Childhood Memory at Personal Codes Presentation


Childhood Memory, 100x120cm, acrylic on canvas, 2016

Kali ini saya terjebak dalam sebuah pertanyaan, sejak kapan seseorang memahami seksualitas? Apakah dimulai ketika pertama kali seorang anak mempunyai rasa keingintahuan akan apapun yang ada dalam anggota tubuhnya? Atau ketika ia mulai disisipkan “bahasa” oleh orang tua sebagai institusi pertama dalam pembentukan identitasnya?–dimana “bahasa” tersebutlah yang merupakan cikal bakal terbentuknya oposisi biner seorang anak terhadap anak lain yang berbeda dengan jenis kelaminnya. Untuk mencapai pemahaman tersebut, saya ingin mengutip alegori rahim dalam uraian Rumi:

“Apabila ada yang mengatakan kepada janin di rahim: “Di luar sana ada sebuah dunia yang teratur,

Sebuah bumi yang menyenangkan, penuh kesenangan dan makanan, luas dan lebar;

Gunung, lautan dan daratan, kebun buah-buahan mewangi, sawah dan ladang terbentang;

Langitnya sangat tinggi dan berbinar, sinar mentari dan cahaya bulan serta tak terkira banyaknya bintang;

Keajaibannya  tak terlukiskan: mengapa kau tetap tinggal, mereguk darah, didalam penjara yang kotor lagi penuh penderitaan ini?”

Janin itu, sebagaimana layaknya, tentu akan berpaling tak percaya sama sekali; karena yang buta tak memiliki imajinasi.

Maka, di dunia ini, ketika seorang suci menceritakan ada sebuah dunia tanpa bau dan warna,

Tak seorang pun di antara orang-orang kasar yang mau mendengarkannya: hawa nafsu adalah sebuah rintangan yang kuat dan perkasa.

Begitupun hasrat janin akan darah yang memberinya makanan di tempat yang hina

Merintanginya menyaksikan dunia luar, selama ia tak mengetahui makanan selain darat semata.”

Dalam alegori rahim tersebut dapat terlihat sebuah perspektif oposisi, antara sebuah janin yang tumbuh dan berkembang menggunakan intektualitas (akal jiwa) dibandingkan dengan sesuatu diluar dirinya yang mencoba menyisipkan bahasa simbolik ( gambaran mengenai gunung, lautan, buah-buahan mewangi) yang telah menggunakan rasio (akal psikis) dalam cara untuk memperoleh pengetahuan. Disamping itu juga terdapat kontradiksi antara realitas dalam masing-masing perspektif. Ketika janin hanya cukup untuk menghargai rahim (sesuatu yang dalam bahasa simbolik diungkapkan dengan “penjara kotor lagi penuh penderitaan”) dengan merespon simpul-simpul semiotik yang berupa rangsangan, getaran dan nutrisi yang diberikan oleh sang ibu, namun sesuatu diluar fase cora-nya (fase dalam kandungan) akan menjadi fase selanjutnya bagi seorang anak. Dimana dalam fase tersebutlah terjadinya perubahan persepsi dari yang semiotik menuju simbolik atau dengan kata lain adanya hierarki realitas yang pada prinsipnya menuntut seorang anak untuk memperoleh pengetahuan diluar pengalaman dirinya secara alamiah.

Penyisipan bahasa simbolik tersebutlah yang membentuk identitas diri sang anak (ego) maka dalam hal ini dapat menjadi permulaan adanya pandangan oposisi antara maskulin dan feminim. Bahwa maskulin dengan sifat logos diterjemahkan dengan superioritas dibandingkan dengan feminim yang dikonstruksi unsur-unsur inferioritas. Padahal ketika janin masih dalam kandungan, maskulinitas dan feminitas berada dalam posisi egaliter. Hal ini diindikasikan oleh fungsi ibu (memberikan rangsangan kasih sayang dan nutrisi) dan fungsi ayah imajiner (memberikan perlindungan) dapat dilakukan sekaligus dalam tumbuh kembang seorang anak.

Karena pemahaman akan perbedaan jenis kelamin tersebut tidak disampaikan dengan intelektualitas namun dengan menggunakan rasio inilah yang menimbulkan potensi diskriminasi terhadap perempuan. Dimana dalam konstruksi pengetahuan seorang anak hanya dilandaskan dalam hierarki realitas dalam bentuk doktrin yang bisa saja diterima sebagai suatu gagasan, namun realitas ini cenderung tidak dialami secara langsung atau tidak tereksplorasi.

