Mea Vulva, Maxima Vulva at Merayakan Murni Exhibition, Sudakara Art Space Sanur


In the social interaction of modern urban society, individuals are required to attend by wearing the identity formed by elements outside them. The individual identity is constructed by the public perception on the accumulation of capital (social, cultural, economic, and symbolic as in Pierre Bordiou’s thought). Based on that perception, the position of the individual in the process of social interaction within the community is determined by the segmentation and social classes.

It encourages individuals to achieve capital symbolic as high as possible in the purpose of improving their social class in society. But not all have the awareness to accumulate its entire capital, including social capital, economic, cultural, and symbolic thoroughly. Most people only motivated to pursue capital symbolic without including the three other aspects. As the impact can be seen in the desire increasing of individuals to the symbols of the class in the form of commodities that had been reduced in the community as a marker of a certain social class.

This is then can be understood as fetishism or the insanity pursuing certain objects in order to fight for social class as we have seen today how the fashion trends shaping social class framework. In the works of this time, I tried to question about the re-establishment of individual identity in the public sphere, including the pursuit of capital symbolic does. It is about the public perception in massive movement to establish a person’s identity through self-imaging. It is certainly create the layer of identity in accordance with the public segmentation that will be face by the individual.

I want to present how identity can become fashion which merely appear follow the trend with its temporary with the parameters that created by the upper class hegemony with the hierarchy as reflected in the object (vagina). Objects in the tray is ceramic vagina, combustion process that makes the object into a ceramic is a metaphor for an identity that has been through the process of forging, competition, experience, and effort to reach the parameters of social class. Whereas vagina on the floor, represent the identity in the lowest hierarchy. As the impact people keep continue to update their identity through the collection of capital symbolic. Today, we also see that identity politics is not just limited to the pursuit of social class motives, but also motivated by primordially elements that include ethnicity, religion, and ideology.

Rancangan Instalasi

The Design of Mea Vulva, Maxima Vulva

Citra Sasmita_01

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 1

Citra Sasmita_02

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 2

Citra Sasmita_03

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 3

IMG_4439

The Display in Sudakara Art Space in front of Mella Jaarsma installation “Pure Passion”. The detail of artwork is variable dimention

IMG_4735

I’m explaining the concept of the art work

IMG_5052

Curiosity 1

IMG_5056

Curiosity 2

Publication:

https://lifeasartasia.wordpress.com/2016/09/06/merayakan-murni-celebrating-indonesias-most-important-woman-artist/

“Celebrating Murni”: life, legacy and memory of Indonesia’s IGAK Murniasih – artist profile

Whose Canvas: Citra Sasmita

http://www.jakartajive.com/2016/06/shoes-scissors-and-sexuality-celebrating-the-art-of-pioneering-feminist-balinese-artist-murni.html

http://radarbali.jawapos.com/read/2016/07/18/4155/jadi-simbol-perlawanan-karya-murni-dianggap-tabu-dan-kotor/1

Celebrating The Art of Murni

Balipost minggu, 24/7/2016

“Merayakan Murni” Perayaan Melawan Patriarki

Puting Digigit Buaya dan Gaya Lain – Berbagai Rupa Perayaan Murni

Advertisements

MEMBEBASKAN TUBUH PEREMPUAN DARI JERUJI SOSIAL


Solo Exhibition Project “Maternal Skin” by Citra Sasmita, Ghostbird + Swoon Gallery

14/10/15 – 30/11/15

 Lets Talk and Let Her Die & Taste of Social Death- Citra SasmitaHingga kini perempuan menghadapi stigmatisasi terhadap konsep tubuhnya yang sesungguhnya merupakan hasil dari proses simbolik elemen diluar dirinya. Tubuh perempuan dalam paradigma masyarakat harus sesuai dengan pandangan (norma) yang berkembang dalam lingkungan interaksinya, tanpa parameter yang pasti, salah satunya kulit patriarkis dimana masih terdapat perbedaan antara laki-laki yang memegang peran superioritas dan perempuan dengan inferioritasnya. Sehingga persoalan domestik dan identitas masih menjadi permasalahan perempuan ketika konstruksi sosialnya secara sadar ataupun tidak sadar memposisikan perempuan dalam kategori subordinat.

