MENGENALKAN OTORITAS TUBUH SEJAK DINI


Oleh: Citra Sasmita

“Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim: “Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur,

Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar;

Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang;

Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang;

Keajaibannya  tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?”

Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.

Sebagai pengantar tulisan ini, saya mengutip puisi Rumi yang menggambarkan kehidupan janin dalam rahim ibu yang nyaman dan tidak kurang nutrisi dimana terjadi penyatuan yang transcendental antara ibu dan anak melalui bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka—berupa sentuhan, getaran vokal, bahasa yang menjadikan ruang kandungannya egaliter dimana tubuh perempuan telah menjadi ibu (memberikan impuls kasih sayang, dan nutrisi) sekaligus menjadi ayah imajiner (memberikan perlindungan). Bahasa prasimbolik, demikian menurut Julia Kristeva, seorang filsuf berdarah Bulgaria ketika menjabarkan pengalaman maternal seorang perempuan yang mengandung merupakan fase awal seorang anak manusia tidak mengenal diskriminasi pada tubuh ibunya. Berbeda halnya dengan ruang diluar kandungan sang anak, seksualitas masih dipahami sebagai tabu dan ditutup-tutupi. Seksualitas pada tubuh perempuan menurut Kristeva telah melalui berbagai macam pengalaman bahasa, dari yang reflektif terhadap pengalaman naluriah seorang anak menuju ke fase simbolik atau reflektif terhadap sistem pengetahuan dan budaya.

“…. mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?” Kalimat dalam puisi Rumi tersebut merupakan alegori mengenai tubuh perempuan dalam konstruksi sosial. Fungsi maternal tubuh perempuan yang diglorifikasikan dalam mitos-mitos penciptaan dan kesuburan berbanding terbalik dengan realita yang terjadi di masyarakat. Tubuh perempuan kerap dianggap kotor, sumber bencana dan terstigma sedemikian rupa sehingga tubuh perempuan dikekang dalam nilai-nilai sosial. Meski sang anak dalam rahim hanya memahami bahwa tubuh ibunya adalah tempat terbaik untuk tumbuh dan berkembang, segera setelah ia disisipi nilai-nilai sosial tersebut, ia akan memperoleh perspektif baru mengenai identitasnya—ruang sosial bisa menjadi penjara yang jauh lebih buruk yang bisa dibayangkan.

Kemudian ketika sang anak lahir, ia akan mengalami berbagai macam pengalaman kehidupan yang lebih kompleks, mulai dari mengetahui berbagai macam rasa pada indra-indra tubuhnya hingga pada pengetahuan yang lebih abstrak seperti moralitas. Kondisi tersebut diawali oleh proses penyapihan sang anak dengan tubuh sang ibu. Oleh Freud, proses penyapihan tersebut diiringi dengan pengalaman traumatik yang menjadi potensi diskriminasi pada tubuh ibunya. Kemampuan otak manusia untuk mengingat trauma jauh lebih kuat daripada usahanya untuk mencari kesenangan (pleasure) sebab ingatan traumatik, sadar maupun tidak akan memproteksi dirinya dari berbagai ancaman, termasuk ancaman yang menyapihkan sang anak dari rasa kenyamanan. Dalam perkembangannya tersebut anak mulai disisipi tanda-tanda akan identitas seksnya (anak diperkenalkan dengan role model keperempuanan atau kelaki-lakian). Tentu ada nilai yang bersifat tumpang tindih dalam pengenalan identitasnya tersebut dimana laki-laki dan perempuan selalu dipahami sebagai mahluk oposisi.

Bahasa simbolik atau logos sebagai medium komunikasi dalam ruang sosial lebih bersifat paternal dibandingkan spiritualitas janin terhadap rahim ibunya, sehingga otoritas tubuh perempuan menjadi permasalahan yang sulit dicari ujung pangkalnya. Meski tubuh perempuan juga menjadi ritus pemujaan karena erotika dan sumber kenikmatan, namun disatu sisi juga diasosiasikan dengan sumber bahaya, tabu, aib, dll.

Tubuh perempuan dalam paradigma masyarakat harus sesuai dengan norma dan parameter sosial yang telah berlaku. Khususnya dalam kultur patriarkis dimana peran laki-laki dan perempuan telah ditentukan dengan mengatasnamakan tradisi dan budaya. Masyarakat dalam kultur patriarkis telah mengukuhkan sistem tersebut sehingga perempuan diasosiasikan dengan persoalan domestik (masak, macak, manak) dan laki-laki secara natural menguasai wilayah publik. Persoalan domestik yang dimaksud bukan semata-mata beban kerja dan ruang terbatas perempuan hanya dalam rumah tangga, namun terlebih pada akses pengetahuan dan pengembangan mentalitas perempuan sebagai mahluk yang otonom. Kerangka domestifikasi yang telah dikonstruksi pada perempuan secara tidak langsung membentuk identitasnya—dimana konsep identitas disini melingkupi bahasa, habitus, seksualitas, dan relasi kuasa.

Secara anatomi sex konsep tubuh perempuan telah direduksi hanya sebagai fungsi reproduksi, sebagai objek hasrat laki-laki dan bukan sebagai subjek aktif yang memiliki kebebasan ekspresi dalam pencarian identitasnya, maka ketika dimulainya metamorfosa tubuh dari usia belia (tumbuhnya payudara dan mengalami menstruasi) pengalaman biologis tersebut disisipi bahasa/stigma tubuh perempuan yang diidentikkan dengan tubuh yang kotor. Seorang perempuan harus tahu bagaimana cara berpakaian dan menutup rapat tubuhnya ataupun berperilaku supaya terhindar dari objektifikasi lingkungan (pelecehan, kejahatan psikologis atau bentuk penindasan lain).

Kemudian dalam mitos kesuburan, misalnya dalam masyarakat Bali yang konservatif, seorang perempuan dianggap sempurna jika ia mampu mengandung seorang anak dan melahirkan anak laki-laki sebagai penerus keluarga. Sebagaimana yang diungkapkan Gadis Arivia dalam Kajian Budaya Feminis, kemampuan hamil tidak semata-mata persoalan biologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah, melainkan memiliki makna kultural dan sosial. Perempuan berkompetisi untuk memenuhi kriteria-kriteria tersebut untuk mendapatkan daya tawar dan bertahan hidup dalam lingkungan sosial. Maka tidak jarang didapati peristiwa bahwa perempuan sendiri bisa menjadi maskulin dan mensubordinasi perempuan lain, berdasarkan perbedaan usia, kasta, kelas sosial dan tingkat pendidikan.

Patriarki sebagai predator utama perempuan dalam kebudayaan, mengekang dengan pelan dan halus menjadikan perempuan sendiri menjadi pemangsa bagi perempuan lain. Perempuan berkompetisi dalam sistem tersebut untuk memperoleh hasrat aktualisasi diri atau identitas lian yang bahkan bersifat semu. Sosialisasi partriarki telah dilakukan melalui keluarga kepada anak adalah untuk melegitimasi ideologi patriarki itu sendiri dalam menanamkan peran, status, fungsi reproduksi, batasan-batasan relasi dan sosialisasi. Hal tersebut telah menjadi ekses-ekses dari ketidakpahaman perempuan mengenai seksualitas akan tubuhnya sendiri tentang bagian mana yang merupakan hal kodrati dan hal mana yang telah dipolitisasi.

Pentingnya mengembalikan otoritas tubuh perempuan, sama halnya dengan merombak kembali sikap mental masyarakat. Memperbaiki sedikit demi sedikit kesenjangan sosial yang ada demi mencapai kesetaraan. Hal tersebut bisa dimulai dengan memberikan pendidikan seks sejak usia dini dan keluarga sebagai intitusi kecil merupakan pemegang peranan vital untuk mensosialisasikan hal ini.

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

Advertisements

Rempah, Ibu Peradaban Indonesia


Ketika menyelami suatu arus yang terjadi dalam masyarakat dan turut serta dalam dinamika sosial, pada suatu tataran tertentu kita akan sampai pada titik kesadaran terhadap suatu transformasi di dalamnya. Namun transformasi yang bagaimanakah relevan terjadi saat ini? Sebagai studi kasus, rempah dan khasanah kuliner Nusantara adalah salah satu hal yang cukup menarik untuk dianalisis sebagai penanda fenomena yang terjadi dalam masyarakat.

Modernitas yang kini telah menjadi nafas setiap individu telah cukup signifikan menggiring mereka kedalam kehidupan praktis. Terlebih lagi sebagian besar masyarakat yang bersimbiosis dengan industrialisasi dimana produktivitas menuntut mereka untuk bekerja sesuai dengan sistem dan tenggat waktu tertentu. Hal tersebut tentu berimbas pada perubahan habitus masyarakat. Kebiasaan hidup praktis tentunya akan membuat seseorang memangkas kegiatan yang mengganggu waktu produktif mereka, misalkan saja dalam hal ini adalah kegiatan memasak.

Terhitung tahun 1968 ketika diperkenalkannya produk makanan instan mulai dari produk olahan mie yang hingga kini terus berinovasi dengan produk racikan bumbu instant.  Sebelum angka tahun tersebut, bisa dibayangkan kegiatan memasak dan menciptakan bumbu dalam rumah tangga masih menggunakan racikan bahan alami dengan spesifikasi jenis tanaman dan rempah yang cukup banyak dan beragam jumlahnya. Tentu untuk membuat racikan sebuah bumbu dibutuhkan penguasaan akan jenis bahan dan komposisi yang pas dimana rasa masakan yang berkarakter adalah penentu dari keberhasilan racikan tersebut.

Sebagian besar kuliner Nusantara yang kita ketahui pun pada dasar pengolahannya menggunakan bumbu yang cukup beragam dan variasi teknik yang memungkinkannya menyita banyak waktu sekedar untuk menghidangkan satu jenis masakan. Maka bumbu instan hadir sebagai solusi dari segala keruwetan racikan komposisi bumbu masakan. Bumbu instant hadir dengan menawarkan kepraktisan dan juga waktu penyajian hidangan yang relatif cepat.

Namun perlu diketahui bahwa kebiasaan menggunakan bumbu instan, bukan hanya berpengaruh bagi hormon dan kesehatan namun juga berdampak pada terkikisnya kultur meracik bumbu alami. Perlu menunggu berapa tahun lagi untuk melihat fenomena bahwa generasi selanjutnya akan mengalami kegagapan ketika meracik komposisi sebuah bumbu di dapur, atau bahkan untuk sekedar mengiris bawang?

“Spice is passion of food more than it, called phylosophy,” rempah adalah gairah dari suatu masakan, lebih dari itu kita bisa menyebutnya sebuah filsafat atau bahkan artefak biologis yang menandakan zaman keemasan Nusantara dimana penjelajah di dunia berusaha menemukan lokasi surga rempah yang berusaha ditutupi oleh  para pedagang Arab dan India sejak abad ke 8. Terutama banga Eropa, mereka begitu terobsesi menemukan asal usul rempah tersebut yang diasosiasikan dengan negara antah berantah yang berhubungan dengan surga.

Sebagaimana penulis abad pertengahan yang menggambarkan surga sebagai taman bagi para santo dengan aroma kayumanis, pala, jahe dan cengkeh. Pamor rempah sebagai penanda status sosial dimana harganya bahkan lebih tinggi dari emas tetap berlanjut hingga Portugis pada abad ke 16 melakukan ekspedisi ke Nusantara dan mengakhiri dominasi Arab dalam perdagangan rempah. Dimulai sejak itu pula Nusantara mengalami masa kegelapan terlebih lagi ketika VOC melakukan monopoli perdagangan rempah pada tahun 1602-1800. Bayangkan saja dimulai oleh rempah Indonesia mengalami 350 tahun masa penjajahan hingga dapat diakhiri dengan sebuah revolusi.

Maka, berdasarkan kajian historis tersebut kita dapat menilai bagaimana rempah merupakan harta karun nasional yang wajib kita jaga keberadaannya melalui kesadaran untuk merubah kebiasaan menggunakan bumbu instan dan kembali berkreasi dan meracik rempah dari bahan-bahan alami dalam proses memasak. Setidaknya, hal itu bisa menjadi upaya mempertahankan kekayaan khasanah sekaligus tradisi kuliner Nusantara.

Rempah adalah sebuah pusaka yang mampu menciptakan masterpiece kuliner Nusantara, terbukti dengan melimpahnya khazanah masakan nusantara. Rempah dan kuliner juga menjadi karakter tersendiri bagi suatu daerah, sebagaimana rendang dari Padang yang kini dikenal luas hingga ke mancanegara. Semestinya kita memiliki kesadaran untuk menjaga tradisi kuliner dengan terus memanfaatkan rempah alami Nusantara, karena hal itu sekaligus menjaga identitas kultural yang makin terkikis oleh budaya instan.

 

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*Tulisan ini pernah dimuat di Balipost minggu

Retrospeksi Kekerasan Pada Anak


Belum hilang dalam benak kita kasus pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak JIS (Jakarta International School), kemudian berita yang sama dimana cukup menghebohkan terjadi juga di Sukabumi oleh Emon seorang pedofilia dengan korban anak-anak hingga mencapai 140 orang, dan kini korban kekerasan dan pembunuhan Angeline yang menorehkan luka yang cukup dalam bagi masyarakat Bali karena adanya ketamakan dan tidak ada sikap tanggung jawab dari oknum-oknum terkait dan orang disekitarnya. Akankah kita tetap diam ketika menyadari dan menyaksikan mental barbar terjadi dilingkungan sekitar kita?

Barangkali ada banyak sekali kasus kekerasan, pelecehan, dan pembunuhan pada anak yang tidak terekspose media. Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak , kekerasan yang terjadi pada anak-anak meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Dalam setahun angka kenaikannya bisa mencapai lebih dari 100 kasus dengan mayoritas diantaranya adalah kejahatan dalam bentuk pelecehan seksual seperti sodomi, pemerkosaan, pencabulan serta inses. Tentu data-data tersebut tidak hanya menandakan terkikisnya rasa kemanusiaan namun perlu disadari bahwa ancaman pada anak tidak hanya datang dari luar. Kasus-kasus kekerasan seksual dan penelantaran justru tercatat lebih sering terjadi dilingkungan terdekat anak seperti sekolah, dalam lingkungan rumahnya sendiri serta lingkungan sosial anak. Ironisnya pelaku kejahatan tersebut adalah orang-orang terdekat anak, orang yang seharusnya mengawal tumbuh kembangnya hingga menuju kemandirian hidup.

Merenungkan fenomena meresahkan yang belum menemukan titik akhir ini terdapat banyak akar permasalahan yang harus segera dirombak. Yang pertama dan paling esensial adalah orang tua tidak memiliki kemampuan dasar parenting (ilmu tentang mengasuh, mendidik dan membimbing anak dengan benar dan tepat). Permasalahan dalam ruang lingkup inipun bisa disebabkan oleh faktor cukup kompleks misalkan saja orang tua mempunyai masalah kedewasaan/immaturitas yang menyangkut kesiapan mental menjadi orang tua, bisa karena faktor usia yang relatif muda ataupun secara usia telah matang namun secara sikap belum. Faktor lain bisa karena pengalaman negatif yang dialami si orang tua pada masa lalu seperti isolasi kehidupan sosial, masalah rumah tangga, hingga masalah ketergantungan dengan obat-obatan terlarang serta alkohol yang kemudian secara bawah sadar diterapkan juga kepada anaknya.

Adapun dampak yang diakibatkan dari kesalahan parenting adalah kekerasan fisik yang tentu akan berdampak bukan hanya menimbulkan bekas secara fisik, namun dalam jangka panjang akan berpengaruh juga pada psikologi anak sehingga menyebabkan anak cenderung inferior, menarik diri dari pergaulan, bersifat defensif, mengalami gangguan kejiwaan (ringan ataupun berat) serta melakukan tindakan destruktif. Jika tindakan ini terus berlangsung dalam memori tumbuh kembang anak, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk proses rehabilitasi.

Kekerasan emosional pada anak juga berdampak pada deprivasi atau rasa kurang kasih sayang yang akan mempengaruhi perkembangan mental anak, meski kebutuhan mereka secara lahiriah telah terpenuhi. Dalam kasus kekerasan emosional yang paling fatal adalah terganggunya konsep diri anak, low self esteem, kecemasan dan rasa tidak aman hingga berdampak pada tumbuh kembang anak yang sangat lambat. Kita sering melihat fenomena orang tua yang mempunyai permasalahan emosional biasanya tidak bisa mendukung kebutuhan anak-anaknya seperti kebutuhan kasih sayang, perhatian atau bahkan acuh terhadap anaknya. Selain itu, orang tua juga cenderung mempertontonkan pertengkaran rumah tanggan antar orang tua kepada anak. Secara tidak langsung, ini juga menjadi bagian dari kekerasan emosional yang dialami anak. Situasi keluarga yang tidak kondusif semacam itu akan membuat anak selalu merasa terancam dan jauh dari rasa aman. Meski orang tua selalu ada disamping mereka, akan tetapi tidak ada suplai cinta untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka.

Fenomena lain yang termasuk kekerasan emosional yang sering terjadi adalah orang tua melakukan judgement dan kritik negatif, mengancam anak agar patuh atau melakukan pengurungan/kontrol berlebihan dari lingkungan luar. Secara naluriah, anak memiliki hasrat untuk berkembang secara bebas. Hal ini akan menunjang kemampuan mereka dalam bersosialisasi dengan teman atau saudara, dan melalui proses interaksi itulah mereka akan memperoleh input-input pengetahuan yang baru. Seandainya orang tua memberlakukan kontrol yang sangat ketat, maka kemampuan alami anak dalam bersosialisasi akan terhambat. Yang lebih buruk adalah anak merasa depresi karena kejenuhan yang melampaui batas, dampak yang mungkin paling fatal ialah mengalami disorientasi.

Kemudian hal kritis lain yang terdeteksi adalah pelecehan seksual pada anak dimana mereka terlibat dalam kondisi seksual diluar kendali dan kesadaran, dalam keadaan tidak mampu mengkomunikasikannya atau ironisnya tidak tahu arti tindakan yang diterimanya. Kekerasan seksual pada anak, dalam beberapa kasus menjadi sulit dideteksi karena anak cenderung menjadi tertutup dan bersifat defensif. Hal tersebut bisa dikarenakan adanya tekanan dari pelaku, ataupun karena adanya ketakutan yang berlebihan pada si anak. Seringkali kita menyadarinya ketika anak telah mengalami fluktuasi emosi serta keluhan fisik seperti sakit pada alat genital, kesulitan duduk atau berjalan atau menunjukkan gejala kelainan seksual. Penanganan kasus kekerasan seksual secara hukum juga seringkali tidak berjalan mulus karena prosedur yang diberlakukan oleh pihak penegak hukum seringkali justru menyulitkan posisi korban. Sebagai contoh ialah kesaksian korban yang karena usianya masih belia (misal pada kasus terhadap balita) seringkali dianggap tidak absah.

Yang paling fatal dari kasus kekerasan terhadap anak adalah yang disebabkan oleh adanya gangguan kejiwaan yang dialami oleh orang tua. Tidak jarang orang tua justru bersikap apatis atau bahkan psikopatis terhadap anaknya sendiri. Penyebabnya bisa bermacam-macam, bisa karena mengalami persoalan hidup yang terlalu berat seperti kondisi ekonomi yang sulit sehingga tingkat stressnya lebih tinggi dan anaklah yang kemudian menjadi sasaran. Seandainya kekerasan semacam ini tidak terdeteksi oleh lingkungan terdekat semisal saudara atau tetangga, maka bukan tidak mungkin tingkat kekerasan yang dialami anak akan semakin meningkat karena ketidakmampuannya melawan situasi. Di sinilah peran aktif masyarakat menjadi penting dalam mencegah berbagai kasus kekerasan yang menimpa anak.

Bagaimanapun, anak adalah pemegang tongkat estafet kehidupan. Kepadanya semua harapan semestinya ditumpukan, bukan sebaliknya. Tumbuh kembang anak tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua kandungnya, melainkan lingkungan dan masyarakat juga berperan aktif dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Memberi mereka kasih sayang, membekalinya dengan ilmu, dan menata mental dan moralnya sebaik mungkin. Seandainya anak-anak kita dididik oleh lingkungan demikian, alangkah cerahnya masa depan kehidupan kita.

*)Citra Sasmita, perupa; dimuat di BaliPost Minggu, 28 Juni 2015

CITRA SASMITA: PENDIDIK YANG DEWASA


Pendidikan sejatinya merupakan fondasi yang cukup signifikan dalam upaya membentuk manusia yang berkarakter. Dalam hal ini, karakter yang dimaksud yaitu bagaimana para peserta didik secara menyeluruh dapat menumbuhkan mentalitas dan pola pikir yang mampu mendukung pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia) bangsa Indonesia.

Untuk meraih visi besar tersebut tentu tidak hanya bertumpu pada posisi peserta didik sebagai objek pendidikan, melainkan peran pendidiklah yang menjadi center point, subjek pendidikan yang menjalankan sistem di lapangan. Dimana sistem yang berjalan adalah suatu sistem yang diberlakukan oleh negara melalui kementerian pendidikan dalam bentuk kurikulum.

Melalui penerapan kurikulum, seorang peserta didik dituntut menguasai berbagai macam komponen mata pelajaran. Dari yang pokok hingga muatan lokal sebagaimana tertera dalam kurikulum pendidikan yang bersifat dinamis dengan implementasi dalam metode pembelajaran. Dari berbagai pengamatan, pelaksanaan kurikulum dalam ruang pembelajaran belum menunjukkan tolok ukur kualitas yang jelas. Tentu, baik pendidik maupun peserta didik sama-sama menghadapi tantangan dalam proses transfer dan adaptasi pengetahuan dalam sistem tersebut. Namun keberhasilan pendidikan dapat terwujud jika dua komponen ini dapat saling mendukung dan melengkapi.

Pendidik sebagai narasumber, disamping harus memiliki kompetensi materi juga diharapkan mempunyai kompetensi lain yang menandakan dirinya telah siap menjalani profesi sebagai pendidik. Yang sekaligus menjadi indikator sebagai seorang pendidik yang dewasa. Karena selain menjadi fasilitator, pendidik secara tidak langsung akan menjadi role model bagi peserta didik, dimana pada saat itu terjadi konektifitas yang saling mempengaruhi dalam pembentukan psikologi peserta didik. Kompetensi lain yang dimaksud dalam hal ini adalah kesiapan pengetahuan, pengalaman, komitmen,  serta kesiapan diri yang meliputi aspek fisik dan psikologis. Kesehatan dan kebugaran fisik seorang pendidik menjadi penting untuk menopang kesiapan kejiwaan, kestabilan emosi, pemusatan perhatian juga kesiapan akal pikiran dalam menghadapi peserta didik.

Integrasi Nilai dan Karakter

Karakter sebagai output yang diharapkan dari peserta didik tentu lebih tepat untuk menggambarkan tujuan suatu sistem pendidikan yang mendewasakan. Dimana inti dari pendidikan bukan sekedar penguasaan lini-lini ilmu pengetahuan yang menjadi komponen mata pelajaran dan semata-mata diukur dengan angka-angka.

Angka-angka atau nilai dari sebuah ujian tanpa disadari juga ikut berperan penting mempengaruhi psikologi peserta didik dimana peserta didik akan berusaha menapaki tangga pencapaian dari inferioritas (nilai pelajaran rendah) menuju superioritas (nilai pelajaran tinggi) tanpa mempedulikan kenikmatan proses pendidikan itu sendiri. Padahal kedewasaan peserta didik dalam proses pendidikan tidak tepat jika dinilai secara kuantitatif.

Kepribadian peserta didik yang meliputi kedewasaan intelektual, moral, emosional, sosial dan motorik akan dapat diukur indikasinya melalui kegiatan konseling yang dijalankan dengan intens demi mengetahui pencapaian peserta didik dalam proses pembelajaran sekaligus juga untuk mengontrol konsentrasi dan fokus peserta didik dalam proses pendidikan. Komunikasi menjadi hal yang vital dalam fase ini dimana para pendidik dapat mengerti kepribadian peserta didik sekaligus berempati terhadap kesulitan yang dialami peserta didik dalam proses pendidikan. Sehingga dapat memberikan solusi yang tepat secara dewasa terhadap kesulitan yang dihadapi setiap peserta didik, bukan hanya menerapkan sistem atau metode pembelajaran yang ada secara menyeluruh.

Dalam pelaksanaannya, sistem pendidikan bertumpu pada generalisasi situasi yang dialami para peserta didik maupun pendidik. Sehingga untuk kesulitan yang berbeda, seringkali diberlakukan solusi yang seragam. Tindakan ini menjadi tidak tepat karena suatu  metode  ada berdasarkan  suatu uji coba dalam sampel tertentu dan belum tentu sesuai dengan kondisi peserta didik dalam situasi dan kondisi yang lain. Maka para pendidik diharapkan mampu berinovasi mengembangkan atau menerapkan metode yang terbaik untuk peserta didik dengan melihat satu-persatu kondisi peserta didiknya.

Kurikulum dalam sistem pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan dalam kurun hampir 10 tahun sekali, secara signifikan hal ini akan mempengaruhi mentalitas pendidik maupun peserta didik. Padahal elemen-elemen pendidikan membutuhkan rentang waktu tertentu untuk beradaptasi dengan suatu kurikulum dan tuntutan akademisnya. Perubahan tersebut seringkali dianggap mengacu pada penyempurnaan sistem dan metode, namun kenyataanya belum pasti memberikan standar mutu yang baik bagi peserta didik dalam kondisi yang sangat beragam di seluruh wilayah Indonesia.

Ada konsep dasar pendidikan yang seyogyanya diserap demi kokohnya fondasi bangunan pendidikan, yaitu kecerdasan sebagai efek transfer ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan karakter maka akan menjerumuskan kehidupan peserta didik itu sendiri pada lembah perilaku negatif. Maka akan menjadi tantangan yang cukup berat bagi para pendidik untuk mengintegrasikan ruh pendidikan yang terdapat dalam ilmu pengetahuan dan pendidikan karakter.

 

*) Tulisan ini merupakan respon terhadap artikel “Pendidikan Yang Mendewasakan” yang dimuat Bali Post, Minggu 19 April 2015. Dimuat pada 3 Mei 2015