasan TiTian Bali (YTB), a new art foundation launched 29 January 2016 at Bentara Budaya Bali cultural center, is setting out to revolutionize Balinese art. Inaugurated on the 80th anniversary of the founding of the PitaMaha artists collective in Ubud, the Balinese artist co-operative TiTian Art Space, located on Jalan Bisma Ubud, will help transform artists into art entrepreneurs within the creative economies.

The brain child of the former volunteer curator and international liaison officer for Puri Lukisan Museum, Soemantri Widagdo, exhibitions hosted this year have showcased some of the finest Balinese traditional and contemporary artists such as Teja Astawa, IB Purwa, Made Griyawan, Aris Sumanta and Gede Widyanatara, to name a few. The June “Traces Under the Surface – Batuan Painting Exhibition” set 3 generations of Batuan painters from one family side-by-side in a unique expose into the development of Batuan painting. The regular series of exhibitions and workshops along with the revolutionary vision of YTB are an exciting and important addition to the Bali art infrastructure.

With plans to build a Museum of Contemporary Art (Bali MOCA), an international class museum located in Ubud, within the next ten years, exhibiting both old and new work of the highest quality, YTB expects to inspire new directions and achievements in Balinese art, while being the premier hub for Balinese visual arts by 2021.  Balinese traditional art is undergoing an exciting revival underpinned by fresh young talent and strategic collective activity, for example in Batuan led by the formation of the Baturlangan Artist Collective of Batuan.

With the mission to place Balinese art on global platforms the welcome addition of  YTB to the Bali art scene will aid in future consolidation of the current flourishing of Balinese traditional painting. The 21st century ushers in a new paradigm of global thinking and the art world is responding and evolving especially due to the impact of the internet and social media which is empowering individuals to develop global brands and presence. Yayasan TiTian Bali is building a new eco system for Balinese art for the 21st Century.

A.A Gede Anom Sukawati-"Tari Joged Bumbung". Image courtesy of Larasati“Joged Bumbung” 2008 – A.A Gede Anom Sukawati featured in the 1oth Anniversary Larasati Balinese Modern Traditional & Contemporary Art Auction at ARMA Ubud.

Results of the special 10th anniversary Larasati Balinese Modern Traditional & Contemporary Art auction at ARMA 28 February confirm that the market for Balinese traditional art is growing steadily while providing excellent value through the low to medium and high price ranges. Emphasizing quality over quantity the 81 items birthday sale featured a parade of beautiful works including sketches, watercolors, wood carvings and paintings by “Old & Young” Balinese masters.

During the past decade, with two auctions per year in Ubud Larasati have opened up an international forum for the trade of high quality traditional Balinese works, especially paintings. By introducing professionalism of an international standard that Bali had yet to experience in its art dealings Larasati has helped create a real, healthy market for traditional Balinese art. The auction included works by popular artists I.B Made Poleng, Gusti Lempad, Made Sukada, A.A Gede Anom Sukawati, and I.B Nyana to name a few.

A feature of the sale was Larasati Auctioneers providing for the first ever real-time data over the internet allowing easy, direct access to buying opportunities for a global audience. The auction audience revealed more foreigners in attendance than Indonesians being a testament to the developing international market of the Balinese art which is considered by experts to be undervalued. Larasati CEO Daniel Komala confirmed that the outcome of first ten years of auctions have exceeded all expectations.

I GAK MURNIASIH - SEDANG ACTION - AOC - 100 x 100cm - 2003                                                  “Sedang Action” –  I GAK Murniasih

“Merayakan Murni / Celebrating Murni”, a project gathering local and regional artists to create works in response to the legacy of the iconic female Balinese artist I GAK Murniasih (1966-2006) “Murni” started 8 December 2015 at the innovative new art space Ketemu Project Space in Sukawati. Punctuating the beginning of the 6 month plus program of events, culminating with the group exhibition at Sudakara Art Space Sanur 16 July 2016, the 8 December event was an intimate evening of discussions.  Featuring friends and colleagues of Murni’s, while introducing some of the breadth of her work, and the schedule of up coming events was reveled that included artist in residency programs and curator discussions. This highly anticipated exhibition will be the most important of the 2016 art calendar.

AJI02649_1-1_LR“Forgotten Optical Satsuma Filters” – Ashley Bickerton at Rumah Topeng dan Wayang Setiadharma

Kayu, a series of exhibitions that began in 2014 presented by Italian art worker Lucie Fontaine at Rumah Topeng dan Wayang Setiadharma in Mas, has been a highly valuable contribution to the appreciation of contemporary art in Bali. Organized and curated by Italian artist and Ubud resident Marco Cassani, Kayu showcased both local and international artist in cross cultural collaborations, group and solo exhibitions. Kayu aims to support the growth and awareness of contemporary art in Indonesia through experimental and conceptual projects and operations as an incubation facility to give the opportunity for information and knowledge exchange between Bali and Indonesia with the outside art world. Projects have included artists Corrado Levi, Radu Cosma, Entang Wiharso and Luigi Ontani.

