Under The Skin, Citra Sasmita’s Solo Exhibition


WhatsApp Image 2018-03-26 at 18.45.07 (1)UNDER THE SKIN
artist in residence exhibition #9 by Citra Sasmita (INA)

Pembukaan: Sabtu, 31 Maret 2018, 4 pm
Tempat: REDBASE Yogyakarta
Ds. Jurug RT 02, No. 72 Bangunharjo, Sewon, Bantul
Yogyakarta 55187 INDONESIA

Performance:
Ayu Permata Sari

Periode pameran:
31 Maret – 28 April 2018

Mengakhiri masa residensinya di Redbase Foundation Yogyakarta, Citra Sasmita akan menggelar pameran tunggalnya dengan mengusung tajuk Under The Skin. Pameran ini merupakan presentasi akhir dari program residensi yang diselenggarakan oleh Redbase Foundation Yogyakarta selama kurang lebih tiga bulan. Redbase foundation yogyakarta secara intensif membuka kesempatan bagi seniman-seniman muda yang berasal dari luar kota yogyakarta untuk merasakan pengalaman tinggal dan berkarya di kota ini. Setiap kota tentu menawarkan suasana dan impresi berbeda yang akan berpengaruh terhadap proses maupun karakteristik seniman dalam berkarya.

Citra Sasmita merupakan seniman muda kelahiran Tabanan, Bali 30 Maret 1990. Menempuh pendidikan formalnya pada jurusan sastra inggris universitas udayana dan jurusan fisika di universitas pendidikan ganesha. Meskipun tidak pernah mengambil pendidikan formal di bidang seni, Ia mengawali karir keseniannya saat menjadi ilustrator cerita pendek di Bali Post sejak tahun 2012. Karya-karyanya banyak mengangkat tema seputar dunia perempuan, terutama dalam konteks budaya bali yang begitu kental dengan nuansa patriarkis dan seksualitas.

Dalam aspek historis, Bali dan Jawa memiliki akar sejarah dan kultural yang hampir serupa, hal itu tercermin dalam naskah-naskah pewayangan yang hingga kini masih menjadi narasi yang berkembang di kehidupan masyarakat sehari-hari. Meski memiliki akar sejarah yang hampir serupa, namun pada praktiknya, masyarakat di kedua pulau itu telah berkembang menjadi dua kultur yang berbeda.

Pada masa residensinya yang intens selama tiga bulan di Redbase Foundation Yogyakarta ini, Citra melakukan eksplorasi terhadap tema perempuan dalam konteks budaya jawa, yang terefleksi melalui hubungan sosial antara tubuh perempuan dengan ruang dan waktu.Citra melihat pasar tradisional sebagai ruang kontestasi sosial bagi perempuan yang bersifat cair sekaligus egaliter. Baginya, pasar tradisional juga menjadi ruang yang terbuka untuk mempertemukan orang-orang dengan berbagai latar belakang.

Meski melakukan eksplorasi yang mendalam terhadap perempuan dalam konteks budaya Jawa, pada sejumlah karyanya, Citra juga masih menggunakan idiom-idiom visualnya terdahulu. Baginya, ini merupakan pengalaman tubuhnya dalam menyerap dua budaya yang berbeda. Pada sejumlah karyanya, Citra menghadirkan figur-figur perempuan dengan benda-benda komoditas yang lazim kita jumpai di pasar seperti daging, serbet, juga keranjang. Meski demikian, gambaran yang muncul bukanlah lukisan realistik yang menggambarkan perempuan dalam ruang pasar tradisional secara nyata. Citra mengolah pengalaman dan hasil observasinya tersebut secara simbolik, sehingga pemaknaan terhadap karyanya menjadi lebih luas dan tidak terbatas. Sebagaimana tercermin dari judul pamerannya ini, Under The Skin (di balik permukaan kulit) yang berarti mengajak kita untuk menyelami perempuan pada tataran yang lebih dalam seperti psikologi, budaya, dan spiritualitasnya.

Pameran ini dibuka pada 31 Maret dan berlangsung hingga 28 April 2018 mendatang di ruang Redbase Foundation Yogyakarta.

Ending her residency at Redbase Foundation Yogyakarta, Citra Sasmita will hold her solo exhibition entitled Under The Skin. This exhibition is the final presentation of Citra’s residency in Redbase Foundation Yogyakarta for approximately three months. Redbase Foundation Yogyakarta intensively opens opportunities for young artists who come from outside of the city to feel the experience of living and working in Yogyakarta. Each city certainly offers a different atmosphere and impression that will affect the process and characteristics of the artists’s works.

Citra Sasmita is a young artist born in Tabanan, Bali March 30, 1990. She took her formal education at Udayana University of English Literature Department and Department of Physics at Ganesha University of Education. Although she hasn’t took a formal education in art, she began her artistic career as a short story illustrator for Bali Post since 2012. Her works mostly show women’s world theme, especially in the context of Balinese culture that is strongly dominated by patriarchal nuances and sexuality.
In the historical aspect, Bali and Java have almost similar historical and cultural roots, it is reflected in the puppet texts that still becomes a narration and developed in daily life of the society. Despite that, they have almost similar historical roots, but in practice, communities on both islands have evolved into two different cultures.

During her three month residency at the Redbase Foundation Yogyakarta, Citra has explored the theme of women in the context of Javanese culture, which is reflected through the social relationship between the female body with space and time. Citra perceives traditional market as a social contestation space for women who are soft but egalitarian as well. For her, the traditional market is an open space to bring people together from diverse backgrounds.

Despite her deep exploration of women in the context of Javanese culture, in some of her works, Citra still uses her previous visual idioms. For her, this is her body’s experience in absorbing two different cultures. In a number of her works, Citra presents female figures with commodity objects that are commonly encountered in markets such as meat, napkins, and baskets. Nevertheless, the picture that emerges is not a realistic painting depicting women in traditional market space in real terms. Citra processed experience and the results of her observations symbolically, so that the meaning of her work becomes wider and unlimited. As reflected in the title of this exhibition, Under The Skin (behind the surface of the skin) which means invites us to explore women on a deeper level such as psychology, culture, and spirituality.

The exhibition opened on March 31 and will last until 28 April 2018 Redbase Foundation’s space.

Advertisements

Pada Ambang Garis Matamu


: Umbu Landu Paranggi

Di tanganmu sabda para nabi telah menyusut

Menjadi ayat pertama

Ayat yang hingga kini diburu musafir bahkan para malaikat

Sebagai syarat kesempurnaan doa-doa keselamatan

Dalam menciptakan kehidupan

 

Di kedalaman gurat-gurat yang menjadi pertanda nasib,

Telah kau siarkan; “kesunyian akan datang

melahap dengan beringas

Melumat dan mengepung tanpa ampun

Melebihi badai atau segala luka perjalanan  “

Namun, tidak satupun kegaiban dapat menyesatkanmu

Dengan pertanyaan-pertanyaan falsafah

Filsafatlah yang tersesat dalam labirin ingatanmu

 

Adakah yang kau dambakan selain menjadi kesunyian itu sendiri?

Sementara kau tidur, dunia menjadi dua macam warna

Langit kehilangan birunya

Laut kehilangan kedalamannya

Dan daratan dihuni oleh jasad-jasad tanpa gemuruh dalam darah mereka

 

 

Demikianlah

Pada detik seterusnya

Burung-burung bermigrasi menuju ambang garis matamu

Kicauannya bukan mengabarkan tentang batas-batas takdir

Melainkan mengultuskanmu menjadi takdir itu sendiri

 

Denpasar, 2014

PARANOIA


Terberkatilah ia mempelai kegelapan

Yang menjadikan nasib baik tidak dimiliki siapapun

Si pencipta skenario yang mengatur;

tanda hilangnya cahaya dari lingkar kepala

Doa-doa keselamatan

pun tidak akan menjadi juru selamat

ketika diambang ketiadaan

 

Mungkin ia terlahir

bersama ironi dan ketidakwarasan dalam ari-arinya

Meski tumbuh dalam upacara penolak bala

namun gagak-gagak hitam tetap bersarang di dahinya

menjadi musim suram yang abadi

Maka ia robek sendiri perutnya

merogoh rahimnya untuk dikembalikan ke rahim bumi

Karena nasib baik tidak dimilikinya

Nasib baik tidak diwariskan

kepada anak yang tumbuh dalam tubuhnya

 

Ia percaya pada yang tak pernah ada

untuk dimiliki sendiri

dan disimpan dalam usus dan lambung

dalam pencernaan yang menjadi labirin pengetahuan

yang  dilewati dengan cara yang membuatnya binasa

hanya untuk sekedar merasakan kesakitan

sekedar mengenal kemanusiaan

 

Citrasasmita, Denpasar, 2016

MENGENALKAN OTORITAS TUBUH SEJAK DINI


Oleh: Citra Sasmita

“Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim: “Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur,

Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar;

Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang;

Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang;

Keajaibannya  tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?”

Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.

Sebagai pengantar tulisan ini, saya mengutip puisi Rumi yang menggambarkan kehidupan janin dalam rahim ibu yang nyaman dan tidak kurang nutrisi dimana terjadi penyatuan yang transcendental antara ibu dan anak melalui bahasa yang hanya bisa dipahami oleh mereka—berupa sentuhan, getaran vokal, bahasa yang menjadikan ruang kandungannya egaliter dimana tubuh perempuan telah menjadi ibu (memberikan impuls kasih sayang, dan nutrisi) sekaligus menjadi ayah imajiner (memberikan perlindungan). Bahasa prasimbolik, demikian menurut Julia Kristeva, seorang filsuf berdarah Bulgaria ketika menjabarkan pengalaman maternal seorang perempuan yang mengandung merupakan fase awal seorang anak manusia tidak mengenal diskriminasi pada tubuh ibunya. Berbeda halnya dengan ruang diluar kandungan sang anak, seksualitas masih dipahami sebagai tabu dan ditutup-tutupi. Seksualitas pada tubuh perempuan menurut Kristeva telah melalui berbagai macam pengalaman bahasa, dari yang reflektif terhadap pengalaman naluriah seorang anak menuju ke fase simbolik atau reflektif terhadap sistem pengetahuan dan budaya.

“…. mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?” Kalimat dalam puisi Rumi tersebut merupakan alegori mengenai tubuh perempuan dalam konstruksi sosial. Fungsi maternal tubuh perempuan yang diglorifikasikan dalam mitos-mitos penciptaan dan kesuburan berbanding terbalik dengan realita yang terjadi di masyarakat. Tubuh perempuan kerap dianggap kotor, sumber bencana dan terstigma sedemikian rupa sehingga tubuh perempuan dikekang dalam nilai-nilai sosial. Meski sang anak dalam rahim hanya memahami bahwa tubuh ibunya adalah tempat terbaik untuk tumbuh dan berkembang, segera setelah ia disisipi nilai-nilai sosial tersebut, ia akan memperoleh perspektif baru mengenai identitasnya—ruang sosial bisa menjadi penjara yang jauh lebih buruk yang bisa dibayangkan.

Kemudian ketika sang anak lahir, ia akan mengalami berbagai macam pengalaman kehidupan yang lebih kompleks, mulai dari mengetahui berbagai macam rasa pada indra-indra tubuhnya hingga pada pengetahuan yang lebih abstrak seperti moralitas. Kondisi tersebut diawali oleh proses penyapihan sang anak dengan tubuh sang ibu. Oleh Freud, proses penyapihan tersebut diiringi dengan pengalaman traumatik yang menjadi potensi diskriminasi pada tubuh ibunya. Kemampuan otak manusia untuk mengingat trauma jauh lebih kuat daripada usahanya untuk mencari kesenangan (pleasure) sebab ingatan traumatik, sadar maupun tidak akan memproteksi dirinya dari berbagai ancaman, termasuk ancaman yang menyapihkan sang anak dari rasa kenyamanan. Dalam perkembangannya tersebut anak mulai disisipi tanda-tanda akan identitas seksnya (anak diperkenalkan dengan role model keperempuanan atau kelaki-lakian). Tentu ada nilai yang bersifat tumpang tindih dalam pengenalan identitasnya tersebut dimana laki-laki dan perempuan selalu dipahami sebagai mahluk oposisi.

Bahasa simbolik atau logos sebagai medium komunikasi dalam ruang sosial lebih bersifat paternal dibandingkan spiritualitas janin terhadap rahim ibunya, sehingga otoritas tubuh perempuan menjadi permasalahan yang sulit dicari ujung pangkalnya. Meski tubuh perempuan juga menjadi ritus pemujaan karena erotika dan sumber kenikmatan, namun disatu sisi juga diasosiasikan dengan sumber bahaya, tabu, aib, dll.

Tubuh perempuan dalam paradigma masyarakat harus sesuai dengan norma dan parameter sosial yang telah berlaku. Khususnya dalam kultur patriarkis dimana peran laki-laki dan perempuan telah ditentukan dengan mengatasnamakan tradisi dan budaya. Masyarakat dalam kultur patriarkis telah mengukuhkan sistem tersebut sehingga perempuan diasosiasikan dengan persoalan domestik (masak, macak, manak) dan laki-laki secara natural menguasai wilayah publik. Persoalan domestik yang dimaksud bukan semata-mata beban kerja dan ruang terbatas perempuan hanya dalam rumah tangga, namun terlebih pada akses pengetahuan dan pengembangan mentalitas perempuan sebagai mahluk yang otonom. Kerangka domestifikasi yang telah dikonstruksi pada perempuan secara tidak langsung membentuk identitasnya—dimana konsep identitas disini melingkupi bahasa, habitus, seksualitas, dan relasi kuasa.

Secara anatomi sex konsep tubuh perempuan telah direduksi hanya sebagai fungsi reproduksi, sebagai objek hasrat laki-laki dan bukan sebagai subjek aktif yang memiliki kebebasan ekspresi dalam pencarian identitasnya, maka ketika dimulainya metamorfosa tubuh dari usia belia (tumbuhnya payudara dan mengalami menstruasi) pengalaman biologis tersebut disisipi bahasa/stigma tubuh perempuan yang diidentikkan dengan tubuh yang kotor. Seorang perempuan harus tahu bagaimana cara berpakaian dan menutup rapat tubuhnya ataupun berperilaku supaya terhindar dari objektifikasi lingkungan (pelecehan, kejahatan psikologis atau bentuk penindasan lain).

Kemudian dalam mitos kesuburan, misalnya dalam masyarakat Bali yang konservatif, seorang perempuan dianggap sempurna jika ia mampu mengandung seorang anak dan melahirkan anak laki-laki sebagai penerus keluarga. Sebagaimana yang diungkapkan Gadis Arivia dalam Kajian Budaya Feminis, kemampuan hamil tidak semata-mata persoalan biologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah, melainkan memiliki makna kultural dan sosial. Perempuan berkompetisi untuk memenuhi kriteria-kriteria tersebut untuk mendapatkan daya tawar dan bertahan hidup dalam lingkungan sosial. Maka tidak jarang didapati peristiwa bahwa perempuan sendiri bisa menjadi maskulin dan mensubordinasi perempuan lain, berdasarkan perbedaan usia, kasta, kelas sosial dan tingkat pendidikan.

Patriarki sebagai predator utama perempuan dalam kebudayaan, mengekang dengan pelan dan halus menjadikan perempuan sendiri menjadi pemangsa bagi perempuan lain. Perempuan berkompetisi dalam sistem tersebut untuk memperoleh hasrat aktualisasi diri atau identitas lian yang bahkan bersifat semu. Sosialisasi partriarki telah dilakukan melalui keluarga kepada anak adalah untuk melegitimasi ideologi patriarki itu sendiri dalam menanamkan peran, status, fungsi reproduksi, batasan-batasan relasi dan sosialisasi. Hal tersebut telah menjadi ekses-ekses dari ketidakpahaman perempuan mengenai seksualitas akan tubuhnya sendiri tentang bagian mana yang merupakan hal kodrati dan hal mana yang telah dipolitisasi.

Pentingnya mengembalikan otoritas tubuh perempuan, sama halnya dengan merombak kembali sikap mental masyarakat. Memperbaiki sedikit demi sedikit kesenjangan sosial yang ada demi mencapai kesetaraan. Hal tersebut bisa dimulai dengan memberikan pendidikan seks sejak usia dini dan keluarga sebagai intitusi kecil merupakan pemegang peranan vital untuk mensosialisasikan hal ini.

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

Muasal Keruntuhan


 

Ada yang menyusup mengirimkan pertanda

Pada subuh sebelum segalanya dapat ditangkap jelas oleh retina

Hanya sekedar siluet

Ketika itu beringin kering tumbuh dalam batok kepala

Serabutnya menyusup semakin dalam

Menyeruak ke bagian paling rumit

Dimana manusia memendam hasrat tergelapnya

 

Kemudian pada ambang kesadaran dan mimpi

Aku terbius dalam imaji;

Sendiri di tanah asing

Pada perjalanan di gurun dengan hamparan duri

Setiap jejakku akan memerah

Ditembus serbuk-serbuk besi

 

Darah dan rasa sakit membikin setiap jalan kelahiran dipenuhi ular

Yang senantiasa menyuntikkan bisanya pada mahluk pertama

Bisa itu adalah candu yang membuat adam dan hawa tidak lapar akan buah kuldi

Melainkan rasa lapar yang membuat mereka melahap satu sama lain

Dalam kenikmatan purba, yang tak mampu dikultuskan dalam dogma

Dogmalah yang membuatku buta

Untuk paham bahwa penciptaan adalah khayali, tidak pernah terjadi.

 

Kemudian lenguhan yang berasal dari kedalaman neraka

Mendenging di dasar telinga, menjadikanku tuli

Dan oleh takdir disebutkan bahwa ketulian adalah penyakit

Yang membuat doa para santo tak akan pernah menyentuh kebaikan

Kebaikan tidak akan menyentuh siapapun

Sebab kebaikan adalah khayali, tidak pernah terjadi

 

Denpasar, 2016

Filsafat Kuldi


 

Kita adalah sepasang pendosa yang dikutuk Tuhan turun ke dunia

Setelah rasa lapar merenggukmu dan ular meliuk-liuk didalam tubuhku

Surga telah dikuduskan menjauh dari iman kita

Tidak ada lagi kolam susu atau aroma hangat rempah

Apalagi padang rumput keemasan

Nyanyian para malaikat berwujud malam

Dan rintik hujan yang menyegarkan

Pun menjadi ingatan yang diterpa angin

 

Kita mengarungi musim-musim asing

Yang menawarkan rasa dingin yang terlampau dingin

Atau terik yang menjadikan tubuh kita semakin fana

Semakin larut dengan usia dunia

Sementara jauh dalam ingatan atau barangkali telah menjadi khayali

Bahwa dulu sekali kita adalah mahluk-mahluk abadi

 

Kini kita berpijak pada keniscayaan

Pada hari-hari yang tunduk akan waktu

Pada sebuah adegan yang terampil dimainkan para penghuninya;

Antara memberi dan mencuri kehidupan

Tak ada banyak pilihan

 

Namun sekali lagi kita ingin merengguk dosa-dosa itu

Dengan penuh ketaatan

Tak ada lagi waktu panjang yang sia-sia

 

Kali ini dua biji kuldi kau lahap dalam suka cita

Dan ular itu kembali meliuk-liuk ke dalam tubuhku

Semakin dalam, semakin tenggelam

Seolah ia ingin tinggal lebih lama untuk sekedar berbenih

Menjadi pepohonan, menjadi kawanan mahluk yang menunggu untuk dinamai

 

Denpasar, 2016

Epilog Pembakaran Sita


Jika saja kau menyimpan abuku

Segera setelah pembakaran

Segera setelah doa-doa berhenti

Dan menaburkannya dalam liang

Yang akan menjadi penghabisanmu

Dengan rindu mengganas

Maka menjelmalah kita dengan sempurna

 

Ingatlah sejenak

Ketika api pertama menyulut tubuhku

Kenanglah sebagaimana ayat keseratus

Kau tulis dalam keningmu;

Bahwa pada mataku yang  memutih

Masih dapat kau lihat musim-musim

Dimana kita menari diatasnya

 

Juga dalam dingin yang diciptakan para dewa

Pada kulit

dan seluruh sel yang menjadikanku  ada,

Pertemuan kita melahirkan roh paling kudus

Yang menjadi darah, debu, dan hangat yang purba

 

Lihatlah aku sekali lagi

Saat darahku mengering dicumbu maut

Aroma dan merahnya akan mewakili

Segala yang ingin kusampaikan padamu

Perihal keabadian

Melampaui zaman dan usia yang mudah diterka

 

Denpasar, 2014

Menuju Pembakaran


 

: Ida I Dewa Agung Istri Putra

 

Inilah pernikahan abadi kita,

dimana aku sempurna menjelma perawan untukmu

 

Setelah hidup yang begitu singkat

Dan kematian adalah puncak kerinduan

dari waktu ke waktu

Tanpa terhitung angka tahun

 

Telah lama kunanti dunia menghapusku

Meski rapal mantra

dan jimat-jimat penebus

Membuatku selamanya menjadi tanda hari;

menjadi pemujaan yang bertubi-tubi

 

Mungkin setelah kulalui sebelas menara

yang Tuan hadiahkan

Membuat senja lebih menyala

Serupa birahi

Untuk kembali menyatu dengan rusukmu

 

Namun pada langit keberapa

Dapat kugapai dirimu?

 

Diantara kobaran api yang akan menjadikanku ilusi

Malaikat dan musafir bersorak,

Lalu seketika diam

Barangkali mereka,

barangkali ingin memerangkapku

Dalam ritus perjalanan

Hingga di pucuk menara,

langit memucat dan bintang pertama muncul

Pandanganku tersihir akan rimba

Dimana sekali lagi kau dimahkotakan

untuk menguasai ketiadaan

 

Puluhan ribu tubuh mengantarku melewati tiga dunia

Menopang kerajaan untuk tubuh suriku

Kepada api yang tak singkat mengepul

Dalam upacara penyatuan denganmu

 

Klungkung, 2014

Mea Vulva, Maxima Vulva at Merayakan Murni Exhibition, Sudakara Art Space Sanur


In the social interaction of modern urban society, individuals are required to attend by wearing the identity formed by elements outside them. The individual identity is constructed by the public perception on the accumulation of capital (social, cultural, economic, and symbolic as in Pierre Bordiou’s thought). Based on that perception, the position of the individual in the process of social interaction within the community is determined by the segmentation and social classes.

It encourages individuals to achieve capital symbolic as high as possible in the purpose of improving their social class in society. But not all have the awareness to accumulate its entire capital, including social capital, economic, cultural, and symbolic thoroughly. Most people only motivated to pursue capital symbolic without including the three other aspects. As the impact can be seen in the desire increasing of individuals to the symbols of the class in the form of commodities that had been reduced in the community as a marker of a certain social class.

This is then can be understood as fetishism or the insanity pursuing certain objects in order to fight for social class as we have seen today how the fashion trends shaping social class framework. In the works of this time, I tried to question about the re-establishment of individual identity in the public sphere, including the pursuit of capital symbolic does. It is about the public perception in massive movement to establish a person’s identity through self-imaging. It is certainly create the layer of identity in accordance with the public segmentation that will be face by the individual.

I want to present how identity can become fashion which merely appear follow the trend with its temporary with the parameters that created by the upper class hegemony with the hierarchy as reflected in the object (vagina). Objects in the tray is ceramic vagina, combustion process that makes the object into a ceramic is a metaphor for an identity that has been through the process of forging, competition, experience, and effort to reach the parameters of social class. Whereas vagina on the floor, represent the identity in the lowest hierarchy. As the impact people keep continue to update their identity through the collection of capital symbolic. Today, we also see that identity politics is not just limited to the pursuit of social class motives, but also motivated by primordially elements that include ethnicity, religion, and ideology.

Rancangan Instalasi

The Design of Mea Vulva, Maxima Vulva

Citra Sasmita_01

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 1

Citra Sasmita_02

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 2

Citra Sasmita_03

Detail Mea Vulva, Maxima Vulva 3

IMG_4439

The Display in Sudakara Art Space in front of Mella Jaarsma installation “Pure Passion”. The detail of artwork is variable dimention

IMG_4735

I’m explaining the concept of the art work

IMG_5052

Curiosity 1

IMG_5056

Curiosity 2

Publication:

https://lifeasartasia.wordpress.com/2016/09/06/merayakan-murni-celebrating-indonesias-most-important-woman-artist/

“Celebrating Murni”: life, legacy and memory of Indonesia’s IGAK Murniasih – artist profile

Whose Canvas: Citra Sasmita

http://www.jakartajive.com/2016/06/shoes-scissors-and-sexuality-celebrating-the-art-of-pioneering-feminist-balinese-artist-murni.html

http://radarbali.jawapos.com/read/2016/07/18/4155/jadi-simbol-perlawanan-karya-murni-dianggap-tabu-dan-kotor/1

Celebrating The Art of Murni

Balipost minggu, 24/7/2016

“Merayakan Murni” Perayaan Melawan Patriarki

Puting Digigit Buaya dan Gaya Lain – Berbagai Rupa Perayaan Murni

Rempah, Ibu Peradaban Indonesia


Ketika menyelami suatu arus yang terjadi dalam masyarakat dan turut serta dalam dinamika sosial, pada suatu tataran tertentu kita akan sampai pada titik kesadaran terhadap suatu transformasi di dalamnya. Namun transformasi yang bagaimanakah relevan terjadi saat ini? Sebagai studi kasus, rempah dan khasanah kuliner Nusantara adalah salah satu hal yang cukup menarik untuk dianalisis sebagai penanda fenomena yang terjadi dalam masyarakat.

Modernitas yang kini telah menjadi nafas setiap individu telah cukup signifikan menggiring mereka kedalam kehidupan praktis. Terlebih lagi sebagian besar masyarakat yang bersimbiosis dengan industrialisasi dimana produktivitas menuntut mereka untuk bekerja sesuai dengan sistem dan tenggat waktu tertentu. Hal tersebut tentu berimbas pada perubahan habitus masyarakat. Kebiasaan hidup praktis tentunya akan membuat seseorang memangkas kegiatan yang mengganggu waktu produktif mereka, misalkan saja dalam hal ini adalah kegiatan memasak.

