8 Maret, Gerakan Perempuan Menuju Kesetaraan


“Perempuan adalah kekuatan utama dalam sebuah perubahan” begitulah yang diungkapkan oleh Sri Mulyani Indrawati, Chief Operating Officer and Managing Director, Bank Dunia. Karena baginya, negara yang menjamin dan menginvestasikan pendidikan bagi anak-anak perempuan dan menghilangkan hambatan hukum bagi perempuan untuk memaksimalkan potensinya sekarang telah mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Dalam bidang ekonomi di Amerika Latin misalnya antara tahun 2000-2010 membawa perubahan dalam reduksi kemiskinan sebagai dampak dari pemberdayaan lebih dari 70 juta perempuan yang bergabung dalam industri kerja dan tentunya telah mendapatkan pendidikan yang layak sehingga berimbas positif pula pada kedewasaan perempuan untuk menikah pada usia matang dan memiliki sedikit anak.  Hal ini pun dapat menjadi indikasi bahwa negara yang mampu mengentaskan kemiskinan adalah negara yang mengkondisikan perempuan dan laki-laki dalam kesetaraan.

Tentunya inilah yang menjadi visi besar dari gerakan perempuan di seluruh dunia yang selalu diperingati dalam Woman’s International Day setiap 8 Maret. WID merupakan suatu momentum bagi perempuan untuk memperjuangkan hak-haknya dalam bidang ekonomi, politik dan sosial. Disamping untuk memperingati peristiwa terbakarnya pabrik Triangle Shirtwaist di New York pada tahun 1911 yang mengakibatkan 140 orang perempuan kehilangan nyawanya, ada pun peristiwa lainnya yang terjadi pada 8 Maret 1857 di New York adalah ketika kaum perempuan dari pabrik pakaian tekstil mengadakan aksi protes memperjuangkan kondisi kerja yang sangat buruk dan gaji rendah.

Hal tersebut dikarenakan oleh stereotipe pembagian peran laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi oleh masyarakat dunia serta imbas industrialisasi yang memapankan peran perempuan dalam pekerjaan domestik/ non produktif serta kerja tanpa bayaran. Sementara laki-laki bisa menjadi pemilik usaha, manajer atau buruh (tenaga kerja produktif). Perlakuan diskriminasi tersebut yang menggerakkan para perempuan untuk merombak kembali konstruksi masyarakat akan peran perempuan yang terbatas dalam ruang rumah tangga dimana juga mempersulit mempersulit perkembangan intelektualitas dan kemandirian mereka. Hanya karena stereotip tersebut kinerja perempuan untuk mendukung pertumbuhan industri dianggap lebih buruk dari laki-laki sehingga dari segi upah ternyata juga lebih rendah dari buruh laki-laki.

Para pengunjuk rasa yang turun ke jalanan yang terdiri dari buruh perempuan tersebut kemudian diserang dan dibubarkan oleh polisi. Menyadari perjuangan mereka belum selesai, kaum perempuan ini kemudian membentuk serikat buruh pada bulan yang sama dua tahun setelah peristiwa tersebut. Di tengah gelombang industrialisasi dan ekspansi ekonomi yang menyebabkan timbulnya protes-protes mengenai kondisi kerja inilah gagasan perayaan Women’s International Day ini tercetuskan.

Selanjutnya, situasi perang duniapun turut memberikan peran baru untuk perempuan sehingga “tidak lagi domestik”. Perempuan mulai dibutuhkan bekerja diluar rumah khususnya dalam hal produksi perlengkapan perang seperti seragam untuk tentara, senjata dan ikut serta berperan sebagai tenaga medis di medan perang. Meski telah ikut ambil andil dalam peran laki-laki, namun peran domestik mereka tidak berkurang sehingga memunculkan peran dan beban ganda bagi perempuan. Maka para perempuan, khususnya kalangan buruh perempuan makin gencar menyuarakan tuntutan lingkungan kerja yang lebih baik dan jam kerja yang lebih kondusif.

Tidak hanya di negara-negara yang telah sukses memperjuangkan hak-hak perempuan, titik kesetaraan ini pun diharapkan menjangkau seluruh perempuan di negara berkembang khususnya di Indonesia. Tanggal 8 Maret ini menjadi penting karena menjadi cikal bakal kesadaran perempuan mengubah nasib mereka. Sesungguhnya WID telah berperan pula bagi organisasi perempuan di Indonesia dan diperingati setiap tahunnya diantaranya yaitu PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia) yang sempat menjadi WIDF (Women International Democratic Federation) dan GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia). Gerakan-gerakan perempuan pada masa pemerintahan presiden Soekarno tersebut tumbuh begitu subur dan berperan signifikan dalam pembangunan negara. Pada momentum ini kita juga diingatkan kembali akan kongres perempuan di Yogyakarta pada tahun 1928 yang menekankan pada aspek-aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang perempuan. Perempuan bisa menjadi apapun, dari mengikuti kodratnya sebagai seorang ibu, mendidik anak dan mengurus rumah tangga sebaik-baiknya namun hal terpenting yang tidak bisa dilepaskan dalam perkembangan identitas seorang perempuan adalah intelektualitas, vitalitas dan kinerja perempuan.

Namun pada masa Orde Baru, peringatan WID dilarang karena dianggap membawa paham komunis yang ditandai pula dengan kehancuran organisasi perempuan seperti GERWANI dengan sebuah propaganda seksual yang terkenal dengan tarian harum bunga dimana para anggota GERWANI konon melakukan tarian vulgar dan memotong kemaluan dan mencungkil mata para jenderal. Sehingga disamping menciptakan catatan kelam mengenai pembantaian para anggota GERWANI pada 1 Oktober 1965, juga merupakan sebuah upaya pemerintah untuk menggertak dan menghentikan progresifitas organisasi-organisasi perempuan yang lainnya di Indonesia.

Para perempuan telah kehilangan ideologi yang dulu dengan semangat berapi-api disampaikan oleh Presiden Soekarno dan menetapkan kongres tersebut sebagai hari suci bagi perempuan, sebagaimana WID yang semestinya dapat memberikan semangat perjuangan untuk perempuan. Bahkan begitu pentingnya gerakan perempuan bagi Soekarno, ia telah menyusun buku berjudul “Sarinah” yang mengupas pergerakan perempuan di dunia serta perlawanan kaum perempuan terhadap bahaya laten hukum patriarkis dan ekses-eksesnya. Seperti yang kita sadari, hingga saat ini kita justru terjebak dalam domestifikasi. Domestifikasi bukan berarti hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga melainkan dibatasinya akses-akses perempuan baik dari segi intelektualitas, politik, dan partisipasinya dalam menentukan keberlangsungan kehidupan sosial dengan adanya justifikasi dan pakem-pakem mengenai keperempuanan yang telah dikondisikan oleh masyarakat yang kurang mendukung kemajuan seorang perempuan.

Meski WID belum menjadi hari penting yang dicatat dalam kalender resmi Indonesia, namun pergerakan perempuan mengaktualisasikan dirinya tetap berlangsung hingga sekarang untuk tetap memperjuangkan hak-haknya, menghilangkan diskriminasi, keterbatasan akses-akses politik, peran dan beban ganda terhadap perempuan menuju situasi yang setara dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

 

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*Tulisan ini pernah dimuat di Balipost minggu, 6 Maret 2016