The exhibition space at Rumah Topeng, a traditional Javanese teak warehouse is a unique setting for the presentation of contemporary art allowing the ambience of cultural design elements and raw timber to enhance the presence of the art works. Despite not being well attended by the local art community, importantly Kayu allowed an opportunity for people to enjoy art in an alternative exhibition setting, in contrast to the often “sterile” gallery spaces, while positively contributing to the viewer experience. The program culminated in April with Ashley Bickerton’s first ever solo exhibition in Indonesia “Forgotten Optical Satsuma Filters” that featured his experimental “non commercial” color creations.

DSCF4872             “King Udayana : A Visual Epic” 2016 – Ketut Budiana at Bentara Budaya Bali

The historical collaboration between the Udayana University of Bali and the Bentara Budaya Cultural Center, Denpasar on Friday 15 April highlighted a landmark event in Balinese painting, presenting the works of Balinese master artist Ketut Budiana. Officiated by the Governor of Bali, Made Mangku Pastika, the exhibition “King Udayana : A Visual Epic” featured an enormous narrative canvas, 8339 x 140 cm spanning the walls of the pavilion paying homage to the lifetime journey of the 10th century Balinese King Udayana.

Budiana invited the audience to wonder clockwise around the pavilion to engage with this poetic work laid out in such as way as to occupy the four directions of the compass, with their respective gods, and colors, symbolically linking the human existence with the cosmos. Often described as a “fantastic’ painter” Budiana communicates stories that appear to come from the subconscious in dream like imagery that often evolves from swirling clouds of energy. Post exhibition the work was installed within the Rectorate’s hall of the Udayana University in Jimbaran.

13173813_10153830185898778_8308656514481768488_n     “Kartini” – Cherographed by Jasmine Okubo, May 2016, image by Dewandra Djelantik

Long time collaborator with Indonesian artists, Japanese choreographer, dancer and performer Jasmine Okubo continues to push the art performance genre into new and exciting realms. Her performance during the opening of Rie m’s April exhibition “Conexion & Contradiccion” at the Villa Pandan Harum, Ubud was captivating, as were other during the year. While Rie’s exhibition of cross cultural infusions was outstanding, and importantly introducing the art of collage in a fresh and highly sensitive manner to the local art community, Jasmine’s performance, melding the futuristic aesthetics with Balinese and Japanese flavours typifies her extraordinary talent.

Okubo’s 5 June performance at Rumah Sanur in a silent enclosed space brought into dynamic, otherworldly life with excellent visual aesthetics via video mapping during the Art Ritual, themed about the transition from WATER to AGNI for the 2017 Sprites Bali Art & Creative Biennale broke new ground for the performer and the audience alike.

DSCF5736                               “Questioning Balinese Painting” 2016 – Kemal Ezedine

 

Neo Pitamaha art collective headed by Gede Mahendra Yasa and Kemal Ezedine brings a fresh, strategic, intellectual approach to the art explorations in the historical development of Balinese traditional painting. Beginning in 2013, inspired to investigate a new paradigm of Balinese painting, since 2014 they have been exhibiting in high-profile events in Bandung, Semarang and ArtJog in Yogyakarta. During 2016 they have been increasingly focussing their attention outside of Bali especially engaging with curators, collectors, along with larger audiences. Mahendra Yasa and Ezedine both held solo exhibitions at Langgeng Art Foundation, during the Jogja Art Weeks June/July art extravaganza for the local and international audiences gathered in Yogyakarta for the opening of ArtJog9.

The Neo Pitamaha’s critical and strategic approach is building positive momentum, importantly raising the bar of what Bali based collectives may achieve, while setting a potent example for others to learn from. Ezedine’s enormous 2016 mural project, highlighting his graphic illustration and dynamic colour design skills, upon ceiling panels of the café dining area the new Artotel in Sanur is a visual feast for the eyes while helping to define the uniqueness of Bali’s first art themed hotel.

DSCF4884Detail from Mangu Putra’s 2016 painting of the 1906 Pupatan in Denpasar at Gwangju Art Museum, South Korea

Social issues and important Balinese historical events are themes close to Mangu Putra’s heart. In the May 2016 “In Commenmoration of the 36th Anniversary of the May 18th Democratization Movement 2016 Asian Democracy, Human Rights, Peace Exhibition – The Truth To Turn it Over” at the Gwangju Art Museum, South Korea he exhibted his painting of the 1906 Pupatan in Denpasar  Bali. Following from his research early in 2016 he reconstructed a scene post puputan killings that depicts leaders of the Dutch military battlion posing with the body of the Raja of Denpasar.

