Retrospeksi Kekerasan Pada Anak


Belum hilang dalam benak kita kasus pelecehan seksual yang dialami oleh seorang anak JIS (Jakarta International School), kemudian berita yang sama dimana cukup menghebohkan terjadi juga di Sukabumi oleh Emon seorang pedofilia dengan korban anak-anak hingga mencapai 140 orang, dan kini korban kekerasan dan pembunuhan Angeline yang menorehkan luka yang cukup dalam bagi masyarakat Bali karena adanya ketamakan dan tidak ada sikap tanggung jawab dari oknum-oknum terkait dan orang disekitarnya. Akankah kita tetap diam ketika menyadari dan menyaksikan mental barbar terjadi dilingkungan sekitar kita?

Barangkali ada banyak sekali kasus kekerasan, pelecehan, dan pembunuhan pada anak yang tidak terekspose media. Berdasarkan data Komnas Perlindungan Anak , kekerasan yang terjadi pada anak-anak meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Dalam setahun angka kenaikannya bisa mencapai lebih dari 100 kasus dengan mayoritas diantaranya adalah kejahatan dalam bentuk pelecehan seksual seperti sodomi, pemerkosaan, pencabulan serta inses. Tentu data-data tersebut tidak hanya menandakan terkikisnya rasa kemanusiaan namun perlu disadari bahwa ancaman pada anak tidak hanya datang dari luar. Kasus-kasus kekerasan seksual dan penelantaran justru tercatat lebih sering terjadi dilingkungan terdekat anak seperti sekolah, dalam lingkungan rumahnya sendiri serta lingkungan sosial anak. Ironisnya pelaku kejahatan tersebut adalah orang-orang terdekat anak, orang yang seharusnya mengawal tumbuh kembangnya hingga menuju kemandirian hidup.

Merenungkan fenomena meresahkan yang belum menemukan titik akhir ini terdapat banyak akar permasalahan yang harus segera dirombak. Yang pertama dan paling esensial adalah orang tua tidak memiliki kemampuan dasar parenting (ilmu tentang mengasuh, mendidik dan membimbing anak dengan benar dan tepat). Permasalahan dalam ruang lingkup inipun bisa disebabkan oleh faktor cukup kompleks misalkan saja orang tua mempunyai masalah kedewasaan/immaturitas yang menyangkut kesiapan mental menjadi orang tua, bisa karena faktor usia yang relatif muda ataupun secara usia telah matang namun secara sikap belum. Faktor lain bisa karena pengalaman negatif yang dialami si orang tua pada masa lalu seperti isolasi kehidupan sosial, masalah rumah tangga, hingga masalah ketergantungan dengan obat-obatan terlarang serta alkohol yang kemudian secara bawah sadar diterapkan juga kepada anaknya.

Adapun dampak yang diakibatkan dari kesalahan parenting adalah kekerasan fisik yang tentu akan berdampak bukan hanya menimbulkan bekas secara fisik, namun dalam jangka panjang akan berpengaruh juga pada psikologi anak sehingga menyebabkan anak cenderung inferior, menarik diri dari pergaulan, bersifat defensif, mengalami gangguan kejiwaan (ringan ataupun berat) serta melakukan tindakan destruktif. Jika tindakan ini terus berlangsung dalam memori tumbuh kembang anak, maka akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk proses rehabilitasi.

Kekerasan emosional pada anak juga berdampak pada deprivasi atau rasa kurang kasih sayang yang akan mempengaruhi perkembangan mental anak, meski kebutuhan mereka secara lahiriah telah terpenuhi. Dalam kasus kekerasan emosional yang paling fatal adalah terganggunya konsep diri anak, low self esteem, kecemasan dan rasa tidak aman hingga berdampak pada tumbuh kembang anak yang sangat lambat. Kita sering melihat fenomena orang tua yang mempunyai permasalahan emosional biasanya tidak bisa mendukung kebutuhan anak-anaknya seperti kebutuhan kasih sayang, perhatian atau bahkan acuh terhadap anaknya. Selain itu, orang tua juga cenderung mempertontonkan pertengkaran rumah tanggan antar orang tua kepada anak. Secara tidak langsung, ini juga menjadi bagian dari kekerasan emosional yang dialami anak. Situasi keluarga yang tidak kondusif semacam itu akan membuat anak selalu merasa terancam dan jauh dari rasa aman. Meski orang tua selalu ada disamping mereka, akan tetapi tidak ada suplai cinta untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka.