Childhood Memory, dimaksudkan untuk kembali mempertanyakan pengalaman-pengalaman yang dialami seseorang dalam pembentukan identitasnya. Kemudian ketika menganalisis pemikiran Freud dalam Beyond the Pleasure Principles, dalam perkembangan identitas, tubuh telah mempunyai insting untuk cenderung berada dalam situasi yang menyenangkan namun agaknya kontradiktif dengan pikiran yang bertendensi mengulang kembali pengalaman buruk, trauma, stigma sosial– repetisi senantiasa terjadi baik melalui story telling, mimpi dan halusinasi. Alih-alih menghadapi pengalaman traumatik dan stigma sosial yang menjadi afirmasi dalam pembentukan identitas diri, seseorang cenderung menikmati kepahitan dan kesakitan sebagai ekstase untuk mengaktualisasikan dirinya.

*Citra Sasmita, perupa, illustrator cerpen di Balipost dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*Lukisan Citra Sasmita dengan tajuk Childhood Memory (100x120cm, acrylic on canvas, 2016) saat ini sedang dipresentasikan di Sudakara Art Space, Sanur-Bali periode Februari-April 2016

MERAYAKAN MURNI, MERAYAKAN PEREMPUAN DALAM KESENIAN


52-Bikin pleasure_100x60_98Jejak perempuan dalam dunia senirupa di Bali bisa diibaratkan sebagai oase di tengah gurun pasir. Jika bukan karena minimnya arsip yang mencatat perjalanan kesenimanannya, kurangnya partisipasi perempuan dalam event senirupa pun semakin menjauhkannya dalam jangkauan radar/ perhatian publik seni. Entah karena perempuan perupa Bali luput dari perhatian atau dalam segi karya dan intelektualitas masih dinilai tidak representatif tampil dalam ruang pameran.

Salah satu ruang yang pernah berkembang untuk mewadahi perempuan pelukis di Bali adalah Seniwati (1991-2012), berlokasi di daerah Ubud. Kelompok Seniwati terbentuk karena diawali dari keinginannya mencari perempuan pelukis di Bali yang pada masa itu jarang ditemukannya karya-karya perempuan di ruang museum dan galeri. Seniwati telah berhasil memberikan akses bagi perempuan pelukis dengan mengadakan pameran lukisan dalam intensitas yang bahkan mampu membawa nama kelompok ini hingga ke kancah internasional. Selain itu Seniwati memiliki ruang galeri sendiri, sehingga karya-karya mereka tetap bisa dilihat dan dinikmati.

Namun dalam perkembangannya, Seniwati tetap membawa resiko akan kecenderungan karya  dengan visual yang sama. Jumlah pelukis tradisi yang mendominasi kelompok ini belum siap secara mental mengikuti arus perkembangan seni. Meskipun seorang pelukis tradisi telah meraih pencapaian teknisnya namun tema-tema dalam lukisan yang sifatnya repetitif, (melulu) mengenai alam, ritual, dan kehidupan sosial. Karya-karya semacam ini ternyata mengalami kesulitan untuk menyesuaikan dengan paradigma seni yang selalu membutuhkan suatu pembaharuan baik dari segi estetika dan isu-isu kekinian. Tema-tema dalam lukisan tradisi kerap dianggap delusif dan berbeda semangat zamannya.

Hingga kemunculan IGAK Murniasih yang menjadi anomali diantara perempuan pelukis lainnya di dalam kelompok Seniwati. Perjalanan Murniasih sebagai pelukis sesungguhnya diluar dugaan dalam konstelasi seni rupa Indonesia mengingat latar belakang akademisnya yang non-seni. Lahir pada 4 Juli 1966 dan meninggal pada 11 Januari 2006, keberaniannya mengangkat tema-tema di seputar tubuh perempuan yang kerap dianggap tabu ternyata justru menarik minat intelektual untuk melakukan kajian terhadap karyanya. Setelah kematiannya, nasib karya-karyanya nyaris tidak terdengar bahkan kondisi studionya di daerah Nyuh Kuning, Ubud telah dirobohkan karena habis masa kontrak.

Untuk memperingati 10 tahun kematiannya, sebuah komunitas yang berbasis di daerah Batubulan yaitu Ketemu Project and Space menginisiasi sebuah program bertajuk “Merayakan Murni”  dengan fokus utamanya yaitu mendukung perkembangan Yayasan Murni melalui pengarsipan karya-karya dan data tulisan mengenai Murni. Kemudian mengajak segenap seniman baik di Bali maupun di luar Bali untuk merespon tema-tema yang diangkat Murni ke dalam karya mereka yang rencananya akan direalisasikan tahun depan melalui sejumlah pameran. Pada peluncuran program ini (8/12), Budi Agung Kuswara selaku salah satu pendiri Ketemu Project and Space memaparkan awal mula program ini bisa mulai diwujudkan. Gagasan untuk menghidupkan kembali Murni, selain dari segi karya-karyanya yang masih relevan dengan persoalan konsep tubuh dan seksualitas pun didukung oleh suaminya, Mondo -laki-laki berdarah Itali yang sangat memuja pemikiran dan karya-karya Murni.

