MANTRA PENAKLUK


Ini merupakan kabar gembira bagi Irus yang telah dibuat demam dan menggigil dalam tidur-tidur malamnya. Sebab seorang gadis yang telah mengacaukan akal sehatnya telah menolak pinangan Den Mas Sarwo, seorang tuan tanah kaya yang hartanya tidak akan habis sampai tujuh turunan. Pertama kali Irus melihat gadis itu dalam sebuah pidato dari seorang pemimpin organisasi petani di kampungnya. Irus melihatnya datang bersama sekelompok gadis yang sepertinya bukan berniat mendengar dan mengikuti ceramah marxis pada hari itu, namun mereka lebih tertarik untuk memperhatikan ketua organisasi yang terkenal tampan dan kharismatik. Diatas mimbar ia memang tampak memesona dengan ikat kepala di dahinya, seolah itu telah cukup menyatakan keberpihakannya terhadap kaum buruh dan petani.

Tapi, terhadap Kang Darta– begitu ketua organisasi itu akrab disapa, Irus sedikit sinis. Mungkin sebagai anak seorang dukun ia kalah tenar. Meski banyak jimat pengasih dan cincin batu yang konon bisa memberikannya daya tarik dan kewibawaan selalu ia pakai, namun tidak sekalipun ia berani meniduri gadis yang telah terpikat peletnya. Suatu ketika Irus diminta ayahnya mencari bahan sesaji untuk ritual penolak bala. Namun ditengah jalan, Irus berpapasan dengan Nyai Nimah, salah satu gundik Kyai Jafron. Ketika mata mereka saling beradu, saat itulah pelet Irus mulai bekerja. Wajah Nyai Nimah seketika memerah seperti tengah menahan gemuruh ditubuhnya. Serta oleh sihir yang begitu ajaib wanita itu tidak bisa membendung niatnya–berbagai pikiran erotis melintas di kepalanya tanpa ia kehendaki. Kemudian tanpa pikir panjang Nyai Nimah menarik Irus menuju semak-semak. Wanita itu merogoh kaos dan celana Irus dengan begitu beringas seraya membuka kerudung, kebaya dan kain lilit yang membungkus pinggangnya. Itulah kali pertama Irus melihat tubuh polos seorang perempuan. Jakunnya naik turun. Pemuda itu berusaha menelan ludah meski begitu susahnya. Ketika Nyai Nimah hendak menyerangnya lagi, Irus menutupi kemaluannya yang sulit tegak kemudian mendorong wanita itu dan melarikan diri. Setelah itu ia menjadi sadar betul khasiat jimat yang diwariskan oleh ayahnya dan memutuskan untuk tidak sembarangan lagi  memakainya. Sebab Irus telah bersumpah untuk memberikan keperjakaannya hanya kepada perempuan yang ia cintai dan yang akan menjadi istrinya kelak.

Kemudian mengenai sosok Kang Darta, ia merupakan pemuda yang reaksioner. Sifat itu ia dapatkan setelah selesai menempuh pendidikan di kota. Ketika Kang Darta kembali ke kampung, ia diserang rasa kelangenan karena harus kembali menjalani kehidupan desa yang mandeg. Maka ia mengumpulkan para pemuda desa untuk membentuk sebuah organisasi petani di sana. Ia ingin melakukan perubahan untuk desanya. Kemudian mengenai kehidupan cinta, Kang Darta ternyata tidak seambisius niatnya untuk membangun desa. Tidak ada seorang gadispun yang menarik minatnya melebihi buku-buku kiri koleksinya. Tapi dengar-dengar, karena ketampanan dan roman wajahnya yang arkaik banyak gadis yang rela tidur dengan Kang Darta.

Dan Anisa, ia adalah gadis yang telah mengganggu pikiran Irus. Ia merupakan anak seorang janda di kampung itu dan hanya tinggal bersama ibunya. Namun, penyelidikannya terhadap Anisa tidak berakhir sampai di titik itu. Malam penuh kegelisahan yang selalu Irus lewati beserta keringat dingin yang membasahi kasurnya membuatnya kecanduan untuk terus mengintip dan mengamati apa yang terjadi di rumah itu. Dalam sebuah kesempatan mereka berpapasan, jangankan bisa menatap matanya, untuk mengangkat kepalanya saja tidak mampu. Irus membuang banyak kesempatan untuk menggunakan peletnya terhadap Anisa. Lama-lama Irus semakin terobsesi dengan gadis itu. Sekali saja ia melewatkan kegiatan mengintip kekasih hatinya, Irus akan menjalani malam yang begitu panjang dengan 1001 mimpi setiap hari. Akhirnya pada suatu sore yang lengang, Irus nekad melompati pagar tanaman rumah Anisa dan mencuri celana dalamnya. Kini setidaknya ada aroma gadis itu yang menemani tidur malamnya.