IMG-20160609-WA003       The WOI (Wall of Indonesia) Exhibition at Bloo Art Space, Padang Bai, East Bali

The prevalence of artist run initiatives such as Cata Odata in Ubud, Ketemu Project Space, Luden House in Ubud, and the recently renamed Bloo Art Space located at the Bloo Lagoon Eco Resort and Villas in Padang Bai (also managed by Cata Odata) have become major forces within the development of art in Bali. While these community focussed organizations embrace and grow through the dynamic connectivity of social media and the internet what is essential is that there are venues that outside of the gallery commercial modal that continue to grow and survive as essential pillars of the art infrastructure in Bali.

Source: https://lifeasartasia.wordpress.com/2016/07/26/the-bali-art-scene-2016-an-overview/

Mea Vulva, Maxima Vulva at Merayakan Murni Exhibition, Sudakara Art Space Sanur


In the social interaction of modern urban society, individuals are required to attend by wearing the identity formed by elements outside them. The individual identity is constructed by the public perception on the accumulation of capital (social, cultural, economic, and symbolic as in Pierre Bordiou’s thought). Based on that perception, the position of the individual in the process of social interaction within the community is determined by the segmentation and social classes.

It encourages individuals to achieve capital symbolic as high as possible in the purpose of improving their social class in society. But not all have the awareness to accumulate its entire capital, including social capital, economic, cultural, and symbolic thoroughly. Most people only motivated to pursue capital symbolic without including the three other aspects. As the impact can be seen in the desire increasing of individuals to the symbols of the class in the form of commodities that had been reduced in the community as a marker of a certain social class.

This is then can be understood as fetishism or the insanity pursuing certain objects in order to fight for social class as we have seen today how the fashion trends shaping social class framework. In the works of this time, I tried to question about the re-establishment of individual identity in the public sphere, including the pursuit of capital symbolic does. It is about the public perception in massive movement to establish a person’s identity through self-imaging. It is certainly create the layer of identity in accordance with the public segmentation that will be face by the individual.

I want to present how identity can become fashion which merely appear follow the trend with its temporary with the parameters that created by the upper class hegemony with the hierarchy as reflected in the object (vagina). Objects in the tray is ceramic vagina, combustion process that makes the object into a ceramic is a metaphor for an identity that has been through the process of forging, competition, experience, and effort to reach the parameters of social class. Whereas vagina on the floor, represent the identity in the lowest hierarchy. As the impact people keep continue to update their identity through the collection of capital symbolic. Today, we also see that identity politics is not just limited to the pursuit of social class motives, but also motivated by primordially elements that include ethnicity, religion, and ideology.

Rancangan Instalasi

The Design of Mea Vulva, Maxima Vulva

Citra Sasmita_01

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 1

Citra Sasmita_02

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 2

Citra Sasmita_03

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 3

IMG_4439

The Display in Sudakara Art Space in front of Mella Jaarsma installation “Pure Passion”. The detail of artwork is variable dimention

IMG_4735

I’m explaining the concept of the art work

IMG_5052

Curiosity 1

IMG_5056

Curiosity 2

Publication:

https://lifeasartasia.wordpress.com/2016/09/06/merayakan-murni-celebrating-indonesias-most-important-woman-artist/

“Celebrating Murni”: life, legacy and memory of Indonesia’s IGAK Murniasih – artist profile

Whose Canvas: Citra Sasmita

http://www.jakartajive.com/2016/06/shoes-scissors-and-sexuality-celebrating-the-art-of-pioneering-feminist-balinese-artist-murni.html

http://radarbali.jawapos.com/read/2016/07/18/4155/jadi-simbol-perlawanan-karya-murni-dianggap-tabu-dan-kotor/1

Celebrating The Art of Murni

Balipost minggu, 24/7/2016

“Merayakan Murni” Perayaan Melawan Patriarki

Puting Digigit Buaya dan Gaya Lain – Berbagai Rupa Perayaan Murni

Gadis Merah dan Pohon yang Berbuah Apa Saja


Aku tidak pernah menyangka akan diasingkan dari tanah tempat kelahiranku menuju sebuah kota kecil di dataran Gargalota dengan menumpang kapal barang yang selain mengangkut cokelat dan biji-biji beraroma menyengat juga ada sekelompok budak-budak berkulit hitam yang nanti akan diturunkan di Grenlischerter yang berjarak 10 hari dari pelabuhan. Aku sendiri akan turun di semenanjung Gargalota yang berjarak 7 hari, kemudian melanjutkan perjalanan melewati gurun Kilosa hingga akhirnya sampai dikota itu.

Sesungguhnya ini bukan keinginanku untuk pergi ke tempat antah berantah yang bahkan dari cerita-cerita para pelaut kota tersebut menyimpan lebih dari seribu cerita kengerian. Pernah dikisahkan seorang pelaut terdampar di Gargalota. Ketika itu hari masih terang dan tidak ada yang bisa diandalkannya untuk navigasi kecuali insting dan arah hembusan angin. Kemudian sangat berbahaya baginya jika bepergian di darat pada malam hari, kita tidak akan bisa mengira akan ada binatang buas atau suku kanibal yang mengincar para pendatang yang tanpa sengaja memasuki wilayah mereka.