Murni merupakan seorang anak dari sebuah keluarga petani miskin di Bali, yang kemudian bertransmigrasi ke Sulawesi.  Ia menjadi pembantu rumah tangga pada sebuah keluarga etnis tionghoa di Ujung Pandang. Keluarga inilah yang menyekolahkan Murni sampai kelas dua SMP sebelum kemudian mereka pindah ke Jakarta. Tahun 1987 Murni kembali ke Bali dan bekerja sebagai pembuat perhiasan perak di Celuk-Gianyar. Ia kemudian menikah, tapi karena tidak dikaruniai anak dan suaminya ingin menikah lagi, Murni  menuntut cerai dari suaminya. Sejak tahun 1995 Murni belajar melukis pada Dewa Putu Mokoh dan debutnya sebagai perempuan pelukis di Bali semakin berkembang ketika bergabung dengan grup Seniwati.

Begitu lah catatan biografis singkat Murni yang secara garis besar dihubungkan dengan karya lukisnya dan terindikasi dalam aspek struktur naratif dimana banyak menampilkan imaji pertentangan antara laki-laki dan perempuan (oposisi biner).

Mengenai sudut pandang oposisi biner ini kerap nampak pada karya perempuan perupa di Indonesia yaitu Arahmaiani dalam karya performance His-Story. Dalam performance ini tampak seorang laki-laki menuliskan kalimat berbahasa Inggris dan Jepang yang kurang lebih mengenai sejarah yang ditulis dengan darah, disisi lain Arahmaiani hadir sebagai seorang perempuan yang memperhatikannya. Secara intrinsik performance tersebut telah menyatakan bahwa sejarah bersifat maskulin atau dengan kata lain realitas dikonstruksi oleh yang superior. Dalam hal pertentangannya dengan laki-laki dan ideologi patriarki seperti dalam karyanya tersebut, Arahmaiani menggunakan tubuhnya sebagai aktor sedangkan jika dibandingkan dengan Murni, ia memindahkan tubuhnya ke dalam kanvas dengan lebih tematis. Tubuh perempuan yang tematis dalam karya Murni hadir bukan sebagai tubuh realis atau yang mirip dengan realitasnya. Hal ini ditegaskan oleh Acep Iwan Saidi (2008: 213) mengenai konsep tubuh Murni yang hadir sebagai tubuh yang mengalami proses semiosis sehingga ia cenderung lebih bersifat simbolik. Maka yang menjadi fokus dalam lukisan Murni bukan kehadiran tubuh secara visual, melainkan bagaimana tubuh tersebut bisa menjadi tanda untuk mengomunikasikan gagasan yang disampaikan.

Hadir dengan teknik Pengosekan dengan warna-warna cerah nan dramatis serta garis outline pada figur lukisannya, membaca dan mengamati karya-karya lukis Murni maka akan muncul dua kata kunci yang menjadi gagasannya dalam berkarya. Yang pertama adalah seksualitas jika ditinjau dari kencenderungan konten visualnya yang hampir sebagian besar menampilkan imaji phallus, vagina, narasi dan interaksi seksual yang kerap dianggap tabu. Kecenderungan Murni menampilkan konten semacam itu terkesan sangat berani, apalagi posisinya sebagai perempuan yang lazimnya merasa malu untuk mengumbar bagian tubuhnya.

Selain itu, interaksi seksual yang banyak ditampilkan oleh Murni adalah hubungan-hubungan yang ganjil, liar, dan imajinatif.   Misalnya saja dalam karya “Bikin Pleasure” yang menampilkan tubuh perempuan yang disenggamai oleh senjata tajam (arit) dalam dominasi warna merah dalam latar belakangnya yang cukup mengintervensi objek visual didalamnya. Arit yang merupakan alat pemotong rumput telah beralih fungsi menjadi pemberi sensasi terhadap tubuh. Karya tersebut tentu hadir sebagai paradoks dalam interaksi seksual. Rasa sakit telah dimaknai sebagai sumber kenikmatan tentu hal ini juga mengindikasikan adanya kecendrungan sadomasokhisme dalam beberapa karya Murni yang lain.

Kemudian yang kedua adalah feminisme jika dicermati dari konteks Murni dalam berkarya dengan menampilkan visual tubuh dan dirinya sebagai representasi dari permasalahan yang dihadapi oleh banyak perempuan dalam lingkungan sosial dan kultural. Dalam konteks sosial hidupnya, Murni adalah seorang perempuan berdarah Bali yang juga hidup dalam norma-norma dan adat  yang berkembang di sana. Dalam struktur masyarakat adat Bali, perempuan memiliki posisi yang lebih rendah dibanding dengan kaum laki-laki. Sehingga dalam berbagai hal perempuan memiliki berbagai keterbatasan untuk mengungkapkan gagasannya secara politik maupun kebebasan dalam mengekspresikan dirinya. Perempuan dalam struktur adat Bali dibelenggu oleh norma dan konstruksi sosial lainnya. Bahkan mungkin tidak hanya di Bali, hal ini bisa terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Dalam konteks inilah kehadiran karya Murni dapat dimaknai sebagai pendobrak nilai dan norma yang selama ini direkatkan pada diri perempuan. Melalui program “Merayakan Murni” kita akan melihat bagaimana relevansi dari jejak dan pemikiran murni dalam konteks sosial hari ini.