Fenomena lain yang termasuk kekerasan emosional yang sering terjadi adalah orang tua melakukan judgement dan kritik negatif, mengancam anak agar patuh atau melakukan pengurungan/kontrol berlebihan dari lingkungan luar. Secara naluriah, anak memiliki hasrat untuk berkembang secara bebas. Hal ini akan menunjang kemampuan mereka dalam bersosialisasi dengan teman atau saudara, dan melalui proses interaksi itulah mereka akan memperoleh input-input pengetahuan yang baru. Seandainya orang tua memberlakukan kontrol yang sangat ketat, maka kemampuan alami anak dalam bersosialisasi akan terhambat. Yang lebih buruk adalah anak merasa depresi karena kejenuhan yang melampaui batas, dampak yang mungkin paling fatal ialah mengalami disorientasi.

Kemudian hal kritis lain yang terdeteksi adalah pelecehan seksual pada anak dimana mereka terlibat dalam kondisi seksual diluar kendali dan kesadaran, dalam keadaan tidak mampu mengkomunikasikannya atau ironisnya tidak tahu arti tindakan yang diterimanya. Kekerasan seksual pada anak, dalam beberapa kasus menjadi sulit dideteksi karena anak cenderung menjadi tertutup dan bersifat defensif. Hal tersebut bisa dikarenakan adanya tekanan dari pelaku, ataupun karena adanya ketakutan yang berlebihan pada si anak. Seringkali kita menyadarinya ketika anak telah mengalami fluktuasi emosi serta keluhan fisik seperti sakit pada alat genital, kesulitan duduk atau berjalan atau menunjukkan gejala kelainan seksual. Penanganan kasus kekerasan seksual secara hukum juga seringkali tidak berjalan mulus karena prosedur yang diberlakukan oleh pihak penegak hukum seringkali justru menyulitkan posisi korban. Sebagai contoh ialah kesaksian korban yang karena usianya masih belia (misal pada kasus terhadap balita) seringkali dianggap tidak absah.

Yang paling fatal dari kasus kekerasan terhadap anak adalah yang disebabkan oleh adanya gangguan kejiwaan yang dialami oleh orang tua. Tidak jarang orang tua justru bersikap apatis atau bahkan psikopatis terhadap anaknya sendiri. Penyebabnya bisa bermacam-macam, bisa karena mengalami persoalan hidup yang terlalu berat seperti kondisi ekonomi yang sulit sehingga tingkat stressnya lebih tinggi dan anaklah yang kemudian menjadi sasaran. Seandainya kekerasan semacam ini tidak terdeteksi oleh lingkungan terdekat semisal saudara atau tetangga, maka bukan tidak mungkin tingkat kekerasan yang dialami anak akan semakin meningkat karena ketidakmampuannya melawan situasi. Di sinilah peran aktif masyarakat menjadi penting dalam mencegah berbagai kasus kekerasan yang menimpa anak.

Bagaimanapun, anak adalah pemegang tongkat estafet kehidupan. Kepadanya semua harapan semestinya ditumpukan, bukan sebaliknya. Tumbuh kembang anak tidak hanya menjadi tanggung jawab orang tua kandungnya, melainkan lingkungan dan masyarakat juga berperan aktif dalam mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Memberi mereka kasih sayang, membekalinya dengan ilmu, dan menata mental dan moralnya sebaik mungkin. Seandainya anak-anak kita dididik oleh lingkungan demikian, alangkah cerahnya masa depan kehidupan kita.

*)Citra Sasmita, perupa; dimuat di BaliPost Minggu, 28 Juni 2015

Advertisements

One thought on “Retrospeksi Kekerasan Pada Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s