Ada berbagai macam kriteria perempuan yang dibentuk oleh politik pikir masyarakat, sebagai contoh konsep kodrat perempuan yang sesungguhnya merujuk pada fungsi maternal (keibuan/ sifat sebagai subjek yang otonom). Disana sesungguhnya perempuan dapat bebas berekspresi dalam pencarian identitas dirinya, namun menjadi bias ketika dikaitkan ke wilayah gender yang menempatkan posisi perempuan dengan segala tuntutan karakter ideal tubuhnya dan perilaku sehingga kepemilikan atas tubuh perempuan atau sifat tubuh perempuan tidak sepenuhnya mereka miliki. Tubuh perempuan telah menjadi milik sosial yang harus terkonstruksi sesuai dengan nilai-nilai di dalamnya, misalkan saja konsep “ibu” dalam istilah sosial yang dikonstruksi oleh bahasa yang variatif bahkan disokong oleh doktrin agama supaya konsep itu menjadi perilaku. Sehingga konsekuensi yang langsung diterima perempuan adalah adanya keterputusan identitas personalnya dengan proses dan pengalaman tubuhnya (keterputusan antara perilaku “ibu” dan sifat “ibu”)

Sebelumnya menurut Freud, secara anatomi sex konsep tubuh perempuan telah direduksi hanya sebagai fungsi reproduksi, sebagai objek hasrat laki-laki dan bukan sebagai subjek aktif yang memiliki kebebasan ekspresi dalam pencarian identitasnya, maka ketika dimulainya metamorfosa tubuh dari usia belia (tumbuhnya payudara dan mengalami menstruasi) pengalaman biologis tersebut disisipi bahasa/stigma tubuh perempuan yang diidentikkan dengan tubuh yang kotor. Seorang perempuan harus tahu bagaimana cara berpakaian, menutup rapat tubuhnya ataupun berperilaku supaya terhindar dari objektifikasi lingkungan (pelecehan, kejahatan psikologis atau bentuk penindasan lain). Maka pemikiran Julia Kristeva “mengembalikan” tubuh maternal kepada perempuan  dapat diartikan sebagai bentuk pengakuan terhadap kepentingan yang bersifat subjektif atas perkembangan diri perempuan (fungsi ibu) dalam ruang dan waktu di masyarakat. Menurut Kristeva, ada dua fase dalam pembentukan identitas yang mampu menjawab pertanyaan bagi yang menaruh perhatian pada bentuk penindasan perempuan yaitu fase chora dan fase abjeksi.

Dalam fase chora yang dimulai pada usia 0 sampai dengan 6 bulan merupakan usia ketika manusia mempunyai keterikatan dengan tubuh maternal dimana selain secara biologis mendapatkan nutrisi juga mendapatkan impuls semiotik (pengalaman pembentukan diri) yang meliputi pengalaman prasimbolik kehidupan lisan, dimana seorang bayi mengalami (fungsi) ibu dengan optimalisasi cinta dan adanya transfer pengetahuan melalui sentuhan, getaran vokal dan iramanya. Fase chora dalam tubuh maternal dapat diartikan sebagai fungsi asuh yang sifatnya bisa feminim ataupun maskulin dengan cara anak dalam kandungan mendapatkan peran ibu secara tubuh fisikal dan peran ayah imajiner (fase dinaungi cinta dan perlindungan), tubuh maternal tidak hanya diartikan sebagai tubuh fisik yang spesifik (tak hanya/ harus perempuan) sehingga dalam fase inilah yang menjadi penentu seseorang akan menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan.

Kemudian pada usia 4 sampai 8 bulan, anak akan mengalami fase abjeksi yang merupakan fase psikologis berupa penolakan yang cukup signifikan terhadap figur ibu dimana proses penolakan/pemisahan dari tubuh ibu tersebut berpotensi terjadinya penindasan dan diskriminasi terhadap tubuh maternal. Dalam fase abjeksi dengan tubuh maternal ini seringkali dialami secara paksa dan sebagian besar mengalami penyisipan tanda (sign) dan stigmatisasi bahwa tubuh maternal adalah tubuh yang kotor, jijik dan hina. Sebagai konsekuensinya pengalaman abjeksi ini menjadi endapan bawah sadar yang akan dibawa hingga dewasa yang secara sadar ataupun tidak akan menentukan pola pikir dan perilaku yang cenderung mendiskriminasi/menindas perempuan.