Tentu dengan tidak berbekal apapun pelaut itu menyusuri rawa-rawa dan sebuah sabana sepanjang rasa putus asanya. Kelaparan dan kehausan ia hendak mengakhiri hidupnya. Bahkan jalan kembali pun ia tidak mampu mengingatnya. Dalam sabana yang luas tersebut ia menggali tanah dengan pisau belatinya, setidaknya pelaut itu ingin mayatnya ada dalam lubang yang cukup dalam, jauh dari jangkauan burung hering dan binatang pemakan bangkai lainnya. Namun belum lama ia menggali, semburat air muncrat ke atas tanah. Ternyata Tuhan masih berbaik hati, begitu pikirnya. Tanpa menunggu apapun sang pelaut meraup segenap air dalam kolam yang dibuatnya, seolah itu merupakan harta satu-satunya saat ini. Kemudian ia minum dan mandi sepuasnya.

Keajaiban lain terjadi, sebuah pohon tiba-tiba tumbuh di atas kolam itu, dengan sulur-sulur akar kemudian batang dan ranting pohon yang tumbuh begitu cepat menyusul dedaunannya. Si pelaut berharap pohon itu akan berbuah apel, atau buah anggur–makanan mewah yang selalu ia lihat dimakan oleh para tuan tanah. Dan segera saja pohon itu berbuah sesuai dengan keinginannya. Namun dari bawah pohon, si pelaut hanya bisa menggapai-gapaikan tangannya tak sanggup untuk memetik satupun dari buah-buahan itu, tubuhnya tak lagi mampu memanjat bahkan hanya untuk sekedar berdiri, beban diatas tubuhnya terlampau berat. Mata air yang ia gali tampak memerah, sulur-sulur akar tetap tumbuh masuk ke kedalaman tanah. Pohon ajaib yang bisa berbuah apapun itu tumbuh di atas tubuh si pelaut.

***

Perjalanan dengan menggunakan kapal layar bukanlah hal yang mudah bisa kulalui. Beberapa hari ini cuaca sangat buruk, burung-burung camar yang terbang melawan arah angin, bagi kapten kapal merupakan hal yang paling mengkhawatirkan. Aku cukup yakin, berbekal pengalamannya hidup di lautan, pertanda alam seperti ini bukanlah hal baru baginya. Namun ada raut kecemasan dalam wajahnya yang kasar. Raut kecemasan ini seperti membaca sesuatu yang lain dari biasanya. Apakah akan ada badai yang lebih besar dari yang biasa dia hadapi? Ataukah, bermil-mil didepan sana akan ada monster laut yang mampu meremukkan seluruh badan kapal seperti yang diceritakan awak-awak kapal ketika mabuk di kedai untuk menakut-nakuti para pelacur yang pada menit selanjutnya akan mereka lumat dan nikmati dengan beringas.

Saat ini dalam sudut yang di luar perhatian para awak kapal, aku menyembunyikan rasa mual karena mabuk laut. Dalam kapal ini tidak ada yang namanya kenyamanan. Sebelum naik ke kapal laki-laki di atas dek itu selalu meludah kearahku, ada yang menutup hidung mereka seolah aku adalah bangkai yang membusuk. Sesungguhnya hal itu pula yang menjadi alasan aku diusir dari desa kelahiranku. Warga desa selalu menganggapku anak terkutuk. Konon ketika aku dilahirkan, tidak ada yang membantu persalinan ibuku. Ketika itu seluruh penduduk melakukan pemujaan terhadap sebuah pohon semak yang mereka anggap sangat suci dan mampu melindungi penduduk dari segala bencana. Pohon semak yang tingginya tidak lebih dari dua kaki yang selalu mereka sirami dengan susu, padahal mereka sendiri tidak pernah meminum itu seumur hidup. Bagi mereka susu hanya untuk roh suci yang selalu melindungi desa. Konon pohon itu mampu mendatangkan badai jika ada kapal dengan bendera perompak ingin berlabuh disana atau membelokkan tanah longsor yang hampir mengubur desa.

Saat itu usia kandungan ibu masih sangat muda, tidak ada yang menyangka aku akan lahir lebih awal. Ada yang bilang, belum berselang beberapa saat aku keluar dari rahim ibu, aku menghisap seluruh darah ibuku hingga kulitku sama merahnya dengan darah itu. Tidak ada yang berhasil menghilangkan warna merah dan bau darah dalam tubuhku. Hingga aku tumbuh besar, aku telah menjadi teror dalam desa itu. Mereka pikir aku akan menghisap darah mereka, padahal kecerobohan yang pernah kulakukan hanyalah diam-diam meminum susu dari kerbau-kerbau penduduk desa.

Ketakutan penduduk desa semakin menjadi ketika dari puting-puting kerbau mereka tidak bisa mengeluarkan susu setetespun, hanya cairan merah segar yang mengalir tanpa henti. Karena putus asa, mereka menyirami pohon semak suci dengan darah kerbau seraya berdoa untuk menyingkirkanku. Tidak satupun yang dapat mereka lakukan selain berdoa. Tidak beberapa lama kemudian pohon itu menjadi merah, sama merahnya dengan darah dan dedaunan dalam pohon itu pun gugur menyisakan rantingnya kemudian mengering. Sejak saat itu, penduduk desa makin tidak berani mendekatiku. Bagi mereka, apapun yang kusentuh akan berubah menjadi merah. Maka dari itu, ketika kapal yang mengangkut para budak menuju Grenlischerter berlabuh para penduduk menyambut dengan gembira seolah kedatangan mereka menjadi satu-satunya harapan untuk mengenyahkanku. Para penduduk memberikan mereka daging kerbau yang telah diasap, air segar beserta kentang, apapun yang bisa mereka berikan dengan cuma-cuma. Sebagai timbal baliknya para penduduk mendesak sang kapten untuk membuangku di Gargalota, sebuah pulau yang sama terkutuknya dengan keberadaanku.

Bersembunyi dalam gudang kapal, aku menahan sebisa mungkin rasa lapar. Berhari-hari aku tidak memakan apapun dan dengan terpaksa aku makan makanan sisa awak kapal, berupa bubur kentang dingin yang sedikit berjamur—rasa dan tampilannya tidak berbeda dengan muntahan para pemabuk di kapal ini. Biji-bijian dan buah kering dalam kotak kayu hanya menimbulkan rasa perih dan menyengat bahkan hanya dengan mencium aromanya saja.

Para budak berkulit hitam yang dikurung didasar kapal ternyata kondisinya tidak lebih baik. Dari celah kayu diam-diam aku mengintip, dan yang kutemukan jauh lebih mengerikan daripada ketakutan penduduk desa ketika melihat sosokku. Mereka harus bertahan melawan rasa dingin karena air yang menggenangi dasar kapal. Tangan dan kaki mereka terikat rantai yang terhubung dari satu budak ke budak lainnya. Di dekat tangga, dua orang awak kapal memerintah mereka sesuka hati, meludah dan memukuli budak-budak itu jika ada yang tidak patuh.

Budak-budak berkulit gelap itu berasal dari orang-orang suku Avon. Orang-orang Avon selalu bersembunyi ketika daerah mereka didatangi orang asing dan seharusnya keberadaan mereka tidak mudah dilacak karena kehidupan mereka yang selalu berpindah-pindah hingga ke bagian hutan yang paling dalam. Disamping itu orang-orang Avon memiliki kemampuan kamuflase yang mampu mengecoh harimau lapar sekalipun. Setelah melakukan berbulan-bulan ekspedisi, kapten dan para awak kapal berhasil menculik sekitar dua belas orang yang terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak. Rupanya kapten kapal ini cukup cerdik, dengan membakar bunga opium kering itu sudah cukup membuat orang-orang Avon lemas dan tidak sadarkan diri dalam persembunyiannya.

Dengar-dengar para tuan tanah dan borjuis di Grenlischerter telah memasang harga yang mahal untuk budak-budak itu. Kemampuan mereka meramu biji-bijian menjadi balsam, bumbu dan obat-obatan yang didapat dari ekspedisi ke pulau-pulau tropis sangat bisa diandalkan.

Seorang perempuan Avon telah menjadi bulan-bulanan awak kapal yang mabuk. Sementara yang lainnya tetap dipukuli ketika ingin melawan. Dalam ketidakberdayaan mereka hanya bisa memalingkan pandangan, tidak ingin melihat nasib buruk yang menimpa seorang kawannya.  Meski berkulit gelap, tubuh perempuan Avon sesungguhnya lebih ranum dibandingkan pelacur-pelacur berkulit putih yang tampak mengendur. Barangkali karena begitu lama melaut, rasa lapar mereka sudah tidak tertahankan dan perempuan Avon tersebut telah menjadi santapan mereka malam ini.

***

Pertanda yang menjadi kekhawatiran kapten kapal rupanya telah menunggu tidak jauh didepan sana. Laut masih tenang, dan kapalpun melaju dengan kecepatan angin yang teratur, namun ada kabut tebal yang menyambut dengan begitu cepat dan mengurung kapal ini dalam udara dingin yang tidak tertahankan. Seketika kapal ini seolah memasuki lautan orang-orang mati. Angin dingin yang berhembus lebih terdengar seperti teriakan menyayat yang berasal dari hantu-hantu dasar laut. Kapal tetap melaju tanpa arah dalam kabut, semua awak kapal tampak panik. Sesungguhnya tidak ada hal apapun yang terjadi kecuali suhu dingin yang membuat mereka berhalusinasi. Mereka mulai kehilangan kesadaran. Kapten kapal tampak mengamuk di atas dek sambil mengacung-ngacungkan pedangnya, mengutuk dan menyerang orang Avon yang lolos dari kurungan. Ia mencincang-cincang semua orang Avon itu yang jumlahnya belasan. Bukan, bukan belasan, namun puluhan. Jumlah orang-orang Avon makin bertambah seiring tebalnya kabut dan tidak terkendali. Akupun tidak mempercayai penglihatanku. Bagaimana bisa jumlah mereka bertambah banyak dengan seketika?

Aku berlari menuju dasar kapal tempat mereka dikurung, dan orang-orang Avon masih berada dalam kurungannya. Dua awak kapal tampak membujur kaku, ada yang mencekik mereka dengan sekuat tenaga. Bersama si perempuan Avon yang selamat, kami membebaskan sisa tawanan dan melarikan diri.

Ketika sampai diatas dek, segalanya sudah tampak tenang. Kabut perlahan menghilang dan kembali mengembalikan penglihatanku. Namun apa yang kulihat seperti mengingatkanku akan sesuatu. Kini dihadapanku tumbuh beberapa pohon besar, seolah tumbuh dengan begitu ajaibnya. Orang-orang Avon telah lebih dulu berlarian dan memanjat pohon-pohon itu. Mereka memakan apapun yang bisa ditemukannya dibalik dedaunan pohon itu. Akupun  ikut menghambur, berharap akan menemukan sesuatu untuk menghilangkan rasa laparku. Tapi, belum jauh aku memanjat, aku merasa telah menginjak sesuatu yang dingin dan licin. Menghadapi rasa penasaranku, kulihat mayat kapten dan para awak kapal dililit akar pohon yang menghisap darah dan organ-organ tubuh mereka. Mungkinkah aku telah sampai di Gargalota?

 

Citra Sasmita, dimuat di BaliPost Minggu, 3 Maret  2016

8 Maret, Gerakan Perempuan Menuju Kesetaraan


“Perempuan adalah kekuatan utama dalam sebuah perubahan” begitulah yang diungkapkan oleh Sri Mulyani Indrawati, Chief Operating Officer and Managing Director, Bank Dunia. Karena baginya, negara yang menjamin dan menginvestasikan pendidikan bagi anak-anak perempuan dan menghilangkan hambatan hukum bagi perempuan untuk memaksimalkan potensinya sekarang telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Dalam bidang ekonomi di Amerika Latin misalnya antara tahun 2000-2010 membawa perubahan dalam reduksi kemiskinan sebagai dampak dari pemberdayaan lebih dari 70 juta perempuan yang bergabung dalam industri kerja dan tentunya telah mendapatkan pendidikan yang layak sehingga berimbas positif pula pada kedewasaan perempuan untuk menikah pada usia matang dan memiliki sedikit anak.  Hal ini pun dapat menjadi indikasi bahwa negara yang mampu mengentaskan kemiskinan adalah negara yang mengkondisikan perempuan dan laki-laki dalam kesetaraan.

Tentunya inilah yang menjadi visi besar dari gerakan perempuan di seluruh dunia yang selalu diperingati dalam Woman’s International Day setiap 8 Maret. WID merupakan suatu momentum bagi perempuan untuk memperjuangkan hak-haknya dalam bidang ekonomi, politik dan sosial. Disamping untuk memperingati peristiwa terbakarnya pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada tahun 1911 yang mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya, ada pun peristiwa lainnya yang terjadi pada 8 Maret 1857 di New York adalah ketika kaum perempuan dari pabrik pakaian tekstil mengadakan aksi protes memperjuangkan kondisi kerja yang sangat buruk dan gaji rendah.

Hal tersebut dikarenakan oleh stereotipe pembagian peran laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi oleh masyarakat dunia serta imbas industrialisasi yang memapankan peran perempuan dalam pekerjaan domestik/ non produktif serta kerja tanpa bayaran. Sementara laki-laki bisa menjadi pemilik usaha, manajer atau buruh (tenaga kerja produktif). Perlakuan diskriminasi tersebut yang menggerakkan para perempuan untuk merombak kembali konstruksi masyarakat akan peran perempuan yang terbatas dalam ruang rumah tangga dimana juga mempersulit mempersulit perkembangan intelektualitas dan kemandirian mereka. Hanya karena stereotip tersebut kinerja perempuan untuk mendukung pertumbuhan industri dianggap lebih buruk dari laki-laki sehingga dari segi upah ternyata juga lebih rendah dari buruh laki-laki.

Para pengunjuk rasa yang turun ke jalanan yang terdiri dari buruh perempuan tersebut kemudian diserang dan dibubarkan oleh polisi. Menyadari perjuangan mereka belum selesai, kaum perempuan ini kemudian membentuk serikat buruh pada bulan yang sama dua tahun setelah peristiwa tersebut. Di tengah gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi yang menyebabkan timbulnya protes-protes mengenai kondisi kerja inilah gagasan perayaan Women’s International Day ini tercetuskan.

Selanjutnya, situasi perang duniapun turut memberikan peran baru untuk perempuan sehingga “tidak lagi domestik”. Perempuan mulai dibutuhkan bekerja diluar rumah khususnya dalam hal produksi perlengkapan perang seperti seragam untuk tentara, senjata dan ikut serta berperan sebagai tenaga medis di medan perang. Meski telah ikut ambil andil dalam peran laki-laki, namun peran domestik mereka tidak berkurang sehingga memunculkan peran dan beban ganda bagi perempuan. Maka para perempuan, khususnya kalangan buruh perempuan makin gencar menyuarakan tuntutan lingkungan kerja yang lebih baik dan jam kerja yang lebih kondusif.

Tidak hanya di negara-negara yang telah sukses memperjuangkan hak-hak perempuan, titik kesetaraan ini pun diharapkan menjangkau seluruh perempuan di negara berkembang khususnya di Indonesia. Tanggal 8 Maret ini menjadi penting karena menjadi cikal bakal kesadaran perempuan mengubah nasib mereka. Sesungguhnya WID telah berperan pula bagi organisasi perempuan di Indonesia dan diperingati setiap tahunnya diantaranya yaitu PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia) yang sempat menjadi WIDF (Women International Democratic Federation) dan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia). Gerakan-gerakan perempuan pada masa pemerintahan presiden Soekarno tersebut tumbuh begitu subur dan berperan signifikan dalam pembangunan negara. Pada momentum ini kita juga diingatkan kembali akan kongres perempuan di Yogyakarta pada tahun 1928 yang menekankan pada aspek-aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Perempuan bisa menjadi apapun, dari mengikuti kodratnya sebagai seorang ibu, mendidik anak dan mengurus rumah tangga sebaik-baiknya namun hal terpenting yang tidak bisa dilepaskan dalam perkembangan identitas seorang perempuan adalah intelektualitas, vitalitas dan kinerja perempuan.

Namun pada masa Orde Baru, peringatan WID dilarang karena dianggap membawa paham komunis yang ditandai pula dengan kehancuran organisasi perempuan seperti GERWANI dengan sebuah propaganda seksual yang terkenal dengan tarian harum bunga dimana para anggota GERWANI konon melakukan tarian vulgar dan memotong kemaluan dan mencungkil mata para jenderal. Sehingga disamping menciptakan catatan kelam mengenai pembantaian para anggota GERWANI pada 1 Oktober 1965, juga merupakan sebuah upaya pemerintah untuk menggertak dan menghentikan progresifitas organisasi-organisasi perempuan yang lainnya di Indonesia.

Para perempuan telah kehilangan ideologi yang dulu dengan semangat berapi-api disampaikan oleh Presiden Soekarno dan menetapkan kongres tersebut sebagai hari suci bagi perempuan, sebagaimana WID yang semestinya dapat memberikan semangat perjuangan untuk perempuan. Bahkan begitu pentingnya gerakan perempuan bagi Soekarno, ia telah menyusun buku berjudul “Sarinah” yang mengupas pergerakan perempuan di dunia serta perlawanan kaum perempuan terhadap bahaya laten hukum patriarkis dan ekses-eksesnya. Seperti yang kita sadari, hingga saat ini kita justru terjebak dalam domestifikasi. Domestifikasi bukan berarti hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga melainkan dibatasinya akses-akses perempuan baik dari segi intelektualitas, politik, dan partisipasinya dalam menentukan keberlangsungan kehidupan sosial dengan adanya justifikasi dan pakem-pakem mengenai keperempuanan yang telah dikondisikan oleh masyarakat yang kurang mendukung kemajuan seorang perempuan.

Meski WID belum menjadi hari penting yang dicatat dalam kalender resmi Indonesia, namun pergerakan perempuan mengaktualisasikan dirinya tetap berlangsung hingga sekarang untuk tetap memperjuangkan hak-haknya, menghilangkan diskriminasi, keterbatasan akses-akses politik, peran dan beban ganda terhadap perempuan menuju situasi yang setara dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

 

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*Tulisan ini pernah dimuat di Balipost minggu, 6 Maret 2016

Rempah, Ibu Peradaban Indonesia


Ketika menyelami suatu arus yang terjadi dalam masyarakat dan turut serta dalam dinamika sosial, pada suatu tataran tertentu kita akan sampai pada titik kesadaran terhadap suatu transformasi di dalamnya. Namun transformasi yang bagaimanakah relevan terjadi saat ini? Sebagai studi kasus, rempah dan khasanah kuliner Nusantara adalah salah satu hal yang cukup menarik untuk dianalisis sebagai penanda fenomena yang terjadi dalam masyarakat.