Terhitung tahun 1968 ketika diperkenalkannya produk makanan instan mulai dari produk olahan mie yang hingga kini terus berinovasi dengan produk racikan bumbu instant.  Sebelum angka tahun tersebut, bisa dibayangkan kegiatan memasak dan menciptakan bumbu dalam rumah tangga masih menggunakan racikan bahan alami dengan spesifikasi jenis tanaman dan rempah yang cukup banyak dan beragam jumlahnya. Tentu untuk membuat racikan sebuah bumbu dibutuhkan penguasaan akan jenis bahan dan komposisi yang pas dimana rasa masakan yang berkarakter adalah penentu dari keberhasilan racikan tersebut.

Sebagian besar kuliner Nusantara yang kita ketahui pun pada dasar pengolahannya menggunakan bumbu yang cukup beragam dan variasi teknik yang memungkinkannya menyita banyak waktu sekedar untuk menghidangkan satu jenis masakan. Maka bumbu instan hadir sebagai solusi dari segala keruwetan racikan komposisi bumbu masakan. Bumbu instant hadir dengan menawarkan kepraktisan dan juga waktu penyajian hidangan yang relatif cepat.

Namun perlu diketahui bahwa kebiasaan menggunakan bumbu instan, bukan hanya berpengaruh bagi hormon dan kesehatan namun juga berdampak pada terkikisnya kultur meracik bumbu alami. Perlu menunggu berapa tahun lagi untuk melihat fenomena bahwa generasi selanjutnya akan mengalami kegagapan ketika meracik komposisi sebuah bumbu di dapur, atau bahkan untuk sekedar mengiris bawang?

“Spice is passion of food more than it, called phylosophy,” rempah adalah gairah dari suatu masakan, lebih dari itu kita bisa menyebutnya sebuah filsafat atau bahkan artefak biologis yang menandakan zaman keemasan Nusantara dimana penjelajah di dunia berusaha menemukan lokasi surga rempah yang berusaha ditutupi oleh  para pedagang Arab dan India sejak abad ke 8. Terutama banga Eropa, mereka begitu terobsesi menemukan asal usul rempah tersebut yang diasosiasikan dengan negara antah berantah yang berhubungan dengan surga.

Sebagaimana penulis abad pertengahan yang menggambarkan surga sebagai taman bagi para santo dengan aroma kayumanis, pala, jahe dan cengkeh. Pamor rempah sebagai penanda status sosial dimana harganya bahkan lebih tinggi dari emas tetap berlanjut hingga Portugis pada abad ke 16 melakukan ekspedisi ke Nusantara dan mengakhiri dominasi Arab dalam perdagangan rempah. Dimulai sejak itu pula Nusantara mengalami masa kegelapan terlebih lagi ketika VOC melakukan monopoli perdagangan rempah pada tahun 1602-1800. Bayangkan saja dimulai oleh rempah Indonesia mengalami 350 tahun masa penjajahan hingga dapat diakhiri dengan sebuah revolusi.

Maka, berdasarkan kajian historis tersebut kita dapat menilai bagaimana rempah merupakan harta karun nasional yang wajib kita jaga keberadaannya melalui kesadaran untuk merubah kebiasaan menggunakan bumbu instan dan kembali berkreasi dan meracik rempah dari bahan-bahan alami dalam proses memasak. Setidaknya, hal itu bisa menjadi upaya mempertahankan kekayaan khasanah sekaligus tradisi kuliner Nusantara.

Rempah adalah sebuah pusaka yang mampu menciptakan masterpiece kuliner Nusantara, terbukti dengan melimpahnya khazanah masakan nusantara. Rempah dan kuliner juga menjadi karakter tersendiri bagi suatu daerah, sebagaimana rendang dari Padang yang kini dikenal luas hingga ke mancanegara. Semestinya kita memiliki kesadaran untuk menjaga tradisi kuliner dengan terus memanfaatkan rempah alami Nusantara, karena hal itu sekaligus menjaga identitas kultural yang makin terkikis oleh budaya instan.

 

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*Tulisan ini pernah dimuat di Balipost minggu