CITRA SASMITA: PENDIDIK YANG DEWASA


Pendidikan sejatinya merupakan fondasi yang cukup signifikan dalam upaya membentuk manusia yang berkarakter. Dalam hal ini, karakter yang dimaksud yaitu bagaimana para peserta didik secara menyeluruh dapat menumbuhkan mentalitas dan pola pikir yang mampu mendukung pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia) bangsa Indonesia.

Untuk meraih visi besar tersebut tentu tidak hanya bertumpu pada posisi peserta didik sebagai objek pendidikan, melainkan peran pendidiklah yang menjadi center point, subjek pendidikan yang menjalankan sistem di lapangan. Dimana sistem yang berjalan adalah suatu sistem yang diberlakukan oleh negara melalui kementerian pendidikan dalam bentuk kurikulum.

Melalui penerapan kurikulum, seorang peserta didik dituntut menguasai berbagai macam komponen mata pelajaran. Dari yang pokok hingga muatan lokal sebagaimana tertera dalam kurikulum pendidikan yang bersifat dinamis dengan implementasi dalam metode pembelajaran. Dari berbagai pengamatan, pelaksanaan kurikulum dalam ruang pembelajaran belum menunjukkan tolok ukur kualitas yang jelas. Tentu, baik pendidik maupun peserta didik sama-sama menghadapi tantangan dalam proses transfer dan adaptasi pengetahuan dalam sistem tersebut. Namun keberhasilan pendidikan dapat terwujud jika dua komponen ini dapat saling mendukung dan melengkapi.

Pendidik sebagai narasumber, disamping harus memiliki kompetensi materi juga diharapkan mempunyai kompetensi lain yang menandakan dirinya telah siap menjalani profesi sebagai pendidik. Yang sekaligus menjadi indikator sebagai seorang pendidik yang dewasa. Karena selain menjadi fasilitator, pendidik secara tidak langsung akan menjadi role model bagi peserta didik, dimana pada saat itu terjadi konektifitas yang saling mempengaruhi dalam pembentukan psikologi peserta didik. Kompetensi lain yang dimaksud dalam hal ini adalah kesiapan pengetahuan, pengalaman, komitmen,  serta kesiapan diri yang meliputi aspek fisik dan psikologis. Kesehatan dan kebugaran fisik seorang pendidik menjadi penting untuk menopang kesiapan kejiwaan, kestabilan emosi, pemusatan perhatian juga kesiapan akal pikiran dalam menghadapi peserta didik.

Integrasi Nilai dan Karakter

Karakter sebagai output yang diharapkan dari peserta didik tentu lebih tepat untuk menggambarkan tujuan suatu sistem pendidikan yang mendewasakan. Dimana inti dari pendidikan bukan sekedar penguasaan lini-lini ilmu pengetahuan yang menjadi komponen mata pelajaran dan semata-mata diukur dengan angka-angka.

Angka-angka atau nilai dari sebuah ujian tanpa disadari juga ikut berperan penting mempengaruhi psikologi peserta didik dimana peserta didik akan berusaha menapaki tangga pencapaian dari inferioritas (nilai pelajaran rendah) menuju superioritas (nilai pelajaran tinggi) tanpa mempedulikan kenikmatan proses pendidikan itu sendiri. Padahal kedewasaan peserta didik dalam proses pendidikan tidak tepat jika dinilai secara kuantitatif.

Kepribadian peserta didik yang meliputi kedewasaan intelektual, moral, emosional, sosial dan motorik akan dapat diukur indikasinya melalui kegiatan konseling yang dijalankan dengan intens demi mengetahui pencapaian peserta didik dalam proses pembelajaran sekaligus juga untuk mengontrol konsentrasi dan fokus peserta didik dalam proses pendidikan. Komunikasi menjadi hal yang vital dalam fase ini dimana para pendidik dapat mengerti kepribadian peserta didik sekaligus berempati terhadap kesulitan yang dialami peserta didik dalam proses pendidikan. Sehingga dapat memberikan solusi yang tepat secara dewasa terhadap kesulitan yang dihadapi setiap peserta didik, bukan hanya menerapkan sistem atau metode pembelajaran yang ada secara menyeluruh.

Dalam pelaksanaannya, sistem pendidikan bertumpu pada generalisasi situasi yang dialami para peserta didik maupun pendidik. Sehingga untuk kesulitan yang berbeda, seringkali diberlakukan solusi yang seragam. Tindakan ini menjadi tidak tepat karena suatu  metode  ada berdasarkan  suatu uji coba dalam sampel tertentu dan belum tentu sesuai dengan kondisi peserta didik dalam situasi dan kondisi yang lain. Maka para pendidik diharapkan mampu berinovasi mengembangkan atau menerapkan metode yang terbaik untuk peserta didik dengan melihat satu-persatu kondisi peserta didiknya.

Kurikulum dalam sistem pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan dalam kurun hampir 10 tahun sekali, secara signifikan hal ini akan mempengaruhi mentalitas pendidik maupun peserta didik. Padahal elemen-elemen pendidikan membutuhkan rentang waktu tertentu untuk beradaptasi dengan suatu kurikulum dan tuntutan akademisnya. Perubahan tersebut seringkali dianggap mengacu pada penyempurnaan sistem dan metode, namun kenyataanya belum pasti memberikan standar mutu yang baik bagi peserta didik dalam kondisi yang sangat beragam di seluruh wilayah Indonesia.

Ada konsep dasar pendidikan yang seyogyanya diserap demi kokohnya fondasi bangunan pendidikan, yaitu kecerdasan sebagai efek transfer ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan karakter maka akan menjerumuskan kehidupan peserta didik itu sendiri pada lembah perilaku negatif. Maka akan menjadi tantangan yang cukup berat bagi para pendidik untuk mengintegrasikan ruh pendidikan yang terdapat dalam ilmu pengetahuan dan pendidikan karakter.

 

*) Tulisan ini merupakan respon terhadap artikel “Pendidikan Yang Mendewasakan” yang dimuat Bali Post, Minggu 19 April 2015. Dimuat pada 3 Mei 2015