MANTRA PENAKLUK


Ini merupakan kabar gembira bagi Irus yang telah dibuat demam dan menggigil dalam tidur-tidur malamnya. Sebab seorang gadis yang telah mengacaukan akal sehatnya telah menolak pinangan Den Mas Sarwo, seorang tuan tanah kaya yang hartanya tidak akan habis sampai tujuh turunan. Pertama kali Irus melihat gadis itu dalam sebuah pidato dari seorang pemimpin organisasi petani di kampungnya. Irus melihatnya datang bersama sekelompok gadis yang sepertinya bukan berniat mendengar dan mengikuti ceramah marxis pada hari itu, namun mereka lebih tertarik untuk memperhatikan ketua organisasi yang terkenal tampan dan kharismatik. Diatas mimbar ia memang tampak memesona dengan ikat kepala di dahinya, seolah itu telah cukup menyatakan keberpihakannya terhadap kaum buruh dan petani.

Tapi, terhadap Kang Darta– begitu ketua organisasi itu akrab disapa, Irus sedikit sinis. Mungkin sebagai anak seorang dukun ia kalah tenar. Meski banyak jimat pengasih dan cincin batu yang konon bisa memberikannya daya tarik dan kewibawaan selalu ia pakai, namun tidak sekalipun ia berani meniduri gadis yang telah terpikat peletnya. Suatu ketika Irus diminta ayahnya mencari bahan sesaji untuk ritual penolak bala. Namun ditengah jalan, Irus berpapasan dengan Nyai Nimah, salah satu gundik Kyai Jafron. Ketika mata mereka saling beradu, saat itulah pelet Irus mulai bekerja. Wajah Nyai Nimah seketika memerah seperti tengah menahan gemuruh ditubuhnya. Serta oleh sihir yang begitu ajaib wanita itu tidak bisa membendung niatnya–berbagai pikiran erotis melintas di kepalanya tanpa ia kehendaki. Kemudian tanpa pikir panjang Nyai Nimah menarik Irus menuju semak-semak. Wanita itu merogoh kaos dan celana Irus dengan begitu beringas seraya membuka kerudung, kebaya dan kain lilit yang membungkus pinggangnya. Itulah kali pertama Irus melihat tubuh polos seorang perempuan. Jakunnya naik turun. Pemuda itu berusaha menelan ludah meski begitu susahnya. Ketika Nyai Nimah hendak menyerangnya lagi, Irus menutupi kemaluannya yang sulit tegak kemudian mendorong wanita itu dan melarikan diri. Setelah itu ia menjadi sadar betul khasiat jimat yang diwariskan oleh ayahnya dan memutuskan untuk tidak sembarangan lagi  memakainya. Sebab Irus telah bersumpah untuk memberikan keperjakaannya hanya kepada perempuan yang ia cintai dan yang akan menjadi istrinya kelak.

Kemudian mengenai sosok Kang Darta, ia merupakan pemuda yang reaksioner. Sifat itu ia dapatkan setelah selesai menempuh pendidikan di kota. Ketika Kang Darta kembali ke kampung, ia diserang rasa kelangenan karena harus kembali menjalani kehidupan desa yang mandeg. Maka ia mengumpulkan para pemuda desa untuk membentuk sebuah organisasi petani di sana. Ia ingin melakukan perubahan untuk desanya. Kemudian mengenai kehidupan cinta, Kang Darta ternyata tidak seambisius niatnya untuk membangun desa. Tidak ada seorang gadispun yang menarik minatnya melebihi buku-buku kiri koleksinya. Tapi dengar-dengar, karena ketampanan dan roman wajahnya yang arkaik banyak gadis yang rela tidur dengan Kang Darta.

Dan Anisa, ia adalah gadis yang telah mengganggu pikiran Irus. Ia merupakan anak seorang janda di kampung itu dan hanya tinggal bersama ibunya. Namun, penyelidikannya terhadap Anisa tidak berakhir sampai di titik itu. Malam penuh kegelisahan yang selalu Irus lewati beserta keringat dingin yang membasahi kasurnya membuatnya kecanduan untuk terus mengintip dan mengamati apa yang terjadi di rumah itu. Dalam sebuah kesempatan mereka berpapasan, jangankan bisa menatap matanya, untuk mengangkat kepalanya saja tidak mampu. Irus membuang banyak kesempatan untuk menggunakan peletnya terhadap Anisa. Lama-lama Irus semakin terobsesi dengan gadis itu. Sekali saja ia melewatkan kegiatan mengintip kekasih hatinya, Irus akan menjalani malam yang begitu panjang dengan 1001 mimpi setiap hari. Akhirnya pada suatu sore yang lengang, Irus nekad melompati pagar tanaman rumah Anisa dan mencuri celana dalamnya. Kini setidaknya ada aroma gadis itu yang menemani tidur malamnya.

***

Dalam usianya yang ranum Anisa telah menamatkan pendidikannya di sekolah rakyat. Menguasai baca tulis setidaknya telah memberikan gadis itu keyakinan untuk tidak bekerja sebagai babu atau gundik-gundik tuan tanah sebagaimana nasib gadis seusianya. Ketika Anisa berusia 15 tahun, ayahnya mati ditembak musuh ketika perang gerilya. Mayat ayahnya tidak dikuburkan secara layak sebagaimana para tentara lain yang mati karena berperang. Konon karena sering mengerjai musuh dan telah mengebom gudang makanan mereka, jenderal musuh sangat dendam kepada sang gerilyawan. Maka ketika akhirnya ia berhasil dibunuh, mayatnya dimutilasi lalu menjadi makanan anjing-anjing hutan yang kelaparan. Hanya kepalanya saja yang tersisa dan dimanfaatkan oleh sang jenderal untuk menggertak kelompok gerilyawan. Kepala sang ayah dikirim ke markas para gerilyawan, melalui seorang kurir, dan itu cukup membunuh semangat mereka untuk melanjutkan perjuangan. Akhirnya mereka kembali menyamar sebagai pedagang dan penduduk pribumi untuk menghindari kejaran musuh.

Tangis ibunya pecah ketika kepala suaminya dibungkus ala kadarnya dengan bendera kebangsaan dan diantar sendiri oleh sang ketua gerilya dengan menggunakan sebuah nampan. Kemudian atas permintaan ibu Anisa sendiri, kepala suaminya tersebut dikuburkan dibelakang rumah mereka.

Namun teror tidak juga berakhir pada pemakaman itu, karena pada suatu malam yang paling angker kepala sang gerilyawan keluar dari kuburnya. Matanya berdarah dan menyala merah. Kemudian kepala itu terbang ke markas musuh dan menerobos masuk ke kandang anjing pelacak mereka. Lolongan anjing-anjing dalam kandang tersebut rupanya tidak dipahami sebagai pertanda oleh tentara-tentara musuh. Mereka tetap sibuk bermain kartu dan bercumbu dengan para pelacur. Potongan kepala itu kemudian merobek leher salah satu anjing hingga putus lalu ia menempatkan dirinya pada tubuh anjing tersebut. Ia kembali menjelma sosok gerilyawan, tapi kini bertubuh anjing. Malam itu menjadi hari pembalasan sang gerilyawan. Seluruh pasukan musuh telah ia lumpuhkan dalam semalam. Dendam yang ia bawa sampai ketanah telah membuat setiap pasukan yang melihat darah dan nyala merah di mata sang gerilyawan seketika membeku dan berubah menjadi batu.

***

Mulai merasakan kesulitan hidup tanpa sang ayah, Anisa mulai dijodohkan oleh ibunya dengan laki-laki pilihannya. Tentu yang diincar ibunya adalah Den Mas Sarwo, tuan tanah dengan jaminan harta dan warisan yang tidak akan habis hingga tujuh turunan. Meski laki-laki itu telah puluhan kali kawin karena menginginkan anak laki-laki sebagai penerus keluarganya. Tentu saja Anisa menolaknya. Sebab, dengan usaha yang cukup keras Anisa telah berhasil mendapatkan cinta Kang Darta.

Setelah Kang Darta berpidato mengenai perjuangan kaum buruh, Anisa menunggunya sampai keadaan di mimbar sunyi. Hanya Kang Darta dan Anisa yang mengintip dibelakang panggung. Kemudian dengan langkah ragu-ragu namun membawa gemuruh di dadanya, Anisa menghampiri Kang Darta.

“Bagaimana caranya perempuan ikut berperan dalam revolusi?” Anisa memecah kesunyian pada senja setelah Kang Darta membakar semangat kaum petani. Kang Darta seketika tersihir dengan sosok gadis itu, khususnya pada pertanyaan revolusionernya. Hal itu sama sekali belum pernah terpikirkan oleh pemuda itu dalam pidato-pidato yang ia susun. Anisa yang tampak kikuk semakin membuat Kang Darta membara.

“Mari saya tunjukkan.” Jawab Kang Darta singkat. Pemuda itu meraih tangan Anisa dan menuntunnya menuju belakang panggung. Dalam keheningan yang diupayakan, pemuda itu mulai menelusuri punggung tangan Anisa, lengan, hingga lehernya. Tidak beberapa lama kemudian suara desah dan lenguhan pecah di udara. Namun kelepak kalong-kalong yang seharian penuh bergelantungan di puncak pepohonan telah menyamarkannya.

***

Iringan pengantin mulai memenuhi rumah Anisa. Budak budak yang membawa sesembahan memenuhi seluruh jalan membawa nampan penuh dengan kain tenun, brokat, kotak emas dan makanan yang melimpah. Iringan kali ini terlihat sangat berbeda, sangat mewah dan berlebihan seolah Den Mas Sarwo yang sebelumnya murka dengan penolakan Anisa mengumumkan ke seuruh penduduk kampung bahwa gadis itu telah berhasil ia pikat dengan kekayaannya. Kali ini pun den Mas Sarwo datang sendiri ditandu oleh empat budaknya yang kurus karena kerja berat dan kasar di tanah perkebunannya. Untuk gundik-gundik sebelumnya, pantang bagi tuan tanah itu untuk mengotori kakinya dan datang ke rumah calon mempelai. Namun kali ini Den Mas Sarwo sungguh-sungguh berniat mengambil dan menaikkan derajat Anisa sah sebagai istri.

Irus yang menyaksikan sikap kurang ajar Den Mas Sarwo pun teramat luka batinnya. Dibalik pagar semak pemuda itu tetap mengintai ke dalam rumah Anisa. Dilihatnya pula kekasih hatinya itu diseret oleh ibunya untuk menemui calon suaminya. Matanya tampak banjir, masih terlihat sisa-sisa cilak dan bedak yang pada awalnya membuat wajah gadis itu begitu cantik dan ayu.

“Anisa semestinya menjadi pengantin yang berbahagia untukku!” begitu batin Irus yang oleh karena patah hati dan kemarahan yang tak bisa dibendung ikut pula sesenggukan dan berurai air mata. Kemudian dari balik kaos hitamnya, Irus mengeluarkan sebilah keris yang ia ambil diam-diam dari kamar ayahnya dan selembar daun sirih serta dari saku celananya. Tidak lupa ia juga mengambil secarik kertas yang bertuliskan mantra yang disalin dari lontar milik ayahnya. Dalam persembunyiannya Irus komat-kamit dan berkonsentrasi terhadap Den Mas Sarwo yang telah membikinnya kesumat. Setelah pemuda itu menyembur keris ayahnya sebanyak tiga kali, ia menusuk lembaran daun sirih tersebut maju dan kemudian mundur. Mirip seperti adegan bersenggama. Sesaat ia ragu, apakah mantra dan ritual yang ia lakukan sudah benar. Irus tetap memompa keris tersebut hingga daun sirih tersebut terkoyak dicelah jarinya. Sementara tidak ada hal apapun yang terjadi pada Den Mas Sarwo yang kini menyeret Anisa menuju tandunya.

Namun siapa yang berani sangsi terhadap kesaktian sang dukun? Konon ia menguasai penguasa jin diseluruh penjuru mata angin. Mampu memanggil dan menghentikan hujan badai dalam sekali jentik jarinya. Keajaiban macam apapun bisa sang dukun ciptakan di atas telapak tangannya. Maka mantra yang Irus curi dari ayahnya mulai bereaksi. Den Mas Sarwo tampak menegang. Irus makin gelisah jika ia salah sebut mantra karena senjata dibalik sarung Den Mas Sarwo tampak menyembul tegak dan perkasa. Para perempuan yang membawa seserahan tampak menahan nafas menyaksikannya. Senjata itu makin tegak, semakin memanjang. Irus mengutuk dirinya karena mantra tersebut justru membuat Den Mas Sarwo menjadi begitu gagahnya. Tapi efek mantra itu ternyata belum berhenti dan semakin membuat mata orang-orang melotot. Senjata Den Mas Sarwo bertambah besar dan memanjang tak ada hentinya hingga menyeruak dari balik sarungnya. Roman muka Den Mas Sarwo berubah pucat menjadi ketakutan ketika senjatanya itu kini menjadi sangat panjang seperti gagang cangkul. Kemudian senjatanya tersebut berubah warna menjadi hijau pekat lalu tumbuh duri-duri hitam kecil memenuhi senjata Den Mas Sarwo. Mirip kaktus, namun dengan duri-duri yang berbisa. Laki-laki itu tampak kesakitan, kemudian ditandu pulang oleh budak-budaknya.

Masih menyisakan keterkejutan, Irus justru melompat gembira. Teluhnya telah berhasil membuat Den Mas Sarwo mengurungkan niatnya. Belakangan Irus teringat bahwa mantra yang ia ucapkan adalah mantra pembesar senjata bagi laki-laki yang sering kesulitan untuk menghunuskannya. Prosesi yang salah telah membuat senjata Den Mas Sarwo menjadi begitu mengerikan.

Sebelum Den Mas Sarwo beranjak dari rumah Anisa, laki-laki itu menuduh dengan keji ibunya sebagai pembawa kesialan ini. Ia begitu yakin kejadian aneh hari ini merupakan kutukan sang gerilyawan yang mayatnya dikubur serampangan. Seketika orang-orang kampung berhamburan memasuki rumah serta mengunci pintu dan jendela mereka rapat-rapat.

Dengan senyum yang sumringah Irus beranjak dari tempat persembunyiannya, kembali ke kediamannya dan mengembalikan keris pusaka yang telah menuntaskan dendamnya tersebut. Ia telah menjadi pahlawan bagi kekasih hatinya, Anisa atau mungkin bagi gadis-gadis yang dipaksa kawin dengan Den Mas Sarwo. Dengan senjatanya yang kini berduri itu, perempuan mana lagi yang akan mau dikawininya.

Beberapa hari kemudian dengan rasa percaya diri yang secara ajaib diperolehnya, Irus bertamu kerumah Anisa. Datang menunaikan niat suci dan tulus untuk melamar kekasih hatinya. Malam sebelumnya ia telah melakukan tirakat mandi dengan minyak cendana, berharap Anisa akan tersihir dan jatuh cinta kepadanya tanpa harus bertatap mata. Tidak lupa Irus membawa cincin dan kalung akik sebagai mas kawin. Segera setelah Irus mengucapkan salam, ibunya muncul dengan wajah sepucat mayat. Ditangannya ada sepucuk surat. Irus yang tidak sabar merampas surat itu dari tangan si perempuan. Apa yang terjadi sungguh lebih parah dari teluhnya sendiri kepada Den Mas Sarwo. Patah hati yang ia rasakan menjalar begitu cepatnya sampai ke saraf-saraf otaknya. Kemudian Irus lemas dan kejang-kejang.

Disurat itu dengan jelas tertulis bahwa Anisa telah kawin lari dengan Kang Darta menuju tempat yang begitu jauh, melewati samudra yang begitu luasnya. Tempat yang hanya bisa ditemukan jika mereka telah membaca buku, yang selalu pemuda itu lontarkan dalam pidato-pidato revolusionernya. Sekarang yang bisa dilakukan Irus hanya menahan rasa sekarat karena telah kehilangan cintanya. Kini, angin tidak akan mampu membawa sihir cintanya dan laut akan senantiasa menenggelamkan mantra gelapnya.

 

-Selesai-

*Dimuat BaliPost Minggu 31 April 2017

MENGENALKAN OTORITAS TUBUH SEJAK DINI


Oleh: Citra Sasmita

“Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim: “Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur,

Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar;

Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang;

Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang;

Keajaibannya  tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?”

Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.

Sebagai pengantar tulisan ini, saya mengutip puisi Rumi yang menggambarkan kehidupan janin dalam rahim ibu yang nyaman dan tidak kurang nutrisi dimana terjadi penyatuan yang transcendental antara ibu dan anak melalui bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka—berupa sentuhan, getaran vokal, bahasa yang menjadikan ruang kandungannya egaliter dimana tubuh perempuan telah menjadi ibu (memberikan impuls kasih sayang, dan nutrisi) sekaligus menjadi ayah imajiner (memberikan perlindungan). Bahasa prasimbolik, demikian menurut Julia Kristeva, seorang filsuf berdarah Bulgaria ketika menjabarkan pengalaman maternal seorang perempuan yang mengandung merupakan fase awal seorang anak manusia tidak mengenal diskriminasi pada tubuh ibunya. Berbeda halnya dengan ruang diluar kandungan sang anak, seksualitas masih dipahami sebagai tabu dan ditutup-tutupi. Seksualitas pada tubuh perempuan menurut Kristeva telah melalui berbagai macam pengalaman bahasa, dari yang reflektif terhadap pengalaman naluriah seorang anak menuju ke fase simbolik atau reflektif terhadap sistem pengetahuan dan budaya.

“…. mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?” Kalimat dalam puisi Rumi tersebut merupakan alegori mengenai tubuh perempuan dalam konstruksi sosial. Fungsi maternal tubuh perempuan yang diglorifikasikan dalam mitos-mitos penciptaan dan kesuburan berbanding terbalik dengan realita yang terjadi di masyarakat. Tubuh perempuan kerap dianggap kotor, sumber bencana dan terstigma sedemikian rupa sehingga tubuh perempuan dikekang dalam nilai-nilai sosial. Meski sang anak dalam rahim hanya memahami bahwa tubuh ibunya adalah tempat terbaik untuk tumbuh dan berkembang, segera setelah ia disisipi nilai-nilai sosial tersebut, ia akan memperoleh perspektif baru mengenai identitasnya—ruang sosial bisa menjadi penjara yang jauh lebih buruk yang bisa dibayangkan.

Kemudian ketika sang anak lahir, ia akan mengalami berbagai macam pengalaman kehidupan yang lebih kompleks, mulai dari mengetahui berbagai macam rasa pada indra-indra tubuhnya hingga pada pengetahuan yang lebih abstrak seperti moralitas. Kondisi tersebut diawali oleh proses penyapihan sang anak dengan tubuh sang ibu. Oleh Freud, proses penyapihan tersebut diiringi dengan pengalaman traumatik yang menjadi potensi diskriminasi pada tubuh ibunya. Kemampuan otak manusia untuk mengingat trauma jauh lebih kuat daripada usahanya untuk mencari kesenangan (pleasure) sebab ingatan traumatik, sadar maupun tidak akan memproteksi dirinya dari berbagai ancaman, termasuk ancaman yang menyapihkan sang anak dari rasa kenyamanan. Dalam perkembangannya tersebut anak mulai disisipi tanda-tanda akan identitas seksnya (anak diperkenalkan dengan role model keperempuanan atau kelaki-lakian). Tentu ada nilai yang bersifat tumpang tindih dalam pengenalan identitasnya tersebut dimana laki-laki dan perempuan selalu dipahami sebagai mahluk oposisi.

Bahasa simbolik atau logos sebagai medium komunikasi dalam ruang sosial lebih bersifat paternal dibandingkan spiritualitas janin terhadap rahim ibunya, sehingga otoritas tubuh perempuan menjadi permasalahan yang sulit dicari ujung pangkalnya. Meski tubuh perempuan juga menjadi ritus pemujaan karena erotika dan sumber kenikmatan, namun disatu sisi juga diasosiasikan dengan sumber bahaya, tabu, aib, dll.

Tubuh perempuan dalam paradigma masyarakat harus sesuai dengan norma dan parameter sosial yang telah berlaku. Khususnya dalam kultur patriarkis dimana peran laki-laki dan perempuan telah ditentukan dengan mengatasnamakan tradisi dan budaya. Masyarakat dalam kultur patriarkis telah mengukuhkan sistem tersebut sehingga perempuan diasosiasikan dengan persoalan domestik (masak, macak, manak) dan laki-laki secara natural menguasai wilayah publik. Persoalan domestik yang dimaksud bukan semata-mata beban kerja dan ruang terbatas perempuan hanya dalam rumah tangga, namun terlebih pada akses pengetahuan dan pengembangan mentalitas perempuan sebagai mahluk yang otonom. Kerangka domestifikasi yang telah dikonstruksi pada perempuan secara tidak langsung membentuk identitasnya—dimana konsep identitas disini melingkupi bahasa, habitus, seksualitas, dan relasi kuasa.

Secara anatomi sex konsep tubuh perempuan telah direduksi hanya sebagai fungsi reproduksi, sebagai objek hasrat laki-laki dan bukan sebagai subjek aktif yang memiliki kebebasan ekspresi dalam pencarian identitasnya, maka ketika dimulainya metamorfosa tubuh dari usia belia (tumbuhnya payudara dan mengalami menstruasi) pengalaman biologis tersebut disisipi bahasa/stigma tubuh perempuan yang diidentikkan dengan tubuh yang kotor. Seorang perempuan harus tahu bagaimana cara berpakaian dan menutup rapat tubuhnya ataupun berperilaku supaya terhindar dari objektifikasi lingkungan (pelecehan, kejahatan psikologis atau bentuk penindasan lain).

Kemudian dalam mitos kesuburan, misalnya dalam masyarakat Bali yang konservatif, seorang perempuan dianggap sempurna jika ia mampu mengandung seorang anak dan melahirkan anak laki-laki sebagai penerus keluarga. Sebagaimana yang diungkapkan Gadis Arivia dalam Kajian Budaya Feminis, kemampuan hamil tidak semata-mata persoalan biologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah, melainkan memiliki makna kultural dan sosial. Perempuan berkompetisi untuk memenuhi kriteria-kriteria tersebut untuk mendapatkan daya tawar dan bertahan hidup dalam lingkungan sosial. Maka tidak jarang didapati peristiwa bahwa perempuan sendiri bisa menjadi maskulin dan mensubordinasi perempuan lain, berdasarkan perbedaan usia, kasta, kelas sosial dan tingkat pendidikan.

Patriarki sebagai predator utama perempuan dalam kebudayaan, mengekang dengan pelan dan halus menjadikan perempuan sendiri menjadi pemangsa bagi perempuan lain. Perempuan berkompetisi dalam sistem tersebut untuk memperoleh hasrat aktualisasi diri atau identitas lian yang bahkan bersifat semu. Sosialisasi partriarki telah dilakukan melalui keluarga kepada anak adalah untuk melegitimasi ideologi patriarki itu sendiri dalam menanamkan peran, status, fungsi reproduksi, batasan-batasan relasi dan sosialisasi. Hal tersebut telah menjadi ekses-ekses dari ketidakpahaman perempuan mengenai seksualitas akan tubuhnya sendiri tentang bagian mana yang merupakan hal kodrati dan hal mana yang telah dipolitisasi.

Pentingnya mengembalikan otoritas tubuh perempuan, sama halnya dengan merombak kembali sikap mental masyarakat. Memperbaiki sedikit demi sedikit kesenjangan sosial yang ada demi mencapai kesetaraan. Hal tersebut bisa dimulai dengan memberikan pendidikan seks sejak usia dini dan keluarga sebagai intitusi kecil merupakan pemegang peranan vital untuk mensosialisasikan hal ini.