Kedua fase ini yang menandakan bahwa yang dialami terlebih dahulu dari pembentukan identitas seseorang adalah hukum maternal (pembentukan diri oleh fase semiotik ke simbolik), bukan paternal (pembentukan diri dari simbolik ke semiotik). Karena pada awal pertumbuhannya, seseorang mengalami fungsi ibu dengan kekayaan pengalaman semiotiknya (pengalaman pembentukan diri) kemudian barulah dilekatkan dengan simbol (bahasa pembentukan diri) yang telah dikonstruksi oleh masyarakat.

Berdasarkan pemikiran di atas, konsep maternal skin yang saya kembangkan dalam pameran ini menjadi relevan ketika dikaitkan dengan realitas yang berjalan dalam masyarakat kita yang masih dalam proses “menjadi”. Benturan antara norma sosial dan agama dalam masyarakat menuntun langkah pemikiran saya pada realitas posisi marjinal perempuan di ranah sosial, yang menjadikannya terkungkung dan mengalami keterbatasan akses terhadap segala hal. Batasan-batasan tersebut justru tercipta dengan dalih untuk menyelamatkan perempuan, alih-alih malah memangkas haknya sebagai manusia. Rasanya kita perlu melihat kembali sosok perempuan secara utuh sebagai manusia, tanpa mengkotakannya dalam kerangka konstruksi yang dibentuk oleh masyarakat patriarkis.

Sejumlah karya yang saya hadirkan dalam pameran ini merupakan hasil refleksi saya atas berbagai hal dalam pengalaman dan pengamatan sehari-hari, yang saya dapatkan melalui riset sederhana terhadap teks-teks Julia Kristeva maupun pandangan tokoh-tokoh lain seputar gagasan yang sama, sekaligus saya juga melakukan pengamatan terhadap realitas sosial yang terjadi di sini. seperti yang saya hadirkan dalam karya Let’s Talk and Let Her Die dan Taste of Social Death. Kedua karya tersebut merupakan kritik atas budaya gosip yang terdegradasi oleh nilai patriarkis. Idealnya saya tidak ingin menyatakan bahwa gosip itu buruk, karena dalam kegiatan tersebut terjadi arus informasi yang bisa menjadi modal sosial seseorang untuk dapat berkumpul dalam kelompok masyarakat tersebut. Namun dalam konteks hari ini yang menjadi topik menarik dalam gosip justru ada upaya objektifikasi terhadap seorang individu sebagai nilai takar kualitas diri. Dan yang lebih menarik lagi dalam budaya gosip oleh perempuan yang mengobjektifikasi perempuan lain yaitu adanya keterkaitan dengan sudut pandang patriarkis dimana kelompok perempuan yang menjadi subjek berperan superior (baca: maskulin dalam artian memiliki kekuasaan politik). Sehingga bisa saya simpulkan bahwa proses perempuan untuk menjadi “tubuh” yang mandiri banyak mengalami kendala dari sistem patriarki ini. Kemudian dari segi media dalam karya tersebut termasuk dua seri yang lainnya menggunakan kertas doyleys cukup representatif mewacanakan domestifikasi yang dialami oleh perempuan dimana hal tersebut cenderung membatasi akses perempuan dalam memberdayakan dirinya.

Secara dominan karya-karya saya mempermasalahkan tentang konstruksi atas tubuh perempuan yang tidak lagi dipandang sebagai tubuh maternal yang hakiki sebagai manusia pada umumnya, melainkan tubuh yang dicemari oleh norma atau nilai sosial yang dibentuk oleh masyarakat.

Esai oleh: Citra Sasmita

dimuat dalam Jurnal Perempuan : http://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/membebaskan-tubuh-perempuan-dari-jeruji-sosial

Update Picture: