Childhood Memory at Personal Codes Presentation


Childhood Memory, 100x120cm, acrylic on canvas, 2016

Kali ini saya terjebak dalam sebuah pertanyaan, sejak kapan seseorang memahami seksualitas? Apakah dimulai ketika pertama kali seorang anak mempunyai rasa keingintahuan akan apapun yang ada dalam anggota tubuhnya? Atau ketika ia mulai disisipkan “bahasa” oleh orang tua sebagai institusi pertama dalam pembentukan identitasnya?–dimana “bahasa” tersebutlah yang merupakan cikal bakal terbentuknya oposisi biner seorang anak terhadap anak lain yang berbeda dengan jenis kelaminnya. Untuk mencapai pemahaman tersebut, saya ingin mengutip alegori rahim dalam uraian Rumi:

“Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim: “Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur,

Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar;

Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang;

Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang;

Keajaibannya  tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?”

Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.

Maka, di dunia ini, ketika seorang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,

Tak seorang pun di antara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa.

Begitupun hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina

Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darat semata.”

Dalam alegori rahim tersebut dapat terlihat sebuah perspektif oposisi, antara sebuah janin yang tumbuh dan berkembang menggunakan intektualitas (akal jiwa) dibandingkan dengan sesuatu diluar dirinya yang mencoba menyisipkan bahasa simbolik ( gambaran mengenai gunung, lautan, buah-buahan mewangi) yang telah menggunakan rasio (akal psikis) dalam cara untuk memperoleh pengetahuan. Disamping itu juga terdapat kontradiksi antara realitas dalam masing-masing perspektif. Ketika janin hanya cukup untuk menghargai rahim (sesuatu yang dalam bahasa simbolik diungkapkan dengan “penjara kotor lagi penuh penderitaan”) dengan merespon simpul-simpul semiotik yang berupa rangsangan, getaran dan nutrisi yang diberikan oleh sang ibu, namun sesuatu diluar fase cora-nya (fase dalam kandungan) akan menjadi fase selanjutnya bagi seorang anak. Dimana dalam fase tersebutlah terjadinya perubahan persepsi dari yang semiotik menuju simbolik atau dengan kata lain adanya hierarki realitas yang pada prinsipnya menuntut seorang anak untuk memperoleh pengetahuan diluar pengalaman dirinya secara alamiah.

Penyisipan bahasa simbolik tersebutlah yang membentuk identitas diri sang anak (ego) maka dalam hal ini dapat menjadi permulaan adanya pandangan oposisi antara maskulin dan feminim. Bahwa maskulin dengan sifat logos diterjemahkan dengan superioritas dibandingkan dengan feminim yang dikonstruksi unsur-unsur inferioritas. Padahal ketika janin masih dalam kandungan, maskulinitas dan feminitas berada dalam posisi egaliter. Hal ini diindikasikan oleh fungsi ibu (memberikan rangsangan kasih sayang dan nutrisi) dan fungsi ayah imajiner (memberikan perlindungan) dapat dilakukan sekaligus dalam tumbuh kembang seorang anak.

Karena pemahaman akan perbedaan jenis kelamin tersebut tidak disampaikan dengan intelektualitas namun dengan menggunakan rasio inilah yang menimbulkan potensi diskriminasi terhadap perempuan. Dimana dalam konstruksi pengetahuan seorang anak hanya dilandaskan dalam hierarki realitas dalam bentuk doktrin yang bisa saja diterima sebagai suatu gagasan, namun realitas ini cenderung tidak dialami secara langsung atau tidak tereksplorasi.

Childhood Memory, dimaksudkan untuk kembali mempertanyakan pengalaman-pengalaman yang dialami seseorang dalam pembentukan identitasnya. Kemudian ketika menganalisis pemikiran Freud dalam Beyond the Pleasure Principles, dalam perkembangan identitas, tubuh telah mempunyai insting untuk cenderung berada dalam situasi yang menyenangkan namun agaknya kontradiktif dengan pikiran yang bertendensi mengulang kembali pengalaman buruk, trauma, stigma sosial– repetisi senantiasa terjadi baik melalui story telling, mimpi dan halusinasi. Alih-alih menghadapi pengalaman traumatik dan stigma sosial yang menjadi afirmasi dalam pembentukan identitas diri, seseorang cenderung menikmati kepahitan dan kesakitan sebagai ekstase untuk mengaktualisasikan dirinya.

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*Lukisan Citra Sasmita dengan tajuk Childhood Memory (100x120cm, acrylic on canvas, 2016) saat ini sedang dipresentasikan di Sudakara Art Space, Sanur-Bali periode Februari-April 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s