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

Epilog Pembakaran Sita


Jika saja kau menyimpan abuku

Segera setelah pembakaran

Segera setelah doa-doa berhenti

Dan menaburkannya dalam liang

Yang akan menjadi penghabisanmu

Dengan rindu mengganas

Maka menjelmalah kita dengan sempurna

 

Ingatlah sejenak

Ketika api pertama menyulut tubuhku

Kenanglah sebagaimana ayat keseratus

Kau tulis dalam keningmu;

Bahwa pada mataku yang  memutih

Masih dapat kau lihat musim-musim

Dimana kita menari diatasnya

 

Juga dalam dingin yang diciptakan para dewa

Pada kulit

dan seluruh sel yang menjadikanku  ada,

Pertemuan kita melahirkan roh paling kudus

Yang menjadi darah, debu, dan hangat yang purba

 

Lihatlah aku sekali lagi

Saat darahku mengering dicumbu maut

Aroma dan merahnya akan mewakili

Segala yang ingin kusampaikan padamu

Perihal keabadian

Melampaui zaman dan usia yang mudah diterka

 

Denpasar, 2014

Gadis Merah dan Pohon yang Berbuah Apa Saja


Aku tidak pernah menyangka akan diasingkan dari tanah tempat kelahiranku menuju sebuah kota kecil di dataran Gargalota dengan menumpang kapal barang yang selain mengangkut cokelat dan biji-biji beraroma menyengat juga ada sekelompok budak-budak berkulit hitam yang nanti akan diturunkan di Grenlischerter yang berjarak 10 hari dari pelabuhan. Aku sendiri akan turun di semenanjung Gargalota yang berjarak 7 hari, kemudian melanjutkan perjalanan melewati gurun Kilosa hingga akhirnya sampai dikota itu.

Sesungguhnya ini bukan keinginanku untuk pergi ke tempat antah berantah yang bahkan dari cerita-cerita para pelaut kota tersebut menyimpan lebih dari seribu cerita kengerian. Pernah dikisahkan seorang pelaut terdampar di Gargalota. Ketika itu hari masih terang dan tidak ada yang bisa diandalkannya untuk navigasi kecuali insting dan arah hembusan angin. Kemudian sangat berbahaya baginya jika bepergian di darat pada malam hari, kita tidak akan bisa mengira akan ada binatang buas atau suku kanibal yang mengincar para pendatang yang tanpa sengaja memasuki wilayah mereka.

Tentu dengan tidak berbekal apapun pelaut itu menyusuri rawa-rawa dan sebuah sabana sepanjang rasa putus asanya. Kelaparan dan kehausan ia hendak mengakhiri hidupnya. Bahkan jalan kembali pun ia tidak mampu mengingatnya. Dalam sabana yang luas tersebut ia menggali tanah dengan pisau belatinya, setidaknya pelaut itu ingin mayatnya ada dalam lubang yang cukup dalam, jauh dari jangkauan burung hering dan binatang pemakan bangkai lainnya. Namun belum lama ia menggali, semburat air muncrat ke atas tanah. Ternyata Tuhan masih berbaik hati, begitu pikirnya. Tanpa menunggu apapun sang pelaut meraup segenap air dalam kolam yang dibuatnya, seolah itu merupakan harta satu-satunya saat ini. Kemudian ia minum dan mandi sepuasnya.

Keajaiban lain terjadi, sebuah pohon tiba-tiba tumbuh di atas kolam itu, dengan sulur-sulur akar kemudian batang dan ranting pohon yang tumbuh begitu cepat menyusul dedaunannya. Si pelaut berharap pohon itu akan berbuah apel, atau buah anggur–makanan mewah yang selalu ia lihat dimakan oleh para tuan tanah. Dan segera saja pohon itu berbuah sesuai dengan keinginannya. Namun dari bawah pohon, si pelaut hanya bisa menggapai-gapaikan tangannya tak sanggup untuk memetik satupun dari buah-buahan itu, tubuhnya tak lagi mampu memanjat bahkan hanya untuk sekedar berdiri, beban diatas tubuhnya terlampau berat. Mata air yang ia gali tampak memerah, sulur-sulur akar tetap tumbuh masuk ke kedalaman tanah. Pohon ajaib yang bisa berbuah apapun itu tumbuh di atas tubuh si pelaut.

***

Perjalanan dengan menggunakan kapal layar bukanlah hal yang mudah bisa kulalui. Beberapa hari ini cuaca sangat buruk, burung-burung camar yang terbang melawan arah angin, bagi kapten kapal merupakan hal yang paling mengkhawatirkan. Aku cukup yakin, berbekal pengalamannya hidup di lautan, pertanda alam seperti ini bukanlah hal baru baginya. Namun ada raut kecemasan dalam wajahnya yang kasar. Raut kecemasan ini seperti membaca sesuatu yang lain dari biasanya. Apakah akan ada badai yang lebih besar dari yang biasa dia hadapi? Ataukah, bermil-mil didepan sana akan ada monster laut yang mampu meremukkan seluruh badan kapal seperti yang diceritakan awak-awak kapal ketika mabuk di kedai untuk menakut-nakuti para pelacur yang pada menit selanjutnya akan mereka lumat dan nikmati dengan beringas.

Saat ini dalam sudut yang di luar perhatian para awak kapal, aku menyembunyikan rasa mual karena mabuk laut. Dalam kapal ini tidak ada yang namanya kenyamanan. Sebelum naik ke kapal laki-laki di atas dek itu selalu meludah kearahku, ada yang menutup hidung mereka seolah aku adalah bangkai yang membusuk. Sesungguhnya hal itu pula yang menjadi alasan aku diusir dari desa kelahiranku. Warga desa selalu menganggapku anak terkutuk. Konon ketika aku dilahirkan, tidak ada yang membantu persalinan ibuku. Ketika itu seluruh penduduk melakukan pemujaan terhadap sebuah pohon semak yang mereka anggap sangat suci dan mampu melindungi penduduk dari segala bencana. Pohon semak yang tingginya tidak lebih dari dua kaki yang selalu mereka sirami dengan susu, padahal mereka sendiri tidak pernah meminum itu seumur hidup. Bagi mereka susu hanya untuk roh suci yang selalu melindungi desa. Konon pohon itu mampu mendatangkan badai jika ada kapal dengan bendera perompak ingin berlabuh disana atau membelokkan tanah longsor yang hampir mengubur desa.

Saat itu usia kandungan ibu masih sangat muda, tidak ada yang menyangka aku akan lahir lebih awal. Ada yang bilang, belum berselang beberapa saat aku keluar dari rahim ibu, aku menghisap seluruh darah ibuku hingga kulitku sama merahnya dengan darah itu. Tidak ada yang berhasil menghilangkan warna merah dan bau darah dalam tubuhku. Hingga aku tumbuh besar, aku telah menjadi teror dalam desa itu. Mereka pikir aku akan menghisap darah mereka, padahal kecerobohan yang pernah kulakukan hanyalah diam-diam meminum susu dari kerbau-kerbau penduduk desa.

Ketakutan penduduk desa semakin menjadi ketika dari puting-puting kerbau mereka tidak bisa mengeluarkan susu setetespun, hanya cairan merah segar yang mengalir tanpa henti. Karena putus asa, mereka menyirami pohon semak suci dengan darah kerbau seraya berdoa untuk menyingkirkanku. Tidak satupun yang dapat mereka lakukan selain berdoa. Tidak beberapa lama kemudian pohon itu menjadi merah, sama merahnya dengan darah dan dedaunan dalam pohon itu pun gugur menyisakan rantingnya kemudian mengering. Sejak saat itu, penduduk desa makin tidak berani mendekatiku. Bagi mereka, apapun yang kusentuh akan berubah menjadi merah. Maka dari itu, ketika kapal yang mengangkut para budak menuju Grenlischerter berlabuh para penduduk menyambut dengan gembira seolah kedatangan mereka menjadi satu-satunya harapan untuk mengenyahkanku. Para penduduk memberikan mereka daging kerbau yang telah diasap, air segar beserta kentang, apapun yang bisa mereka berikan dengan cuma-cuma. Sebagai timbal baliknya para penduduk mendesak sang kapten untuk membuangku di Gargalota, sebuah pulau yang sama terkutuknya dengan keberadaanku.

Bersembunyi dalam gudang kapal, aku menahan sebisa mungkin rasa lapar. Berhari-hari aku tidak memakan apapun dan dengan terpaksa aku makan makanan sisa awak kapal, berupa bubur kentang dingin yang sedikit berjamur—rasa dan tampilannya tidak berbeda dengan muntahan para pemabuk di kapal ini. Biji-bijian dan buah kering dalam kotak kayu hanya menimbulkan rasa perih dan menyengat bahkan hanya dengan mencium aromanya saja.

Para budak berkulit hitam yang dikurung didasar kapal ternyata kondisinya tidak lebih baik. Dari celah kayu diam-diam aku mengintip, dan yang kutemukan jauh lebih mengerikan daripada ketakutan penduduk desa ketika melihat sosokku. Mereka harus bertahan melawan rasa dingin karena air yang menggenangi dasar kapal. Tangan dan kaki mereka terikat rantai yang terhubung dari satu budak ke budak lainnya. Di dekat tangga, dua orang awak kapal memerintah mereka sesuka hati, meludah dan memukuli budak-budak itu jika ada yang tidak patuh.

Budak-budak berkulit gelap itu berasal dari orang-orang suku Avon. Orang-orang Avon selalu bersembunyi ketika daerah mereka didatangi orang asing dan seharusnya keberadaan mereka tidak mudah dilacak karena kehidupan mereka yang selalu berpindah-pindah hingga ke bagian hutan yang paling dalam. Disamping itu orang-orang Avon memiliki kemampuan kamuflase yang mampu mengecoh harimau lapar sekalipun. Setelah melakukan berbulan-bulan ekspedisi, kapten dan para awak kapal berhasil menculik sekitar dua belas orang yang terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak. Rupanya kapten kapal ini cukup cerdik, dengan membakar bunga opium kering itu sudah cukup membuat orang-orang Avon lemas dan tidak sadarkan diri dalam persembunyiannya.

Dengar-dengar para tuan tanah dan borjuis di Grenlischerter telah memasang harga yang mahal untuk budak-budak itu. Kemampuan mereka meramu biji-bijian menjadi balsam, bumbu dan obat-obatan yang didapat dari ekspedisi ke pulau-pulau tropis sangat bisa diandalkan.

Seorang perempuan Avon telah menjadi bulan-bulanan awak kapal yang mabuk. Sementara yang lainnya tetap dipukuli ketika ingin melawan. Dalam ketidakberdayaan mereka hanya bisa memalingkan pandangan, tidak ingin melihat nasib buruk yang menimpa seorang kawannya.  Meski berkulit gelap, tubuh perempuan Avon sesungguhnya lebih ranum dibandingkan pelacur-pelacur berkulit putih yang tampak mengendur. Barangkali karena begitu lama melaut, rasa lapar mereka sudah tidak tertahankan dan perempuan Avon tersebut telah menjadi santapan mereka malam ini.

***

Pertanda yang menjadi kekhawatiran kapten kapal rupanya telah menunggu tidak jauh didepan sana. Laut masih tenang, dan kapalpun melaju dengan kecepatan angin yang teratur, namun ada kabut tebal yang menyambut dengan begitu cepat dan mengurung kapal ini dalam udara dingin yang tidak tertahankan. Seketika kapal ini seolah memasuki lautan orang-orang mati. Angin dingin yang berhembus lebih terdengar seperti teriakan menyayat yang berasal dari hantu-hantu dasar laut. Kapal tetap melaju tanpa arah dalam kabut, semua awak kapal tampak panik. Sesungguhnya tidak ada hal apapun yang terjadi kecuali suhu dingin yang membuat mereka berhalusinasi. Mereka mulai kehilangan kesadaran. Kapten kapal tampak mengamuk di atas dek sambil mengacung-ngacungkan pedangnya, mengutuk dan menyerang orang Avon yang lolos dari kurungan. Ia mencincang-cincang semua orang Avon itu yang jumlahnya belasan. Bukan, bukan belasan, namun puluhan. Jumlah orang-orang Avon makin bertambah seiring tebalnya kabut dan tidak terkendali. Akupun tidak mempercayai penglihatanku. Bagaimana bisa jumlah mereka bertambah banyak dengan seketika?

Aku berlari menuju dasar kapal tempat mereka dikurung, dan orang-orang Avon masih berada dalam kurungannya. Dua awak kapal tampak membujur kaku, ada yang mencekik mereka dengan sekuat tenaga. Bersama si perempuan Avon yang selamat, kami membebaskan sisa tawanan dan melarikan diri.

Ketika sampai diatas dek, segalanya sudah tampak tenang. Kabut perlahan menghilang dan kembali mengembalikan penglihatanku. Namun apa yang kulihat seperti mengingatkanku akan sesuatu. Kini dihadapanku tumbuh beberapa pohon besar, seolah tumbuh dengan begitu ajaibnya. Orang-orang Avon telah lebih dulu berlarian dan memanjat pohon-pohon itu. Mereka memakan apapun yang bisa ditemukannya dibalik dedaunan pohon itu. Akupun  ikut menghambur, berharap akan menemukan sesuatu untuk menghilangkan rasa laparku. Tapi, belum jauh aku memanjat, aku merasa telah menginjak sesuatu yang dingin dan licin. Menghadapi rasa penasaranku, kulihat mayat kapten dan para awak kapal dililit akar pohon yang menghisap darah dan organ-organ tubuh mereka. Mungkinkah aku telah sampai di Gargalota?

 

Citra Sasmita, dimuat di BaliPost Minggu, 3 Maret  2016

Rempah, Ibu Peradaban Indonesia


Ketika menyelami suatu arus yang terjadi dalam masyarakat dan turut serta dalam dinamika sosial, pada suatu tataran tertentu kita akan sampai pada titik kesadaran terhadap suatu transformasi di dalamnya. Namun transformasi yang bagaimanakah relevan terjadi saat ini? Sebagai studi kasus, rempah dan khasanah kuliner Nusantara adalah salah satu hal yang cukup menarik untuk dianalisis sebagai penanda fenomena yang terjadi dalam masyarakat.

Modernitas yang kini telah menjadi nafas setiap individu telah cukup signifikan menggiring mereka kedalam kehidupan praktis. Terlebih lagi sebagian besar masyarakat yang bersimbiosis dengan industrialisasi dimana produktivitas menuntut mereka untuk bekerja sesuai dengan sistem dan tenggat waktu tertentu. Hal tersebut tentu berimbas pada perubahan habitus masyarakat. Kebiasaan hidup praktis tentunya akan membuat seseorang memangkas kegiatan yang mengganggu waktu produktif mereka, misalkan saja dalam hal ini adalah kegiatan memasak.

Terhitung tahun 1968 ketika diperkenalkannya produk makanan instan mulai dari produk olahan mie yang hingga kini terus berinovasi dengan produk racikan bumbu instant.  Sebelum angka tahun tersebut, bisa dibayangkan kegiatan memasak dan menciptakan bumbu dalam rumah tangga masih menggunakan racikan bahan alami dengan spesifikasi jenis tanaman dan rempah yang cukup banyak dan beragam jumlahnya. Tentu untuk membuat racikan sebuah bumbu dibutuhkan penguasaan akan jenis bahan dan komposisi yang pas dimana rasa masakan yang berkarakter adalah penentu dari keberhasilan racikan tersebut.

Sebagian besar kuliner Nusantara yang kita ketahui pun pada dasar pengolahannya menggunakan bumbu yang cukup beragam dan variasi teknik yang memungkinkannya menyita banyak waktu sekedar untuk menghidangkan satu jenis masakan. Maka bumbu instan hadir sebagai solusi dari segala keruwetan racikan komposisi bumbu masakan. Bumbu instant hadir dengan menawarkan kepraktisan dan juga waktu penyajian hidangan yang relatif cepat.

Namun perlu diketahui bahwa kebiasaan menggunakan bumbu instan, bukan hanya berpengaruh bagi hormon dan kesehatan namun juga berdampak pada terkikisnya kultur meracik bumbu alami. Perlu menunggu berapa tahun lagi untuk melihat fenomena bahwa generasi selanjutnya akan mengalami kegagapan ketika meracik komposisi sebuah bumbu di dapur, atau bahkan untuk sekedar mengiris bawang?

