Notes of “Under The Skin” Exhibition (by Citra Sasmita)


Malam ia sudah merancang
tidak kembali mengulang mimpi
pada stang bau seledri
kabur membawa tubuh
di atas sepeda
bagai sekeranjang bayam dan kapri
habis kecantikannya terbeli bintang pagi
Tapi, ia mendengar bisik tetangga
dan percaya. Perempuan bisa jadi bapak anak-anaknya
tidaklah jamak setiap menyalakan api
mengandalkan korek dari saku laki-laki
I quote two verses of Iman Budhi Santosa’s poem entitled “The Greengrocer Widow from Imogiri-Yogya” as a fi rst step to walk to Yogyakarta city. The issues of cultural identity, myth, the context of space and time, and the dynamics of community culture became the hypothesis that I obtained from the poem, as well as bridging the work process during the residency period within three months in Redbase. Contrary to my previous work
processes which based on understanding the situation and conditions of Balinese women in the context of their patriarchal and sexuality cultures. This poem brings my body to a more complex issue, not just about the body of Bali, the body of Java, but the human body itself. When I arrived at Yogya, I was slowly harassed by questions and guidance that took me to various place and meetings with a stranger who soon become a friend. So the process of my work not limited to how to get the idea and then poured it into the medium of art only. But my body also helped to record the spirituality and cultural experiences that exist in Yogya. Especially how the The Greengrocer Widow from Imogiri-Yogya’ brought me to explore intense traditional markets, including some visits to several destinations like the south coast, Kotagede and the tomb of Imogiri king.
Traditional markets became the most liquid and open space for me to observe, as a social contest space, the market brought people from different backgrounds and different destinations in the same room. As a visual language, my observations focus on women’s position and relationships in traditional markets as a reflection of their wider social and cultural reality. In traditional markets, women are not only instrumental in determining the value and economic aspects of the various commodity goods traded, but also forging their negotiation space hierarchically. How the market become a public space is identifi ed with women to fulfi ll family needs. In addition, the traditional market also provides a very rich visual diction. I took a lot of things that are commonly found in the market as an idiom that represents my idea in the work. Pieces of meat, cloth napkins,
bamboo strain, leather and natural fi ber became the element that present in this exhibition. In addition to found object in the market, these items at once become a symbol for the identity of the woman herself. The braided natural fi ber strunged together like a long hair hanging. The idiom of long hanging hair, in addition is
become a symbol of women’s identity, also represents their relationship with fellow women, with other human beings, including the context of space and time
This hair idiom also evolved through the shadow-puppet narrative, an element of tradition that links the historical narratives of Javanese and Balinese humans, especially regarding the fi gure of Drupadi. In her story, Drupadi was stripped naked and humiliated by Kurawa because of Pandawa’s defeat in a gambling game.
Her revenge on Kurawa made her swear to untie her hair until she could bathe in Kurawa’s blood. Drupadi ‘s hair that I show is a representation of the form of women’s movement that should be able to fi ght for their rights in the middle of social contest space. This idea became the antithesis of the general view of the fi gure of Javanese women who are usually forcing them to surrender and accept various pressures, as reflected in the philosophy of “nrimo ing pandum” or “mikul dhuwur mendhem jero”.
In this space and time in Yogya, I tried to record these experiences through my Balinese body. Although this cultural identity gives a contrasting color, there is a certain interconnected memory between language, poetry, and philosophy that adds into my visual wealth. The representation of the body that I often present is innocent and with pale white colors on my previous works, and now clothed with a more down to earth experience, with a more earthy body color as well.

Advertisements

Catatan pengantar pameran “Pengilon” Bentara Budaya Yogyakarta


Setelah bumbon, babon, kemudian pengilon. Begitulah kehidupan perempuan Jawa kerap lekat kaitannya dengan ranah domestik seputar masak, manak, lalu macak. Dalam konteks kehidupan masyarakat Jawa, hal tersebut telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun temurun. Pembagian ranah kerja domestik bagi kaum perempuan, tidak dapat dipahami sepenuhnya sebagai bentuk pengekangan terhadap diri, tubuh, dan ekspresi seorang perempuan. Begitupula dengan para seniman perempuan pada pameran ini dalam mengidentifikasi diri mereka, meskipun telah memiliki kebebasan untuk berkarya dan memilih karir sebagai seniman, mereka tetap melekatkan kehidupan personalnya pada ranah domestik melalui perannya sebagai perempuan, istri dan ibu.

Berada di ruang domestik tidak berarti tubuh dan jiwanya terpenjara, mereka meyakini bahwa melalui ruang itulah eksistensinya dapat dibangun secara esensial dan hakiki. Melalui hal-hal yang menjadi keseharian, mereka memperoleh pengalaman empirik pada tubuh dan batinnya, sehingga meningkatkan kepekaan seluruh aspek inderawinya. Di dalam ruang tersebut, mereka tetap dapat mengamati realitas sosial yang berlangsung di luar sana, sekaligus merenungkannya secara kontemplatif serta menimbang dampaknya terhadap diri mereka.

Dari hal-hal yang bersifat keseharian itulah, mereka justru menemukan metafora yang lugas untuk memvisualkan bagaimana realitas sosial itu memberi dampak pada kehidupan. Pengalaman semacam itu selalu mereka tampilkan pada setiap tema pameran yang mereka inisiasi, mulai dari bumbon, babon, dan kini pengilon (termasuk menggunakan kata bumbon sebagai nama kelompok mereka). Berangkat dari hal yang sangat personal dan domestik itulah, mereka justru mampu merefleksikan bagaimana kebudayaan berjalan dari ruang yang paling sederhana.

Pengilon yang dalam bahasa Jawa berarti cermin, memiliki sifat material untuk memantulkan bayangan dan menghadirkan ulang citra diri seseorang. Melalui fungsi inilah, perempuan dapat lebih mengenali dirinya, melihat segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada dirinya. Di hadapan cermin, seseorang tidak hanya berhadapan dengan bayangannya saja, tetapi juga ingatan tentang segala tindakan dan pengalaman yang membentuk dirinya. Refleksi tidak hanya berarti pantulan, tetapi juga renungan..

Secara tematik, pengilon dipilih sebagai tema pameran kelompok Bumbon tahun ini karena menjadi benda yang sangat identik dengan keseharian perempuan secara umum untuk macak atau mematut diri. Secara naluriah setiap manusia menyukai keindahan, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya, tanpa terkecuali kaum perempuan. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan upaya-upaya untuk menarik perhatian dari lawan jenisnya, melainkan sebagai upaya untuk membangun citra diri yang ideal menurut mereka.

Ketika berada di ruang domestik maupun publik, perempuanpun tidak hanya berurusan dengan tubuhnya secara harfiah, tetapi di saat yang bersamaan mereka juga harus berhadapan dengan norma-norma yang mengikat. Di ruang domestik, mereka harus bisa menyikapi norma dalam lingkup keluarga, sementara itu di ruang yang lebih luas mereka harus berhadapan dengan norma dan konstruksi sosial yang berlaku di lingkungan masyarakat. Karena itulah, seorang perempuan musti pandai membentuk image dirinya yang sesuai dengan norma sosial yang berlaku.

Selain itu, tema pengilon juga dipilih sebagai metafora yang dapat menganalogikan bahwa diri para seniman perempuan dan karya-karyanya ini adalah cermin yang memantulkan realitas sosial yang berlangsung di sekitar mereka. Realitas itu, mungkin mereka alami secara langsung atau berdasarkan pada pengamatan yang mereka lakukan secara cermat. Melalui kepekaan yang mereka miliki, segala bentuk realitas tersebut dapat diolah dan dihadirkan kembali ke hadapan publik. Tentu saja, dengan perspektif dan refleksi yang beragam.

Anggapan bahwa kehidupan perempuan hanya berkutat di ruang domestik tanpa mengenal dunia di luar mereka tentu akan terbantahkan ketika melihat karya-karya yang dihadirkan dalam pameran ini. Bahwasanya para seniman perempuan ini, meski bergulat dengan hal-hal keseharian, justru mampu merefleksikan realitas sosial secara luas. Sebagaimana seniman pada umumnya, mereka memiliki daya ekspresi dan imajinasi yang tidak terbatas, sekalipun banyak anggapan bahwa tubuh perempuan mereka terus menerus dibatasi.

 

Citra Sasmita, perupa

Under The Skin, Citra Sasmita’s Solo Exhibition


WhatsApp Image 2018-03-26 at 18.45.07 (1)UNDER THE SKIN
artist in residence exhibition #9 by Citra Sasmita (INA)

Pembukaan: Sabtu, 31 Maret 2018, 4 pm
Tempat: REDBASE Yogyakarta
Ds. Jurug RT 02, No. 72 Bangunharjo, Sewon, Bantul
Yogyakarta 55187 INDONESIA

Performance:
Ayu Permata Sari

Periode pameran:
31 Maret – 28 April 2018

Mengakhiri masa residensinya di Redbase Foundation Yogyakarta, Citra Sasmita akan menggelar pameran tunggalnya dengan mengusung tajuk Under The Skin. Pameran ini merupakan presentasi akhir dari program residensi yang diselenggarakan oleh Redbase Foundation Yogyakarta selama kurang lebih tiga bulan. Redbase foundation yogyakarta secara intensif membuka kesempatan bagi seniman-seniman muda yang berasal dari luar kota yogyakarta untuk merasakan pengalaman tinggal dan berkarya di kota ini. Setiap kota tentu menawarkan suasana dan impresi berbeda yang akan berpengaruh terhadap proses maupun karakteristik seniman dalam berkarya.

Citra Sasmita merupakan seniman muda kelahiran Tabanan, Bali 30 Maret 1990. Menempuh pendidikan formalnya pada jurusan sastra inggris universitas udayana dan jurusan fisika di universitas pendidikan ganesha. Meskipun tidak pernah mengambil pendidikan formal di bidang seni, Ia mengawali karir keseniannya saat menjadi ilustrator cerita pendek di Bali Post sejak tahun 2012. Karya-karyanya banyak mengangkat tema seputar dunia perempuan, terutama dalam konteks budaya bali yang begitu kental dengan nuansa patriarkis dan seksualitas.

Dalam aspek historis, Bali dan Jawa memiliki akar sejarah dan kultural yang hampir serupa, hal itu tercermin dalam naskah-naskah pewayangan yang hingga kini masih menjadi narasi yang berkembang di kehidupan masyarakat sehari-hari. Meski memiliki akar sejarah yang hampir serupa, namun pada praktiknya, masyarakat di kedua pulau itu telah berkembang menjadi dua kultur yang berbeda.

Pada masa residensinya yang intens selama tiga bulan di Redbase Foundation Yogyakarta ini, Citra melakukan eksplorasi terhadap tema perempuan dalam konteks budaya jawa, yang terefleksi melalui hubungan sosial antara tubuh perempuan dengan ruang dan waktu.Citra melihat pasar tradisional sebagai ruang kontestasi sosial bagi perempuan yang bersifat cair sekaligus egaliter. Baginya, pasar tradisional juga menjadi ruang yang terbuka untuk mempertemukan orang-orang dengan berbagai latar belakang.

Meski melakukan eksplorasi yang mendalam terhadap perempuan dalam konteks budaya Jawa, pada sejumlah karyanya, Citra juga masih menggunakan idiom-idiom visualnya terdahulu. Baginya, ini merupakan pengalaman tubuhnya dalam menyerap dua budaya yang berbeda. Pada sejumlah karyanya, Citra menghadirkan figur-figur perempuan dengan benda-benda komoditas yang lazim kita jumpai di pasar seperti daging, serbet, juga keranjang. Meski demikian, gambaran yang muncul bukanlah lukisan realistik yang menggambarkan perempuan dalam ruang pasar tradisional secara nyata. Citra mengolah pengalaman dan hasil observasinya tersebut secara simbolik, sehingga pemaknaan terhadap karyanya menjadi lebih luas dan tidak terbatas. Sebagaimana tercermin dari judul pamerannya ini, Under The Skin (di balik permukaan kulit) yang berarti mengajak kita untuk menyelami perempuan pada tataran yang lebih dalam seperti psikologi, budaya, dan spiritualitasnya.

Pameran ini dibuka pada 31 Maret dan berlangsung hingga 28 April 2018 mendatang di ruang Redbase Foundation Yogyakarta.

Ending her residency at Redbase Foundation Yogyakarta, Citra Sasmita will hold her solo exhibition entitled Under The Skin. This exhibition is the final presentation of Citra’s residency in Redbase Foundation Yogyakarta for approximately three months. Redbase Foundation Yogyakarta intensively opens opportunities for young artists who come from outside of the city to feel the experience of living and working in Yogyakarta. Each city certainly offers a different atmosphere and impression that will affect the process and characteristics of the artists’s works.

Citra Sasmita is a young artist born in Tabanan, Bali March 30, 1990. She took her formal education at Udayana University of English Literature Department and Department of Physics at Ganesha University of Education. Although she hasn’t took a formal education in art, she began her artistic career as a short story illustrator for Bali Post since 2012. Her works mostly show women’s world theme, especially in the context of Balinese culture that is strongly dominated by patriarchal nuances and sexuality.
In the historical aspect, Bali and Java have almost similar historical and cultural roots, it is reflected in the puppet texts that still becomes a narration and developed in daily life of the society. Despite that, they have almost similar historical roots, but in practice, communities on both islands have evolved into two different cultures.

During her three month residency at the Redbase Foundation Yogyakarta, Citra has explored the theme of women in the context of Javanese culture, which is reflected through the social relationship between the female body with space and time. Citra perceives traditional market as a social contestation space for women who are soft but egalitarian as well. For her, the traditional market is an open space to bring people together from diverse backgrounds.

Despite her deep exploration of women in the context of Javanese culture, in some of her works, Citra still uses her previous visual idioms. For her, this is her body’s experience in absorbing two different cultures. In a number of her works, Citra presents female figures with commodity objects that are commonly encountered in markets such as meat, napkins, and baskets. Nevertheless, the picture that emerges is not a realistic painting depicting women in traditional market space in real terms. Citra processed experience and the results of her observations symbolically, so that the meaning of her work becomes wider and unlimited. As reflected in the title of this exhibition, Under The Skin (behind the surface of the skin) which means invites us to explore women on a deeper level such as psychology, culture, and spirituality.

The exhibition opened on March 31 and will last until 28 April 2018 Redbase Foundation’s space.

Mea Vulva, Maxima Vulva at Merayakan Murni Exhibition, Sudakara Art Space Sanur


In the social interaction of modern urban society, individuals are required to attend by wearing the identity formed by elements outside them. The individual identity is constructed by the public perception on the accumulation of capital (social, cultural, economic, and symbolic as in Pierre Bordiou’s thought). Based on that perception, the position of the individual in the process of social interaction within the community is determined by the segmentation and social classes.

It encourages individuals to achieve capital symbolic as high as possible in the purpose of improving their social class in society. But not all have the awareness to accumulate its entire capital, including social capital, economic, cultural, and symbolic thoroughly. Most people only motivated to pursue capital symbolic without including the three other aspects. As the impact can be seen in the desire increasing of individuals to the symbols of the class in the form of commodities that had been reduced in the community as a marker of a certain social class.

This is then can be understood as fetishism or the insanity pursuing certain objects in order to fight for social class as we have seen today how the fashion trends shaping social class framework. In the works of this time, I tried to question about the re-establishment of individual identity in the public sphere, including the pursuit of capital symbolic does. It is about the public perception in massive movement to establish a person’s identity through self-imaging. It is certainly create the layer of identity in accordance with the public segmentation that will be face by the individual.

I want to present how identity can become fashion which merely appear follow the trend with its temporary with the parameters that created by the upper class hegemony with the hierarchy as reflected in the object (vagina). Objects in the tray is ceramic vagina, combustion process that makes the object into a ceramic is a metaphor for an identity that has been through the process of forging, competition, experience, and effort to reach the parameters of social class. Whereas vagina on the floor, represent the identity in the lowest hierarchy. As the impact people keep continue to update their identity through the collection of capital symbolic. Today, we also see that identity politics is not just limited to the pursuit of social class motives, but also motivated by primordially elements that include ethnicity, religion, and ideology.

Rancangan Instalasi

The Design of Mea Vulva, Maxima Vulva

Citra Sasmita_01

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 1

Citra Sasmita_02

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 2

Citra Sasmita_03

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 3

IMG_4439

The Display in Sudakara Art Space in front of Mella Jaarsma installation “Pure Passion”. The detail of artwork is variable dimention

IMG_4735

I’m explaining the concept of the art work

IMG_5052

Curiosity 1

IMG_5056

Curiosity 2

Publication:

https://lifeasartasia.wordpress.com/2016/09/06/merayakan-murni-celebrating-indonesias-most-important-woman-artist/

“Celebrating Murni”: life, legacy and memory of Indonesia’s IGAK Murniasih – artist profile

Whose Canvas: Citra Sasmita

http://www.jakartajive.com/2016/06/shoes-scissors-and-sexuality-celebrating-the-art-of-pioneering-feminist-balinese-artist-murni.html

http://radarbali.jawapos.com/read/2016/07/18/4155/jadi-simbol-perlawanan-karya-murni-dianggap-tabu-dan-kotor/1

Celebrating The Art of Murni

Balipost minggu, 24/7/2016

“Merayakan Murni” Perayaan Melawan Patriarki

Puting Digigit Buaya dan Gaya Lain – Berbagai Rupa Perayaan Murni

MEMBEBASKAN TUBUH PEREMPUAN DARI JERUJI SOSIAL


Solo Exhibition Project “Maternal Skin” by Citra Sasmita, Ghostbird + Swoon Gallery

14/10/15 – 30/11/15

 Lets Talk and Let Her Die & Taste of Social Death- Citra SasmitaHingga kini perempuan menghadapi stigmatisasi terhadap konsep tubuhnya yang sesungguhnya merupakan hasil dari proses simbolik elemen diluar dirinya. Tubuh perempuan dalam paradigma masyarakat harus sesuai dengan pandangan (norma) yang berkembang dalam lingkungan interaksinya, tanpa parameter yang pasti, salah satunya kulit patriarkis dimana masih terdapat perbedaan antara laki-laki yang memegang peran superioritas dan perempuan dengan inferioritasnya. Sehingga persoalan domestik dan identitas masih menjadi permasalahan perempuan ketika konstruksi sosialnya secara sadar ataupun tidak sadar memposisikan perempuan dalam kategori subordinat.

Ada berbagai macam kriteria perempuan yang dibentuk oleh politik pikir masyarakat, sebagai contoh konsep kodrat perempuan yang sesungguhnya merujuk pada fungsi maternal (keibuan/ sifat sebagai subjek yang otonom). Disana sesungguhnya perempuan dapat bebas berekspresi dalam pencarian identitas dirinya, namun menjadi bias ketika dikaitkan ke wilayah gender yang menempatkan posisi perempuan dengan segala tuntutan karakter ideal tubuhnya dan perilaku sehingga kepemilikan atas tubuh perempuan atau sifat tubuh perempuan tidak sepenuhnya mereka miliki. Tubuh perempuan telah menjadi milik sosial yang harus terkonstruksi sesuai dengan nilai-nilai di dalamnya, misalkan saja konsep “ibu” dalam istilah sosial yang dikonstruksi oleh bahasa yang variatif bahkan disokong oleh doktrin agama supaya konsep itu menjadi perilaku. Sehingga konsekuensi yang langsung diterima perempuan adalah adanya keterputusan identitas personalnya dengan proses dan pengalaman tubuhnya (keterputusan antara perilaku “ibu” dan sifat “ibu”)

Sebelumnya menurut Freud, secara anatomi sex konsep tubuh perempuan telah direduksi hanya sebagai fungsi reproduksi, sebagai objek hasrat laki-laki dan bukan sebagai subjek aktif yang memiliki kebebasan ekspresi dalam pencarian identitasnya, maka ketika dimulainya metamorfosa tubuh dari usia belia (tumbuhnya payudara dan mengalami menstruasi) pengalaman biologis tersebut disisipi bahasa/stigma tubuh perempuan yang diidentikkan dengan tubuh yang kotor. Seorang perempuan harus tahu bagaimana cara berpakaian, menutup rapat tubuhnya ataupun berperilaku supaya terhindar dari objektifikasi lingkungan (pelecehan, kejahatan psikologis atau bentuk penindasan lain). Maka pemikiran Julia Kristeva “mengembalikan” tubuh maternal kepada perempuan  dapat diartikan sebagai bentuk pengakuan terhadap kepentingan yang bersifat subjektif atas perkembangan diri perempuan (fungsi ibu) dalam ruang dan waktu di masyarakat. Menurut Kristeva, ada dua fase dalam pembentukan identitas yang mampu menjawab pertanyaan bagi yang menaruh perhatian pada bentuk penindasan perempuan yaitu fase chora dan fase abjeksi.

Dalam fase chora yang dimulai pada usia 0 sampai dengan 6 bulan merupakan usia ketika manusia mempunyai keterikatan dengan tubuh maternal dimana selain secara biologis mendapatkan nutrisi juga mendapatkan impuls semiotik (pengalaman pembentukan diri) yang meliputi pengalaman prasimbolik kehidupan lisan, dimana seorang bayi mengalami (fungsi) ibu dengan optimalisasi cinta dan adanya transfer pengetahuan melalui sentuhan, getaran vokal dan iramanya. Fase chora dalam tubuh maternal dapat diartikan sebagai fungsi asuh yang sifatnya bisa feminim ataupun maskulin dengan cara anak dalam kandungan mendapatkan peran ibu secara tubuh fisikal dan peran ayah imajiner (fase dinaungi cinta dan perlindungan), tubuh maternal tidak hanya diartikan sebagai tubuh fisik yang spesifik (tak hanya/ harus perempuan) sehingga dalam fase inilah yang menjadi penentu seseorang akan menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan.

Kemudian pada usia 4 sampai 8 bulan, anak akan mengalami fase abjeksi yang merupakan fase psikologis berupa penolakan yang cukup signifikan terhadap figur ibu dimana proses penolakan/pemisahan dari tubuh ibu tersebut berpotensi terjadinya penindasan dan diskriminasi terhadap tubuh maternal. Dalam fase abjeksi dengan tubuh maternal ini seringkali dialami secara paksa dan sebagian besar mengalami penyisipan tanda (sign) dan stigmatisasi bahwa tubuh maternal adalah tubuh yang kotor, jijik dan hina. Sebagai konsekuensinya pengalaman abjeksi ini menjadi endapan bawah sadar yang akan dibawa hingga dewasa yang secara sadar ataupun tidak akan menentukan pola pikir dan perilaku yang cenderung mendiskriminasi/menindas perempuan.

Kedua fase ini yang menandakan bahwa yang dialami terlebih dahulu dari pembentukan identitas seseorang adalah hukum maternal (pembentukan diri oleh fase semiotik ke simbolik), bukan paternal (pembentukan diri dari simbolik ke semiotik). Karena pada awal pertumbuhannya, seseorang mengalami fungsi ibu dengan kekayaan pengalaman semiotiknya (pengalaman pembentukan diri) kemudian barulah dilekatkan dengan simbol (bahasa pembentukan diri) yang telah dikonstruksi oleh masyarakat.

Berdasarkan pemikiran di atas, konsep maternal skin yang saya kembangkan dalam pameran ini menjadi relevan ketika dikaitkan dengan realitas yang berjalan dalam masyarakat kita yang masih dalam proses “menjadi”. Benturan antara norma sosial dan agama dalam masyarakat menuntun langkah pemikiran saya pada realitas posisi marjinal perempuan di ranah sosial, yang menjadikannya terkungkung dan mengalami keterbatasan akses terhadap segala hal. Batasan-batasan tersebut justru tercipta dengan dalih untuk menyelamatkan perempuan, alih-alih malah memangkas haknya sebagai manusia. Rasanya kita perlu melihat kembali sosok perempuan secara utuh sebagai manusia, tanpa mengkotakannya dalam kerangka konstruksi yang dibentuk oleh masyarakat patriarkis.

Sejumlah karya yang saya hadirkan dalam pameran ini merupakan hasil refleksi saya atas berbagai hal dalam pengalaman dan pengamatan sehari-hari, yang saya dapatkan melalui riset sederhana terhadap teks-teks Julia Kristeva maupun pandangan tokoh-tokoh lain seputar gagasan yang sama, sekaligus saya juga melakukan pengamatan terhadap realitas sosial yang terjadi di sini. seperti yang saya hadirkan dalam karya Let’s Talk and Let Her Die dan Taste of Social Death. Kedua karya tersebut merupakan kritik atas budaya gosip yang terdegradasi oleh nilai patriarkis. Idealnya saya tidak ingin menyatakan bahwa gosip itu buruk, karena dalam kegiatan tersebut terjadi arus informasi yang bisa menjadi modal sosial seseorang untuk dapat berkumpul dalam kelompok masyarakat tersebut. Namun dalam konteks hari ini yang menjadi topik menarik dalam gosip justru ada upaya objektifikasi terhadap seorang individu sebagai nilai takar kualitas diri. Dan yang lebih menarik lagi dalam budaya gosip oleh perempuan yang mengobjektifikasi perempuan lain yaitu adanya keterkaitan dengan sudut pandang patriarkis dimana kelompok perempuan yang menjadi subjek berperan superior (baca: maskulin dalam artian memiliki kekuasaan politik). Sehingga bisa saya simpulkan bahwa proses perempuan untuk menjadi “tubuh” yang mandiri banyak mengalami kendala dari sistem patriarki ini. Kemudian dari segi media dalam karya tersebut termasuk dua seri yang lainnya menggunakan kertas doyleys cukup representatif mewacanakan domestifikasi yang dialami oleh perempuan dimana hal tersebut cenderung membatasi akses perempuan dalam memberdayakan dirinya.

Secara dominan karya-karya saya mempermasalahkan tentang konstruksi atas tubuh perempuan yang tidak lagi dipandang sebagai tubuh maternal yang hakiki sebagai manusia pada umumnya, melainkan tubuh yang dicemari oleh norma atau nilai sosial yang dibentuk oleh masyarakat.

Esai oleh: Citra Sasmita

dimuat dalam Jurnal Perempuan : http://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/membebaskan-tubuh-perempuan-dari-jeruji-sosial

Update Picture: