“Kaung Bedolot” The Illustration For The Sex Addict art by Citra Sasmita


The Illustration For The Sex Addict

Advertisements

Palung Kopi


Kedalaman apa yang dapat menyembunyikan bau perawan? Serupa keheningan astral ia menyedot dengan konspirasi seekor kepik yang menempel pada pot bunga poppy.

Lelaki yang mengintip di ujung gang lembab menghirup dengan semangat musim panas kopi dingin dalam cangkir pada jendela bertirai keping-keping kaca.

Siluet seorang gadis telah menjadi morfin yang merembes ke serat-serat otaknya. Melumpuhkan sebagian serebelum. Voila! Lalu jadilah seorang Kapten tanpa kompas, tanpa layar, dengan kapal tak berkerangka dimana akan membawanya mengarungi lautan sutra yang tersuguhkan di depan bola mata.

Setelah saat si gadis menggumankan aria, kepik menjadi bangkai di dasar ampas robusta, lelaki mati berdiri terjebak palung surga.

 

Denpasar 2013

PERTEMUAN


: Remidios Varo

Barangkali ia satu-satunya perawan yang tersisa. Mengembara dalam ranting-ranting entah dari hutan mahoni atau oak yang bayangannya serupa cakar La Muerte  dari kejauhan. Dalam kepekatan sunyi pertemuannya dengan kabut telah berbenih dalam rahim setipis kulit bawang. Korset telah dikencangkan, namun segumpal janin murung muncul dibalik mantel yang melapuk, mungkin karena usia perjalanan.

Malam telah habis terhisap begitupun musim. Seekor kolibri terinjak ketika menghisap nektar bunga poppy  kemudian terjebak dalam pencarian lelaki pungguk.  Menjelma fosil pada betis yang ringkih, menjadikannya seringan angin. Lelaki pungguk bersembunyi dibalik dinding berbau anyir.

Kini awan hanya setinggi batang pohon. Lebih merendah lagi sampai jempol kaki si perempuan. “Tuan” katanya samar hampir seperti udara dingin yang mencekik “bulan ingin menyampaikan rindu padamu.”

 

download

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terispirasi dari lukisan “The Gathering” karya Remidios Varo

 

Phantasmagoria


:Buat Otto Dix

Selalu ada hijau dan coklat busuk saat kita mencatat luka perjalanan. Bukan karena perang yang mengingatkan tentang lumpur berwarna bata serta udara anyir dari tubuh-tubuh gosong oleh mesiu.

Kita telah melewatinya, membayar Hans Koch gila untuk menukar kemih dan ginjal kita. Kita setuju, pisau jagal perempuan-perempuan pasar adalah pemuas hasrat yang tergelap. Meski merobek perut dan menjalin usus menjadi satu bukanlah percintaan kusyuk pasangan kumuh.

Para pelacur yang mencegat memakai sutra murahan menyamarkan lumut dan nanah pada tubuh yang telah ditandai ratusan lelaki. Pun kita nikmati hingga cipratan merah menggenangi permadani.

Namun bukan hal itu yang menjadikan hijau dan coklat busuk saat kita mencatat luka perjalanan. Bukan pembunuhan atau persetubuhan dalam gang-gang sempit dan lembab. Melainkan kematian yang memeram luka hingga menjadi tumor sejauh usia kita.

Denpasar 2013

Arles Dan Kamar Sunyi


Kita akan mengerti arti pelepasan

Sesaat setelah burung bulbul hinggap pada ranting berbentuk salib

Bukan kicauannya yang kita dengar

Melainkan sebuah aria, Casta Diva!

Kita tak butuh pendeta untuk sebuah pelepasan

Angin akan segera menyampaikannya

Bersama dedaunan kering dan menghitamnya bunga-bunga Iris

Sesaat kita akan menjadi asing dengan aroma gandum

Kita lupa dengan rasa anggur

Hanya bau terpentin dan cat-cat berwarna suram di kamar tidur kita

Di Arles kita menyatakan kerinduan pada seekor gagak yang datang

Sebelum sebuah requiem di dengar dengan penuh khidmat

 

Denpasar, 2013