“Spice is passion of food more than it, called phylosophy,” rempah adalah gairah dari suatu masakan, lebih dari itu kita bisa menyebutnya sebuah filsafat atau bahkan artefak biologis yang menandakan zaman keemasan Nusantara dimana penjelajah di dunia berusaha menemukan lokasi surga rempah yang berusaha ditutupi oleh  para pedagang Arab dan India sejak abad ke 8. Terutama banga Eropa, mereka begitu terobsesi menemukan asal usul rempah tersebut yang diasosiasikan dengan negara antah berantah yang berhubungan dengan surga.

Sebagaimana penulis abad pertengahan yang menggambarkan surga sebagai taman bagi para santo dengan aroma kayumanis, pala, jahe dan cengkeh. Pamor rempah sebagai penanda status sosial dimana harganya bahkan lebih tinggi dari emas tetap berlanjut hingga Portugis pada abad ke 16 melakukan ekspedisi ke Nusantara dan mengakhiri dominasi Arab dalam perdagangan rempah. Dimulai sejak itu pula Nusantara mengalami masa kegelapan terlebih lagi ketika VOC melakukan monopoli perdagangan rempah pada tahun 1602-1800. Bayangkan saja dimulai oleh rempah Indonesia mengalami 350 tahun masa penjajahan hingga dapat diakhiri dengan sebuah revolusi.

Maka, berdasarkan kajian historis tersebut kita dapat menilai bagaimana rempah merupakan harta karun nasional yang wajib kita jaga keberadaannya melalui kesadaran untuk merubah kebiasaan menggunakan bumbu instan dan kembali berkreasi dan meracik rempah dari bahan-bahan alami dalam proses memasak. Setidaknya, hal itu bisa menjadi upaya mempertahankan kekayaan khasanah sekaligus tradisi kuliner Nusantara.

Rempah adalah sebuah pusaka yang mampu menciptakan masterpiece kuliner Nusantara, terbukti dengan melimpahnya khazanah masakan nusantara. Rempah dan kuliner juga menjadi karakter tersendiri bagi suatu daerah, sebagaimana rendang dari Padang yang kini dikenal luas hingga ke mancanegara. Semestinya kita memiliki kesadaran untuk menjaga tradisi kuliner dengan terus memanfaatkan rempah alami Nusantara, karena hal itu sekaligus menjaga identitas kultural yang makin terkikis oleh budaya instan.

 

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*Tulisan ini pernah dimuat di Balipost minggu

Childhood Memory at Personal Codes Presentation


Childhood Memory, 100x120cm, acrylic on canvas, 2016

Kali ini saya terjebak dalam sebuah pertanyaan, sejak kapan seseorang memahami seksualitas? Apakah dimulai ketika pertama kali seorang anak mempunyai rasa keingintahuan akan apapun yang ada dalam anggota tubuhnya? Atau ketika ia mulai disisipkan “bahasa” oleh orang tua sebagai institusi pertama dalam pembentukan identitasnya?–dimana “bahasa” tersebutlah yang merupakan cikal bakal terbentuknya oposisi biner seorang anak terhadap anak lain yang berbeda dengan jenis kelaminnya. Untuk mencapai pemahaman tersebut, saya ingin mengutip alegori rahim dalam uraian Rumi:

“Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim: “Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur,

Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar;

Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang;

Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang;

Keajaibannya  tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?”

Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.

Maka, di dunia ini, ketika seorang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,

Tak seorang pun di antara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa.

Begitupun hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina

Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darat semata.”

Dalam alegori rahim tersebut dapat terlihat sebuah perspektif oposisi, antara sebuah janin yang tumbuh dan berkembang menggunakan intektualitas (akal jiwa) dibandingkan dengan sesuatu diluar dirinya yang mencoba menyisipkan bahasa simbolik ( gambaran mengenai gunung, lautan, buah-buahan mewangi) yang telah menggunakan rasio (akal psikis) dalam cara untuk memperoleh pengetahuan. Disamping itu juga terdapat kontradiksi antara realitas dalam masing-masing perspektif. Ketika janin hanya cukup untuk menghargai rahim (sesuatu yang dalam bahasa simbolik diungkapkan dengan “penjara kotor lagi penuh penderitaan”) dengan merespon simpul-simpul semiotik yang berupa rangsangan, getaran dan nutrisi yang diberikan oleh sang ibu, namun sesuatu diluar fase cora-nya (fase dalam kandungan) akan menjadi fase selanjutnya bagi seorang anak. Dimana dalam fase tersebutlah terjadinya perubahan persepsi dari yang semiotik menuju simbolik atau dengan kata lain adanya hierarki realitas yang pada prinsipnya menuntut seorang anak untuk memperoleh pengetahuan diluar pengalaman dirinya secara alamiah.

Penyisipan bahasa simbolik tersebutlah yang membentuk identitas diri sang anak (ego) maka dalam hal ini dapat menjadi permulaan adanya pandangan oposisi antara maskulin dan feminim. Bahwa maskulin dengan sifat logos diterjemahkan dengan superioritas dibandingkan dengan feminim yang dikonstruksi unsur-unsur inferioritas. Padahal ketika janin masih dalam kandungan, maskulinitas dan feminitas berada dalam posisi egaliter. Hal ini diindikasikan oleh fungsi ibu (memberikan rangsangan kasih sayang dan nutrisi) dan fungsi ayah imajiner (memberikan perlindungan) dapat dilakukan sekaligus dalam tumbuh kembang seorang anak.

Karena pemahaman akan perbedaan jenis kelamin tersebut tidak disampaikan dengan intelektualitas namun dengan menggunakan rasio inilah yang menimbulkan potensi diskriminasi terhadap perempuan. Dimana dalam konstruksi pengetahuan seorang anak hanya dilandaskan dalam hierarki realitas dalam bentuk doktrin yang bisa saja diterima sebagai suatu gagasan, namun realitas ini cenderung tidak dialami secara langsung atau tidak tereksplorasi.

Childhood Memory, dimaksudkan untuk kembali mempertanyakan pengalaman-pengalaman yang dialami seseorang dalam pembentukan identitasnya. Kemudian ketika menganalisis pemikiran Freud dalam Beyond the Pleasure Principles, dalam perkembangan identitas, tubuh telah mempunyai insting untuk cenderung berada dalam situasi yang menyenangkan namun agaknya kontradiktif dengan pikiran yang bertendensi mengulang kembali pengalaman buruk, trauma, stigma sosial– repetisi senantiasa terjadi baik melalui story telling, mimpi dan halusinasi. Alih-alih menghadapi pengalaman traumatik dan stigma sosial yang menjadi afirmasi dalam pembentukan identitas diri, seseorang cenderung menikmati kepahitan dan kesakitan sebagai ekstase untuk mengaktualisasikan dirinya.

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*Lukisan Citra Sasmita dengan tajuk Childhood Memory (100x120cm, acrylic on canvas, 2016) saat ini sedang dipresentasikan di Sudakara Art Space, Sanur-Bali periode Februari-April 2016

MERAYAKAN MURNI, MERAYAKAN PEREMPUAN DALAM KESENIAN


52-Bikin pleasure_100x60_98Jejak perempuan dalam dunia senirupa di Bali bisa diibaratkan sebagai oase di tengah gurun pasir. Jika bukan karena minimnya arsip yang mencatat perjalanan kesenimanannya, kurangnya partisipasi perempuan dalam event senirupa pun semakin menjauhkannya dalam jangkauan radar/ perhatian publik seni. Entah karena perempuan perupa Bali luput dari perhatian atau dalam segi karya dan intelektualitas masih dinilai tidak representatif tampil dalam ruang pameran.

Salah satu ruang yang pernah berkembang untuk mewadahi perempuan pelukis di Bali adalah Seniwati (1991-2012), berlokasi di daerah Ubud. Kelompok Seniwati terbentuk karena diawali dari keinginannya mencari perempuan pelukis di Bali yang pada masa itu jarang ditemukannya karya-karya perempuan di ruang museum dan galeri. Seniwati telah berhasil memberikan akses bagi perempuan pelukis dengan mengadakan pameran lukisan dalam intensitas yang bahkan mampu membawa nama kelompok ini hingga ke kancah internasional. Selain itu Seniwati memiliki ruang galeri sendiri, sehingga karya-karya mereka tetap bisa dilihat dan dinikmati.

Namun dalam perkembangannya, Seniwati tetap membawa resiko akan kecenderungan karya  dengan visual yang sama. Jumlah pelukis tradisi yang mendominasi kelompok ini belum siap secara mental mengikuti arus perkembangan seni. Meskipun seorang pelukis tradisi telah meraih pencapaian teknisnya namun tema-tema dalam lukisan yang sifatnya repetitif, (melulu) mengenai alam, ritual, dan kehidupan sosial. Karya-karya semacam ini ternyata mengalami kesulitan untuk menyesuaikan dengan paradigma seni yang selalu membutuhkan suatu pembaharuan baik dari segi estetika dan isu-isu kekinian. Tema-tema dalam lukisan tradisi kerap dianggap delusif dan berbeda semangat zamannya.

Hingga kemunculan IGAK Murniasih yang menjadi anomali diantara perempuan pelukis lainnya di dalam kelompok Seniwati. Perjalanan Murniasih sebagai pelukis sesungguhnya diluar dugaan dalam konstelasi seni rupa Indonesia mengingat latar belakang akademisnya yang non-seni. Lahir pada 4 Juli 1966 dan meninggal pada 11 Januari 2006, keberaniannya mengangkat tema-tema di seputar tubuh perempuan yang kerap dianggap tabu ternyata justru menarik minat intelektual untuk melakukan kajian terhadap karyanya. Setelah kematiannya, nasib karya-karyanya nyaris tidak terdengar bahkan kondisi studionya di daerah Nyuh Kuning, Ubud telah dirobohkan karena habis masa kontrak.

Untuk memperingati 10 tahun kematiannya, sebuah komunitas yang berbasis di daerah Batubulan yaitu Ketemu Project and Space menginisiasi sebuah program bertajuk “Merayakan Murni”  dengan fokus utamanya yaitu mendukung perkembangan Yayasan Murni melalui pengarsipan karya-karya dan data tulisan mengenai Murni. Kemudian mengajak segenap seniman baik di Bali maupun di luar Bali untuk merespon tema-tema yang diangkat Murni ke dalam karya mereka yang rencananya akan direalisasikan tahun depan melalui sejumlah pameran. Pada peluncuran program ini (8/12), Budi Agung Kuswara selaku salah satu pendiri Ketemu Project and Space memaparkan awal mula program ini bisa mulai diwujudkan. Gagasan untuk menghidupkan kembali Murni, selain dari segi karya-karyanya yang masih relevan dengan persoalan konsep tubuh dan seksualitas pun didukung oleh suaminya, Mondo -laki-laki berdarah Itali yang sangat memuja pemikiran dan karya-karya Murni.

Murni merupakan seorang anak dari sebuah keluarga petani miskin di Bali, yang kemudian bertransmigrasi ke Sulawesi.  Ia menjadi pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga etnis tionghoa di Ujung Pandang. Keluarga inilah yang menyekolahkan Murni sampai kelas dua SMP sebelum kemudian mereka pindah ke Jakarta. Tahun 1987 Murni kembali ke Bali dan bekerja sebagai pembuat perhiasan perak di Celuk-Gianyar. Ia kemudian menikah, tapi karena tidak dikaruniai anak dan suaminya ingin menikah lagi, Murni  menuntut cerai dari suaminya. Sejak tahun 1995 Murni belajar melukis pada Dewa Putu Mokoh dan debutnya sebagai perempuan pelukis di Bali semakin berkembang ketika bergabung dengan grup Seniwati.

Begitu lah catatan biografis singkat Murni yang secara garis besar dihubungkan dengan karya lukisnya dan terindikasi dalam aspek struktur naratif dimana banyak menampilkan imaji pertentangan antara laki-laki dan perempuan (oposisi biner).

Mengenai sudut pandang oposisi biner ini kerap nampak pada karya perempuan perupa di Indonesia yaitu Arahmaiani dalam karya performance His-Story. Dalam performance ini tampak seorang laki-laki menuliskan kalimat berbahasa Inggris dan Jepang yang kurang lebih mengenai sejarah yang ditulis dengan darah, disisi lain Arahmaiani hadir sebagai seorang perempuan yang memperhatikannya. Secara intrinsik performance tersebut telah menyatakan bahwa sejarah bersifat maskulin atau dengan kata lain realitas dikonstruksi oleh yang superior. Dalam hal pertentangannya dengan laki-laki dan ideologi patriarki seperti dalam karyanya tersebut, Arahmaiani menggunakan tubuhnya sebagai aktor sedangkan jika dibandingkan dengan Murni, ia memindahkan tubuhnya ke dalam kanvas dengan lebih tematis. Tubuh perempuan yang tematis dalam karya Murni hadir bukan sebagai tubuh realis atau yang mirip dengan realitasnya. Hal ini ditegaskan oleh Acep Iwan Saidi (2008: 213) mengenai konsep tubuh Murni yang hadir sebagai tubuh yang mengalami proses semiosis sehingga ia cenderung lebih bersifat simbolik. Maka yang menjadi fokus dalam lukisan Murni bukan kehadiran tubuh secara visual, melainkan bagaimana tubuh tersebut bisa menjadi tanda untuk mengomunikasikan gagasan yang disampaikan.

Hadir dengan teknik Pengosekan dengan warna-warna cerah nan dramatis serta garis outline pada figur lukisannya, membaca dan mengamati karya-karya lukis Murni maka akan muncul dua kata kunci yang menjadi gagasannya dalam berkarya. Yang pertama adalah seksualitas jika ditinjau dari kencenderungan konten visualnya yang hampir sebagian besar menampilkan imaji phallus, vagina, narasi dan interaksi seksual yang kerap dianggap tabu. Kecenderungan Murni menampilkan konten semacam itu terkesan sangat berani, apalagi posisinya sebagai perempuan yang lazimnya merasa malu untuk mengumbar bagian tubuhnya.

Selain itu, interaksi seksual yang banyak ditampilkan oleh Murni adalah hubungan-hubungan yang ganjil, liar, dan imajinatif.   Misalnya saja dalam karya “Bikin Pleasure” yang menampilkan tubuh perempuan yang disenggamai oleh senjata tajam (arit) dalam dominasi warna merah dalam latar belakangnya yang cukup mengintervensi objek visual didalamnya. Arit yang merupakan alat pemotong rumput telah beralih fungsi menjadi pemberi sensasi terhadap tubuh. Karya tersebut tentu hadir sebagai paradoks dalam interaksi seksual. Rasa sakit telah dimaknai sebagai sumber kenikmatan tentu hal ini juga mengindikasikan adanya kecendrungan sadomasokhisme dalam beberapa karya Murni yang lain.

Kemudian yang kedua adalah feminisme jika dicermati dari konteks Murni dalam berkarya dengan menampilkan visual tubuh dan dirinya sebagai representasi dari permasalahan yang dihadapi oleh banyak perempuan dalam lingkungan sosial dan kultural. Dalam konteks sosial hidupnya, Murni adalah seorang perempuan berdarah Bali yang juga hidup dalam norma-norma dan adat  yang berkembang di sana. Dalam struktur masyarakat adat Bali, perempuan memiliki posisi yang lebih rendah dibanding dengan kaum laki-laki. Sehingga dalam berbagai hal perempuan memiliki berbagai keterbatasan untuk mengungkapkan gagasannya secara politik maupun kebebasan dalam mengekspresikan dirinya. Perempuan dalam struktur adat Bali dibelenggu oleh norma dan konstruksi sosial lainnya. Bahkan mungkin tidak hanya di Bali, hal ini bisa terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Dalam konteks inilah kehadiran karya Murni dapat dimaknai sebagai pendobrak nilai dan norma yang selama ini direkatkan pada diri perempuan. Melalui program “Merayakan Murni” kita akan melihat bagaimana relevansi dari jejak dan pemikiran murni dalam konteks sosial hari ini.

 

-Citra Sasmita, perupa dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*dimuat di Balipost Minggu, 20 Desember 2015

*dimuat di Jurnal Perempuan: http://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/merayakan-murni-merayakan-perempuan-dalam-kesenian

METANARASI PEREMPUAN DALAM SENI RUPA


The Shadows Resist Me, Citra Sasmita, 2014

Tak dapat dipungkiri bahwa mitos perempuan sebagai subjek seni memang kalah besar dibandingkan perempuan sebagai objek seni. Sebagai dasar dari pernyataan tersebut, opini dari almarhum  Basoeki Abdullah harus dimunculkan lagi yaitu “perempuan itu lebih cocok dilukis bukan sebagai pelukis”. Di satu sisi tersurat suatu pujian akan estetika tubuh perempuan sebagai objek lukisan namun disisi lain hal tersebut juga menggambarkan sindiran bahwa perempuan tidak perlu melompati pagar-pagar estetika tubuh tersebut kemudian mengungkapkan gagasan mereka dalam visual atau wujud kreasi manapun. Kegagalan seorang Abdullah adalah memandang perempuan bukan pada tataran esensial, melainkan hanya pada permukaan kulit saja. Maka bukan hal yang mengherankan eksistensi perempuan sebagai perupa hingga kini masih seperti fatamorgana.

Kultus terhadap perempuan memang identik dengan problematika gender. Namun ada hal yang harus diluruskan dari kerancuan yang telah terjadi dari kurun waktu lampau ini. Ketika membicarakan perempuan konsep sesungguhnya adalah perempuan sebagai makhluk kodrati dimana secara biologis seorang perempuan akan memproduksi sel telur, menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui. Kemudian berkembang lagi sifat dan karakter seperti lemah lembut, emosional, keibuan, lengkap dengan peran domestik yang dilekatkan pada sosoknya dimana hal tersebut bukan merupakan kodrat (ketentuan dari Tuhan) namun merupakan buah politik patriarki, suatu konstruksi sosial budaya dalam masyarakat tertentu yang seharusnya kita sebut gender. Namun realita yang terjadi dalam masyarakat adalah pemutar balikan makna antara konsep kodrat dan gender tersebut. Jika seorang perempuan menolak mengerjakan hal-hal rumah tangga dan bertindak diluar nilai-nilai yang telah dikonstruksi maka bagi sebagian besar masyarakat akan dianggap menyalahi kodrat dan dinilai tercela.

Perempuan yang memilih berada dalam jalur kesenian atau setidaknya dalam habitus pergerakan untuk kaumnya (feminisme) tentu akan meyakini bahwa perbedaan penafsiran konsep jenis kelamin dan gender ini akan membunuh potensi mereka sebagai individu. Di Bali khususnya dapat diamati bahwa tidak banyak perempuan Bali yang menggeluti profesi perupa sebagai jalan hidupnya. Usia karir mereka akan berakhir ketika memasuki hidup berumah tangga dengan kewajiban pokok bukan hanya dalam lingkungan keluarga namun juga dalam masyarakat adat. Selain menghadapi persoalan domestik, namun akan dilibatkan pula dalam tugas bermasyarakat, upacara agama sehari-hari maupun upacara dalam periode tertentu, dalam ruang lingkup kecil hingga massal. Ada sanksi-sanksi yang bersifat mengikat jika mereka tidak mengikuti patron keperempuanan yang ada dalam ruang lingkup ini.

Ketika seorang perempuan Bali memutuskan untuk berada dalam arena seni rupa, maka bukan hanya persoalan eksistensi yang dipertaruhkan dalam pergulatan keras dunia seni rupa yang masih didominasi oleh para laki-laki perupa, akan tetapi seorang perempuan perupa Bali mesti dibekali insting “survival” yang cukup tinggi, karena bukan hanya berada dalam lingkungan yang salah-  mereka tidak cukup beruntung untuk tinggal dan hidup dalam lingkungan masyarakat yang terbiasa menerima perempuan berprofesi sebagai perupa seperti di Yogyakarta, Bandung dan Jakarta yang dengan pemikiran terbuka menerima modernitas dan dinamika wacana yang progresif dengan iklim diskusi yang juga layak. Di sisi lain peran media dan lembaga terkait untuk menunjukan eksistensi dan keterlibatan perempuan perupa pun sangat minim. Maka tidak mengherankan sosok perempuan akan melalui jalan yang cukup sulit untuk dapat terbaca dalam pemetaan dan percaturan dunia seni rupa Indonesia.

“Wacana Seni Rupa Perempuan: Antara Konsep dan Konteks” oleh seorang pematung perempuan, Dolorosa Sinaga menyatakan bahwa karya-karya perempuan perupa di Indonesia sulit untuk dikaitkan dengan permasalahan identitas ekspresi karena tidak ada klaim-klaim tentang permasalahan yang spesifik tentang perempuan. Kandungan identitas ekspresi dalam hal ini adalah bagaimana perempuan mengangkat metanarasi dari keperempuanannya baik itu permasalahan sosiokultural terlebih lagi mengungkapkan gagasan tentang kemanusiaan. Akan tetapi, para perempuan perupa Bali tetap keranjingan mengungkapkan ekspresi sensitivitas keperempuanannya atau memvisualkan pengalaman pribadi masing-masing. Maka dari itu medium seni rupa, oleh para perempuan perupa Bali belum dilihat sebagai alat sebuah pergerakan namun hanya dipandang sebagai media untuk menuangkan gagasan visual. Padahal ada banyak problematika yang lebih spesifik seperti permasalahan gender, emansipasi, gerakan pembebasan yang bisa ditransfer dalam medium seni rupa sebagai salah satu jalan untuk merubah, membentuk pola pikir dan terbebas dari inferioritas. Dalam ranah ini, salah seorang perempuan perupa Bali yang dapat merepresentasikan perlawanan terhadap bingkai tubuh yang direkonstruksi masyarakat adalah IGAK Murniasih. Ketika seorang perempuan menjadi berjarak dengan tubuhnya sendiri karena penanaman nilai keperempuanan oleh masyarakat seperti nilai agama dan adat istiadat yang menjadikan perempuan asing dengan dirinya sendiri karena pemahaman terhadap konsep tubuhnya telah dibentuk oleh budaya patriarkis yang cenderung menjadikannya subordinatif. Sebagai antitesis fenomena ini, Murniasih memunculkan visual satir namun parodikal dengan alat genital dimana simbol kelamin ini telah mampu mewakili kemurnian pengungkapan suatu entitas yang ingin dikulturkan Murniasih untuk dirinya dan perempuan lain. Dalam lukisannya yang menggambarkan 2 sosok perempuan mengangkat penis besar misalnya, disatu sisi muncul sebuah interpretasi bahwa perempuan berada dalam posisi yang subordinat dari laki-laki, namun ada hal subtil yang bisa ditangkap dari hanya sekedar membicarakan luka dan penderitaan perempuan Bali baik secara kultural maupun emosional. Dalam visual ini juga tersirat bahwa permasalahan gender tidak hanya memunculkan perbedaan fisiologis, namun representasi perempuan dalam karyanya mampu mengambil alih atribut dan pekerjaan menjadi maskulin yang biasanya ditempati oleh laki-laki.

Meski belum terbaca sebuah pergerakan melalui medium seni rupa, banyak ditemukan kecenderungan ekspresi, keberagaman dan kedalaman visual yang sangat kuat dari karya-karya perempuan perupa Bali ketika mengungkapkan gagasan visual. Namun seluruh permasalahan konsep perempuan dalam karya-karya mereka lebih terbaca sebagai ekspresi pengalaman individual yang dalam dinamika perkembangan seni rupa saat ini belum mampu memasuki arena yang lebih global. Dalam membentuk paradigma seni rupa di Indonesia tidak cukup banyak perempuan perupa yang mengungkapkan pengalaman objektif mereka dalam bentuk karya, karena subjektifitas masih membelenggu mereka dalam gagasan-gagasan visual. Untuk itu, seorang perempuan perupa membutuhkan proses yang cukup keras untuk menyiasati kungkungan konstruksi budaya yang ada.

Tulisan ini dimuat di Jurnal Perempuan/Blog Feminis Muda

http://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/metanarasi-perempuan-dalam-seni-rupa