***

Dalam usianya yang ranum Anisa telah menamatkan pendidikannya di sekolah rakyat. Menguasai baca tulis setidaknya telah memberikan gadis itu keyakinan untuk tidak bekerja sebagai babu atau gundik-gundik tuan tanah sebagaimana nasib gadis seusianya. Ketika Anisa berusia 15 tahun, ayahnya mati ditembak musuh ketika perang gerilya. Mayat ayahnya tidak dikuburkan secara layak sebagaimana para tentara lain yang mati karena berperang. Konon karena sering mengerjai musuh dan telah mengebom gudang makanan mereka, jenderal musuh sangat dendam kepada sang gerilyawan. Maka ketika akhirnya ia berhasil dibunuh, mayatnya dimutilasi lalu menjadi makanan anjing-anjing hutan yang kelaparan. Hanya kepalanya saja yang tersisa dan dimanfaatkan oleh sang jenderal untuk menggertak kelompok gerilyawan. Kepala sang ayah dikirim ke markas para gerilyawan, melalui seorang kurir, dan itu cukup membunuh semangat mereka untuk melanjutkan perjuangan. Akhirnya mereka kembali menyamar sebagai pedagang dan penduduk pribumi untuk menghindari kejaran musuh.

Tangis ibunya pecah ketika kepala suaminya dibungkus ala kadarnya dengan bendera kebangsaan dan diantar sendiri oleh sang ketua gerilya dengan menggunakan sebuah nampan. Kemudian atas permintaan ibu Anisa sendiri, kepala suaminya tersebut dikuburkan dibelakang rumah mereka.

Namun teror tidak juga berakhir pada pemakaman itu, karena pada suatu malam yang paling angker kepala sang gerilyawan keluar dari kuburnya. Matanya berdarah dan menyala merah. Kemudian kepala itu terbang ke markas musuh dan menerobos masuk ke kandang anjing pelacak mereka. Lolongan anjing-anjing dalam kandang tersebut rupanya tidak dipahami sebagai pertanda oleh tentara-tentara musuh. Mereka tetap sibuk bermain kartu dan bercumbu dengan para pelacur. Potongan kepala itu kemudian merobek leher salah satu anjing hingga putus lalu ia menempatkan dirinya pada tubuh anjing tersebut. Ia kembali menjelma sosok gerilyawan, tapi kini bertubuh anjing. Malam itu menjadi hari pembalasan sang gerilyawan. Seluruh pasukan musuh telah ia lumpuhkan dalam semalam. Dendam yang ia bawa sampai ketanah telah membuat setiap pasukan yang melihat darah dan nyala merah di mata sang gerilyawan seketika membeku dan berubah menjadi batu.

***

Mulai merasakan kesulitan hidup tanpa sang ayah, Anisa mulai dijodohkan oleh ibunya dengan laki-laki pilihannya. Tentu yang diincar ibunya adalah Den Mas Sarwo, tuan tanah dengan jaminan harta dan warisan yang tidak akan habis hingga tujuh turunan. Meski laki-laki itu telah puluhan kali kawin karena menginginkan anak laki-laki sebagai penerus keluarganya. Tentu saja Anisa menolaknya. Sebab, dengan usaha yang cukup keras Anisa telah berhasil mendapatkan cinta Kang Darta.

Setelah Kang Darta berpidato mengenai perjuangan kaum buruh, Anisa menunggunya sampai keadaan di mimbar sunyi. Hanya Kang Darta dan Anisa yang mengintip dibelakang panggung. Kemudian dengan langkah ragu-ragu namun membawa gemuruh di dadanya, Anisa menghampiri Kang Darta.

“Bagaimana caranya perempuan ikut berperan dalam revolusi?” Anisa memecah kesunyian pada senja setelah Kang Darta membakar semangat kaum petani. Kang Darta seketika tersihir dengan sosok gadis itu, khususnya pada pertanyaan revolusionernya. Hal itu sama sekali belum pernah terpikirkan oleh pemuda itu dalam pidato-pidato yang ia susun. Anisa yang tampak kikuk semakin membuat Kang Darta membara.

“Mari saya tunjukkan.” Jawab Kang Darta singkat. Pemuda itu meraih tangan Anisa dan menuntunnya menuju belakang panggung. Dalam keheningan yang diupayakan, pemuda itu mulai menelusuri punggung tangan Anisa, lengan, hingga lehernya. Tidak beberapa lama kemudian suara desah dan lenguhan pecah di udara. Namun kelepak kalong-kalong yang seharian penuh bergelantungan di puncak pepohonan telah menyamarkannya.

***

Iringan pengantin mulai memenuhi rumah Anisa. Budak budak yang membawa sesembahan memenuhi seluruh jalan membawa nampan penuh dengan kain tenun, brokat, kotak emas dan makanan yang melimpah. Iringan kali ini terlihat sangat berbeda, sangat mewah dan berlebihan seolah Den Mas Sarwo yang sebelumnya murka dengan penolakan Anisa mengumumkan ke seuruh penduduk kampung bahwa gadis itu telah berhasil ia pikat dengan kekayaannya. Kali ini pun den Mas Sarwo datang sendiri ditandu oleh empat budaknya yang kurus karena kerja berat dan kasar di tanah perkebunannya. Untuk gundik-gundik sebelumnya, pantang bagi tuan tanah itu untuk mengotori kakinya dan datang ke rumah calon mempelai. Namun kali ini Den Mas Sarwo sungguh-sungguh berniat mengambil dan menaikkan derajat Anisa sah sebagai istri.

Irus yang menyaksikan sikap kurang ajar Den Mas Sarwo pun teramat luka batinnya. Dibalik pagar semak pemuda itu tetap mengintai ke dalam rumah Anisa. Dilihatnya pula kekasih hatinya itu diseret oleh ibunya untuk menemui calon suaminya. Matanya tampak banjir, masih terlihat sisa-sisa cilak dan bedak yang pada awalnya membuat wajah gadis itu begitu cantik dan ayu.

“Anisa semestinya menjadi pengantin yang berbahagia untukku!” begitu batin Irus yang oleh karena patah hati dan kemarahan yang tak bisa dibendung ikut pula sesenggukan dan berurai air mata. Kemudian dari balik kaos hitamnya, Irus mengeluarkan sebilah keris yang ia ambil diam-diam dari kamar ayahnya dan selembar daun sirih serta dari saku celananya. Tidak lupa ia juga mengambil secarik kertas yang bertuliskan mantra yang disalin dari lontar milik ayahnya. Dalam persembunyiannya Irus komat-kamit dan berkonsentrasi terhadap Den Mas Sarwo yang telah membikinnya kesumat. Setelah pemuda itu menyembur keris ayahnya sebanyak tiga kali, ia menusuk lembaran daun sirih tersebut maju dan kemudian mundur. Mirip seperti adegan bersenggama. Sesaat ia ragu, apakah mantra dan ritual yang ia lakukan sudah benar. Irus tetap memompa keris tersebut hingga daun sirih tersebut terkoyak dicelah jarinya. Sementara tidak ada hal apapun yang terjadi pada Den Mas Sarwo yang kini menyeret Anisa menuju tandunya.

Namun siapa yang berani sangsi terhadap kesaktian sang dukun? Konon ia menguasai penguasa jin diseluruh penjuru mata angin. Mampu memanggil dan menghentikan hujan badai dalam sekali jentik jarinya. Keajaiban macam apapun bisa sang dukun ciptakan di atas telapak tangannya. Maka mantra yang Irus curi dari ayahnya mulai bereaksi. Den Mas Sarwo tampak menegang. Irus makin gelisah jika ia salah sebut mantra karena senjata dibalik sarung Den Mas Sarwo tampak menyembul tegak dan perkasa. Para perempuan yang membawa seserahan tampak menahan nafas menyaksikannya. Senjata itu makin tegak, semakin memanjang. Irus mengutuk dirinya karena mantra tersebut justru membuat Den Mas Sarwo menjadi begitu gagahnya. Tapi efek mantra itu ternyata belum berhenti dan semakin membuat mata orang-orang melotot. Senjata Den Mas Sarwo bertambah besar dan memanjang tak ada hentinya hingga menyeruak dari balik sarungnya. Roman muka Den Mas Sarwo berubah pucat menjadi ketakutan ketika senjatanya itu kini menjadi sangat panjang seperti gagang cangkul. Kemudian senjatanya tersebut berubah warna menjadi hijau pekat lalu tumbuh duri-duri hitam kecil memenuhi senjata Den Mas Sarwo. Mirip kaktus, namun dengan duri-duri yang berbisa. Laki-laki itu tampak kesakitan, kemudian ditandu pulang oleh budak-budaknya.

Masih menyisakan keterkejutan, Irus justru melompat gembira. Teluhnya telah berhasil membuat Den Mas Sarwo mengurungkan niatnya. Belakangan Irus teringat bahwa mantra yang ia ucapkan adalah mantra pembesar senjata bagi laki-laki yang sering kesulitan untuk menghunuskannya. Prosesi yang salah telah membuat senjata Den Mas Sarwo menjadi begitu mengerikan.

Sebelum Den Mas Sarwo beranjak dari rumah Anisa, laki-laki itu menuduh dengan keji ibunya sebagai pembawa kesialan ini. Ia begitu yakin kejadian aneh hari ini merupakan kutukan sang gerilyawan yang mayatnya dikubur serampangan. Seketika orang-orang kampung berhamburan memasuki rumah serta mengunci pintu dan jendela mereka rapat-rapat.

Dengan senyum yang sumringah Irus beranjak dari tempat persembunyiannya, kembali ke kediamannya dan mengembalikan keris pusaka yang telah menuntaskan dendamnya tersebut. Ia telah menjadi pahlawan bagi kekasih hatinya, Anisa atau mungkin bagi gadis-gadis yang dipaksa kawin dengan Den Mas Sarwo. Dengan senjatanya yang kini berduri itu, perempuan mana lagi yang akan mau dikawininya.

Beberapa hari kemudian dengan rasa percaya diri yang secara ajaib diperolehnya, Irus bertamu kerumah Anisa. Datang menunaikan niat suci dan tulus untuk melamar kekasih hatinya. Malam sebelumnya ia telah melakukan tirakat mandi dengan minyak cendana, berharap Anisa akan tersihir dan jatuh cinta kepadanya tanpa harus bertatap mata. Tidak lupa Irus membawa cincin dan kalung akik sebagai mas kawin. Segera setelah Irus mengucapkan salam, ibunya muncul dengan wajah sepucat mayat. Ditangannya ada sepucuk surat. Irus yang tidak sabar merampas surat itu dari tangan si perempuan. Apa yang terjadi sungguh lebih parah dari teluhnya sendiri kepada Den Mas Sarwo. Patah hati yang ia rasakan menjalar begitu cepatnya sampai ke saraf-saraf otaknya. Kemudian Irus lemas dan kejang-kejang.

Disurat itu dengan jelas tertulis bahwa Anisa telah kawin lari dengan Kang Darta menuju tempat yang begitu jauh, melewati samudra yang begitu luasnya. Tempat yang hanya bisa ditemukan jika mereka telah membaca buku, yang selalu pemuda itu lontarkan dalam pidato-pidato revolusionernya. Sekarang yang bisa dilakukan Irus hanya menahan rasa sekarat karena telah kehilangan cintanya. Kini, angin tidak akan mampu membawa sihir cintanya dan laut akan senantiasa menenggelamkan mantra gelapnya.

 

-Selesai-

*Dimuat BaliPost Minggu 31 April 2017

Advertisements

Muasal Keruntuhan


 

Ada yang menyusup mengirimkan pertanda

Pada subuh sebelum segalanya dapat ditangkap jelas oleh retina

Hanya sekedar siluet

Ketika itu beringin kering tumbuh dalam batok kepala

Serabutnya menyusup semakin dalam

Menyeruak ke bagian paling rumit

Dimana manusia memendam hasrat tergelapnya

 

Kemudian pada ambang kesadaran dan mimpi

Aku terbius dalam imaji;

Sendiri di tanah asing

Pada perjalanan di gurun dengan hamparan duri

Setiap jejakku akan memerah

Ditembus serbuk-serbuk besi

 

Darah dan rasa sakit membikin setiap jalan kelahiran dipenuhi ular

Yang senantiasa menyuntikkan bisanya pada mahluk pertama

Bisa itu adalah candu yang membuat adam dan hawa tidak lapar akan buah kuldi

Melainkan rasa lapar yang membuat mereka melahap satu sama lain

Dalam kenikmatan purba, yang tak mampu dikultuskan dalam dogma

Dogmalah yang membuatku buta

Untuk paham bahwa penciptaan adalah khayali, tidak pernah terjadi.

 

Kemudian lenguhan yang berasal dari kedalaman neraka

Mendenging di dasar telinga, menjadikanku tuli

Dan oleh takdir disebutkan bahwa ketulian adalah penyakit

Yang membuat doa para santo tak akan pernah menyentuh kebaikan

Kebaikan tidak akan menyentuh siapapun

Sebab kebaikan adalah khayali, tidak pernah terjadi

 

Denpasar, 2016

Filsafat Kuldi


 

Kita adalah sepasang pendosa yang dikutuk Tuhan turun ke dunia

Setelah rasa lapar merenggukmu dan ular meliuk-liuk didalam tubuhku

Surga telah dikuduskan menjauh dari iman kita

Tidak ada lagi kolam susu atau aroma hangat rempah

Apalagi padang rumput keemasan

Nyanyian para malaikat berwujud malam

Dan rintik hujan yang menyegarkan

Pun menjadi ingatan yang diterpa angin

 

Kita mengarungi musim-musim asing

Yang menawarkan rasa dingin yang terlampau dingin

Atau terik yang menjadikan tubuh kita semakin fana

Semakin larut dengan usia dunia

Sementara jauh dalam ingatan atau barangkali telah menjadi khayali

Bahwa dulu sekali kita adalah mahluk-mahluk abadi

 

Kini kita berpijak pada keniscayaan

Pada hari-hari yang tunduk akan waktu

Pada sebuah adegan yang terampil dimainkan para penghuninya;

Antara memberi dan mencuri kehidupan

Tak ada banyak pilihan

 

Namun sekali lagi kita ingin merengguk dosa-dosa itu

Dengan penuh ketaatan

Tak ada lagi waktu panjang yang sia-sia

 

Kali ini dua biji kuldi kau lahap dalam suka cita

Dan ular itu kembali meliuk-liuk ke dalam tubuhku

Semakin dalam, semakin tenggelam

Seolah ia ingin tinggal lebih lama untuk sekedar berbenih

Menjadi pepohonan, menjadi kawanan mahluk yang menunggu untuk dinamai

 

Denpasar, 2016

Epilog Pembakaran Sita


Jika saja kau menyimpan abuku

Segera setelah pembakaran

Segera setelah doa-doa berhenti

Dan menaburkannya dalam liang

Yang akan menjadi penghabisanmu

Dengan rindu mengganas

Maka menjelmalah kita dengan sempurna

 

Ingatlah sejenak

Ketika api pertama menyulut tubuhku

Kenanglah sebagaimana ayat keseratus

Kau tulis dalam keningmu;

Bahwa pada mataku yang  memutih

Masih dapat kau lihat musim-musim

Dimana kita menari diatasnya

 

Juga dalam dingin yang diciptakan para dewa

Pada kulit

dan seluruh sel yang menjadikanku  ada,

Pertemuan kita melahirkan roh paling kudus

Yang menjadi darah, debu, dan hangat yang purba

 

Lihatlah aku sekali lagi

Saat darahku mengering dicumbu maut

Aroma dan merahnya akan mewakili

Segala yang ingin kusampaikan padamu

Perihal keabadian

Melampaui zaman dan usia yang mudah diterka

 

Denpasar, 2014

Menuju Pembakaran


 

: Ida I Dewa Agung Istri Putra

 

Inilah pernikahan abadi kita,

dimana aku sempurna menjelma perawan untukmu

 

Setelah hidup yang begitu singkat

Dan kematian adalah puncak kerinduan

dari waktu ke waktu

Tanpa terhitung angka tahun

 

Telah lama kunanti dunia menghapusku

Meski rapal mantra

dan jimat-jimat penebus

Membuatku selamanya menjadi tanda hari;

menjadi pemujaan yang bertubi-tubi

 

Mungkin setelah kulalui sebelas menara

yang Tuan hadiahkan

Membuat senja lebih menyala

Serupa birahi

Untuk kembali menyatu dengan rusukmu

 

Namun pada langit keberapa

Dapat kugapai dirimu?

 

Diantara kobaran api yang akan menjadikanku ilusi

Malaikat dan musafir bersorak,

Lalu seketika diam

Barangkali mereka,

barangkali ingin memerangkapku

Dalam ritus perjalanan

Hingga di pucuk menara,

langit memucat dan bintang pertama muncul

Pandanganku tersihir akan rimba

Dimana sekali lagi kau dimahkotakan

untuk menguasai ketiadaan

 

Puluhan ribu tubuh mengantarku melewati tiga dunia

Menopang kerajaan untuk tubuh suriku

Kepada api yang tak singkat mengepul

Dalam upacara penyatuan denganmu

 

Klungkung, 2014

Gadis Merah dan Pohon yang Berbuah Apa Saja


Aku tidak pernah menyangka akan diasingkan dari tanah tempat kelahiranku menuju sebuah kota kecil di dataran Gargalota dengan menumpang kapal barang yang selain mengangkut cokelat dan biji-biji beraroma menyengat juga ada sekelompok budak-budak berkulit hitam yang nanti akan diturunkan di Grenlischerter yang berjarak 10 hari dari pelabuhan. Aku sendiri akan turun di semenanjung Gargalota yang berjarak 7 hari, kemudian melanjutkan perjalanan melewati gurun Kilosa hingga akhirnya sampai dikota itu.

Sesungguhnya ini bukan keinginanku untuk pergi ke tempat antah berantah yang bahkan dari cerita-cerita para pelaut kota tersebut menyimpan lebih dari seribu cerita kengerian. Pernah dikisahkan seorang pelaut terdampar di Gargalota. Ketika itu hari masih terang dan tidak ada yang bisa diandalkannya untuk navigasi kecuali insting dan arah hembusan angin. Kemudian sangat berbahaya baginya jika bepergian di darat pada malam hari, kita tidak akan bisa mengira akan ada binatang buas atau suku kanibal yang mengincar para pendatang yang tanpa sengaja memasuki wilayah mereka.

Tentu dengan tidak berbekal apapun pelaut itu menyusuri rawa-rawa dan sebuah sabana sepanjang rasa putus asanya. Kelaparan dan kehausan ia hendak mengakhiri hidupnya. Bahkan jalan kembali pun ia tidak mampu mengingatnya. Dalam sabana yang luas tersebut ia menggali tanah dengan pisau belatinya, setidaknya pelaut itu ingin mayatnya ada dalam lubang yang cukup dalam, jauh dari jangkauan burung hering dan binatang pemakan bangkai lainnya. Namun belum lama ia menggali, semburat air muncrat ke atas tanah. Ternyata Tuhan masih berbaik hati, begitu pikirnya. Tanpa menunggu apapun sang pelaut meraup segenap air dalam kolam yang dibuatnya, seolah itu merupakan harta satu-satunya saat ini. Kemudian ia minum dan mandi sepuasnya.

Keajaiban lain terjadi, sebuah pohon tiba-tiba tumbuh di atas kolam itu, dengan sulur-sulur akar kemudian batang dan ranting pohon yang tumbuh begitu cepat menyusul dedaunannya. Si pelaut berharap pohon itu akan berbuah apel, atau buah anggur–makanan mewah yang selalu ia lihat dimakan oleh para tuan tanah. Dan segera saja pohon itu berbuah sesuai dengan keinginannya. Namun dari bawah pohon, si pelaut hanya bisa menggapai-gapaikan tangannya tak sanggup untuk memetik satupun dari buah-buahan itu, tubuhnya tak lagi mampu memanjat bahkan hanya untuk sekedar berdiri, beban diatas tubuhnya terlampau berat. Mata air yang ia gali tampak memerah, sulur-sulur akar tetap tumbuh masuk ke kedalaman tanah. Pohon ajaib yang bisa berbuah apapun itu tumbuh di atas tubuh si pelaut.

***

Perjalanan dengan menggunakan kapal layar bukanlah hal yang mudah bisa kulalui. Beberapa hari ini cuaca sangat buruk, burung-burung camar yang terbang melawan arah angin, bagi kapten kapal merupakan hal yang paling mengkhawatirkan. Aku cukup yakin, berbekal pengalamannya hidup di lautan, pertanda alam seperti ini bukanlah hal baru baginya. Namun ada raut kecemasan dalam wajahnya yang kasar. Raut kecemasan ini seperti membaca sesuatu yang lain dari biasanya. Apakah akan ada badai yang lebih besar dari yang biasa dia hadapi? Ataukah, bermil-mil didepan sana akan ada monster laut yang mampu meremukkan seluruh badan kapal seperti yang diceritakan awak-awak kapal ketika mabuk di kedai untuk menakut-nakuti para pelacur yang pada menit selanjutnya akan mereka lumat dan nikmati dengan beringas.

Saat ini dalam sudut yang di luar perhatian para awak kapal, aku menyembunyikan rasa mual karena mabuk laut. Dalam kapal ini tidak ada yang namanya kenyamanan. Sebelum naik ke kapal laki-laki di atas dek itu selalu meludah kearahku, ada yang menutup hidung mereka seolah aku adalah bangkai yang membusuk. Sesungguhnya hal itu pula yang menjadi alasan aku diusir dari desa kelahiranku. Warga desa selalu menganggapku anak terkutuk. Konon ketika aku dilahirkan, tidak ada yang membantu persalinan ibuku. Ketika itu seluruh penduduk melakukan pemujaan terhadap sebuah pohon semak yang mereka anggap sangat suci dan mampu melindungi penduduk dari segala bencana. Pohon semak yang tingginya tidak lebih dari dua kaki yang selalu mereka sirami dengan susu, padahal mereka sendiri tidak pernah meminum itu seumur hidup. Bagi mereka susu hanya untuk roh suci yang selalu melindungi desa. Konon pohon itu mampu mendatangkan badai jika ada kapal dengan bendera perompak ingin berlabuh disana atau membelokkan tanah longsor yang hampir mengubur desa.

Saat itu usia kandungan ibu masih sangat muda, tidak ada yang menyangka aku akan lahir lebih awal. Ada yang bilang, belum berselang beberapa saat aku keluar dari rahim ibu, aku menghisap seluruh darah ibuku hingga kulitku sama merahnya dengan darah itu. Tidak ada yang berhasil menghilangkan warna merah dan bau darah dalam tubuhku. Hingga aku tumbuh besar, aku telah menjadi teror dalam desa itu. Mereka pikir aku akan menghisap darah mereka, padahal kecerobohan yang pernah kulakukan hanyalah diam-diam meminum susu dari kerbau-kerbau penduduk desa.

Ketakutan penduduk desa semakin menjadi ketika dari puting-puting kerbau mereka tidak bisa mengeluarkan susu setetespun, hanya cairan merah segar yang mengalir tanpa henti. Karena putus asa, mereka menyirami pohon semak suci dengan darah kerbau seraya berdoa untuk menyingkirkanku. Tidak satupun yang dapat mereka lakukan selain berdoa. Tidak beberapa lama kemudian pohon itu menjadi merah, sama merahnya dengan darah dan dedaunan dalam pohon itu pun gugur menyisakan rantingnya kemudian mengering. Sejak saat itu, penduduk desa makin tidak berani mendekatiku. Bagi mereka, apapun yang kusentuh akan berubah menjadi merah. Maka dari itu, ketika kapal yang mengangkut para budak menuju Grenlischerter berlabuh para penduduk menyambut dengan gembira seolah kedatangan mereka menjadi satu-satunya harapan untuk mengenyahkanku. Para penduduk memberikan mereka daging kerbau yang telah diasap, air segar beserta kentang, apapun yang bisa mereka berikan dengan cuma-cuma. Sebagai timbal baliknya para penduduk mendesak sang kapten untuk membuangku di Gargalota, sebuah pulau yang sama terkutuknya dengan keberadaanku.

Bersembunyi dalam gudang kapal, aku menahan sebisa mungkin rasa lapar. Berhari-hari aku tidak memakan apapun dan dengan terpaksa aku makan makanan sisa awak kapal, berupa bubur kentang dingin yang sedikit berjamur—rasa dan tampilannya tidak berbeda dengan muntahan para pemabuk di kapal ini. Biji-bijian dan buah kering dalam kotak kayu hanya menimbulkan rasa perih dan menyengat bahkan hanya dengan mencium aromanya saja.

Para budak berkulit hitam yang dikurung didasar kapal ternyata kondisinya tidak lebih baik. Dari celah kayu diam-diam aku mengintip, dan yang kutemukan jauh lebih mengerikan daripada ketakutan penduduk desa ketika melihat sosokku. Mereka harus bertahan melawan rasa dingin karena air yang menggenangi dasar kapal. Tangan dan kaki mereka terikat rantai yang terhubung dari satu budak ke budak lainnya. Di dekat tangga, dua orang awak kapal memerintah mereka sesuka hati, meludah dan memukuli budak-budak itu jika ada yang tidak patuh.

Budak-budak berkulit gelap itu berasal dari orang-orang suku Avon. Orang-orang Avon selalu bersembunyi ketika daerah mereka didatangi orang asing dan seharusnya keberadaan mereka tidak mudah dilacak karena kehidupan mereka yang selalu berpindah-pindah hingga ke bagian hutan yang paling dalam. Disamping itu orang-orang Avon memiliki kemampuan kamuflase yang mampu mengecoh harimau lapar sekalipun. Setelah melakukan berbulan-bulan ekspedisi, kapten dan para awak kapal berhasil menculik sekitar dua belas orang yang terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak. Rupanya kapten kapal ini cukup cerdik, dengan membakar bunga opium kering itu sudah cukup membuat orang-orang Avon lemas dan tidak sadarkan diri dalam persembunyiannya.

Dengar-dengar para tuan tanah dan borjuis di Grenlischerter telah memasang harga yang mahal untuk budak-budak itu. Kemampuan mereka meramu biji-bijian menjadi balsam, bumbu dan obat-obatan yang didapat dari ekspedisi ke pulau-pulau tropis sangat bisa diandalkan.

Seorang perempuan Avon telah menjadi bulan-bulanan awak kapal yang mabuk. Sementara yang lainnya tetap dipukuli ketika ingin melawan. Dalam ketidakberdayaan mereka hanya bisa memalingkan pandangan, tidak ingin melihat nasib buruk yang menimpa seorang kawannya.  Meski berkulit gelap, tubuh perempuan Avon sesungguhnya lebih ranum dibandingkan pelacur-pelacur berkulit putih yang tampak mengendur. Barangkali karena begitu lama melaut, rasa lapar mereka sudah tidak tertahankan dan perempuan Avon tersebut telah menjadi santapan mereka malam ini.

***

Pertanda yang menjadi kekhawatiran kapten kapal rupanya telah menunggu tidak jauh didepan sana. Laut masih tenang, dan kapalpun melaju dengan kecepatan angin yang teratur, namun ada kabut tebal yang menyambut dengan begitu cepat dan mengurung kapal ini dalam udara dingin yang tidak tertahankan. Seketika kapal ini seolah memasuki lautan orang-orang mati. Angin dingin yang berhembus lebih terdengar seperti teriakan menyayat yang berasal dari hantu-hantu dasar laut. Kapal tetap melaju tanpa arah dalam kabut, semua awak kapal tampak panik. Sesungguhnya tidak ada hal apapun yang terjadi kecuali suhu dingin yang membuat mereka berhalusinasi. Mereka mulai kehilangan kesadaran. Kapten kapal tampak mengamuk di atas dek sambil mengacung-ngacungkan pedangnya, mengutuk dan menyerang orang Avon yang lolos dari kurungan. Ia mencincang-cincang semua orang Avon itu yang jumlahnya belasan. Bukan, bukan belasan, namun puluhan. Jumlah orang-orang Avon makin bertambah seiring tebalnya kabut dan tidak terkendali. Akupun tidak mempercayai penglihatanku. Bagaimana bisa jumlah mereka bertambah banyak dengan seketika?

Aku berlari menuju dasar kapal tempat mereka dikurung, dan orang-orang Avon masih berada dalam kurungannya. Dua awak kapal tampak membujur kaku, ada yang mencekik mereka dengan sekuat tenaga. Bersama si perempuan Avon yang selamat, kami membebaskan sisa tawanan dan melarikan diri.

Ketika sampai diatas dek, segalanya sudah tampak tenang. Kabut perlahan menghilang dan kembali mengembalikan penglihatanku. Namun apa yang kulihat seperti mengingatkanku akan sesuatu. Kini dihadapanku tumbuh beberapa pohon besar, seolah tumbuh dengan begitu ajaibnya. Orang-orang Avon telah lebih dulu berlarian dan memanjat pohon-pohon itu. Mereka memakan apapun yang bisa ditemukannya dibalik dedaunan pohon itu. Akupun  ikut menghambur, berharap akan menemukan sesuatu untuk menghilangkan rasa laparku. Tapi, belum jauh aku memanjat, aku merasa telah menginjak sesuatu yang dingin dan licin. Menghadapi rasa penasaranku, kulihat mayat kapten dan para awak kapal dililit akar pohon yang menghisap darah dan organ-organ tubuh mereka. Mungkinkah aku telah sampai di Gargalota?

 

Citra Sasmita, dimuat di BaliPost Minggu, 3 Maret  2016

Palung Kopi


Kedalaman apa yang dapat menyembunyikan bau perawan? Serupa keheningan astral ia menyedot dengan konspirasi seekor kepik yang menempel pada pot bunga poppy.

Lelaki yang mengintip di ujung gang lembab menghirup dengan semangat musim panas kopi dingin dalam cangkir pada jendela bertirai keping-keping kaca.

Siluet seorang gadis telah menjadi morfin yang merembes ke serat-serat otaknya. Melumpuhkan sebagian serebelum. Voila! Lalu jadilah seorang Kapten tanpa kompas, tanpa layar, dengan kapal tak berkerangka dimana akan membawanya mengarungi lautan sutra yang tersuguhkan di depan bola mata.

Setelah saat si gadis menggumankan aria, kepik menjadi bangkai di dasar ampas robusta, lelaki mati berdiri terjebak palung surga.

 

Denpasar 2013

PERTEMUAN


: Remidios Varo

Barangkali ia satu-satunya perawan yang tersisa. Mengembara dalam ranting-ranting entah dari hutan mahoni atau oak yang bayangannya serupa cakar La Muerte  dari kejauhan. Dalam kepekatan sunyi pertemuannya dengan kabut telah berbenih dalam rahim setipis kulit bawang. Korset telah dikencangkan, namun segumpal janin murung muncul dibalik mantel yang melapuk, mungkin karena usia perjalanan.

Malam telah habis terhisap begitupun musim. Seekor kolibri terinjak ketika menghisap nektar bunga poppy  kemudian terjebak dalam pencarian lelaki pungguk.  Menjelma fosil pada betis yang ringkih, menjadikannya seringan angin. Lelaki pungguk bersembunyi dibalik dinding berbau anyir.

Kini awan hanya setinggi batang pohon. Lebih merendah lagi sampai jempol kaki si perempuan. “Tuan” katanya samar hampir seperti udara dingin yang mencekik “bulan ingin menyampaikan rindu padamu.”

 

download

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terispirasi dari lukisan “The Gathering” karya Remidios Varo

 

Phantasmagoria


:Buat Otto Dix

Selalu ada hijau dan coklat busuk saat kita mencatat luka perjalanan. Bukan karena perang yang mengingatkan tentang lumpur berwarna bata serta udara anyir dari tubuh-tubuh gosong oleh mesiu.

Kita telah melewatinya, membayar Hans Koch gila untuk menukar kemih dan ginjal kita. Kita setuju, pisau jagal perempuan-perempuan pasar adalah pemuas hasrat yang tergelap. Meski merobek perut dan menjalin usus menjadi satu bukanlah percintaan kusyuk pasangan kumuh.

Para pelacur yang mencegat memakai sutra murahan menyamarkan lumut dan nanah pada tubuh yang telah ditandai ratusan lelaki. Pun kita nikmati hingga cipratan merah menggenangi permadani.

Namun bukan hal itu yang menjadikan hijau dan coklat busuk saat kita mencatat luka perjalanan. Bukan pembunuhan atau persetubuhan dalam gang-gang sempit dan lembab. Melainkan kematian yang memeram luka hingga menjadi tumor sejauh usia kita.

Denpasar 2013

Arles Dan Kamar Sunyi


Kita akan mengerti arti pelepasan

Sesaat setelah burung bulbul hinggap pada ranting berbentuk salib

Bukan kicauannya yang kita dengar

Melainkan sebuah aria, Casta Diva!

Kita tak butuh pendeta untuk sebuah pelepasan

Angin akan segera menyampaikannya

Bersama dedaunan kering dan menghitamnya bunga-bunga Iris

Sesaat kita akan menjadi asing dengan aroma gandum

Kita lupa dengan rasa anggur

Hanya bau terpentin dan cat-cat berwarna suram di kamar tidur kita

Di Arles kita menyatakan kerinduan pada seekor gagak yang datang

Sebelum sebuah requiem di dengar dengan penuh khidmat

 

Denpasar, 2013