Modernitas yang kini telah menjadi nafas setiap individu telah cukup signifikan menggiring mereka kedalam kehidupan praktis. Terlebih lagi sebagian besar masyarakat yang bersimbiosis dengan industrialisasi dimana produktivitas menuntut mereka untuk bekerja sesuai dengan sistem dan tenggat waktu tertentu. Hal tersebut tentu berimbas pada perubahan habitus masyarakat. Kebiasaan hidup praktis tentunya akan membuat seseorang memangkas kegiatan yang mengganggu waktu produktif mereka, misalkan saja dalam hal ini adalah kegiatan memasak.

Terhitung tahun 1968 ketika diperkenalkannya produk makanan instan mulai dari produk olahan mie yang hingga kini terus berinovasi dengan produk racikan bumbu instant.  Sebelum angka tahun tersebut, bisa dibayangkan kegiatan memasak dan menciptakan bumbu dalam rumah tangga masih menggunakan racikan bahan alami dengan spesifikasi jenis tanaman dan rempah yang cukup banyak dan beragam jumlahnya. Tentu untuk membuat racikan sebuah bumbu dibutuhkan penguasaan akan jenis bahan dan komposisi yang pas dimana rasa masakan yang berkarakter adalah penentu dari keberhasilan racikan tersebut.

Sebagian besar kuliner Nusantara yang kita ketahui pun pada dasar pengolahannya menggunakan bumbu yang cukup beragam dan variasi teknik yang memungkinkannya menyita banyak waktu sekedar untuk menghidangkan satu jenis masakan. Maka bumbu instan hadir sebagai solusi dari segala keruwetan racikan komposisi bumbu masakan. Bumbu instant hadir dengan menawarkan kepraktisan dan juga waktu penyajian hidangan yang relatif cepat.

Namun perlu diketahui bahwa kebiasaan menggunakan bumbu instan, bukan hanya berpengaruh bagi hormon dan kesehatan namun juga berdampak pada terkikisnya kultur meracik bumbu alami. Perlu menunggu berapa tahun lagi untuk melihat fenomena bahwa generasi selanjutnya akan mengalami kegagapan ketika meracik komposisi sebuah bumbu di dapur, atau bahkan untuk sekedar mengiris bawang?

“Spice is passion of food more than it, called phylosophy,” rempah adalah gairah dari suatu masakan, lebih dari itu kita bisa menyebutnya sebuah filsafat atau bahkan artefak biologis yang menandakan zaman keemasan Nusantara dimana penjelajah di dunia berusaha menemukan lokasi surga rempah yang berusaha ditutupi oleh  para pedagang Arab dan India sejak abad ke 8. Terutama banga Eropa, mereka begitu terobsesi menemukan asal usul rempah tersebut yang diasosiasikan dengan negara antah berantah yang berhubungan dengan surga.

Sebagaimana penulis abad pertengahan yang menggambarkan surga sebagai taman bagi para santo dengan aroma kayumanis, pala, jahe dan cengkeh. Pamor rempah sebagai penanda status sosial dimana harganya bahkan lebih tinggi dari emas tetap berlanjut hingga Portugis pada abad ke 16 melakukan ekspedisi ke Nusantara dan mengakhiri dominasi Arab dalam perdagangan rempah. Dimulai sejak itu pula Nusantara mengalami masa kegelapan terlebih lagi ketika VOC melakukan monopoli perdagangan rempah pada tahun 1602-1800. Bayangkan saja dimulai oleh rempah Indonesia mengalami 350 tahun masa penjajahan hingga dapat diakhiri dengan sebuah revolusi.

Maka, berdasarkan kajian historis tersebut kita dapat menilai bagaimana rempah merupakan harta karun nasional yang wajib kita jaga keberadaannya melalui kesadaran untuk merubah kebiasaan menggunakan bumbu instan dan kembali berkreasi dan meracik rempah dari bahan-bahan alami dalam proses memasak. Setidaknya, hal itu bisa menjadi upaya mempertahankan kekayaan khasanah sekaligus tradisi kuliner Nusantara.

Rempah adalah sebuah pusaka yang mampu menciptakan masterpiece kuliner Nusantara, terbukti dengan melimpahnya khazanah masakan nusantara. Rempah dan kuliner juga menjadi karakter tersendiri bagi suatu daerah, sebagaimana rendang dari Padang yang kini dikenal luas hingga ke mancanegara. Semestinya kita memiliki kesadaran untuk menjaga tradisi kuliner dengan terus memanfaatkan rempah alami Nusantara, karena hal itu sekaligus menjaga identitas kultural yang makin terkikis oleh budaya instan.

 

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*Tulisan ini pernah dimuat di Balipost minggu