 

-Citra Sasmita, perupa dan alumni workshop penulisan kritik senirupa DKJ 2015

*dimuat di Balipost Minggu, 20 Desember 2015

*dimuat di Jurnal Perempuan: http://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/merayakan-murni-merayakan-perempuan-dalam-kesenian

MEMBEBASKAN TUBUH PEREMPUAN DARI JERUJI SOSIAL


Solo Exhibition Project “Maternal Skin” by Citra Sasmita, Ghostbird + Swoon Gallery

14/10/15 – 30/11/15

 Lets Talk and Let Her Die & Taste of Social Death- Citra SasmitaHingga kini perempuan menghadapi stigmatisasi terhadap konsep tubuhnya yang sesungguhnya merupakan hasil dari proses simbolik elemen diluar dirinya. Tubuh perempuan dalam paradigma masyarakat harus sesuai dengan pandangan (norma) yang berkembang dalam lingkungan interaksinya, tanpa parameter yang pasti, salah satunya kulit patriarkis dimana masih terdapat perbedaan antara laki-laki yang memegang peran superioritas dan perempuan dengan inferioritasnya. Sehingga persoalan domestik dan identitas masih menjadi permasalahan perempuan ketika konstruksi sosialnya secara sadar ataupun tidak sadar memposisikan perempuan dalam kategori subordinat.

Ada berbagai macam kriteria perempuan yang dibentuk oleh politik pikir masyarakat, sebagai contoh konsep kodrat perempuan yang sesungguhnya merujuk pada fungsi maternal (keibuan/ sifat sebagai subjek yang otonom). Disana sesungguhnya perempuan dapat bebas berekspresi dalam pencarian identitas dirinya, namun menjadi bias ketika dikaitkan ke wilayah gender yang menempatkan posisi perempuan dengan segala tuntutan karakter ideal tubuhnya dan perilaku sehingga kepemilikan atas tubuh perempuan atau sifat tubuh perempuan tidak sepenuhnya mereka miliki. Tubuh perempuan telah menjadi milik sosial yang harus terkonstruksi sesuai dengan nilai-nilai di dalamnya, misalkan saja konsep “ibu” dalam istilah sosial yang dikonstruksi oleh bahasa yang variatif bahkan disokong oleh doktrin agama supaya konsep itu menjadi perilaku. Sehingga konsekuensi yang langsung diterima perempuan adalah adanya keterputusan identitas personalnya dengan proses dan pengalaman tubuhnya (keterputusan antara perilaku “ibu” dan sifat “ibu”)

Sebelumnya menurut Freud, secara anatomi sex konsep tubuh perempuan telah direduksi hanya sebagai fungsi reproduksi, sebagai objek hasrat laki-laki dan bukan sebagai subjek aktif yang memiliki kebebasan ekspresi dalam pencarian identitasnya, maka ketika dimulainya metamorfosa tubuh dari usia belia (tumbuhnya payudara dan mengalami menstruasi) pengalaman biologis tersebut disisipi bahasa/stigma tubuh perempuan yang diidentikkan dengan tubuh yang kotor. Seorang perempuan harus tahu bagaimana cara berpakaian, menutup rapat tubuhnya ataupun berperilaku supaya terhindar dari objektifikasi lingkungan (pelecehan, kejahatan psikologis atau bentuk penindasan lain). Maka pemikiran Julia Kristeva “mengembalikan” tubuh maternal kepada perempuan  dapat diartikan sebagai bentuk pengakuan terhadap kepentingan yang bersifat subjektif atas perkembangan diri perempuan (fungsi ibu) dalam ruang dan waktu di masyarakat. Menurut Kristeva, ada dua fase dalam pembentukan identitas yang mampu menjawab pertanyaan bagi yang menaruh perhatian pada bentuk penindasan perempuan yaitu fase chora dan fase abjeksi.

Dalam fase chora yang dimulai pada usia 0 sampai dengan 6 bulan merupakan usia ketika manusia mempunyai keterikatan dengan tubuh maternal dimana selain secara biologis mendapatkan nutrisi juga mendapatkan impuls semiotik (pengalaman pembentukan diri) yang meliputi pengalaman prasimbolik kehidupan lisan, dimana seorang bayi mengalami (fungsi) ibu dengan optimalisasi cinta dan adanya transfer pengetahuan melalui sentuhan, getaran vokal dan iramanya. Fase chora dalam tubuh maternal dapat diartikan sebagai fungsi asuh yang sifatnya bisa feminim ataupun maskulin dengan cara anak dalam kandungan mendapatkan peran ibu secara tubuh fisikal dan peran ayah imajiner (fase dinaungi cinta dan perlindungan), tubuh maternal tidak hanya diartikan sebagai tubuh fisik yang spesifik (tak hanya/ harus perempuan) sehingga dalam fase inilah yang menjadi penentu seseorang akan menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan.

Kemudian pada usia 4 sampai 8 bulan, anak akan mengalami fase abjeksi yang merupakan fase psikologis berupa penolakan yang cukup signifikan terhadap figur ibu dimana proses penolakan/pemisahan dari tubuh ibu tersebut berpotensi terjadinya penindasan dan diskriminasi terhadap tubuh maternal. Dalam fase abjeksi dengan tubuh maternal ini seringkali dialami secara paksa dan sebagian besar mengalami penyisipan tanda (sign) dan stigmatisasi bahwa tubuh maternal adalah tubuh yang kotor, jijik dan hina. Sebagai konsekuensinya pengalaman abjeksi ini menjadi endapan bawah sadar yang akan dibawa hingga dewasa yang secara sadar ataupun tidak akan menentukan pola pikir dan perilaku yang cenderung mendiskriminasi/menindas perempuan.

Kedua fase ini yang menandakan bahwa yang dialami terlebih dahulu dari pembentukan identitas seseorang adalah hukum maternal (pembentukan diri oleh fase semiotik ke simbolik), bukan paternal (pembentukan diri dari simbolik ke semiotik). Karena pada awal pertumbuhannya, seseorang mengalami fungsi ibu dengan kekayaan pengalaman semiotiknya (pengalaman pembentukan diri) kemudian barulah dilekatkan dengan simbol (bahasa pembentukan diri) yang telah dikonstruksi oleh masyarakat.

Berdasarkan pemikiran di atas, konsep maternal skin yang saya kembangkan dalam pameran ini menjadi relevan ketika dikaitkan dengan realitas yang berjalan dalam masyarakat kita yang masih dalam proses “menjadi”. Benturan antara norma sosial dan agama dalam masyarakat menuntun langkah pemikiran saya pada realitas posisi marjinal perempuan di ranah sosial, yang menjadikannya terkungkung dan mengalami keterbatasan akses terhadap segala hal. Batasan-batasan tersebut justru tercipta dengan dalih untuk menyelamatkan perempuan, alih-alih malah memangkas haknya sebagai manusia. Rasanya kita perlu melihat kembali sosok perempuan secara utuh sebagai manusia, tanpa mengkotakannya dalam kerangka konstruksi yang dibentuk oleh masyarakat patriarkis.

Sejumlah karya yang saya hadirkan dalam pameran ini merupakan hasil refleksi saya atas berbagai hal dalam pengalaman dan pengamatan sehari-hari, yang saya dapatkan melalui riset sederhana terhadap teks-teks Julia Kristeva maupun pandangan tokoh-tokoh lain seputar gagasan yang sama, sekaligus saya juga melakukan pengamatan terhadap realitas sosial yang terjadi di sini. seperti yang saya hadirkan dalam karya Let’s Talk and Let Her Die dan Taste of Social Death. Kedua karya tersebut merupakan kritik atas budaya gosip yang terdegradasi oleh nilai patriarkis. Idealnya saya tidak ingin menyatakan bahwa gosip itu buruk, karena dalam kegiatan tersebut terjadi arus informasi yang bisa menjadi modal sosial seseorang untuk dapat berkumpul dalam kelompok masyarakat tersebut. Namun dalam konteks hari ini yang menjadi topik menarik dalam gosip justru ada upaya objektifikasi terhadap seorang individu sebagai nilai takar kualitas diri. Dan yang lebih menarik lagi dalam budaya gosip oleh perempuan yang mengobjektifikasi perempuan lain yaitu adanya keterkaitan dengan sudut pandang patriarkis dimana kelompok perempuan yang menjadi subjek berperan superior (baca: maskulin dalam artian memiliki kekuasaan politik). Sehingga bisa saya simpulkan bahwa proses perempuan untuk menjadi “tubuh” yang mandiri banyak mengalami kendala dari sistem patriarki ini. Kemudian dari segi media dalam karya tersebut termasuk dua seri yang lainnya menggunakan kertas doyleys cukup representatif mewacanakan domestifikasi yang dialami oleh perempuan dimana hal tersebut cenderung membatasi akses perempuan dalam memberdayakan dirinya.

Secara dominan karya-karya saya mempermasalahkan tentang konstruksi atas tubuh perempuan yang tidak lagi dipandang sebagai tubuh maternal yang hakiki sebagai manusia pada umumnya, melainkan tubuh yang dicemari oleh norma atau nilai sosial yang dibentuk oleh masyarakat.

Esai oleh: Citra Sasmita

dimuat dalam Jurnal Perempuan : http://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/membebaskan-tubuh-perempuan-dari-jeruji-sosial

Update Picture:

Retrospeksi Kekerasan Pada Anak


Belum hilang dalam benak kita kasus pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak JIS (Jakarta International School), kemudian berita yang sama dimana cukup menghebohkan terjadi juga di Sukabumi oleh Emon seorang pedofilia dengan korban anak-anak hingga mencapai 140 orang, dan kini korban kekerasan dan pembunuhan Angeline yang menorehkan luka yang cukup dalam bagi masyarakat Bali karena adanya ketamakan dan tidak ada sikap tanggung jawab dari oknum-oknum terkait dan orang disekitarnya. Akankah kita tetap diam ketika menyadari dan menyaksikan mental barbar terjadi dilingkungan sekitar kita?

Barangkali ada banyak sekali kasus kekerasan, pelecehan, dan pembunuhan pada anak yang tidak terekspose media. Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak , kekerasan yang terjadi pada anak-anak meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Dalam setahun angka kenaikannya bisa mencapai lebih dari 100 kasus dengan mayoritas diantaranya adalah kejahatan dalam bentuk pelecehan seksual seperti sodomi, pemerkosaan, pencabulan serta inses. Tentu data-data tersebut tidak hanya menandakan terkikisnya rasa kemanusiaan namun perlu disadari bahwa ancaman pada anak tidak hanya datang dari luar. Kasus-kasus kekerasan seksual dan penelantaran justru tercatat lebih sering terjadi dilingkungan terdekat anak seperti sekolah, dalam lingkungan rumahnya sendiri serta lingkungan sosial anak. Ironisnya pelaku kejahatan tersebut adalah orang-orang terdekat anak, orang yang seharusnya mengawal tumbuh kembangnya hingga menuju kemandirian hidup.

Merenungkan fenomena meresahkan yang belum menemukan titik akhir ini terdapat banyak akar permasalahan yang harus segera dirombak. Yang pertama dan paling esensial adalah orang tua tidak memiliki kemampuan dasar parenting (ilmu tentang mengasuh, mendidik dan membimbing anak dengan benar dan tepat). Permasalahan dalam ruang lingkup inipun bisa disebabkan oleh faktor cukup kompleks misalkan saja orang tua mempunyai masalah kedewasaan/immaturitas yang menyangkut kesiapan mental menjadi orang tua, bisa karena faktor usia yang relatif muda ataupun secara usia telah matang namun secara sikap belum. Faktor lain bisa karena pengalaman negatif yang dialami si orang tua pada masa lalu seperti isolasi kehidupan sosial, masalah rumah tangga, hingga masalah ketergantungan dengan obat-obatan terlarang serta alkohol yang kemudian secara bawah sadar diterapkan juga kepada anaknya.

Adapun dampak yang diakibatkan dari kesalahan parenting adalah kekerasan fisik yang tentu akan berdampak bukan hanya menimbulkan bekas secara fisik, namun dalam jangka panjang akan berpengaruh juga pada psikologi anak sehingga menyebabkan anak cenderung inferior, menarik diri dari pergaulan, bersifat defensif, mengalami gangguan kejiwaan (ringan ataupun berat) serta melakukan tindakan destruktif. Jika tindakan ini terus berlangsung dalam memori tumbuh kembang anak, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk proses rehabilitasi.

Kekerasan emosional pada anak juga berdampak pada deprivasi atau rasa kurang kasih sayang yang akan mempengaruhi perkembangan mental anak, meski kebutuhan mereka secara lahiriah telah terpenuhi. Dalam kasus kekerasan emosional yang paling fatal adalah terganggunya konsep diri anak, low self esteem, kecemasan dan rasa tidak aman hingga berdampak pada tumbuh kembang anak yang sangat lambat. Kita sering melihat fenomena orang tua yang mempunyai permasalahan emosional biasanya tidak bisa mendukung kebutuhan anak-anaknya seperti kebutuhan kasih sayang, perhatian atau bahkan acuh terhadap anaknya. Selain itu, orang tua juga cenderung mempertontonkan pertengkaran rumah tanggan antar orang tua kepada anak. Secara tidak langsung, ini juga menjadi bagian dari kekerasan emosional yang dialami anak. Situasi keluarga yang tidak kondusif semacam itu akan membuat anak selalu merasa terancam dan jauh dari rasa aman. Meski orang tua selalu ada disamping mereka, akan tetapi tidak ada suplai cinta untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka.

Fenomena lain yang termasuk kekerasan emosional yang sering terjadi adalah orang tua melakukan judgement dan kritik negatif, mengancam anak agar patuh atau melakukan pengurungan/kontrol berlebihan dari lingkungan luar. Secara naluriah, anak memiliki hasrat untuk berkembang secara bebas. Hal ini akan menunjang kemampuan mereka dalam bersosialisasi dengan teman atau saudara, dan melalui proses interaksi itulah mereka akan memperoleh input-input pengetahuan yang baru. Seandainya orang tua memberlakukan kontrol yang sangat ketat, maka kemampuan alami anak dalam bersosialisasi akan terhambat. Yang lebih buruk adalah anak merasa depresi karena kejenuhan yang melampaui batas, dampak yang mungkin paling fatal ialah mengalami disorientasi.

Kemudian hal kritis lain yang terdeteksi adalah pelecehan seksual pada anak dimana mereka terlibat dalam kondisi seksual diluar kendali dan kesadaran, dalam keadaan tidak mampu mengkomunikasikannya atau ironisnya tidak tahu arti tindakan yang diterimanya. Kekerasan seksual pada anak, dalam beberapa kasus menjadi sulit dideteksi karena anak cenderung menjadi tertutup dan bersifat defensif. Hal tersebut bisa dikarenakan adanya tekanan dari pelaku, ataupun karena adanya ketakutan yang berlebihan pada si anak. Seringkali kita menyadarinya ketika anak telah mengalami fluktuasi emosi serta keluhan fisik seperti sakit pada alat genital, kesulitan duduk atau berjalan atau menunjukkan gejala kelainan seksual. Penanganan kasus kekerasan seksual secara hukum juga seringkali tidak berjalan mulus karena prosedur yang diberlakukan oleh pihak penegak hukum seringkali justru menyulitkan posisi korban. Sebagai contoh ialah kesaksian korban yang karena usianya masih belia (misal pada kasus terhadap balita) seringkali dianggap tidak absah.

Yang paling fatal dari kasus kekerasan terhadap anak adalah yang disebabkan oleh adanya gangguan kejiwaan yang dialami oleh orang tua. Tidak jarang orang tua justru bersikap apatis atau bahkan psikopatis terhadap anaknya sendiri. Penyebabnya bisa bermacam-macam, bisa karena mengalami persoalan hidup yang terlalu berat seperti kondisi ekonomi yang sulit sehingga tingkat stressnya lebih tinggi dan anaklah yang kemudian menjadi sasaran. Seandainya kekerasan semacam ini tidak terdeteksi oleh lingkungan terdekat semisal saudara atau tetangga, maka bukan tidak mungkin tingkat kekerasan yang dialami anak akan semakin meningkat karena ketidakmampuannya melawan situasi. Di sinilah peran aktif masyarakat menjadi penting dalam mencegah berbagai kasus kekerasan yang menimpa anak.

Bagaimanapun, anak adalah pemegang tongkat estafet kehidupan. Kepadanya semua harapan semestinya ditumpukan, bukan sebaliknya. Tumbuh kembang anak tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua kandungnya, melainkan lingkungan dan masyarakat juga berperan aktif dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Memberi mereka kasih sayang, membekalinya dengan ilmu, dan menata mental dan moralnya sebaik mungkin. Seandainya anak-anak kita dididik oleh lingkungan demikian, alangkah cerahnya masa depan kehidupan kita.

*)Citra Sasmita, perupa; dimuat di BaliPost Minggu, 28 Juni 2015

CITRA SASMITA: PENDIDIK YANG DEWASA


Pendidikan sejatinya merupakan fondasi yang cukup signifikan dalam upaya membentuk manusia yang berkarakter. Dalam hal ini, karakter yang dimaksud yaitu bagaimana para peserta didik secara menyeluruh dapat menumbuhkan mentalitas dan pola pikir yang mampu mendukung pembangunan SDM (Sumber Daya Manusia) bangsa Indonesia.

Untuk meraih visi besar tersebut tentu tidak hanya bertumpu pada posisi peserta didik sebagai objek pendidikan, melainkan peran pendidiklah yang menjadi center point, subjek pendidikan yang menjalankan sistem di lapangan. Dimana sistem yang berjalan adalah suatu sistem yang diberlakukan oleh negara melalui kementerian pendidikan dalam bentuk kurikulum.

Melalui penerapan kurikulum, seorang peserta didik dituntut menguasai berbagai macam komponen mata pelajaran. Dari yang pokok hingga muatan lokal sebagaimana tertera dalam kurikulum pendidikan yang bersifat dinamis dengan implementasi dalam metode pembelajaran. Dari berbagai pengamatan, pelaksanaan kurikulum dalam ruang pembelajaran belum menunjukkan tolok ukur kualitas yang jelas. Tentu, baik pendidik maupun peserta didik sama-sama menghadapi tantangan dalam proses transfer dan adaptasi pengetahuan dalam sistem tersebut. Namun keberhasilan pendidikan dapat terwujud jika dua komponen ini dapat saling mendukung dan melengkapi.

Pendidik sebagai narasumber, disamping harus memiliki kompetensi materi juga diharapkan mempunyai kompetensi lain yang menandakan dirinya telah siap menjalani profesi sebagai pendidik. Yang sekaligus menjadi indikator sebagai seorang pendidik yang dewasa. Karena selain menjadi fasilitator, pendidik secara tidak langsung akan menjadi role model bagi peserta didik, dimana pada saat itu terjadi konektifitas yang saling mempengaruhi dalam pembentukan psikologi peserta didik. Kompetensi lain yang dimaksud dalam hal ini adalah kesiapan pengetahuan, pengalaman, komitmen,  serta kesiapan diri yang meliputi aspek fisik dan psikologis. Kesehatan dan kebugaran fisik seorang pendidik menjadi penting untuk menopang kesiapan kejiwaan, kestabilan emosi, pemusatan perhatian juga kesiapan akal pikiran dalam menghadapi peserta didik.

Integrasi Nilai dan Karakter

Karakter sebagai output yang diharapkan dari peserta didik tentu lebih tepat untuk menggambarkan tujuan suatu sistem pendidikan yang mendewasakan. Dimana inti dari pendidikan bukan sekedar penguasaan lini-lini ilmu pengetahuan yang menjadi komponen mata pelajaran dan semata-mata diukur dengan angka-angka.

Angka-angka atau nilai dari sebuah ujian tanpa disadari juga ikut berperan penting mempengaruhi psikologi peserta didik dimana peserta didik akan berusaha menapaki tangga pencapaian dari inferioritas (nilai pelajaran rendah) menuju superioritas (nilai pelajaran tinggi) tanpa mempedulikan kenikmatan proses pendidikan itu sendiri. Padahal kedewasaan peserta didik dalam proses pendidikan tidak tepat jika dinilai secara kuantitatif.

Kepribadian peserta didik yang meliputi kedewasaan intelektual, moral, emosional, sosial dan motorik akan dapat diukur indikasinya melalui kegiatan konseling yang dijalankan dengan intens demi mengetahui pencapaian peserta didik dalam proses pembelajaran sekaligus juga untuk mengontrol konsentrasi dan fokus peserta didik dalam proses pendidikan. Komunikasi menjadi hal yang vital dalam fase ini dimana para pendidik dapat mengerti kepribadian peserta didik sekaligus berempati terhadap kesulitan yang dialami peserta didik dalam proses pendidikan. Sehingga dapat memberikan solusi yang tepat secara dewasa terhadap kesulitan yang dihadapi setiap peserta didik, bukan hanya menerapkan sistem atau metode pembelajaran yang ada secara menyeluruh.

Dalam pelaksanaannya, sistem pendidikan bertumpu pada generalisasi situasi yang dialami para peserta didik maupun pendidik. Sehingga untuk kesulitan yang berbeda, seringkali diberlakukan solusi yang seragam. Tindakan ini menjadi tidak tepat karena suatu  metode  ada berdasarkan  suatu uji coba dalam sampel tertentu dan belum tentu sesuai dengan kondisi peserta didik dalam situasi dan kondisi yang lain. Maka para pendidik diharapkan mampu berinovasi mengembangkan atau menerapkan metode yang terbaik untuk peserta didik dengan melihat satu-persatu kondisi peserta didiknya.

Kurikulum dalam sistem pendidikan di Indonesia selalu mengalami perubahan dalam kurun hampir 10 tahun sekali, secara signifikan hal ini akan mempengaruhi mentalitas pendidik maupun peserta didik. Padahal elemen-elemen pendidikan membutuhkan rentang waktu tertentu untuk beradaptasi dengan suatu kurikulum dan tuntutan akademisnya. Perubahan tersebut seringkali dianggap mengacu pada penyempurnaan sistem dan metode, namun kenyataanya belum pasti memberikan standar mutu yang baik bagi peserta didik dalam kondisi yang sangat beragam di seluruh wilayah Indonesia.

Ada konsep dasar pendidikan yang seyogyanya diserap demi kokohnya fondasi bangunan pendidikan, yaitu kecerdasan sebagai efek transfer ilmu pengetahuan tanpa diimbangi dengan karakter maka akan menjerumuskan kehidupan peserta didik itu sendiri pada lembah perilaku negatif. Maka akan menjadi tantangan yang cukup berat bagi para pendidik untuk mengintegrasikan ruh pendidikan yang terdapat dalam ilmu pengetahuan dan pendidikan karakter.

 

*) Tulisan ini merupakan respon terhadap artikel “Pendidikan Yang Mendewasakan” yang dimuat Bali Post, Minggu 19 April 2015. Dimuat pada 3 Mei 2015